NovelToon NovelToon
Happiness

Happiness

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Konflik etika / Nikah Kontrak / Trauma masa lalu / Antagonis
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Kim Umai

Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.

mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Belajar ikhlas

Saat ini Agha udah di pindahkan ke rumah sakit yang ada di Jogja, David selaku dokter profesional pun tidak bisa menemukan penyebab Agha belum siuman. Untuk acara tahlilan yang akan di gelar di rumah bapak dan mamak, yang datang menghadiri hanya Abah dan bang Andra sebagai perwakilan, sebab opa, oma, dan Harding balik ke Inggris karena ada meeting yang tidak bisa di wakilkan, tapi setelah acara tahlilan selesai Abah dan Andra kembali ke Jogja, sementara umah dan Aqila menjaga Agha di rumah sakit.

Sudah tiga hari lamanya Agha tetap belum sadar dari pingsannya, udah banyak alat medis yang menempel di tubuh Agha, mulai dari elektroda, dan Pulse Oximeter digunakan untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah dan denyut nadi, biasanya dijepitkan di jari tangan atau kaki. Bahkan kini hidungnya memakai selang oksigen, belum ada perubahan dengan kondisi Agha saat ini.

"Nak, kenapa betah banget sih tidurnya. Gak rindu kah sama umah, masakan umah, umah rindu sama kamu loh." Ujar umah sambil memegang telapak tangan Agha yang penuh selang infus.

"Erlan betah banget loh, udah tiga hari ini nak. Jangan kaya gini nak, umah gak suka, umah rindu sama keceriaan kamu."

"Ayo bangun nak, umah mau dengar suara kamu lagi, jangan siksa kami seperti ini sayang umah."

...****************...

Sementara di sisi lain, seorang pemuda duduk di tengah taman bunga sambil menikmati udara segar dan aroma wanginya bunga. Terlihat seorang perempuan yang duduk di sampingnya, jarak di antara mereka hanya satu meter kurang lebih.

"Udah saat nya kamu balik bang."

"Gak, abang betah di sini. Nanti abang balik, kamu gak ada."

"Erlan, ini bukan tempat kamu!." Ucap Alicia yang kalau marah ke Agha bapakan pakai kata aku-kamu dan bukan Alice-abang.

"Alice, aku tau tapi aku gak mau balik. Aku suka disini karena ada kamu, nanti aku balik kamu gak ada, aku gak mau itu." Ujar Agha kesal juga.

Yah, mereka itu adalah Agha dan Alice yang sedang berada di taman bunga yang sangat indah, bahkan tidak ada tempat seindah dan senyaman seperti ini di dunia Agha.

"Balik yah bang, kasih umah." Ujar Alicia dengan nada lembut dan pelan, tidak seperti tadi.

"Gak mau, hiks gak mau." Agha mengatakan seperti itu udah mirip anak kecil yang di paksa pulang oleh ibunya untuk tidur siang.

"Aku mohon bang, kasihan umah."

"Kasih aku waktu sedikit lagi."

"Mau sampai kapan bang, dari tadi aku udah kasih waktu."

"Habisnya nanti aku bangun kamu gak ada, kamu udah pergi."

"Bang, Alice minta maaf yah, tapi ini udah takdir Allah subhanallah wa taala. Jadi belajar yah untuk menerima semua ini, sebenarnya Alice berat juga menerimanya, tapi sekarang Alice udah ikhlas jika abang sama yang lain dan Alice udah nyaman di sini bang."

"Makanya aku mau ikut kamu aja."

"Enggak bang, waktu kamu masih panjang." Ujar Alicia sambil menggelengkan kepalanya.

Bukannya mendapat respon Agha, malahan Agha melamun sambil menatap arah depan.

"Bang, kamu gak sayang sama aku?."

"Siapa bilang, aku bahkan lebih menyayangi mu daripada diriku sendiri."

"Nah, kalau gitu aku mau abang bisa bangkit dari keterpurukan ini, aku mau kamu lihat orang-orang yang udah membentangkan tangannya untuk menyambut kamu bang. Banyak orang yang sayang sama kamu dan menanti kamu untuk siuman."

"Tapi kamu janji untuk tidak marah ke abang."

"Gak bang, kapan Alice marah. Ah iya, Alice cuman pesan ke abang untuk jaga emosi abang yah, selesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari jalan yang bener."

"Baiklah, abang akan ingat terus ucapan kamu."

"Bang tetap mau kirim doa untuk aku dan terus berbuat baik untuk abang dan keluarga kan?."

"Tentu, kamu tenang aja. Abang bakalan melakukan itu, karena itu tugas abang."

"Yaudah kalau gitu aku pamit yah bang, jangan lupa bahwa, banyak orang yang sayang sama abang."

"Iya, yaudah assalamualaikum Alice calon istri abang."

"Wa'alaikumsalam bang.Percaya deh, jauh didepan sana abang bakalan jumpa sama kebahagiaan abang."

"Aamiin, tapi abang maunya sama kamu."

"Jika nanti Allah subhanallah wa taala mentakdirkan abang dengan wanita lain, maka terima yah bang, karena Alice bakalan bahagia melihat abang bahagia walau bukan sama Alice."

"Abang maunya sama kamu Alice, kalau pun itu bakalan hadir, maka sifat abang bakalan tidak seperti berhadapan dengan kamu."

