Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 12.
Jenny berdiri beberapa detik di lobi, menatap kosong ke arah pintu keluar.
“Kayak pernah lihat pria itu…” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan.
Ia mengerutkan kening, mencoba mengorek ingatan. Rambut, postur tubuh, cara berjalan semuanya terasa familiar. Tapi kepalanya belum bisa menyusunnya secara utuh.
Di sisi lain, Milea sudah berhasil menarik Rangga ke parkiran.
“Kamu kenapa sih?” tanya Rangga sambil setengah tertawa. “Aku kayak diculik istri sendiri?”
“Diam! Jalan aja.” Desis Milea.
Rangga menurut, begitu mereka sampai di mobil dan pintu tertutup Milea langsung menghembuskan napas panjang, seolah baru selesai lari maraton.
Rangga menoleh, memperhatikan wajah Milea yang pucat. “Lea?”
Milea sedikit tersentak karena panggilan nama baru dari suaminya.
“Nyetir,” pinta Milea singkat.
Rangga menyalakan mesin, mobil melaju keluar area kantor.
Baru setelah jarak cukup jauh, Milea menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tangannya mengepal di pangkuan.
“Sekarang kamu mau cerita?” tanya Rangga lembut.
Milea menelan ludah. “Tadi… di kantor, ada orang baru.”
“Oh ya?” Rangga melirik sekilas. “Truss, kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Milea cepat.
Rangga mengerutkan dahi. “Kalau nggak kenapa-kenapa, kamu nggak akan lari kayak dikejar debt collector.”
Milea mendesah. “Namanya Jenny.”
Nama itu membuat Rangga refleks mengerem sedikit lebih keras dari perlu.
“Jenny?” ulang Rangga.
“Iya.”
Rangga menepi sebentar, lalu kembali melaju dengan kecepatan normal. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Kamu kenal?” tanya Milea, pura-pura santai.
Rangga diam beberapa detik. “Nama itu… sedikit familiar.”
Jantung Milea berdetak lebih cepat.
“Aku nggak ingat jelas, tapi kepalaku nggak enak dengar namanya.”
Milea memejamkan mata.
“Dia mantan kamu,” ucap Milea akhirnya.
Rangga terdiam cukup lama.
“Oh,” kata pria itu pelan.
Itu saja.
“Oh.”
“Kamu nggak mau tanya?” Milea membuka mata.
“Tanya apa?”
“Seperti… seberapa dekat kalian dulu?”
Rangga menghela napas. “Aku nggak mau tahu dari versi orang lain. Kalau aku ingat... aku bakal ingat sendiri. Kalau nggak, ya berarti bukan sesuatu yang pantas bikin aku kejar.”
Jawaban itu seharusnya melegakan, tapi justru membuat Milea semakin gelisah.
“Dia hampir nanya status kamu,” kata Milea lirih.
Rangga menoleh cepat. “Kamu jawab apa?”
“Belum sempat, aku kabur.”
Rangga terkekeh kecil. “Istriku luar biasa.”
“Ini bukan lucu, Rangga,” Milea menatapnya. “Kalau dia tahu kita menikah, dan tahu kondisi kamu…”
“Apa yang kamu takutkan?” potong Rangga.
Milea ragu.
“Lea,” desak Rangga lembut.
Milea menghela napas berat. “Aku takut masa lalu kamu bangkit… sebelum kamu siap.”
Rangga mengangguk pelan. “Aku juga.”
Mobil kembali hening, namun kali ini heningnya penuh waspada.
Di restoran kecil tempat mereka biasa makan, Milea hampir tidak menyentuh makanannya.
Rangga memperhatikan itu. “Kamu nggak lapar?”
“Laper, tapi nggak selera.”
Rangga menyodorkan minuman. “Minum dulu.”
Milea menerimanya. “Rangga…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti… kamu ingat semuanya. Termasuk tentang Jenny,” Milea menatapnya lurus, “Kamu akan gimana?”
Rangga berhenti mengunyah. “Aku nggak tahu, tapi—”
“Apa?”
“Aku nggak mau menyakiti kamu lagi.” Jawab Rangga dengan yakin.
Milea menunduk.
“Kamu takut aku berubah?” tanya Rangga pelan.
Milea mengangguk kecil. “Aku takut kamu kembali jadi orang yang membuat aku harus sendirian… di dalam pernikahan.”
Rangga meraih tangan Milea. “Aku nggak mau dan gak akan jadi orang itu lagi. Dan kalau aku mulai ke arah sana… kamu berhak ninggalin aku.”
Kalimat itu membuat dada Milea sesak. “Kamu jangan ngomong gitu.”
“Tapi itu adil, aku dulu nggak adil ke kamu.” Jawab Rangga.
