"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
kekilaran yang melekat.
Nabil baru saja beres- beres saat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, rasa lega menyelinap bahagia karena hari ini pekerjaan Nabila selesai dengan baik.
"Huf!" Nabila bernapas lega sambil merenggangkan tanganya melepas penat.
Ting!
@dosen Killer : Saya tunggu di luar.
Nabila mengambil napas kasar, ia kira pulangnya tidak tunggu dosen galaknya itu, mau tidak mau Nabila keluar kantor celingukan mencari mobil Alka yang nyatanya sudah siap di depan.
"Masuk," titah Alka dingin bersamaan suara klakson bertengger di telinga Nabila.
"Sore, Pak," ucap Nabila seperti biasa saat bertemu Alka sebagai tanda hormat atasan dan bawahan karena apapun yang di lakukan Nabila selalu saja salah.
"Sore," sahut Alka, lalu melakukan mobilnya langsung.
Saat sedang di jalan tak ada yang memulai obrolan hingga suasana menjadi hening, sebab Alka masih marah karena Nabila sering terlihat akrab sama karyawan laki-laki, sedang Nabila sendiri sudah lama kesal sama Alka bahkan kalau di tumpuk sudah menggunung.
"Besok dan lusa kamu tidak perlu masuk, cukup istirahat di rumah saya tidak mau ada drama saat pernikahan kita nanti," ucap Alka tiba-tiba dengan nada cuek, padahal sedari tadi mulutnya sudah gatel tidak bicara dengan Alka.
"Kenapa bisa gitu, saya tidak mau Pak, to' perikanan kita hari minggu," balas Nabila, ia sudah berniat tidak mau ambil cuti karena pasti menghambat magangnya tidak kelar-kelar.
"Jangan ngebantah! Saya hanya tidak ingin terjadi yang tidak di inginkan karena kalau sampai kamu sakit, yang repot pasti saya!" ucap Alka.
Nabila kesal mendengar ucapan Alka. Kalau memang tidak ada niat mau menikah padahal Alka bilang begitu sengaja biar pernikahannya tidak mundur hanya Alka gengsinya terlalu tinggi tanpa ia sadari ucapan Alka justru menyakiti hati Nabila.
"Bapak tidak usah khawatir saya pastikan tidak akan merepotkan Bapak, karena saya cukup tahu diri dan bisa profesional." jawab Nabila tak kalah ketus.
Alka tercengang mendengar jawaban Nabila.
"Maksud kamu apa, kamu anggap pernikahan ini pekerjaan?" tanya Alka.
"Terserah Bapak mau anggap apa, saya cuma mengatakan apa yang Bapak khawatirkan," sahut Nabila kesal.
"Kenapa kamu mengatakan begitu, kamu sadar sedang berbicara dengan siapa?"
"Saya hanya mengikuti Bapak, kenapa saya yang terlihat salah."
"Baik, tapi saya harap kamu tidak menyesal berbicara begitu sama calon suami kamu sendiri."
Nabila diam tidak menyaut, rasanya percuma mau jawab apapun sama Alka ujungnya tetap dirinya yang salah.
"Ya Tuhan, engkau kirimkan suami macem apa ini," batin Nabila.
Tak lama mobil Alka berhenti di pinggir jalan, entah kenapa Alka menepikan mobilnya.
"Saya mau pernikahan kita di rahasiakan, bukankah Bapak sendiri menikah karena orang tua jadi tidak ada alasan untuk di puplikasikan," ucap Nabila tiba-tiba.
Alka tercekat memang betul ia menikah karena orang tua itu alasan yang di sampaikan pada Nabila tapi bukan itu juga tujuan Alka saat ini.
"Kenapa, kamu mau bebas di luar sana dan bisa seenaknya genit sama pria lain, begitu?" tuduh Alka.
Nabila tercengang tidak habis pikiran sama tuduhan Alka pada dirinya, tapi karena Alka selalu saja buat dirinya kesal jadi Nabila tidak ngebantah tuduhannya tersebut.
"Kalau iya kenapa, saya memang lebih suka orang lain tidak tahu pernikahan kita," sahut Nabila santai.
Alka tak menyangka kalau Nabila sudah sangat berani dan bahkan terang-terangan berniat selingkuh dengan dirinya.
"Jadi kamu lebih bangga jadi perempuan murahan tukang selingkuh, sedang kamu punya suami?"
"Lebih baik selingkuh dari pada punya suami, yang galak."
"Saya tidak menyangka kalau kamu benar prempuan murahan, yang sudah siap bermain pria di luar sana."
"Kalau begitu kenapa Bapak tidak batalkan saya pernikahan ini kalau memang tidak terima saya menjadi wanita murahan, bereskan!" ejek Nabila.
"Karena saya dari awal memanga sudah menolak pernikahan ini tapi Bapak yang tidak paham, kadang Bapak seolah mengnginkan pernikahan ini tapi di sisi lain Bapak terus menuduh saya ini itu, sebenarnya maunya bapak apa, katakan."
