ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 12: Jaring Tipis Perasaan dan Bayangan Baru.
Keputusan Alaska untuk menarik Kaito dari tugas pengawalan Sania adalah sebuah bentuk negosiasi internal. Ia tahu, 'Si Pisau Dingin' tidak terpengaruh oleh dakwah Sania seperti Tino. Namun, ketenangan Kaito yang justru membuatnya tidak bisa diserang balik oleh Sania secara ironis malah menyulitkan Alaska. Ketaatan tanpa cela Kaito menghilangkan alasan Alaska untuk memarahinya atau menuduhnya 'teracuni'. Ia membutuhkan pengawal yang setidaknya bisa ia kontrol, atau yang kehadirannya tidak menimbulkan kesunyian mengganggu yang menggarisbawahi kegagalannya.
Namun, sebelum pengganti baru, yang dijanjikan Alaska akan lebih "sekuler" dan "keras kepala" tiba, Alaska memutuskan untuk menyisipkan jeda. Jeda yang ia gunakan untuk mengamati dan, secara tak terduga, untuk mendengarkan Sania.
Malam di Bawah Pengawasan
Malam itu, setelah Sania selesai dengan rutinitas mengajinya, Alaska duduk di teras belakang, menyeruput kopi hitam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya sedang memikirkan strategi bisnis. Sania mendekat dengan dua cangkir teh hangat.
"Teh jahe lagi, Tuan," ujar Sania, meletakkan satu cangkir di samping Alaska. "Untuk menghangatkan tubuh dan hati yang sedang berperang."
Alaska mendengus. "Perang batin itu milikmu, Sania. Aku tidak sedang berperang. Aku hanya membersihkan sampah di sekitarku."
Sania duduk di kursi seberang. "Tuan, coba lihat. Ketika Anda membuang sampah, ia akan meninggalkan bau. Bau itu berasal dari apa yang Anda buang, dan bau itu menempel pada tangan Anda. Anda tidak bisa membuang bau itu dengan mengganti pengawal, tapi dengan mencuci tangan."
"Dan 'mencuci tangan' menurutmu adalah?" tantang Alaska, menyindir.
"Dengan bertaubat dan ikhlas, Tuan," jawab Sania tenang. "Anda sangat takut pada perubahan di sekitar Anda, tetapi takut pada perubahan adalah ciri jiwa yang tidak siap menghadapi kebenaran. Anda takut pada bayangan Tino yang kini bebas dari belenggu harta Anda. Anda takut Kaito yang sedingin pisau pun suatu hari akan mencair dan menemukan jalan."
Alaska menatap cangkir tehnya. "Aku hanya takut hartaku menjadi sarana untuk menghancurkan hidupku sendiri. Dan kau, Sania, kau adalah katalisnya."
"Tuan, harta adalah ujian, bukan ancaman. Allah berfirman: 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.' (QS. At-Taghabun: 15). Bagaimana Anda menggunakan harta Anda untuk mendekatkan diri kepada-Nya, itulah yang menentukan takdir Anda, bukan seberapa banyak harta itu bisa mengendalikan orang lain," nasihat Sania. "Bukankah sangat menyedihkan, Tuan, melihat seorang Mafia sebesar Anda menghabiskan energi hanya untuk memastikan orang lain tidak mendapatkan hidayah? Kekuatan Anda menjadi alat untuk menimbun kebaikan, padahal seharusnya ia menjadi jembatan menuju kebaikan."
Alaska tidak menjawab. Kata-kata Sania bukan lagi seperti tusukan pedang, melainkan seperti tetesan air yang terus menerus menghantam batu.
Pengawal Baru: 'Si Batu Karang'
Seminggu kemudian, pengganti Kaito tiba. Namanya Bara.
Bara adalah pengawal pribadi yang dipilih Alaska dari jaringan keamanan tingkat internasional. Ia adalah seorang ahli bela diri yang tidak terikat pada afiliasi agama mana pun, memiliki pandangan hidup yang sinis, dan terkenal dengan reputasi kebal terhadap pengaruh emosional. Alaska menyebutnya 'Si Batu Karang', berharap Sania akan menyerah ketika berhadapan dengan tembok keacuhan Bara.
Bara memiliki perawakan besar, rambut cepak, dan mengenakan kacamata hitam bahkan di dalam ruangan. Ia tidak banyak bicara, tetapi jika berbicara, nadanya singkat, padat, dan otoriter.