Tiba-tiba saja, Milea menggenggam balik tangan Rangga. Dan Milea merasa sedikit tenang. Namun jauh di dalam hatinya ia tahu, kemunculan Jenny bukan kebetulan. Dan masa lalu Rangga… tidak akan diam terlalu lama.
Benar saja, rasa tenang itu tidak bertahan lama.
Keesokan harinya, Milea baru saja duduk di depan laptop ketika Lila menyenggol lengannya.
“Mil.”
“Kenapa?”
“Kamu sadar nggak, Jenny itu cantik banget ya.”
Milea menahan ekspresi. “Biasa aja.”
“Biasa dari mana? Badannya tinggi, kulitnya cerah, gaya bicaranya pede lagi,” Lila berbisik. “Terus kayaknya… dia tahu kamu.”
Milea menatap layar. “Semua orang di sini tahu aku.”
“Bukan gitu,” Lila mendekat. “Dia nanya-nanya soal kamu tadi pas kamu belum dateng.”
Jari Milea berhenti di keyboard. “Nanya apa?”
“Status kamu.”
Dada Milea mengencang. “Kamu jawab apa?”
“Ya aku bilang kamu udah nikah, kan emang iya.”
Milea menelan ludah.
“Dan kamu tahu dia bilang apa?” lanjut Lila.
Milea menggeleng pelan.
“Oh… begitu,” Lila menirukan suara Jenny, lalu tertawa kecil. “Nada suaranya tuh kayak… kaget tapi penasaran.”
Milea tersenyum tipis, cepat atau lambat Jenny akan tahu dengan siapa Milea menikah.
Di sisi lain kota, setelah pulang bekerja Jenny duduk di kafe sambil mengaduk kopi. Ia membuka ponsel, mengetik nama yang sudah lama tidak ia cari.
Rangga Azof.
Hasil pencarian minim, hampir tidak ada aktivitas publik. Seolah pria itu menghilang dari dunia beberapa tahun terakhir.
“Kenapa sih rasanya nggak asing…” gumamnya.
Ia teringat sosok pria di lobi kemarin, cara berdirinya, serta bahu yang tegap.
Malamnya, Milea pulang. Rangga sedang di ruang tamu, menatap layar ponsel dengan ekspresi bingung.
“Kamu kenapa?” tanya Milea.
Rangga mengangkat kepala. “Aku dapet pesan aneh.”
“Dari siapa?”
“Nomornya nggak aku simpan.”
Milea mendekat. “Bunyi pesannya?”
Rangga membaca pelan, “Halo, ini Jenny. Kamu mungkin nggak ingat aku. Aku cuma mau tanya… apa kamu Rangga yang aku kenal dulu?”
Dunia Milea seperti berhenti berputar.
“Dia dapet nomor kamu dari mana?” tanya Milea cepat.
“Entahlah,” Rangga menggeleng. “Aku juga heran.”
“Kamu jawab?” suara Milea menegang.
“Belum, aku nunggu kamu pulang.”
Jawaban itu membuat Milea terdiam.
“Kamu mau aku jawab apa?” tanya Rangga.
Milea duduk perlahan di sofa, kepalanya penuh kemungkinan buruk.
“Aku nggak bisa larang kamu,” katanya akhirnya. “Tapi… aku takut.”
Rangga duduk di sampingnya. “Takut apa?”
“Takut dia ngomong soal hal-hal yang kamu belum siap dengar, dan takut kamu berubah setelah tahu.”
Rangga menatap layar ponsel itu lama. “Aku boleh jujur juga?”
Milea mengangguk.
“Aku penasaran,” kata Rangga pelan. “Bukan karena dia… tapi karena ada bagian hidupku yang terasa kosong.”
Milea menutup mata sesaat.
“Tapi, aku lebih takut kehilangan kamu daripada mengingat masa lalu.” Lanjut pria itu. Lalu, Ia mengunci layar ponsel dan meletakkannya terbalik di meja. “Aku nggak akan balas sekarang.”
Milea membuka mata. “Kamu yakin?”
“Kalau suatu hari aku balas,” Rangga menatap Milea, “Aku akan lebih dulu bilang padamu.”
Dada Milea menghangat sekaligus nyeri, Milea mengangguk pelan. Namun jauh di dalam hatinya, ia mengerti jika pesan itu tidak akan berhenti di satu pesan. Dan masa lalu sekali mengetuk, jarang puas hanya dengan satu pintu.
Beberapa hari kemudian, Jenny berdiri di depan meja Milea.
“Kita makan siang bareng, yuk,” katanya ramah. “Aku pengin kenal kamu lebih dekat.”
Milea mendongak, tatapan mereka bertemu.
“Boleh,” jawab Milea setelah jeda singkat.
Karena Milea tahu, menghindar tidak akan menghentikan apa pun. Dan mungkin... sudah waktunya ia berhenti lari.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