NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Dua minggu berlalu, seperti biasa Peno dan ketiga temannya sudah berada diwarung kopi yu War, malam ini malam minggu, besok pagi Peno akan mengikuti turnamen catur dikabupaten, selama kurang dari dua minggu juga Peno sudah berlatih bersama mbah Patma secara intens.

"kamu sudah siap kan No, untuk turnamen besok!?" tanya Maman dengan gayanya menghisap rokok.

"masih bingung Man, besok kita kekabupaten naik apa?" jawab Peno jujur.

"wah iya ya, kita mau naik apa kesana!?" sambung Dimin yang sedang mengunyah pisang goreng tiba tiba terhenti saat mendengar jawaban Peno.

"kita ngompreng, kalau ga nemu juga ya kita jalan kaki, ini yang namanya perjuangan No, kamu harus ikut dan memenangkan turnamen itu!" kata Eko penuh semangat.

"halah gayamu Ek, jalan dari sini kerumah kadang kamu juga ngeluh!" ucap Dimin sambil menyenggol lengan Eko.

"demi hadiah lima juta Min, kita harus semangat, he he he.....!" ucap Eko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"kalau memang itu perlu ya kita jalan kaki No, berempat, berangkat sehabis subuh, kita bawa bekal sekalian!" ucap Maman menyetujui ucapan Eko.

"ya kita lihat saja besok, semoga saja ada tumpangan, kalau harus jalan kaki ya kita jalan kaki, itung itung pemanasan sebelum aku angkat benteng sama angon kuda, ha ha ha......!" kata Peno lalu ia tertawa bersama ketiga temannya.

Jam sepuluh malam mereka pulang untuk istirahat antisipasi agar besok tidak bangun kesiangan dan jika kekabupatennya harus jalan kaki tidak terlambat sampainya.

Pagi harinya saat suara adzan terdengar Peno segera bangun, mandi dan bergegas pergi kemushola untuk sholat subuh.

Selesai sholat Peno ditahan oleh mbah Patma agar ikut kerumah sebentar, dan Peno pun menurut saja diajak mbahnya mampir kerumah.

"nih uang saku kamu, dan kalung ini milik mbah sekarang jadi milikmu, dipakai terus kecuali mau mandi dilepas, jangan jadi orang sombong kalau menang atau juara, jangan kecewa berlebihan kalau kalah, semua hanya permainan kadang kalah kadang menang, dalam dunia catur kamulah yang mengatur bidak bukan kamu yang diatur, sudah sana berangkat nanti malah kesiangan, ingat, berangkat dengan bismillah apapun hasilnya pulang dengan alhamdulillah!" ucap mbah Patma memberi wejangan pada Peno dan memberi Peno kalung berbandul liontin batu akik bergambar mirip kuda.

"nggih mbah siap, pesan simbah akan selalu Peno ingat, Peno pamit mbah, assalamualaikum!" kata Peno lalu menyalami dan mencium punggung tangan mbah Patma, kemudian pulang untuk siap siap.

Sampai dirumah ketiga teman Peno sudah datang, mereka sedang ngobrol dengan bapak diteras rumah, sedangkan mamak sedang membungkus nasi untuk bekal Peno dan teman temannya.

"ada yang bawa tas besar tidak?" tanya mamak saat keluar keteras sambil membawa empat bungkus nasi dan satu botol air berukuran satu setengah liter.

"kami semua bawa lik, sengaja buat bawa baju ganti!" jawab Maman.

"ya wis, baju kalian dijadikan satu dimasukan ketasnya kamu Man, nanti tasnya Dimin buat nawa air, tasnya Eko buat bawa bekal nasi, tasnya Peno buat bawa bekal yang lainnya!" kata bapak menambahi.

Peno keluar dari rumah, kini mereka siap berangkat, setelah bersalaman serta cium tangan pada bapak dan mamaknya Peno mereka pun melangkahkan kaki menyusuri jalan menuju kabupaten.

Pagi masih gelap, sebab kabut turun begitu tebal, empat sekawan itu berjalan berbaris dengan santai, sesekali tertawa bersama ketika melihat sesuatu yang menurut mereka lucu, sudah empat kali mereka mencoba menghentikan mobil pickup yang melintas, berharap dapat tumpangan meski pun hanya beberapa kilo meter saja, lumayan untuk mengikis jarak dan hemat tenaga, tapi tak ada satu pun yang berhenti.

