NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. OPERASI TENGAH MALAM

..."Ketika infeksi menjalar dan demam membakar, hanya pengetahuan dan keberanian yang bisa melawan kematian."...

...---•---...

Pelita di rumah Pak Wiryo menerangi wajah-wajah cemas yang berkumpul di ruangan tempat Mbok Supi terbaring. Perempuan itu menggigil hebat meskipun tubuhnya membakar. Keringat membasahi seluruh pakaian dan tikar di bawahnya. Napasnya cepat dan dangkal, mata menatap kosong ke langit-langit, bibir bergumam kata-kata yang tidak jelas.

Pak Warjo duduk di sampingnya, jemari melingkari pergelangan tangan istrinya yang membakar. Bibir pecah-pecah. Kantung mata membengkak kehitaman, basah. Di sudut ruangan, Jiman berdiri. Kepalan tangannya memutih, buku-buku jari menonjol. Rahangnya mengatup. Gigi gemeretak pelan.

Doni langsung berlutut di samping pasiennya, menyentuh dahi Mbok Supi. Sangat panas, jauh lebih panas dari demam biasa. Minimal empat puluh derajat. Ia segera membuka perban di paha yang terluka.

Bau menyengat langsung menyerang hidung. Bau khas infeksi bakteri: manis, busuk, tajam.

Tepi luka yang kemarin masih merah muda sekarang berubah merah gelap, bengkak. Ada nanah kuning kehijauan mengalir dari celah-celah jahitan improvisasi. Kulit di sekitar luka terasa panas berlebihan. Ada garis-garis kemerahan menjalar ke atas paha menuju selangkangan.

Limfangitis. Infeksi sudah menyebar melalui pembuluh getah bening.

Doni menarik napas. Pelan.

Ini buruk. Sangat buruk.

"Sejak kapan demamnya mulai?" Doni bertanya sambil tangannya memeriksa setiap inci luka dengan hati-hati.

"Sejak sore tadi." Suara Pak Warjo serak, seperti amplas. "Awalnya dia bilang badannya sedikit panas. Aku pikir karena cuaca. Tapi makin lama makin tinggi. Lalu dia mulai mengigau, tidak mengenaliku..."

Keracunan darah. Infeksi sudah memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Doni meraba nadi di pergelangan tangan Mbok Supi. Berlari cepat, lebih dari seratus dua puluh kali per menit. Takikardia, jantung berdebar terlalu cepat. Tubuhnya sedang berjuang keras, tapi sistem imunnya kewalahan melawan bakteri yang berkembang biak di aliran darahnya.

Tanpa antibiotik intravena, tanpa perawatan intensif, angka kematian mendekati tujuh puluh persen. Tapi aku tidak punya antibiotik. Aku tidak punya infus. Aku bahkan tidak punya termometer untuk mengukur suhu dengan akurat.

Yang aku punya hanya pengetahuan, tangan, dan bahan-bahan alami yang sangat terbatas.

"Karyo." Doni menoleh pada temannya yang berdiri di belakang. Suaranya tenang, tapi ada urgensi di setiap kata. "Aku butuh air mendidih sebanyak mungkin. Dan kain bersih, banyak. Pak Wiryo, tolong kirim orang ke hutan, ambil daun sirih, daun sambiloto, dan kulit kayu manis. Sebanyak yang bisa dibawa. Cepat."

Mereka langsung bergerak.

Pak Wiryo berlari keluar, berteriak memanggil anak-anaknya. Karyo dan Bambang berlari ke sumur untuk mengambil air. Istri Pak Wiryo menyiapkan tungku, memasang kayu bakar dengan cekatan. Tangan-tangannya terlatih, tidak ada gerakan sia-sia.

Doni kembali fokus pada luka.

Aku harus membersihkan infeksi, mengeluarkan nanah dan jaringan mati.

Ini akan sangat menyakitkan, tapi tidak ada pilihan lain. Kalau infeksi terus menyebar, dalam enam jam Mbok Supi bisa masuk syok septik. Tekanan darah turun drastis, organ-organ mulai gagal. Dan kalau itu terjadi, bahkan di rumah sakit modern pun angka kematiannya tinggi.

