NovelToon NovelToon
Kenapa Harus Aku

Kenapa Harus Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanillastrawberry

Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengaku salah

Semalaman Arina tidak bisa tidur, permasalahan nya tidak sesederhana menemukan siapa yang menyabotase mobil ayah nya, lalu semuanya selesai.

Ada Alvian yang adiknya kehilangan sebelah kakinya, yang lebih menyakitkan ada Riska yang kehilangan adik satu-satunya, satu-satunya keluarga yang dia punya, dan ada dua korban lagi yang kalau mereka juga berniat balas dendam sudah di pastikan Arina akan dalam kesulitan besar.

Malam semakin larut tapi kantuk tak kunjung mendatangi nya, hanya kesunyian serta jejak jarum jam yang menemani malam panjang nya.

Di pikir-pikir kalau posisinya di balik, ia sebagai keluarga korban mungkin akan melakukan hal yang sama, siapapun pelakunya tidak akan bisa merubah keadaan, tidak akan bisa mengembalikan kaki tania dan tidak bisa menghidupkan Aliya.

Tapi, bukankah hal terbaik yang bisa di lakukan adalah berdamai dengan keadaan, pun ketika suatu saat ia bisa membuktikan kalau Ayahnya tidak bersalah ataupun tidak, tetap akan ada yang di hukum nanti nya.

Pagi harinya, sengaja ia bangun pagi-pagi sekali, sengaja ingin memasakkan Alvian sesuatu, beruntung desi juga sudah bangun sehingga ia bisa bertanya banyak hal tentang makanan favorit Alvian, meskipun tidak bisa menebus apa yang sudah terjadi, setidaknya ia berniat untuk meminta maaf pada pria itu dengan tulus. 

Senyum nya merekah puas kala melihat semua hidangan kesukaan Alvian tertata rapi di atas meja, ia tinggal bersiap-siap untuk ngantor hari ini.

Ia melihat pintu kamar Alvian masih tertutup rapat saat mengeceknya setelah selesai bersiap, tapi ia mendengar pergerakan di dalam nya, jadi ia memutuskan untuk menunggu pria itu di meja makan.

Derap suara pantofel terdengar semakin nyaring, Arina gugup seketika, ia tidak terbiasa bersikap manis pada Alvian sejak mereka pertama kali bertemu. Tapi, keputusan nya sudah bulat, demi keberlangsungan hidupnya dan juga sang ayah, ia harus bisa menekan egonya.

Jantung nya berdegub kencang begitu pria itu semakin mendekati meja makan, bahkan deheman yang biasa ia anggap angin lalu kini terasa seperti momok untuk nya, setinggi itu ego nya, tapi kali ini ia tidak berniat untuk mengalah.

" Mau sarapan apa?" Arina memberanikan diri untuk menatap pria itu sebelum mengambil piring Alvian. Seperti dugaan nya, wajah kaku Alvian sedikit bervariasi dengan alis yang sedikit terangkat, pasti pria itu menganggap nya aneh pagi ini. Ya, memang aneh sih.

" Desi!" 

" Berhenti memanggil Desi, aku sedang menyuruhnya berbelanja."

 Arina sudah menduga sebelumnya, karena itu ia menyuruh Desi pergi sebelum Alvian turun, semakin sedikit yang tau maka akan semakin baik, ia tau saat ini, meski ia menurunkan harga dirinya sekali pun, Alvian tetap akan mengabaikan nya paling bagus, paling buruk nya laki-laki itu akan menindasnya habis habisan . karena ia berjanji untuk tidak menanggapi nya, jadi untuk saat ini selain Alvian, ia tidak siap orang lain tau kalau ia akan tetap bersabar saat dirinya di tindas

Alis Alvian menukik seketika." Siapa kamu yang berani menyuruh-nyuruh orang ku!" Geram nya 

" Aku istri mu, kamu nggak mungkin lupa kan?" Biasa nya ia akan berekspresi masam saat berbicara dengan pria itu, tapi kini ia berusaha semanis mungkin meski jawabannya terkesan menyebalkan.

