Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abi kebakaran jenggot
Ojek yang di tumpangi Dewi pun telah sampai di terminal terdekat dari kampung halaman Dewi.
''Kang ini ongkosnya, terima kasih sudah nganterin Dewi sampai ke sini'' ucap Dewi sembari menyerahkan selembar uang kertas merah pada tukang ojek yang mengantarnya.
''Sama-sama neng, hati-hati di jalan dan jaga barang bawaannya, sekarang rawan maling sama pencopet'' ucap tukang ojek mengingatkan pada Dewi.
''Iya kang terima kasih sudah mengingatkan, kalau gitu saya naik ke bus dulu sebentar lagi mau berangkat'' pamit Dewi pada tukang ojek itu, kemudian Dewi pun segera ke tukang tiket untuk menukarkan uang dengan tiket bus setelah itu Dewi pun di ajak naik ke bus sama tukang tiketnya.
Beberapa puluh menit kemudian bus pun sudah penuh dengan para penumpang dan siap berangkat.
''Bismillah ya Allah semoga enggak mabuk sampai bandara nanti, Ya Allah berat banget sih hidupku ini, perjuangan untuk sampai ke Kalimantan demi kamu mas Abi, kalau kamu beneran menghianatiku awas aja kamu mas!'' gerutu Dewi dalam hati.
Sepanjang perjalanan Dewi selalu tidur untuk menghindari mabuk kendaraan, sesekali dia meminum obat anti masuk angin untuk berjaga-jaga, sungguh menyiksa sekali bagi Dewi yang memang jarang bepergian jauh seperti saat ini.
Setelah beberapa jam berlalu Dewi pun telah sampai di bandara, Dia segera turun dan membawa barang-barangnya masuk ke area bandara untuk menukarkan tiket pesawat dan sebagainya, Dewi pun menunggu di ruang tunggu sampai waktu penerbangan tiba.
Sementara itu di tempat lain yakni di Kalimantan, tiba-tiba saja Abi merasa gelisah dan nyeri di dada.
''Aaahhhh....aduh, kenapa perasaanku jadi enggak enak banget seperti ini, apa akan terjadi sesuatu'' gumam Abi lirih.
''Kamu kenapa mas, dokumen yang aku suruh kerja in mana, udah selesai apa belum?'' tanya Wulan pada Abi.
''Aduh sayang maaf, tiba-tiba dadaku terasa nyeri, dokumennya belum selesai aku kerja in'' ucap Abi yang terlihat pucat dan sedikit lemas.
''Alah alasan aja kamu mas, dasar enggak becus, kalau kayak gini terus bagaimana bisa cepat sukses!'' tegur Wulan pada Abi.
''I...ya sayang maaf, lagian juga bukan mau aku, tiba-tiba saja aku kurang sehat begini, nanti kalau aku sudah sehat pasti aku akan kerja lebih keras lagi buat bukti in ke papa kamu kalau aku ini memang layak jadi menantunya'' bujuk Abi pada Wulan.
''Haiyah...ya sudahlah sini kasih in dokumennya biar aku yang kerja in sendiri, kamu memang enggak bisa di andalkan'' ucap Wulan ketus, Abi pun menyerahkan dokumen yang tadinya dia kerjakan pada Wulan, setelah itu Wulan pun langsung pergi begitu saja dari hadapan Abi.
''Wulan kamu enggak boleh ninggalin aku, aku enggak akan lepas in kamu dari genggaman tanganku, susah payah aku dapetin kamu biar hidupku jadi enak, tunggu saja sebentar lagi aku akan menguasai seluruh harta orang tua kamu sepenuhnya, sepertinya aku harus segera membuat kamu hamil biar kamu semakin tak bisa jauh dariku!'' ucap Abi dalam hati dengan pikiran piciknya.
Tiba-tiba saja Hp Abi berbunyi, ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal... dengan ragu Abi pun mengangkatnya.
''Halo, siapa ini?'' sapa Abi saat sambungan terhubung.
''Abi ini ibu'' jawab Bu Raminah dari seberang telepon. Bu Raminah menyuruh Bu Kokom untuk menghubungi Abi dengan ponselnya.
''Oh ibu toh aku kira siapa, kok telepon pakai nomor lain, Dewi ke mana?'' tanya Abi.
''Abi ibu mau tanya sama kamu dan kamu harus jawab yang jujur'' ucap Bu Raminah yang tak memperdulikan pertanyaan Abi barusan.