"Pak Warjo, Jiman, kalian harus memegang Mbok Supi." Doni menatap mereka. "Aku harus membersihkan lukanya. Dia akan kesakitan dan mungkin berteriak. Jangan lepaskan dia."

Ayah dan anak itu mengambil posisi. Pak Warjo di bagian bahu dan kepala, Jiman di kaki yang sehat. Tangan mereka gemetar. Tapi tatapan mereka tak berkedip, mencengkeram dengan kuat.

Karyo kembali dengan kendil berisi air. Uap mengepul dari mulut kendil, membawa aroma tanah yang direbus. "Ini sudah direbus dan masih panas."

"Bagus."

Doni menuangkan air panas langsung ke luka. Teknik irigasi panas untuk membersihkan bakteri dan debris.

Mbok Supi tersentak.

Tubuhnya mengejang. Mata yang tadi menatap kosong tiba-tiba terbuka lebar, mulut terbuka dalam teriakan yang memilukan.

"AAAHHH! AMPUN! SAKIT!"

Pak Warjo peluk kepala istrinya, air mata berderai. "Tahan, Supi. Tahan sedikit lagi..."

Suaranya pecah.

"Ini untuk kesembuhanmu."

Doni terus bekerja. Tangannya stabil meskipun jantungnya berdegup keras di telinga. Ia menggunakan kain bersih untuk membersihkan nanah, menekan tepi luka untuk mengeluarkan semua cairan yang terinfeksi.

Setiap tekanan membuat Mbok Supi berteriak lebih keras.

Tubuhnya berontak.

Tapi Pak Warjo dan Jiman menahannya. Tangan mereka bergetar, wajah basah, tapi tak pernah lepas.

Setelah memastikan sebagian besar nanah telah keluar, Doni memeriksa jaringan di dalam luka dengan cermat. Ujung jarinya menekan perlahan, meraba tekstur di bawahnya. Ada bagian-bagian yang sudah mulai mati. Jaringan itu berwarna keabu-abuan, terasa lunak dan lembek, serta mengeluarkan bau busuk. Tak ada aliran darah di situ. Tak ada tanda kehidupan.

Aku harus mengangkatnya, atau infeksi akan terus meluas. Jaringan mati itu menjadi sarang sempurna bagi bakteri.

Tapi tanpa pisau bedah steril, tanpa anestesi, bagaimana caranya?

Ia melihat sekeliling. Mata tertangkap pada sebilah pisau dapur yang tergantung di dinding.

Itu harus cukup.

"Bambang, ambilkan pisau itu. Rebus dulu dalam air mendidih minimal lima menit. Jangan sentuh bagian matanya setelah direbus."

Pemuda itu langsung mengambil pisau, merebusnya di kendil yang masih mendidih di atas tungku. Lima menit untuk sterilisasi.

Sementara menunggu, Doni membuat larutan antiseptik dari air garam pekat. Garam akan bunuh bakteri lewat osmosis, tarik air dari sel mereka sampai mengkerut. Konsentrasi tinggi. Dua genggam garam dalam satu mangkuk air.

Lima menit terasa seperti keabadian.

Mbok Supi masih menggigil dan mengigau, napasnya semakin cepat. Lebih dari tiga puluh kali per menit. Napas terburu. Nadi di pergelangan tangannya berlari seperti kuda pacu. Tubuhnya sedang berjuang keras melawan infeksi, membakar energi dengan cepat.

Tapi kalah.

"Sudah lima menit," Bambang melaporkan.

Doni mengambil pisau dengan kain bersih, membiarkannya agak dingin. Terlalu panas bisa merusak jaringan sehat. Lalu ia kembali ke luka.

"Pegang lebih kuat."

Pak Warjo dan Jiman mencengkeram lebih erat. Buku jari mereka memutih.

Pisau menyentuh jaringan nekrosis.

Ia memotong.

Pelan.

Presisi.

Yang mati dibuang. Yang hidup diselamatkan.

Pisau dapur yang tumpul membuat setiap sayatan terasa seperti merobek, bukan memotong. Tapi tangannya tidak gemetar. Matanya fokus mengidentifikasi batas antara jaringan mati dan hidup. Setiap potongan diperhitungkan.

Proses pembersihan luka yang biasanya dilakukan dengan scalpel tajam di ruang operasi steril, kini dilakukan dengan pisau dapur di atas tikar bambu dengan cahaya pelita yang bergoyang.

