NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : evolusi fisik

Fajar menyingsing di Hutan Larangan. Kabut tebal menyelimuti lembah, tapi di Markas Bara, suhu udara terasa panas.

Bara sedang duduk bersila di atas batu datar, telanjang dada. Di hadapannya, sebuah panci mendidih mengeluarkan uap berwarna ungu kemerahan. Baunya seperti campuran toko obat Cina.

Ini adalah Proyek Rekonstruksi Tubuh: Protokol Gatotkaca.

"Tubuh ini menyedihkan," gumam Bara, menatap lengan atasnya yang masih lembek.

"Metabolisme lambat, kepadatan tulang rendah, kapasitas paru-paru setara perokok berat. Saatnya perombakan total."

Bara telah meracik ramuan terkuatnya sejauh ini.

Bahan utamanya:

Sari Jahe Merah Mutan (yang pedasnya bisa melubangi aspal).

Empedu Ular Sanca (kebetulan kemarin ada ular sanca kecil yang "berani" mampir ke kandang ayam dan dikeroyok Sersan Jago sampai tewas).

Akar Pasak Bumi liar.

Madu Hutan Murni sebagai pelarut.

"Sakit sedikit tidak masalah. No Pain, No Gain," ucap Bara.

Dia mengangkat panci (yang sudah agak dingin, hangat kuku) dan menenggak isinya dalam satu kali tegukan panjang.

Glek. Glek. Glek.

Hening tiga detik.

Lalu...

"HWAAAAA PANASSS!"

Bara berteriak, suaranya menggema ke seluruh hutan. Burung-burung beterbangan kaget. Sersan Jago yang sedang tidur langsung jatuh dari dahan pohon.

Rasanya seperti menelan bara api cair. Ramuan itu membakar lambungnya, lalu menyebar ke pembuluh darah. Jantung Bara berdetak seperti drum band metal: Dug-dug-dug-dug!

Keringat hitam pekat—berbau busuk—mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah racun-racun masa lalu: residu mie instan, polusi kota, dan daki tahunan.

Bara tidak menyerah. Dia memaksakan diri melakukan gerakan cepat, push-up, sit-up, dan memukul-mukul batang pohon pisang hutan.

" Padatkan ototnya!"

Satu jam kemudian, penyiksaan itu berakhir.

Bara ambruk di pinggir sungai, napasnya memburu. Dia menyeret tubuhnya masuk ke air dingin.

Cesss... Air sungai mendesis saat bersentuhan dengan kulitnya yang demam.

Setelah mandi dan membilas lendir hitam itu, Bara naik ke darat dan bercermin di genangan air tenang.

Hasilnya?

Otot dada mulai bidang dan keras. Perutnya yang tadinya kurus kering sekarang six-pack. Kulitnya yang kusam berpanu kini bersih, berwarna putih yang glowing.

Bara mengepalkan tangannya. Urat-urat menonjol di lengannya.

"Power: Meningkat 300%. Stamina: Infinite. Karisma: Overload," analisis Bara sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.

"Sri! Tati! Lihat tuanmu!" seru Bara pada ayam-ayamnya.

Ayam-ayam itu menatapnya bingung, lalu lanjut makan cacing. Mereka tidak peduli estetika manusia.

Badan sudah enak, sekarang rumah. Terpal biru itu sudah mulai bocor dipatuk burung.

"Seorang Sultan butuh Istana. Bukan tenda pengungsian," kata Bara.

Dia mengeluarkan golok—yang kini terasa ringan seperti mainan di tangan barunya yang kuat.

Bara masuk ke rimbunan Bambu Petung di pinggir sungai.

Trass! Krak!

Sekali tebas, bambu sekeras beton itu tumbang. Kekuatan fisiknya yang baru benar-benar mengerikan.

Bara mengangkut sepuluh batang bambu besar sendirian di bahunya (dulu angkat satu saja ngos-ngosan). Dia mulai membangun menggunakan teknik Pasak dan Ikat.

Dia memotong bambu, melubanginya dengan ujung golok, lalu menyambungnya. Untuk tali pengikat, dia menggunakan serat kulit pohon Waru yang uletnya minta ampun.

Desainnya: Rumah Panggung Minimalis.

Lantainya diangkat 50 cm dari tanah (biar nggak ada ular masuk). Dindingnya anyaman bambu jarang (sirkulasi udara). Atapnya tetap terpal, tapi dilapisi daun rumbia di atasnya agar adem dan tidak berisik kalau hujan.

Tiga jam bekerja tanpa henti. Gubuk ukuran 3x3 meter itu berdiri kokoh.

Di depannya, Bara membuat teras kecil. Dia membuat kursi malas dari bambu.

"Sempurna," Bara duduk di kursi bambu buatannya. "Tinggal butuh Wi-Fi dan Kulkas dua pintu."

Siang harinya, Bara turun gunung. Dia mencoba berlari kecil (jogging) sambil memikul dua jerigen udang dan sekeranjang telur. Dia tidak merasa lelah sama sekali. Napasnya teratur.

Tujuannya: Bengkel Motor "Barokah Abadi" di desa terdekat.

Bara sampai di bengkel yang penuh oli itu. Seorang montir tua bernama Bang Udin sedang mengutak-atik mesin motor bebek., bara sedikit kenal dengan orang ini.

"Bang udin" sapa Bara.

Bang Udin menoleh. Dia pangling. "Lho? Mas Bara? Kok... beda? Habis nyalon di mana Mas? Kulitnya kinclong bener."

