NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:627
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Jatuh dalam simpony

Pesan dalam bayangan yang mengantarkanku dalam kesan yang mendalam, merajuk pada asmara yang kelam yang menyapu hangat menjadikannya pedih atas kata dari kejujuran.

Rona menatap ruang kerjanya dan menata beberapa barang barunya. Sekilas ia berkaca akan keadaan dirinya yang sudah jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Telepon kabel yang baru saja terpasang itu menambah kesan meja perkantoran ala ibu kota. Beberapa furniture itu atas rekomendasi dari Emily. Percepatan dalam layanan telepon tersebut memudahkan kerja Rona dalam bisnis ini.

Sudah sejak lama ia menantikan akan adanya alat komunikasi jarak jauh tersebut masuk ke desa mereka. Koneksi yang mudah dan cepat ini sangat berguna untuknya.

Sebuah cermin besar dengan ukir kayu terpahat sempurna dengan cat pernis coklat tua menambah kesan klasik yang sangat identik dengan ruangan tersebut. Beberapa guci dan vas bunga tertata rapi di sudut ruangan. Tak lupa dengan gelas kaca berisikan tiga tangkai mawar segar yang diganti tiga hari sekali.

Taman-taman bunga di kebun mereka kini telah bermekaran, menandakan musim telah berganti. Sudut demi sudut ruangan yang ada di kediaman tersebut diubah sedikit demi sedikit. Banyak dan tidak banyak yang berubah, yang berubah mungkin sosok yang tak lagi ia lihat belakangan ini.

kegiatan Rona seperti biasa kecuali kepala pelayan yang baru sekaligus menjadi sekretaris utamanya. Rona berjalan meninggalkan ruangannya dan bergegas menaiki kereta kuda pergi mengunjungi butik Emily yang baru saja akan diresmikan beberapa hari lagi.

Sebelum sampai ia turun dari kereta kudanya dan meninggalkan kusir dan menyuruhnya langsung datang ke tempat Emily.Rona berjalan di pusat pertokoan tersebut menatap satu demi satu toko dan melewatinya. Toko kain dengan jejeran warna dan kilauan kain tersebut memancarkan cahaya pantulan dari matahari. kesan nya terlihat cantik.

Mata Rona menatap penjual ubi bakar pinggir jalan sambil berjalan Rona membeli beberapa bungkus dan duduk di perempatan menatap air mancur menikmati lalu lalang kendaraan, orang lalu lalang dengan menggoes sepedanya, beberapa anak berlari dengan layangan, ada juga gadis kecil penjual lukisan hingga bunga. Rona menikmati ubi bakar tersebut sambil melihat sekitarnya sambil sedikit termenung.

“Sungguh kehidupan yang menggembirakan, tenang, santai dan kesepian.” Diantara banyaknya manusia yang ada disekitarnya bagai roda yang mengelilingi bundaran tersebut, Rona seperti tak merasakan apapun selain kesendirian.

Seseorang melekatkan minuman dingin dipipi Rona membuatnya terkejut.

“Apa ini?” Teriaknya kaget menatap seseorang itu.

“Maaf nona, aku tak ingin kau terhanyut dalam pikiran dan memakan bungkus kertas ubi bakarmu tanpa minuman.” Tawa Nathan menghilangkan sedikit rasa sepi dalam pikiran Rona.

“Naaathan! aku kira siapa?!” Nada merajuk namun tetap menerima minuman dari lelaki itu.

Nathan duduk tepat di samping Rona dan menaruh kedua tangannya di bangku dan meregangkannya. Nathan menatap sekitar dan menikmati pemandangan air mancur yang ada di hadapannya.

“Disini tenang juga ya, jadi apa yang sedang kau pikirkan?” Nathan menoleh ke arah Rona yang sedang sibuk memakan ubi bakar tersebut menggenggam dengan kedua tangannya.

“Aku hanya menikmati dan hanya menjadi pengamat manusia.Kau mau?” Rona menatap Nathan, lelaki itu langsung memakan ubi bakar yang masih dalam genggaman Rona.

“Enal juga, lain kali aku akan membelinya.” Spontan Nathan memakan ubi bakar milik Rona.

Telinga Rona sedikit memerah, Rona menatap Nathan dan meliriknya.

“Kenapa kau memakan punyaku?” Tanya Rona kaget dengan tingkah Nathan.

“Bukannya kau menawariku, atau cuma basa basi.” Nathan tertawa menatap wajah cemberut Rona, Nathan tertawa sambil memegangi mata kirinya. Bagian wajahnya setengan tertutup sedangkan tangan satunya berada di perutnya dan ia masih tertawa.

“Kau sungguh luar biasa, datang pergi dan melakukan sesuka hatimu.” Dengan nada datar Rona mengalihkan pandangannya.

“Hei apa maksudmu? kau membicarakan aku atau seseorang?” Tanya Nathan sambil memegang bahu Rona.