Darah segar mengalir dari tepi sayatan. Itu bagus. Sangat bagus. Darah bawa sel-sel imun. Makrofag, neutrofil, antibodi. Pasukan tubuh yang melawan infeksi. Darah juga membawa oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan.

Mbok Supi berteriak lagi, tapi teriakan kali ini lebih lemah. Tubuhnya mulai lemas. Ia kehilangan kesadaran. Mungkin karena syok dari rasa sakit atau karena tubuhnya sudah terlalu lemah. Sistem sarafnya mematikan diri sebagai mekanisme perlindungan.

Itu justru memudahkan Doni bekerja. Tanpa perlawanan, ia bisa lebih fokus, lebih teliti.

Setiap potongan jaringan yang mati ia buang ke mangkuk terpisah. Warnanya keabu-abuan, berbau busuk, tak bernyawa. Ia terus bekerja sampai yang tersisa hanya jaringan berwarna merah muda: warna kehidupan, warna harapan.

Luka sekarang terlihat lebih bersih meskipun lebih dalam dan lebih lebar. Tapi itu perlu. Lebih baik luka yang bersih dan dalam daripada luka yang dangkal tapi penuh infeksi.

Doni mencucinya lagi dengan air garam. Menuangkan perlahan, membiarkan larutan mengalir ke setiap celah. Lalu dengan air rebusan daun sirih yang sudah disiapkan istri Pak Wiryo. Daun sirih mengandung eugenol dan kavikol. Antiseptik alami yang sudah digunakan nenek moyang selama berabad-abad.

Anak-anak Pak Wiryo kembali dengan sekeranjang daun sambiloto dan kulit kayu manis. Napas mereka terengah-engah, baju basah keringat. Mereka berlari ke hutan dan kembali secepat mungkin.

"Bagus." Doni langsung meracik ramuan.

Sambiloto mengandung andrographolide. Senyawa yang punya efek antiinflamasi dan imunomodulator, membantu mengatur respons sistem imun agar tidak berlebihan. Kayu manis punya cinnamaldehyde yang bersifat antimikroba. Bukan antibiotik sintetik yang kuat, tapi lebih baik dari tidak sama sekali.

Ia merebus semua bahan dengan air banyak. Volume besar untuk ekstraksi maksimal. Membuat konsentrasi tinggi, semakin pekat, semakin kuat efeknya. Aroma pedas dan pahit menguar, memenuhi ruangan. Mata semua orang berair karena uap yang menyengat.

Setelah cukup pekat, cairan berubah hijau gelap, kental. Ia menyaring dan membaginya menjadi dua. Setengah untuk diminum, setengah untuk kompres luka. Serang infeksi dari dua arah.

"Pak Warjo..." Doni menatapnya. Suaranya lembut tapi tegas. "Mbok Supi harus minum ini setiap dua jam. Dipaksa minum meskipun tidak sadar. Tuangkan sedikit demi sedikit ke mulutnya, pastikan dia menelan. Jangan sampai tersedak."

Pak Warjo mengangguk cepat, menghapal setiap instruksi. Mata menatap fokus, tidak berkedip.

"Dan lukanya harus dikompres dengan ramuan ini, diganti setiap empat jam. Jangan sampai kering. Kalau kering, efek antiseptiknya hilang."

"Baik. Baik."

"Tubuhnya harus dikompres dengan air hangat untuk menurunkan demam, jangan air dingin. Itu bisa membuat pembuluh darah menyempit dan demam justru naik. Kepala sedikit ditinggikan untuk membantu pernapasan. Dan yang paling penting..." Doni menunggu sampai mata Pak Warjo fokus padanya. "Dia harus minum air sebanyak mungkin. Kalau bisa air kelapa, itu lebih baik. Tubuhnya kehilangan banyak cairan karena demam dan keringat. Dehidrasi bisa membuat kondisinya lebih buruk."

"Aku akan pergi mencari kelapa sekarang juga." Jiman langsung bangkit.

"Tunggu sampai pagi. Sekarang sudah terlalu gelap, berbahaya." Doni menghentikannya. "Air biasa dulu cukup. Yang penting banyak dan sering."