"Perawatan alami lumpur sungai, Bang," jawab Bara asal. "Bang, saya butuh kendaraan. Kaki saya capek kalau harus bolak-balik angkut logistik."

"Mau motor apa? Bebek? Matic?"

"Saya butuh yang bisa angkut beban berat. Tangguh di segala medan. Dan murah," kata Bara tegas.

Bang Udin menunjuk ke pojok bengkel, di bawah pohon mangga, tertutup debu dan sarang laba-laba.

Sebuah Motor Roda Tiga bekas. Bak belakangnya karatan. Ban depannya kempes. Joknya sobek. Warnanya sudah pudar menjadi abu-abu depresi.

"Itu rongsokan," kata Bang Udin. "Mesinnya nyala sih, tapi karburatornya banjir mulu. Gardannya bunyi klotak-klotak. Kalau mau, angkut 1,5 juta."

Bara mendekati "bangakai" besi itu. Dia mengelus bak besinya.

Dingin. Keras. Berpotensi.

"800 ribu," tawar Bara. "Ini tidak bisa lagi disebut motor, ini lebih kearah besi tua yang kebetulan punya roda."

"Yaelah Mas, 800 dapet sepeda onthel. 1,2 juta deh."

"900 ribu. Dan saya perbaiki sendiri di sini pakai alat Abang," tawar Bara lagi.

"Sejuta pas. Angkut. Kalau nggak mau, biar jadi rumah ayam."

"Deal. Sejuta."

Bara mengeluarkan uang hasil penjualan minggu ini. Sakit rasanya melihat uang itu pergi, tapi ini investasi.

Bara mulai bekerja. Dia bukan montir biasa. Dia Alkemis Mekanik.

Masalah motor ini adalah Pembakaran Tidak Sempurna.

Bara membongkar karburatornya. Kotor sekali, penuh kerak karbon.

Dia tidak punya Carb Cleaner. Dia mengeluarkan botol kecil dari sakunya—berisi sisa cuka asam tinggi yang dia fermentasi sendiri.

Dia merendam spuyer (jet) karburator itu ke dalam cuka racikannya.

Cessss!

Kerak karbon rontok seketika.

Lalu dia melihat olinya. Hitam pekat seperti aspal.

"Ganti oli," kata Bara. Dia membeli oli termurah di bengkel itu. Tapi sebelum dituang, Bara mencampurkan sedikit bubuk grafit (dari isi pensil yang dia gerus) ke dalam oli.

Grafit adalah pelumas padat anti-gesek. Ini akan membuat mesin tua itu lebih halus suaranya.

Bara memasang kembali semuanya.

Dia duduk di jok yang sobek itu.

Kunci kontak diputar.

Ceklek.

Bara menggenjot kick starter dengan kaki barunya yang bertenaga super.

Blet... blet... Gagal.

Sekali lagi.

BLET... GRENG! TENG-TENG-TENG-TENG!

Mesin 150cc tua itu menderu.

Asap putih mengepul dari knalpot (sedikit ngebul, wajar motor tua). Suaranya kasar, tapi bertenaga.

"HIDUP!" teriak Bara. "Bangkitlah, wahai Kuda Besi Neraka!"

Bang Udin melongo. "Buset. Kok suaranya jadi garing gitu? Diapain Mas?"

"Sentuhan kasih sayang dan sedikit ilmu kimia," jawab Bara sambil memakai kacamata hitam patahnya.

Bara mencoba menjalankan motor itu.

Gerrrr...

Motor roda tiga itu bergerak maju. Bak belakangnya bergetar hebat, tapi rodanya berputar mantap.

"Terima kasih, Bang Udin! Kalau butuh obat kuat, hubungi saya!"

Bara melaju meninggalkan bengkel dengan bangga. Dia mengendarai motor gerobak karatan itu seolah sedang mengendarai Harley Davidson.

Di tengah jalan, dia mampir ke toko bangunan.

Dia membeli:

Cat Semprot (Pylox) warna Hitam Doff dan Emas.

Kawat Ram (untuk kandang ayam tambahan).

Terpal Baru warna cokelat (biar estetik).

Dia memarkir motornya di pinggir hutan.

Sambil menunggu mesin dingin, Bara melakukan Modifikasi Visual.

Dia menyemprot seluruh bodi motor yang karatan itu dengan warna Hitam Doff. Lalu di bagian tangki bensin, dia menggunakan cat emas untuk menulis nama motornya dengan tulisan kaligrafi artistik:

"THE BLACK CHARIOT"

(Kereta Hitam)

"Nah, sekarang lebih berkelas," Bara mengangguk puas.

Malam itu, Bara memacu The Black Chariot menanjak jalan setapak menuju markasnya. Motor itu meraung berjuang di tanjakan tanah, tapi berhasil sampai di pelataran tebing.

Sersan Jago berkokok kaget melihat monster hitam itu datang.

Bara memarkir motornya di samping gubuk bambu barunya.

Sekarang dia punya:

Fisik yang upgrade (Otot kawat tulang besi).

Rumah panggung bambu yang layak huni.

Kendaraan operasional The Black Chariot (Motor Gerobak).

Dan sisa uang... (Hampir habis, tinggal 100 ribu).

"Uang habis, tapi aset bertambah," Bara menepuk jok motornya. "Besok, kita akan memenuhi bak belakang motor ini dengan obat kuat dan telur. Kita akan menguasai pasar induk!"

Bara tidur malam itu di atas lantai bambu yang wangi, dengan senyum lebar di wajahnya yang kini lebih tampan. Raja Hutan akhirnya punya tahta dan kereta kencana.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!