" Aku yang menggaji seluruh pegawai di rumah ini! Jadi jangan pernah lancang memerintah mereka karena kamu bukan nyonya di sini!"

Arina menghela napas panjang, " baiklah! Maafkan aku! Jadi kamu mau makan pakai apa?" Karena tak mendapatkan jawaban, Arina asal mengambilkan sembarang lauk, toh semua hidangan pagi ini kesukaan Alvian.

" Makan lah, aku sengaja bangun pagi-pagi khusus untuk memasak semua ini, semoga kamu suka." 

Tau diri juga ternyata! nyinyir Alvian dalam hati.

Alvian memang tak memberikan jawaban apapun, tapi ia cukup puas karena bayangannya kalau alvian akan membuang makanan yang ia ambilkan ke tempat sampah tidak terjadi, justru dia memakannya meski tanpa kata terima kasih yang terucap.

" Katakan apa mau mu! Kalau kamu meminta kebebasan aku akan membebaskan mu, asal bukan perceraian!"

Arina tersenyum masam, meskipun Alvian keukeh mengurung nya, ia dengan seribu cara pasti bisa keluar dari rumah ini. Tapi, bukan itu yang ia inginkan saat ini.

" Aku mau minta maaf, atas nama Ayah ku aku minta maaf pada mu!" Lirih nya, tapi cukup jelas pada pendengaran Alvian.

" Aku tidak memaafkan!"

Arina tertunduk lesu, memang tidak mungkin semudah itu, luka batin yang di timbulkan pasca kecelakaan itu memang cukup serius.

" Aku tau, tapi aku tidak akan menyerah untuk meminta maaf pada mu, tak apa kamu bersikap buruk selamanya pada ku, asal pada akhirnya kamu memaafkan ku, ku rasa itu cukup sepadan."

Arina terkejut, saat Alvian membanting sendok nya ke atas piring. " Itu terlalu murah Arina, kaki di balas kaki, nyawa di balas nyawa. Sebelum itu aku akan memberimu pernikahan neraka sebagai salam pembukanya."

Arina mengepalkan tangannya yang tersembunyi di bawah meja, sekali lagi ia mencoba memposisikan dirinya sebagai Alvian dan Riska untuk menekan egonya.

" Maafkan aku!" Lirih nya menahan tangis. Alvian memejamkan mata, hati nuraninya berperang melawan egonya, dari dulu ia memang tidak menyukai wanita yang menangis, terlebih karena nya.

Alvian berdiri tiba-tiba hingga kursinya menciptakan suara derit yang cukup keras, ia harus segera pergi sebelum hatinya luluh karena air mata Arina, ia tidak tau apakah itu air mata sungguhan atau airmata buaya. Yang jelas apapun itu, ia tidak ingin terlalu cepat memaafkan.

" bagaimana kalau Ayahku di jebak?" Langkah Alvian yang mendadak berhenti membuat Arina berani mengangkat wajah nya, ia memperhatikan punggung lebar Alvian yang berbalut kemeja putih yang sangat pas, Andai situasi nya tak seperti ini, mungkin ia akan tergiur dengan punggung menggoda itu.

" Bagaimana kalau ada yang menyabotase mobil Ayahku? Apa kau masih akan membenci kami berdua."

Alvian tertawa sumbang, bisa-bisanya ia rela berhenti hanya untuk mendengarkan omong kosong itu, jelas-jelas saat di introgasi, Ayah Arina mengaku mengantuk saat mengemudi.

" Sudah membual nya? Kalau mau cuci tangan pastikan airnya cukup bersih dan higienis ."

Air mata Arina mengembung seketika di pelupuk matanya, ia kira kata-kata nya itu bisa membuatkan clue untuk Alvian kalau Ayah nya tidak bersalah, syukur-syukur kalau pria itu mau membantunya untuk mengungkapkan pelakunya.