''Ada apa Bu, ibu mau tanya apa sama Abi?'' balas Abi yang mulai cemas.
''Abi apa betul kamu di sana menikah lagi, jawab yang jujur jangan bohong sama ibu!'' ucap Bu Raminah dengan tegas.
Mata Abi terbelalak, wajahnya memucat jantungnya berdetak kencang tangannya gemetar dan Hp di genggamannya pun hampir terjatuh.
''I...ibu tahu dari mana, siapa yang bilang ke ibu?!'' tanya Abi balik.
''Kamu enggak perlu tahu ibu dengar dari siapa, sekarang ibu minta kamu jawab dengan jujur Abi jangan bohong in ibu!'' ucap Bu Raminah yang sudah menahan emosi sejak tadi.
''Bu...itu bohong Bu, Abi di sini kerja buat kalian, buat masa depan kita, mana ada Abi nikah lagi semua itu kabar bohong percaya sama Abi Bu!'' sangkal Abi pada ibunya.
''Abi...kalau sampai kamu bohong sama ibu maka seumur hidup kamu enggak bakal bisa nemuin ibu selamanya, ibu enggak sudi punya anak yang jahat yang tega sama ibu dan istrinya!'' ucap Bu Raminah mengancam Abi.
''Bu jangan bilang begitu, Abi ini anak ibu satu-satunya, masak ibu tega ngomong kayak gitu'' sahut Abi dari seberang telepon.
''Abi, dulu waktu kamu belum menikah kamu kirim ibu uang 1,5 juta tiap bulan kenapa sekarang saat sudah menikah malah jatah itu kamu kurangi sedang kami di sini ada 2 orang yang harus kamu hidupi, atau jangan-jangan kamu memang punya keluarga lain di sana!'' ucap Bu Raminah yang sudah tak yakin Abi berkata jujur.
''Bu.. bukan begitu, uang jatah kalian aku kurangi karena Abi punya hutang di sini, waktu baru balik dari kampung Abi sempet sakit dan enggak kerja jadi terpaksa Abi pinjam uang sama teman buat makan dan untungnya teman Abi rela kalau Abi bayarnya mencicil tiap bulan'' jelas Abi mencari alasan yang logis supaya sang ibu percaya padanya.
''A...apa, ja jadi kamu....kenapa kamu enggak cerita sama kami Abi, ibu sampai salah paham sama kamu, bahkan Dewi lagi nyusulin kamu ke Kalimantan!'' adu Bu Raminah.
''Apaaaaaa...kapan Dewi berangkat Bu, kenapa enggak kabari aku dulu!'' protes Abi.
''Semua serba mendadak, Dewi dapat kabar dari Karsiman dan dia sangat yakin dengan ucapannya jadi kami semua percaya sama dia'' jelas Bu Raminah lagi.
''Haiyahhhh...makanya kalau ada apa-apa itu tanya dulu jangan langsung percaya saja sama ucapan orang lain, apa Dewi bawa Hp, Abi akan menghubunginya biar dia enggak usah ke sini!'' Abi buru-buru mematikan sambungan teleponnya dengan sang ibu, dia berharap masih belum terlambat untuk mencegah Dewi supaya membatalkan rencananya, bisa berabe nanti jika Dewi benar-benar sampai ke Kalimantan.
Abi segera menelepon Dewi, namun sudah beberapa kali di coba hasilnya tetap sama tak tersambung, Abi kesal dan membanting HP-nya.
''Sialan...kenapa HP-nya malah enggak aktif, atau jangan-jangan dia sudah di pesawat, gawat...ini gawat!'' Abi mulai panik, dia bingung harus berbuat apa, kalau sampai Dewi benar-benar datang ke Kalimantan dia harus siap memberi jawaban, dan keluarga Wulan tak boleh tahu soal Dewi bisa-bisa Abi di depak dari keluarga Safrudin.
''Tidak...tidak...ini tidak boleh terjadi, aku harus cegah Dewi ke sini, atau...aku harus sembunyi in Dewi dan pulang in dia lagi, Wulan enggak boleh tahu kalau aku punya istri Dewi kalau tidak semua usahaku bakalan sia-sia, Karsiman sialan, gara-gara kamu mengadu keluargaku jadi kacau kayak gini, awas saja kalau kita ketemu lagi aku enggak bakal maaf in kamu!'' sumpah serah Abi karena kesal.
Abi gusar cemas panik dan seperti kebakaran jenggot sendiri, berani berbuat tapi tak berani menanggung resikonya.
cinta boleh wi gobloogg jangan