Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan di danau teratai
Di sepanjang jalan, ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari "Napas Alam Semesta" yang baru saja ia pelajari meresap ke dalam sumsum tulangnya. Meskipun hanya berlatih selama beberapa menit, fondasi tubuhnya yang sebelumnya rapuh kini terasa lebih padat, seolah-olah setiap sel di tubuhnya telah bangun dari tidur panjang. Rasa sakit kronis yang biasanya menghantui dadanya kini sirna, berganti dengan kehangatan yang mengalir tenang seperti sungai di bawah kulitnya.
Shang Zhi tiba di Lapangan Utama, namun ia tidak melihat keributan fisik. Sebaliknya, ia melihat pemandangan yang lebih menyakitkan: Yun Xi berdiri di tengah kepungan murid-murid kaya, sementara Lu Feng berdiri di depannya dengan senyum penuh kemenangan. Murid-murid di sekeliling mereka berbisik-bisik, beberapa mencemooh, sementara yang lain hanya menonton dengan tatapan haus drama.
"Yun Xi, kau adalah mutiara di sekte ini. Mengapa kau bersikeras bergaul dengan tikus dari Paviliun Kayu Layu?" Lu Feng memegang sebuah kotak giok berisi Pil Penguat Jiwa yang sangat mahal. Aroma obat yang kuat menguar dari kotak itu, menandakan kemurnian yang cukup tinggi bagi murid biasa. "Terima ini, dan jadilah pendamping kultivasiku. Aku akan memindahkanmu ke Paviliun Awan Biru tingkat atas hari ini juga."
Yun Xi tampak sangat tidak nyaman. Tangannya terkepal hingga kuku jarinya memutih. "Aku tidak butuh pilmu, Lu Feng. Dan Shang Zhi bukan tikus. Dia memiliki martabat yang lebih tinggi dari siapapun di sini!"
"Martabat?" Lu Feng tertawa sinis, diikuti oleh tawa antek-anteknya yang merendahkan. "Di dunia ini, kekuatan adalah martabat. Jika dia punya martabat, mengapa dia bersembunyi di perpustakaan saat kau diganggu?"
"Siapa yang bilang aku bersembunyi?"
Suara Shang Zhi memotong tawa Lu Feng. Penonton menyingkir, memberi jalan bagi pemuda berpakaian kusam itu. Meskipun pakaiannya sederhana, ada aura ketenangan yang tidak biasa terpancar dari langkahnya. Shang Zhi berjalan tenang menuju Yun Xi, berdiri tepat di sampingnya.
"Shang Zhi..." Yun Xi menghembuskan napas lega, ketegangannya mencair seketika. Ada binar harapan di matanya yang sebelumnya redup.
Shang Zhi melirik kotak giok di tangan Lu Feng dengan tatapan meremehkan. "Pil berkualitas rendah seperti itu bahkan tidak pantas diberikan kepada anjing penjaga gerbang. Simpan saja untuk dirimu sendiri, Lu Feng. Mungkin itu bisa membantumu menutupi bakatmu yang pas-pasan."
Wajah Lu Feng memerah padam. "Kau!... beraninya kau menghina pemberian keluarga Lu! Jika kau merasa hebat, buktikan di Danau Teratai malam ini. Kita akan bertanding kekuatan Qi. Siapa yang gagal berdiri di atas air teratai, harus berlutut dan menggonggong di depan seluruh sekte!"
"Shang Zhi, jangan! Danau Teratai memiliki gravitasi buatan yang kuat. Hanya mereka yang memiliki kontrol Qi sempurna yang bisa berdiri di sana!" bisik Yun Xi khawatir, jemarinya menyentuh lengan Shang Zhi, mencoba menariknya pergi.
Shang Zhi menatap Yun Xi dengan senyum tipis yang menenangkan, lalu menatap Lu Feng. "Malam ini. Di Danau Teratai. Siapkan suaramu untuk menggonggong."