"Bara," Alaska menginstruksikan dengan Sania berdiri di samping, "Tugasmu adalah menjaga Nyonya Sania dari bahaya fisik. Kau tidak memiliki tugas lain. Kau tidak perlu mendengarkan atau menjawab setiap pertanyaan atau nasihatnya. Anggap saja dia adalah radio yang sedang menyala di kursi belakang, tetapi kau harus fokus pada jalan. Kau mengerti?"
"Siap, Tuan," jawab Bara dengan suara berat, tanpa ekspresi.
Sania tersenyum di balik cadarnya. Senyum yang membuat Alaska tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Selamat datang, Bara," sapa Sania lembut. "Semoga perjalanan kita dipenuhi kebaikan."
Bara hanya mengangguk kecil, sama sekali tidak terpengaruh.
Sania melihat ke arah Alaska.
"Tuan Alaska," Sania menyindir, "Anda sungguh gigih dalam menciptakan musuh bagi diri sendiri. Anda membawa Batu Karang ke sisi saya, berharap saya patah arang. Anda tidak sadar, Tuan, bahwa Batu Karang sekalipun akan berlubang jika terus menerus dihantam oleh air. Dan air itu adalah kelembutan Tauhid. Anda hanya menunda, bukan mencegah."
"Aku tidak menunda, aku memastikan, Sania. Kali ini, kau akan bertemu tandinganmu," balas Alaska, tatapannya menantang.
Ujian Keikhlasan dan Kesabaran
Sesi 'bimbingan' di dalam mobil berlanjut, tetapi kali ini, Sania harus berhadapan dengan keacuhan yang total dari Bara.
Saat Sania menuju majelis ilmu, ia mencoba membuka pembicaraan dengan Bara.
"Bara, apakah Anda sudah sarapan? Saya bawakan biskuit gandum, ini baik untuk lambung," Sania menawarkan.
"Sudah, Nyonya. Terima kasih," jawab Bara datar, matanya fokus pada spion samping.
"Anda terlihat selalu siap siaga. Itu bagus. Tapi, apakah Anda tidak lelah? Tubuh dan jiwa kita punya haknya masing-masing. Tidurlah di malam hari, dan carilah kedamaian di siang hari. Tidur yang paling menenangkan adalah saat kita sudah meminta ampunan dari Allah sebelum terpejam," Sania memberi nasihat.
"Saya dibayar untuk tidak lelah, Nyonya," balas Bara, sama sekali tidak menoleh.
Pada perjalanan lain, Sania mencoba lagi.
"Bara, saya dengar Anda ahli bela diri. Kekuatan fisik adalah anugerah. Bagaimana jika kekuatan itu tidak hanya digunakan untuk melindungi raga, tetapi juga untuk melindungi iman? Sebab, Hadits riwayat Muslim menyebutkan: 'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.' Kekuatan sejati adalah kekuatan iman, Bara."
Bara tetap diam selama beberapa saat, dan Sania mengira ia gagal. Namun, Bara tiba-tiba menjawab, suaranya lebih serak dari biasanya.
"Nyonya," katanya dingin, "Saya hanya percaya pada kekuatan yang bisa saya lihat, sentuh, dan gunakan. Iman tidak masuk dalam kategori itu."
Sania tersenyum lembut. "Justru di situlah letak kekuatannya, Bara. Iman adalah kekuatan tak terlihat yang menggerakkan yang terlihat. Cinta kepada Allah adalah kekuatan yang membuat hamba-Nya berani meninggalkan dunia demi surga. Ia adalah kekuatan yang membuat Bilal, budak hitam, berani mengucapkan Ahad! Ahad! di bawah siksaan. Itu adalah kekuatan yang tidak bisa dibeli oleh Tuan Alaska, dan tidak bisa dipatahkan oleh keahlian bela diri Anda."
Bara tetap diam. Namun, seperti Kaito, Sania menangkap pergeseran halus. Bara biasanya memegang kemudi dengan cengkeraman baja yang konstan. Kini, jemarinya sedikit melonggar. 'Si Batu Karang' mulai merasakan air.
Cemburu yang Semakin Memuncak.