Penampakan mereka seperti penjelajah alam yang biasanya berjalan disetapak hutan, tapi mereka berjalan dipinggiran jalan raya, bagi orang yang tidak tahu akan menganggap mereka sekelompok pecinta alam yang akan berangkat mendaki gunung.

Setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam mereka sudah memasuki daerah perkotaan diibukota kabupaten, hanya butuh perjalanan limabelas menit lagi mereka akan sampai dikawasan GOR, tempat dimana turnamen catur itu akan diselenggarakan.

"kita lanjut saja, nanti kalau sudah sampai GOR baru kita sarapan!" ucap Peno yang berjalan paling depan dan ketiga temannya pun setuju saja.

Limabelas menit kemudian mereka memasuki kawasan GOR, Peno dan ketiga temannya langsung mencari tempat yang enak untuk istirahat dan tentunya dekat dengan tempat turnamen catur akan digelar.

"sebelah sana saja No yang agak lega!" ucap Maman menunjuk tempat disamping pintu masuk kegedung indor tempat dimana turnamen catur itu akan digelar.

"oke, sambil istirahat kita juga sambil cari pak Supri atau pak Basuki!" ucap Peno mengikuti langkah Maman.

"kita sarapan dulu, mamakku tadi ngasih bekal lauk ikan mujaer goreng, aku yang mancing dikolam kemarin sore!" ucap Peno mengajak teman temannya untuk sarapan.

Berempat pun sarapan dengan nasi bungkus lauk ikan mujaer goreng tanpa sayur dan lauk lainnya, setelah sarapan Dimin sigap mengumpulkan sisa bungkus nasi dan dibuangnya ketempat sampah, dan saat ia sedang membuang sampah ia melihat pak Supri sedang berjalan kearah pintu masuk gedung.

"pak, pak Supri!" Dimin sedikit berteriak memanggil pak.Supri.

"lho kamu Min, yang lainnya mana?" ucap Pak Supri saat melihat orang yang memanggilnya ternyata Dimin.

"itu disana pak, habis sarapan, acaranya belum dimulai pak!?" jawab Dimin dan bertanya balik pada pak Supri sambil mengantar pak Supri menuju teman temannya.

"sebentar lagi Min, kalian sudah datang, ayo No daftar ulang, konfirmasi kehadiran peserta!" jawab pak Supri lalu mengajak Peno untuk daftar ulang.

"siap pak!" jawab Peno lalu mengikuti pak Supri masuk kedalam gedung, sedangkan ketiga temannya menunggu diluar.

Setelah mendaftar ulang Peno bergabung kembali dengan teman temannya.

"jam berapa mulainya No?" tanya Maman sambil menyodorkan rokok pada Peno.

"jam delapan, masih ada waktu buat ngrokok dulu!" jawab Peno menerima rokok dari Maman lalu membakarnya, kini mereka duduk lesehan berempat sambil ngobrol dan sesekali menghisap rokok mereka.

"pak Agus gimana ya, lolos ga kesini?" tanya Eko.

"kalah, tapi dia daftar lagi lewat jalur umum, tadi aku lihat dia sama pak kades lagi daftar!" jawab Peno santai.

Jam delapan para peserta diminta masuk kedalam gedung olah raga, keseluruhan ada tiga puluh dua peserta, yang lolos dari tingkat kecamatan ada enam belas peserta dan sisanya dari jalur umum juga enam belas peserta.

Yang lolos dari tingkat kecamatan akan dipisah dalam bagan sistem gugur tersendiri, begitu juga yang dari jalur umum, nanti semifinalis dari masing masing bagan baru akan dimix dan akan dipertandingkan lagi dalam babak delapan besar.

Turnamen pun dimulai, para peserta kini sudah berhadap hadapan dengan lawannya masing masing sesuai dengan undian tadi.

lawan Pertama Peno adalah seorang bapak bapak yang mungkin keturunan tionghua, sebab kulitnya kuning dan matanya sipit.

1
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!