"Tapi ingat, jangan terlalu dalam menyakiti hati wanita bang, apalagi kelak dia akan menjadi pasangan halal kamu dan ibu dari anak-anak kamu, karena Alice takut Allah subhanallah wa taala menghukum abang."

"Apapun itu, kamu tetap pemilik singgasana di hati abang.

"Terimakasih yah bang, Alice pamit, assalamualaikum bang."

"Wa'alaikumsalam Alicia Anggraini Mahendra."

Alicia berjalan menuju cahaya dan setelah itu pandangan Agha silau, Agha mencium aroma obat-obatan dan bau antiseptik, saat tersadar dirinya udah di ruangan rawat inapnya. Terlihat ada umah yang senantiasa memegang telapak tangan nya, pelan tapi pasti Agha menggerakkan jarinya perlahan dan dari umah menyadari itu.

Umah tersentak akan gerakan dari jari tangan Agha, tak lama mata Agha kebuka pelan-pelan kemudian terbuka lebar.

"Umah."

"Iya nak, ini umah."

"Umah, haus umah."

"Ini nakk, minum pelan-pelan." Umah memberikan air mineral di botol serta pipet agar memudahkan Agha untuk minum.

"Udah umah."

"Ada yang sakit nak?."

"Gak Umah, tapi badannya kenapa lemas yah umah. Boleh minta tolong brankar nya agak duduk gak umah, gak nyaman kalau kayak gini umah."

Langsung umah ubah posisi brankar (tempat tidur pasien) Agha melalui remote yang di letakkan di bawah brankar, setelah menyetel posisinya umah dan menurut Agha udah nyaman baru umah duduk kembali.

"Erlan, umah rindu banget sama kamu nak, kamu lama banget bangunnya."

Mendengar itu, Agha tersenyum dan berkata maaf dan itu berulangkali sampai membuat umah bingung.

"Kamu gak salah nak, gak usah minta maaf."

"Maaf umah, maaf udah buat umah sedih."

"Umah malah terimakasih banget sama adek yang udah mau bangun, umah rindu sama keceriaan kamu."

"Ohiya bentar kamu harus di periksa dokter dulu, umah panggil yah." Umah pergi keluar untuk memanggil dokter, sementara Agha melihat sekeliling kamarnya tak lama umah datang dengan dokter David.

Dokter David memeriksa Agha mulai dari mata, telinga, detak jantung, pernafasan, gerakan tangan hingga kaki yang berat di gerakkan.

"Ini bagian kaki saya kok berat digerakkan?."

"Itu efek dari anda yang tidak siuman setelah 3 hari lamanya, untuk bisa lancar menggerakkannya anda bisa ikut terapi jalan yang ada di rumah sakit ini. Untuk kesehatan yang lainnya Alhamdulillah tidak ada masalah, di mohon untuk kedepannya di jaga kesehatan nya yah pak Agha."

"Baik, terimakasih."

"Jika ada yang di butuhkan bisa panggil saya atau perawat lain, kalau begitu saya pamit dulu pak, bu assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam." Ucap Agha dan umah kompak.

"Terimakasih dokter."

"Sama-sama Bu." Dokter David pun keluar dari ruangannya, hanya ada umah dan Agha saja sebab Aqila tadi pulang untuk menjemput Aya sekolah.

"Umah."

"Iya nak." Jawab umah, tapi Agha tidak bicara malah menunduk dan ternyata Agha menangis.

"Kamu kenapa sayang?."

"Teringat Alice, umah."

"Belajar ikhlas yah sayang, umah tau ini berat bahkan untuk kita semua, tapi belajar yah sayang."

Agha terdiam mendengar ucapan umah, seketika dirinya mengingat kembali pertemuannya dengan Alicia di taman bunga yang lokasinya kemungkinan besar bukan di dunia.

"Maaf umah." Agha menundukkan kepalanya, air matanya menetes kembali.

Umah langsung memeluk Agha dan menguatkan lagi anaknya, rasa kehilangan masih akan terbebas sampai kapanpun.

"Umah yakin Erlan kuat, kalau mau nangis, nangis aja nak umah gak larang. Tapi hari ini aja yah, besok jangan."

Seketika tangisan Agha pecah dan air matanya menetes terus, sampai Abah yang baru datang barengan dengan Aqila dan Andra di buat panik.

"Kenapa umah?."

"Erlan udah siuman abah, Alhamdulillah abah." Ucap umah seperti itu agar tidak membuat Agha melamun dan menangis.

"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih engkau masih memberikan saya izin untuk merawat anak hamba."

Abah langsung memeluk Agha erat, dan Agha membalas pelukan Abah tak kalah erat. Begitu juga dengan Aqila dan Andra. Setelah pelukan dan temu kangen di lakukan, giliran mereka mengobrol ringan guna mengalihkan kesedihan Agha.

Agha mendengar, dan sesekali tertawa kecil mendengar cerita tentang keaktifan kedua keponakan nya. Masih ingat kan dengan Aya dan Hamza, mereka salah satu warna cerah di hidup Agha yang monoton.

1
Desi Ramadhani
dikira uang bisa menggantikan nyawa hilang, gila sih
Desi Ramadhani
ceritanya bangus thor, semangat terus buat karyanya👍💕
Kim Umai
makasih juga sudah mampir☺️
Renjana Senja
aku mampir Thor. jangan lupa mampir di karya aku ya. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!