Setelah luka dibersihkan dan diperban dengan rapi, menggunakan kain bersih berlapis, tidak terlalu ketat agar tidak menghambat aliran darah, Doni duduk bersandar ke dinding.

Tangannya gemetar dari kelelahan dan adrenalin yang mulai surut.

Baju yang sudah basah keringat sejak pagi kini ditambah percikan darah dan nanah. Setiap otot menjerit protes. Bahunya kaku. Punggungnya nyeri. Jari-jarinya kram.

Tapi ia tidak bisa berhenti. Belum.

Pak Wiryo menyodorkan cangkir air. "Minum. Kau terlihat seperti akan pingsan."

Doni menerima dengan tangan gemetar, minum sampai habis. Air dingin itu seperti kehidupan yang mengalir kembali ke pembuluh darahnya.

"Apa dia akan selamat?"

Pak Warjo bertanya dengan suara hampir berbisik, seolah takut jawabannya. Jemarinya tak henti meremas ujung kain sarung. Gerakan repetitif yang mengkhianati kecemasannya.

Doni menatap Mbok Supi yang kini terlihat lebih tenang. Tidak lagi mengigau, meskipun masih demam tinggi. Napasnya masih cepat. Kulitnya masih panas. Tapi setidaknya ia tidak terlihat seperti akan mati dalam beberapa jam lagi.

"Dua puluh empat jam ke depan adalah yang paling kritis." Doni berkata jujur. "Kalau demamnya turun dalam waktu itu, kalau tidak ada tanda-tanda syok atau komplikasi lain, kemungkinan besar dia akan selamat. Kalau tidak..."

Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.

Pak Warjo mengangguk. Wajahnya pucat tapi ada keteguhan di sudut bibirnya yang mengatup. "Aku akan jaga dia terus. Semua yang kau bilang, akan kulakukan. Semua."

"Aku akan kembali besok pagi untuk memeriksa kondisinya," Doni berjanji. "Kalau ada perubahan mendadak, demam naik lagi, luka berdarah banyak, napas tambah cepat, atau dia tidak sadar sama sekali... kirim orang untuk memanggilku. Kapan saja. Malam sekalipun."

Ketika Doni keluar dari ruangan, ia menemukan sekelompok orang berkumpul di teras rumah Pak Wiryo. Mereka berbisik-bisik, wajah cemas. Berita tentang Mbok Supi yang kritis sudah menyebar. Berita buruk selalu cepat.

Seorang perempuan tua dengan rambut putih diikat ketat melangkah maju. Matanya tajam dan penuh selidik.

"Apa benar dia terinfeksi?"

Doni mengangguk. "Ya, Mbah."

Perempuan tua itu terdiam. Jari-jarinya meremas ujung kain. Lama. Terlalu lama.

"Dan kau..." Suaranya turun setengah oktaf. "Bisa menyembuhkannya?"

Doni menatap kembali ke ruangan, tempat Mbok Supi terbaring, masih membakar dalam demam. Dua puluh empat jam ke depan akan menentukan segalanya.

Hidup atau mati.

"Aku berusaha semaksimal mungkin," jawabnya pelan. "Tapi ini ada di tangan Yang Kuasa juga."

Perempuan tua itu mengangguk perlahan. "Setidaknya kau jujur. Tidak seperti dukun-dukun lain yang selalu menjanjikan kesembuhan pasti asal dibayar mahal."

Ia menatap Doni lebih lama. Mata tua itu membaca, menimbang.

"Kau anak yang baik. Semoga leluhurmu memberkati pekerjaanmu."

Orang-orang lain mengangguk. Mereka membungkuk sedikit saat Doni lewat, tatapan mengikuti setiap langkahnya dengan campuran kagum dan khawatir.

Karyo menuntun Doni pulang. Malam sudah larut, bulan purnama menerangi jalan tanah dengan cahaya keperakan. Suara jangkrik dan katak memenuhi udara malam. Angin sejuk membawa aroma bunga dan tanah basah.

"Kau belum makan malam," Karyo mengingatkan.

"Tidak lapar."

"Bohong. Perutmu berbunyi sejak tadi."

Mereka berdua tertawa kecil, pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir yang tegang. Tawa yang rapuh, tapi nyata.