Gadis itu tidak menanggapi Nathan dan meminum minuman yang dibawanya tadi, Rona berdiri dan menatap Nathan. Rona hanya menggelengkan kepalanya mengajak lelaki itu pergi dari tempat itu.

“Baiklah ayo, mungkin kakakmu sedang menunggu.” Nathan dan Rona meninggalkan kursi pinggir air mancur tersebut dan berjalan ke arah toko Emily.

Sambil melihat kekanan dan kekiri nathan melihat bunga matahari yang sudah mekar dengan indahnya. Lelaki itu langsung memasuki toko tersebut dan menarik tangan Rona.

“Tunggu sebentar.” Nathan masuk kedalam toko dan membungkus satu buket bunga matahari untuk Emily.

Rona menatap beberapa bunga yang ada di pot depan toko tersebut dan mendekatkan wajahnya ke beberapa bunga. Mencium beberapa aroma dari bunga tersebut.

“Mau dicari bagaimanapun tak ada harum sewangi aroma tubuh lelaki tersebut.” Rona masih sedikit menunduk menatap beberapa bunga.

Nathan menyodorkan setangkai bunga ke pipi Rona. Rona menoleh ke arah Nathan dan mencium bunga tersebut. Bunga mawar berwarna Pink dengan kelopak bawah putih. Jarang sekali ada bunga gradasi dua warna seperti ini.

“Ah terimakasih.” Tangan Rona mengambil setangkai mawar tersebut.

“Ayo Emily pasti sudah menunggu.” Kepala Nathan menggeleng kekiri dengan senyuman manis nya seperti biasa.

Seorang pria manis penuh dengan kelembutan dan pria yang dicintai kakak perempuannya. Lelaki itu selalu bersikap seperti pria. Langkah kakinya selalu menyamai teman berjalannya, sama seperti saat berjalan bersamaku maupun bersama Emily ya seperti tindakan sopan santun. Beberapa wanita pasti akan terpaku dan tersipu dengan perlakuannya. Mungkin banyak yang akan jatuh cinta.

Rona menatap bahu lebar itu berjalan beberapa langkah di depannya sambil membawa buket bunga matahari. Rona mengangkat tangannya dan melebarkannya menutupi tubuh lelaki itu. Diantara telapak tangan yang Rona lebarkan ada cahaya matahari yang menyilau mengenainya.

“Untuk apa bertubuh bidang, tinggi dan memiliki kaki panjang yang cukup jenjang. Kalau bukan dia?! Lagi-lagi aku mengingat lelaki itu.” Rona menghela nafas dan meletakkan tangannya di kepala dan tangan satunya meremas gagang mawar tersebut.

“Rona ayo.” Nathan berbalik menatapku dan menghentikan Rona dalam melamunkan seseorang.

“Seseorang yang sudah lama aku rindukan itu entahlah.” Rona bergumam pelan dan sedikit berlari kecil ke arah Nathan.

“Maaf aku datang.” Rona hanya tertawa kecil dan berjalan bersama Nathan.

Langkah kaki mereka seirama, cuaca saat itu sangat cerah. Beberapa orang disekitar mereka sedang berbahagia, bersemangat, tempat yang sangat rama untuk pertemuan penjual dan pembeli. Pusat pertokoan ini sangat diminati.Banyak orang-orang ramah walaupun tidak dikenal menyapa mereka.

Sampailah Rona dan Nathan ke depan butik milik Emily. Beberapa orang sedang memasang papan nama toko tepat di depan toko tersebut. Emily menatap kedua orang itu yang datang bersama.

“Kalian datang bersama?” Senyum Emily merekah.

“Ini hadiah untukmu.” Nathan menyerahkan buket bunga tersebut.

“Ya kami tidak sengaja bertemu dan berjalan kesini bersama.” Rona menyembunyikan setangkai mawar tersebut di belakang badannya.

Nathan langsung mengikuti Emily masuk.

“Sebaiknya kau cepat Rona.” Pinta Emily pada Rona agar ikut masuk kedalam.

“Baiklah kakak.” Rona mengeluarkan mawar tersebut dan menyimpannya di dalam saku baju dalamnya.

Bau dari aroma yang ia kenali seperti baru saja melewatinya, Rona berbalik dan menatap sekeliling namun tidak ada apapun.

“Apakah aku salah? Tapi tadi seperti aroma seseorang? entahlah.” Rona mengabaikannya dan masuk kedalam butik mengikuti Emily.

Apa itu bau dari indra penciuman yang peka? Ya aku mengalaminya. Memiliki kepekaan yang berbeda jauh dari manusia lain. Aroma tubuhnya bagai simphony yang bernyanyi. Bau dari Aromanya seakan membawaku untuk menari. Akankah aku terjatuh dalam ingatan yang memilukan ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!