Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Senyum Sang Dalang
"Tunggu di sini, Mei. Aku punya satu urusan yang tertinggal." ucap Boqin Tianzun dengan suara yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang membeku.
Sua Mei hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Boqin, tapi ia memercayai pria itu sepenuhnya. Boqin melesat kembali, bukan sebagai murid yang mencari perlindungan, melainkan sebagai penguasa yang datang untuk meninjau ladang pembantaiannya.
Di tengah reruntuhan Aula Utama yang sudah separuh runtuh, dua sosok tergeletak bersimbah darah. Boqin Ming dan Tetua Agung saling bersandar pada pilar yang retak, keduanya bernapas tersengal-sengal dengan luka yang mengerikan di sekujur tubuh. Pedang mereka patah, dan energi Qi mereka telah terkuras habis.
"Sekte kita... hancur..." gumam Tetua Agung dengan suara parau "Gara-gara putramu yang bejat itu, Ming... semuanya berakhir."
"Diamlah..." Boqin Ming terbatuk darah. "Yan akan membayar ini... tapi Boqin Tianzun... setidaknya dia bisa membangun kembali sekte ini. Dia adalah jenius yang tersisa."
Tepat saat nama itu disebut, suara langkah kaki yang tenang terdengar di atas puing-puing kayu yang terbakar. Tap. Tap. Tap.
Boqin Tianzun muncul dari balik kabut asap. Pakaiannya bersih, wajahnya tenang, tidak ada satu pun goresan luka di tubuhnya. Ia berdiri di depan kedua orang tua yang sedang sekarat itu, menatap mereka dengan tatapan yang sangat meremehkan.
"Kau... kau selamat, Anakku?" Boqin Ming mencoba mengulurkan tangan yang gemetar. "Cepat... ambilkan obat di Gudang Pusaka... kita masih bisa menyelamatkan tempat ini."
Boqin Tianzun tertawa kecil. Suara tawa itu terdengar sangat asing bagi mereka—bukan tawa seorang anak yang takut, tapi tawa seorang pemangsa yang sedang menikmati hasil buruannya.
"Gudang Pusaka?" Boqin Tianzun merogoh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebotol pil tingkat tinggi yang sangat dikenali oleh Boqin Ming. "Maksudmu ini, Ayah? Sayangnya, gudang itu sudah kosong. Aku sudah mengambil setiap butir debu berharga di sana."
Mata Boqin Ming dan Tetua Agung membelalak. "Apa maksudmu...?"
"Kalian benar-benar bodoh!" ucap Boqin sambil berjongkok di hadapan mereka. "Siapa yang menurut kalian memberikan obat perangsang itu pada Yan? Siapa yang memancing Lin Xia ke paviliun malam itu? Dan siapa yang membisikkan racun di telinga kalian masing-masing agar kalian saling membenci?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Boqin Ming. "Kau... kau yang merencanakan semua ini?"
"Tentu saja," jawab Boqin dingin. "Kau ingin menjadikanku pion? Kau ingin memanfaatkanku sebagai senjata? Aku hanya membalikkan papan caturnya. Kalian semua hanyalah pion-pion kecil yang kugerakkan agar aku bisa mendapatkan sumber daya untuk menyembuhkan Sua Mei dan pergi dari tempat busuk ini."
Tetua Agung meraung dengan sisa tenaganya, "Kau iblis! Putriku mencintaimu, Boqin Tianzun! Kau menghancurkan hidupnya demi seorang pelayan?!"
"Cinta?" Boqin menatap Tetua Agung dengan jijik. "Cinta putrimu hanyalah alat bagiku. Dan bagimu, Ming... terima kasih telah melindungiku selama turnamen. Perlindunganmu sangat membantuku untuk menghancurkanmu tanpa hambatan."
Boqin Ming meneteskan air mata darah. Rasa sakit dari pengkhianatan ini jauh lebih pedih daripada luka di tubuhnya. Ia melihat sekte yang ia bangun dengan darah kini rata dengan tanah karena putra yang ia remehkan, lalu ia puja, dan akhirnya ia jadikan obsesi.
"Bunuh... bunuh aku..." rintih Boqin Ming.
Boqin Tianzun berdiri, merapikan jubahnya. "Membunuhmu? Tidak. Itu terlalu mudah. Aku akan membiarkan kalian berdua tetap hidup di reruntuhan ini. Lihatlah sekelilingmu... rasakan kegagalanmu setiap kali kau bernapas. Aku akan membiarkan api ini padam perlahan, sebagaimana kehormatan kalian padam malam ini."
Boqin Tianzun berbalik, meninggalkan kedua pria itu dalam kehancuran mental yang total. Saat ia berjalan menjauh, langit di atas Sekte Giok mulai memucat, menandakan datangnya fajar bagi Boqin, namun kegelapan abadi bagi mereka yang tertinggal.
"Selamat tinggal, Ayah," gumam Boqin tanpa menoleh. "Terima kasih telah menjadi pion terbaik dalam permainanku."