Ketika sampai di gubuk Pak Karso, Mbok Wulan sudah menunggu dengan piring nasi dan sayur yang ditutupi tudung bambu agar tidak dihinggapi lalat.

"Ayo makan." Suara perempuan itu lembut, tanpa desakan. "Kau tidak bisa menolong orang lain kalau kau sendiri sakit."

Doni makan dengan perlahan, setiap suapan terasa berat di perut yang tegang. Pikirannya terus melayang ke Mbok Supi.

Apakah ramuan yang ia berikan cukup kuat? Apakah ia sudah membersihkan semua infeksi? Apakah proses pembersihan lukanya cukup menyeluruh? Apakah seharusnya ia memotong lebih banyak jaringan, atau justru terlalu banyak?

Apakah Mbok Supi akan masih hidup besok pagi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya bahkan ketika ia berbaring di tikar untuk tidur. Tapi kelelahan akhirnya mengalahkan kekhawatiran, dan ia jatuh ke dalam tidur yang gelisah, mimpi dipenuhi gambaran luka bernanah dan wajah-wajah menderita.

...---•---...

Di rumah Pak Wiryo, Pak Warjo duduk di samping istrinya, tangan tidak pernah melepaskan genggaman. Mata menatap wajah Mbok Supi yang masih pucat, napas yang masih cepat, keringat yang masih membasahi.

Dua puluh empat jam.

Hidup atau mati.

Ia tak akan tidur malam ini.

...---•---...

...Bersambung...

1
Mingyu gf😘
kamu pasti bisa doni pastii
Mingyu gf😘
Doni beneran dokter yang hebat
Jing_Jing22
ini takdir kedua untuk kamu membantu orang banyak don.
putri bungsu
kamu bisa Don, semangat tunjukan kehebatan mu sama ki Darmo dukun Abal Abal itu
Wida_Ast Jcy
Setidaknya kamu punya ilmu. itu sudah cukup. jadi kamu bisa mencari tahu apa yang harus kamu perbuat dengan ilmu yang kamu tahu
Cahaya Tulip
tabib doni memang berjiwa besar meski ia bukan penghuni jasad yg asli. Kebaikannya akhirnya bikin si mbok tobat. keren lah.. tabib doni mmg dokter sejati👍
Cahaya Tulip
oh ternyata tabib doni di usir toh.. aku terlewat 🙃
Cahaya Tulip
akhirnya si mbok yang ku cari mencari tabib doni juga🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ehh, tpi bagaimana jika gak ada jiwa lain yg masuk ke tubuh mu 🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kadang walaupun pahit. kejujuran itu lebih berarti
Mentariz
Heemm sama seperti Sore 😁 waktu adalah musuhnya 😂
Mentariz
Nah orang dulu tuh ya gini pengobatannya masih alami dari daun-daunan dan ramuan karna belum ada obat dari farmasi
Mentariz
Tabib sama dokter mah sama aja artinya don, cuma beda kata doang
Panda
aku penasaran deh sama penulis yang bikin cerita kaya gini

jadi sebenarnya tokoh yang pindah raga itu harusnya sudah meninggal ya?

lalu kemana jiwa atau roh dari si pemilik tubuh yang dia masuki karena kayanya hampir ga dijelasin di setiap cerita tema kaya gini kaya suatu misteri 🤔

kalau roh pemilik asli balik gimana sama nasib tokoh utama

anyway tulisannya rapih kak, dan sedikit masuk akal buatku waktu dia dapat kenangan dari si pemilik tubuh asli 👍
Three Flowers
kompeni tidak tahu diri😭
Three Flowers
Sedihnya di sini semua penanganan bedah harus dilakukan tanpa obat bius😭
Three Flowers
penyakitnya ngeri ya... parah - parah semua, diambang Kematian
DANA SUPRIYA
ngapain nyawa bergantung padanya apakah dia gantungan baju ai......🤭😄😄😄
L̲̅I̲̅L̲̅Y̲̅V̲̅E̲̅Y̲̅
syukurr tari bisa selamat 🤭, tadi uda deg degan🤣. siaplah kau menghadapi ki darmo ketika pagi tiba💪
Greta Ela🦋🌺
Don, semangat ya. Perjuanganmu masih panjang untuk nyembuhin orang2 disana. Tapi kau juga jaga kesehatan🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!