Alka terkesiap mendengar ucapan Nabila barusan," dia benar sangat berani sekarang," batin Alka belum bisa memberikan jawaban yang bisa mematahkan ucapan Nabila.
"Kenapa diam, sebenarnya Bapak sudah menyukaiku kan! hanya saja Bapak gengsi." ucap Nabila sambil menatap Alka mengejek.
Lagi-lagi Alka tercekat mendengar ucapan Nabila calon isterinya yang memiliki mulit padas tapi tanpa di sadari mulut Alka jauh lebih padas.
Saat ini Alka di buat bungkam oleh Nabila, antar logika dan hatinya bersebrangan, ia bingung antara mau jujur atau tidak karena gengsi Alka lebih besar dari pada suara hatinya.
"Berani sekali kamu sama saya, Nabila!" bentak Alka demi menghilangkan kegugupannya di depan Nabila.
"Yang saya katakan benar kan, Pak? sudahlah, saya capek berurusan dengan Bapak jadi nanti kalau sudah menikah jangan lagi Bapak mengatur saya karena setelah saya lulus kita tidak punya lagi hubungan murid dan guru dan Bapak tidak bisa lagi semena-mena dengan saya," bantah Nabila lagi.
"Oh begitu karena kamu sudah tidak butuh nilai lagi dengan saya, jadi kamu bisa bebas dan merasa bebas tidak butuh saya lagi, begitu?" Alka masih mencoba mencari kesalahan Nabila.
"Huf! Sudah ya Pak, sekarang sudah sampai saya mau turun, sebaiknya Bapak pulang dan persiapkan pernikahan kita nanti dengan baik, bukan begitu Pak Alka." ucap Nabila setenang mungkin pada dosennya dengan tatapan sulit di tafsirkan.
Alka benar di buat emosi oleh Nabila, ia kalah banyak hari ini. Di mana Nabila menuduh dirinya telah jatuh cinta dan sangat menginginkan pernikahan ini padahal nyatanya memang begitu tapi Alka tidak terima kalau memang hanya dirinya yang menginginkan ia ingin Nabila yang lebih dulu jatuh cinta terhadap dirinya bukan malah sebaliknya.
Bisa hilang wajah tampan Alka di depan umum karena telah jatuh cintai lebih dahulu pada wanita.
"Turun sekarang kamu," ucap Alka angkuh namun dalam hatinya masih berharap Nabila meminta maaf atau apalah, yang bisa mengurangi rasa sakit Alka saat ini tapi sayang nihil Nabila justru dengan senang hati menerima tantangan dari Alka.
"Sangat senang sekali bisa berpisah dengan anda," ucap Nabila puas sekali bisa buat Alka kesal, ia tidak perduli dosennya itu marah atau tidak yang penting ia sendiri bisa melawannya dan tidak hanya bungkam.
"Rasain! emang enak di lawan sama muridnya sendiri," sungut Nabila sedikit puas bisa memanjat Alka marah.
Nabila membanting mobil Alka dengn kasar, lalu ia pergi dan beruntungnya belum jauh ada mobil yang berhenti di depan Nabila.
"Kak Fathan!" gumam Nabila saat ia tahu siapa yang berhenti.
"Nabila, kamu mau kemana, ayo aku antar," ujar Fathan keluar dari mobil.
Nabila masih melirik ke arah sekitarnya,"Tidak perlu Kak, aku bisa naik taksi kok." sahut Nabila menolak.
"Tidak papa, ayo ikut aku antar sampai rumah aku masih hapal jalan rumah kita dulu," kata Fathan sambil tersenyum seolah ia mau mengingatkan kembali masa lalu mereka saat bertangga.
Nabila pun ikut tersenyum, memang betul ia dulu dengan Fathan sangat akrab karena Fathan orangnya ramah dan perhatian sama yang lebih kecil.
Namun tak lama suara klakson mobil berbunyi dua kali begitu nyaring.
Nabila terkesiap dan sadar kalau itu adalah mobil Alka. Nabila pikir orang itu sudah pergi jauh.
Nabila tidak langsung masuk, ia bingung bukankah tadi ia disuruh keluar kenapa sekarang tidak.
"Nabila, ayo," ucap Fathan lagi.
Ting!.
*Masuk, kalau nggak saya akan lapor sama tante Dewi*
Mata Nabila terbelalak dan langsung menutup ponselnya lagi lalu berpamitan pada Fathan.
"M-aaf Kak, ini paman saya sudah jemput karena kami mau ada acara keluarga habis ini," ucap Nabila gugup.
Fathan menyerngit, tapi ia tidak mau menganggu acara Nabila sama keluarganya dan tak lain ia langsung mengerti dan membiarkan Nabila masuk ke mobil milik Alka karena Fathan juga tidak sadar kalau itu mobil Alka.