Tapi rupanya harapannya terlalu tinggi, ia terlalu berharap banyak pada orang yang kebencian nya pada dirinya sudah mendarah daging.

Waktu yang biasanya bisa ia habis kan dengan cepat untuk makan kini terasa begitu lambat, pikirannya sedang kacau. Ia tengah berpikir keras memikirkan cara untuk membuktikan kalau ayah nya tidak bersalah.

Setelah menghabiskan sisa makanannya, dengan langkah malas ia melenggang menuju garasi, mobil di kendarai dengan kecepatan lebih lambat dari biasanya, pikiran nya sedang kacau, kalau ia tidak berhati-hati bisa-bisa ia celaka.

Akan semakin sulit mengungkapkan kebenaran kalau untuk bergerak saja dirinya kesulitan.

Di sisi lain, beberapa kali Alvian memukul setir mobil nya, bahkan ia kehilangan fokus saat meeting dengan para pemegang saham. sorot mata Arina yang menyiratkan luka saat ia terang-terangan menolak percaya bualan wanita itu begitu mengganggu nya.

Ia merasa Arina tidak sedang berbohong, tapi Ayahnya sendiri yang mengakui kalau dirinya mengantuk saat sedang mengemudi sehingga mobil nya kehilangan kendali.

Bahkan ia masih ingat, permintaan maaf Sofyan saat ia mendatangi laki-laki paruh baya itu di lapas, laki-laki itu sendiri yang mengaku kalau dia bersalah.

" ada yang di tanyakan pak Al?" ia tidak sadar jika seluruh orang tengah memperhatikannya, hingga sebuah tendangan kecil di ujung sepatunya, serta tatapan Riska yang cukup mengintimidasi menyadarkan nya.

Untuk sesaat ia di landa kecanggungan, tapi sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, ia bisa dengan mudah menguasai dirinya serta menguasai keadaan kembali.

" ada masalah pak Alvian? Seperti nya anda kurang fokus pada meeting kita kali ini?." Erlangga, salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan nya tersenyum tipis, tapi cukup membuat Alvian gugup.

" maafkan saya bapak Erlangga, saya pastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Alvian menghela napas lega begitu Erlangga mengangguk dan seperti tidak tertarik untuk memperpanjang masalah itu.

Sial! Harusnya di saat seperti ini ia tidak boleh memikirkan Arina, sudah pasti Arina sedang berusaha mencari kambing hitam untuk cuci tangan.

1
j_ryuka
bagus
Mentariz
Good girl! Kusuka gayamu 😄
Mentariz
Idih sok beralasan luuu kelaut aja lu sono
Panda%Sya🐼
Habislah kalau di suruh nikah😆
Panda%Sya🐼
Lumrah manusia ini. Setiap kali ada hal darurat, pasti ponselnya lowbet atau gak ada jaringan
Blueberry Solenne
Bener, semua harus ke handle, dan harus mengutamakan pekerjaan utama, semangat ya Arina!
Blueberry Solenne
Ya ampun gemesnya yang lagi kasmaran, cuit cuit... 😁
HOPEN
😢😢
Kim Umai
wajar sih gak mau ketemu
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
paling benci sama cowok selingkuh
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
bukan kesalahan kamu Arina jangan merasa bersalah
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
j_ryuka
kamu gak salah, tapi waktu yang membuatnya ini harus terjadi
Tulisan_nic
Aduh, tapi ya gimana ya. Sebagai posisi korban aku rasa juga wajar kalau begitu
Tulisan_nic
banyak juga kornanya
Tulisan_nic: korban🥲
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Yang sabar Rin/Sob/
Panda%Sya🐼
Hmm selingkuh lagi ini/Sob/
chrisytells
Jangan ada korban? Anak SD disekolah itu mungkin, sampai masuk penjara?
chrisytells
Bisa jadi Arina benar nih.
Blueberry Solenne
Ini bukan kesalahan kamu Arina ini sudah kehendak sang penguasa, kamu pasti bisa melewatkan ujian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!