Malam pun tiba. Cahaya rembulan memantul di permukaan Danau Teratai yang tenang namun mematikan. Ratusan murid berkumpul untuk menyaksikan duel ini udara malam terasa berat oleh tekanan formasi gravitasi kuno yang menyelimuti area danau. Lu Feng melompat ke tengah danau, mendarat di atas daun teratai besar. Tubuhnya sedikit bergoyang, namun ia berhasil menstabilkan diri menggunakan energi Formation Qi-nya.
"Giliranmu, pengemis!" tantang Lu Feng dengan suara yang menggema di permukaan air.
Shang Zhi melangkah ke tepi danau. Ia tidak melompat. Ia berjalan biasa, seolah-olah ada tangga tak kasat mata di atas air. Setiap langkahnya tidak menimbulkan riak sama sekali, seolah berat tubuhnya telah menyatu dengan udara. Ia berdiri di atas daun teratai yang jauh lebih kecil dari milik Lu Feng, namun ia tampak sangat kokoh, bagaikan gunung yang berakar di dasar bumi.
Lu Feng terkejut, namun ia segera merapalkan mantra. "Kau pikir bisa menang hanya dengan trik keseimbangan? Rasakan ini! Gravitasi Seribu Roh!"
Ia menghentakkan kakinya, mengirimkan gelombang tekanan melalui air menuju Shang Zhi. Air danau meledak ke atas, menciptakan tekanan luar biasa yang mencoba menenggelamkan Shang Zhi. Beban gravitasi di titik Shang Zhi berdiri mendadak melonjak berkali-kali lipat, cukup untuk menghancurkan tulang murid biasa.
Shang Zhi memejamkan mata, menerapkan teknik "Napas Alam Semesta" yang baru ia pelajari. Ia tidak melawan gravitasi; ia menjadi bagian dari gravitasi itu sendiri. Ia membiarkan energi penekan itu mengalir melaluinya, bukan menabraknya. Air yang menyerangnya justru berputar di sekelilingnya, membentuk pusaran yang indah namun tidak menyentuhnya sama sekali. Cahaya perak samar mulai muncul di permukaan kulitnya, menyerap tekanan tersebut menjadi energi murni.
"Hanya ini?" tanya Shang Zhi dengan suara datar yang menusuk.
Ia menghentakkan kaki kanannya pelan. Sebuah riak kecil menyebar. Riak itu tampak lemah, namun saat menyentuh daun teratai Lu Feng, energi itu meledak secara internal. Gelombang itu membawa resonansi alam semesta yang tidak bisa dibendung oleh teknik buatan.
Buaarr!
Lu Feng kehilangan keseimbangan. Gravitasi yang ia ciptakan sendiri justru berbalik menyerangnya karena ia kehilangan kontrol Qi. Ia jatuh tercebur ke dalam air dingin danau, basah kuyup dan terlihat sangat mengenaskan, terengah-engah di bawah beban tekniknya sendiri.
"Kau kalah," ucap Shang Zhi dingin dari atas air. Tatapan matanya menghujam Lu Feng yang sedang meronta di air. "Ingat janji itu. Aku menunggu gonggonganmu besok pagi."
Yun Xi berlari ke tepi danau dengan wajah berseri-seri. Di bawah sinar bulan, di hadapan semua orang, Shang Zhi memberikan tangannya pada Yun Xi untuk membantunya menyeberangi jembatan kayu. Sentuhan tangan mereka memberikan kehangatan yang tak terlukiskan, seolah-olah takdir mereka kini telah terikat lebih kuat dari sebelumnya.
Para murid yang sebelumnya mencemooh kini terdiam, terpaku oleh pemandangan luar biasa tersebut. Mereka menyadari bahwa hierarki di sekte ini baru saja terguncang hebat.
Malam itu, bukan hanya kemenangan yang didapat Shang Zhi, tapi juga sebuah pengakuan tak tertulis: bahwa ada naga yang sedang tertidur di Paviliun Kayu Layu, dan naga itu baru saja membuka matanya.
...Bersambung.......