Alaska, yang terus mengawasi Sania dan Bara dari jauh melalui kamera pengawas dan laporan pengawal lain, merasa lega karena Bara tidak menunjukkan tanda-tanda 'keracunan'. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Suatu malam, Alaska melihat rekaman CCTV. Sania memberikan Bara sebuah kotak bekal yang berisi masakan rumahan. Sania tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum ramah dan meletakkannya di kursi samping. Bara, setelah Sania masuk ke mobil, mengambil kotak bekal itu, menatapnya lama, sebelum akhirnya memakannya di dalam mobil sebelum mengemudi. Bara tidak pernah menerima makanan dari siapa pun di rumah itu kecuali dari koki.
Melihat Bara makan bekal buatan Sania beban batin yang ia tolak dari Tino dan Kaito membuat Alaska naik pitam. Itu adalah pelanggaran protokol keacuhan!
Alaska memanggil Sania ke kamar mereka.
"Kau tidak punya malu, Sania! Kau memberikan bekal makanan kepada pengawal baru. Apa yang kau rencanakan sekarang? Meracuninya dengan kasih sayang?" tuntut Alaska, wajahnya memerah.
Sania berdiri dengan tenang di hadapan suaminya. "Tuan, saya memberikan Bara makanan karena melihat ia tidak sempat makan siang. Islam mengajarkan kita untuk berbagi makanan. Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan (orang lain).' (HR. Ahmad). Itu bukan racun, Tuan, itu adalah fitrah kemanusiaan. Apakah Anda ingin saya hidup di rumah ini tanpa berbuat kebaikan sedikit pun?"
"Tujuanmu bukan kebaikan, Sania, tapi merusak kepatuhan mereka!" sergah Alaska.
"Tuan Alaska, Anda salah besar. Saya tidak merusak kepatuhan mereka kepada Anda. Saya hanya membuka pintu hati mereka kepada Allah. Dan jika mereka memilih untuk patuh kepada-Nya, itu adalah pilihan yang tidak bisa Anda lawan," balas Sania, suaranya bergetar karena ketegasan yang tak tertahankan.
Sania melangkah mendekat. "Tahukah Anda apa yang paling menyakitkan bagi saya, Tuan? Saya melihat Anda begitu gigih menghalangi jalan orang lain menuju kedamaian. Anda tidak cemburu pada Tino atau Kaito atau Bara. Anda cemburu pada diri Anda sendiri yang tidak berani melakukan apa yang mereka lakukan! Anda cemburu pada ketenangan yang Anda lihat di mata mereka, dan Anda tahu, ketenangan itu tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan Anda!"
Kata-kata 'cemburu' itu lagi-lagi menghantam Alaska, kali ini lebih keras karena ia melihat sisa bekal di dalam mobil Bara. Ia merasa seolah Sania bukan hanya mengambil Tino, tetapi juga perlahan-lahan mengambil 'miliknya' yang paling ia hargai: kendali total atas orang-orang di sekitarnya.
Alaska mundur selangkah, napasnya tersengal.
"Cukup, Sania. Jangan coba-coba memprovokasiku lagi."
"Saya tidak memprovokasi Anda, Tuan. Saya hanya mencintai Anda," ujar Sania, suaranya melembut, kontras dengan ketegasannya sebelumnya. "Saya mencintai Anda karena Allah. Dan cinta yang demikian, tidak akan membiarkan orang yang dicintai terus menerus berjalan ke arah jurang. Saya adalah istri Anda, Tuan. Saya adalah bagian dari takdir Anda. Dan tugas saya adalah mengingatkan Anda, meskipun Anda harus mengganti seribu pengawal, Allah akan selalu mengirimkan pengingat yang baru."
Sania meninggalkan Alaska dalam keheningan kamar yang berat. Sang Mafia, yang terbiasa mengendalikan hidup dan mati, kini merasa terperangkap dalam jaring tipis perasaan yang ia ciptakan sendiri. Ia harus mengakui, ia tidak hanya cemburu pada kedamaian mereka, tetapi juga mulai merindukan kedamaian itu.
__Sebuah hati yang tertutup adalah benteng terkuat yang tidak bisa ditembus oleh peluru, tetapi akan runtuh oleh kelembutan yang jujur. Jangan pernah takut pada air yang menetes, karena ia yang akan melubangi batu karang. Kekuatan sejati seorang manusia bukan pada seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, melainkan pada seberapa lapang hatinya menerima kebenaran yang datang dari manapun__
Bersambung ....