Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Dengan adanya foto ini, aku bisa menemukan keberadaan orang-orang itu dengan cepat." Draco tersenyum, menghubungi bawahannya. "Kerahkan pasukan untuk mencari orang-orang di foto ini. Aku ingin menangkap dan menghancurkan mereka secepatnya."
Draco tertawa, mengembus napas panjang. Saat melihat sebuah notifikasi, rasa bahagianya mendadak pudar. "Sesuai dengan dugaanku, Luc dan Graham bisa melarikan diri dari serangan pasukanku. Sayangnya, mereka tidak akan bisa melarikan diri terus menerus. Mereka akan tertangkap secepatnya."
Sebuah lubang seketika muncul di bawah kursi Draco. Pria itu tertarik ke bawah dengan cepat. Ia tiba di sebuah ruangan, merenggangkan badan beberapa kali.
"Aku sebaiknya beristirahat sekarang dan menunggu kabar baik esok. Aku yakin Lorcan, Luc, Graham, maupun orang-orang itu bisa tertangkap oleh pasukanku."
Draco berbaring di ranjang, menutup mata, dan tak lama setelahnya tertidur.
Suasana di markas utama tampak sangat ramai oleh para robot maupun anggota Galata.
Di waktu yang sama, Luc dan Graham tengah melarikan diri dari kejaran pasukan Galata. Mereka saling bertukar kabar mengenai keadaan mereka. Galata mengerahkan pasukan terbaik untuk menemukan keberadaan mereka.
Di tempat berbeda, pasukan Galata juga terus mencari keberadaan Lorcan maupun anggota kelompok lain. Pencarian dikerahkan secara besar-besaran. Orang-orang berkemampuan khusus juga ikut diterjunkan untuk pencarian itu.
Luc mengirimkan pesan darurat pada Lance. Ia terus melarikan diri sepanjang malam untuk menghindari penangkapan.
Lance seketika terbangun ketika mendengar suara alarm. Ia terkejut saat layar menunjukkan kode merah. "Pasukan Galata mengincar ayah dan Graham. Ini berbahaya."
Lance menggeser tubuh ke dekat layar hologram, mengetik dengan sangat cepat. Beberapa robot membantunya, berada di sisi kiri dan kanan.
"Ayah menugaskanku untuk menyelamatkan orang-orang berkemampuan di pulau itu ke tempat yang aman. Selain itu, dia akan memutuskan koneksi ... tiga puluh menit lagi."
"Apa kau sudah tahu keadaan sekarang, Lance?" tanya George sembari duduk di samping Lance. Ia tampak terkejut setelah mendapatkan kabar dari Graham mengenai penangkapan yang dikerahkan Galata.
"Aku sudah mengetahuinya. Ini sangat berbahaya. Galata tampaknya mengerahkan orang-orang berkemampuan khusus untuk menangkap ayahku, Graham, dan musuh-musuhnya. Koneksi kita juga akan diputus dalam waktu kurang dari setengah jam."
George mengembus napas panjang. "Serahkan pemutusan semua koneksi padaku. Kau selamatkan orang-orang berkemampuan di pulau itu. Satu hal lagi, jangan beri tahu apa pun soal ini pada yang lain dahulu. Kita akan memberi tahu mereka saat pekerjaan kita selesai."
Lance menguap beberapa kali, merenggangkan badan. "Ini akan jadi pekerjaan yang menegangkan. Aku harap aku tidak tertidur di saat mengerjakan tugas ini."
Lance dan George berkutat dengan pekerjaan mereka di tengah waktu yang semakin larut. Keadaan kediaman utama tampak hening dan normal. Para penjaga dan robot tampak berada di lokasi penjagaan mereka.
Xander, Lizzy, Alexis, dan semua penghuni rumah sudah terlelap sejak beberapa jam lalu. Hujan mendadak mengguyur deras, membawa udara dingin.
Osvaldo Tolliver nyatanya masih terjaga. Pria itu berada di meja, mengamati beberapa buku catatan sihir kuno. Beberapa kode dan gambar aneh terpampang cukup jelas di lembar-lembar kertas buram.
Osvaldo Tolliver membuka lembaran kertas hingga tiba di sebuah lembar bergambur sosok mata satu dengan tanda tengkorak bertanduk.
"Sosok hitam adalah makhluk yang dipercaya sebagai lambang kesesatan dunia. Dia merupakan sosok ternoda yang mengetahui semua rahasia alam semesta. Tuhan tidak menghukum sosok itu dengan alasan sosok itu sebagai ujian besar bagi manusia yang beriman."
"Orang-orang yang menghambakan diri pada sosok hitam itu akan mendapatkan semua keinginannya. Hanya saja, untuk bisa memiliki koneksi dan menjadi hamba sosok itu, dibutuhkan pengorbanan yang tidak main-main. Manusia harus menjual jiwa dan hidupnya pada sosok itu dan merelakan dirinya hidup di neraka."
Osvaldo Tolliver mengembus napas panjang, melihat kilatan petir di antara celah jendela dan tirai. Udara dingin menyeruak hingga ia merasa sangat ketakutan.
Osvaldo Tolliver menutup buku, memijat dahi yang pening. "Dalam berbagai literatur, sosok hitam itu memiliki banyak nama dan sebutan. Akan tetapi, pada intinya sosok itu mengarah pada satu sosok yang sama."
"Dalam berbagai catatan, tidak ada keterangan yang secara gamblang menjelaskan cara mengalahkan sosok hitam itu. Dalam beberapa kita suci, keimanan pada Tuhan akan menguatkan diri dan menjamin keselamatan dari sosok itu."
Osvaldo Tolliver meninggalkan ruangan, berjalan-jalan di lorong. Pria itu teringat dengan beberapa penglihatan yang dirinya lihat akhir-akhir ini. "Kekacauan sudah semakin dekat, bahkan mendekati kediaman ini. Aku tidak terbiasa bekerja dalam kelompok, tetapi untuk menghadapi musuh saat ini, aku tidak mungkin bisa menang seorang diri."
Osvaldo tiba di ruangan latihan. Ia melihat sebuah ruangan yang menyala. "Siapa yang sedang berlatih di waktu selarut ini?"
Gavin nyatanya tengah berlatih dengan para robot di ruangan. Pria itu berhasil menyelesaikan berbagai tantangan hingga ke level tertinggi.
Gavin menembak tiga robot yang menyerang dari tiga arah berbeda. Latihan selesai bersamaan dengan ruangan yang kembali ke keadaan semula.
Gavin membungkuk, menatap tetes keringat yang berjatuhan. "Aku harus melakukan semua hal yang bisa aku lakukan sekarang. Meski begitu, fakta jika aku tidak bisa menggunakan kemampuanku hingga sekarang adalah sesuatu yang terus membebaniku."
Osvaldo Tolliver memasuki ruangan. "Aku tidak tahu kau berlatih hingga waktu selarut ini, Gavin. Apa menurutmu kau tidak terlalu berlebihan?"
Gavin menyeka keringat. "Situasi semakin tidak terkendali akhir-akhir ini. Aku harus melakukan sesuatu agar tidak dicap sebagai beban."
Osvaldo Tolliver duduk di kursi. "Tanpa kemampuan sekalipun, kau sudah sangat berguna bagi tim. Tidak ada siapa pun yang akan mengatakan kau beban. Jangan sampai perasaanmu mengambil alih kendali dirimu."
"Berbicara adalah hal yang paling mudah dilakukan." Gavin bersiap untuk ronde kedua. "Apa kau akan melihatku berlatih?"
Osvaldo Tolliver berdiri. "Tidak, aku ingin menenangkan diriku sekarang. Aku sejujurnya muak dengan peristiwa-peristiwa buruk yang aku lihat beberapa waktu ini."
Osvaldo Tolliver berjalan menuju pintu, berhenti, menoleh pada Gavin. "Jika kau membutuhkan sebuah saran, aku akan memberi tahumu sesuatu. Ketenangan adalah kunci utama dari semua hal. Lepaskan semua beban dan ikuti arusnya."
Gavin mengamati kepergian Osvaldo Tolliver. "Itu bukan saran yang baru aku dengar. Aku bahkan sudah mempelajarinya sejak dahulu. Ketengan memanglah kunci semua hal."
Ruangan mulai berubah dan para robot seketika bermunculan dari lantai. Gavin segera menarik pistol, bergerak secepat mungkin sembari melayangkan tembakan sekaligus memang pelindung dari serangan.
Para robot mulai berjatuhan, tetapi kembali bangkit dalam waktu singkat. Gavin bergerak sembari menghindar dari serangan dan jebakan yang muncul dari atas, bawah, dan samping ruangan.
Gavin mendadak teringat dengan kenangan masa kecilnya sehingga konsentrasi dan fokusnya terganggu. Alhasil, ia nyaris terkena serangan dan tertabrak balok dari samping kiri dan kanan.
Gavin kembali bergerak, tetapi ingatan masa lalunya kembali memenuhi isi kepalanya. Semua yang muncul adalah momen rasa iri dengki pada semua orang.
"Ah!" Gavin terkena serangan hingga terlempar dan ambruk di lantai. Para robot segera bergerak ke arahnya dengan cepat.
Gavin memejamkan mata, berusaha masuk ke alam pikirannya sendiri. Ia terkejut saat melihat sosok dirinya yang sedang terikat oleh rantai hitam yang besar. Ruangan di sekelilingnya menunjukkan jam dan kilasan waktu.
Di waktu yang sama, pasukan Galata mendapatkan informasi mengenai Bennet.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