"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Kegelapan
Pukul sembilan malam. Adinda berjalan keluar dari minimarket di lantai dasar komplek apartemen dengan menenteng satu kantong plastik berisi mie instan, telur, dan sekotak susu.
Jalanan samping yang menuju ke lobi belakang apartemen The Peak cukup sepi. Lampu jalan di area ini agak remang-remang karena tertutup rimbunnya pohon angsana. Biasanya, Adinda menikmati kesunyian ini. Namun malam ini, bulu kuduknya meremang.
Insting lamanya, yang sempat tertidur karena kenyamanan hidup sebagai mahasiswa, mendadak tersentak bangun.
Ada yang mengikuti.
Langkah kaki di belakangnya tidak berirama seperti orang yang sedang berjalan santai. Langkah itu berat, cepat, dan ada lebih dari satu pasang kaki.
Adinda mempererat cengkeramannya pada kantong belanjaan. Ia tidak menoleh. Ia memindai bayangan di aspal.
Tiga orang di belakang. Satu orang muncul dari balik tiang listrik di depan, memotong jalannya.
Adinda berhenti. Ia terjebak.
Pria di depannya mengenakan jaket kulit hitam dan masker kain yang menutupi separuh wajah. Tidak ada senjata tajam yang terlihat, tapi dari cara berdirinya, pria ini bukan preman pasar biasa. Posturnya tegap, kuda-kudanya terlatih.
"Serahkan dompet dan hp," kata Adinda tenang, mencoba berasumsi ini hanyalah perampokan biasa. Ia meletakkan kantong belanjaannya pelan-pelan di aspal. "Ambil saja, saya nggak akan teriak."
Pria itu tertawa. Tawa yang kering dan meremehkan.
"Kami tidak butuh recehanmu, Nona."
Adinda menyipitkan mata. "Lalu?"
"Kami butuh kau paham posisimu."
Tanpa aba-aba, pria di depan langsung menerjang dengan pukulan hook kanan yang keras.
Adinda bereaksi cepat. Ia menunduk, menghindari pukulan itu, lalu membalas dengan hantaman siku ke rusuk lawan. Pria itu mengerang, mundur selangkah.
Tapi tiga orang di belakang sudah bergerak maju.
Empat lawan satu.
Adinda berputar, menendang lutut penyerang kedua hingga terdengar bunyi krak. Penyerang ketiga mencoba memiting lehernya, tapi Adinda membantingnya dengan teknik judo ke aspal keras.
Pertarungan itu sengit. Napas Adinda memburu. Adrenalin membanjiri tubuhnya. Ia bergerak seperti kilat, menangkis, memukul, dan menghindar. Untuk sesaat, Adinda si Bodyguard kembali menguasai arena.
Namun, sesuatu mengganggu pikirannya.
Preman-preman ini... mereka tidak menggunakan senjata tajam. Mereka hanya menggunakan tangan kosong dan pentungan karet. Mereka tidak berniat membunuh. Gaya bertarung mereka taktis, seperti orang bayaran profesional.
Siapa yang mengirim mereka?
Pertanyaan itu membuat fokus Adinda pecah sepersekian detik. Ia teringat William. Apakah ini musuh bisnis William? Atau musuh lama Adinda sendiri?
BUGH!
Satu detik kelengahan itu berbayar mahal.
Sebuah hantaman pentungan karet mendarat telak di punggung Adinda. Rasa nyeri yang luar biasa meledak di tulang belakangnya, membuatnya terhuyung ke depan.
Belum sempat ia menyeimbangkan diri, sebuah tendangan keras menghantam perutnya.
"Ugh!" Adinda terbatuk, ludahnya bercampur darah.
Ia tersungkur ke aspal. Lututnya lecet parah. Kantong belanjaannya terinjak, telur-telur di dalamnya pecah, mengalirkan cairan kuning yang bercampur dengan debu jalanan.
Adinda mencoba bangkit, tangannya meraba aspal, bersiap menyerang lagi. Tapi dua orang preman langsung menahan kedua lengannya, memaksanya berlutut.
Pria pemimpin—yang tadi dipukul rusuknya—berjalan mendekat sambil memegangi sisi tubuhnya yang sakit. Ia menjambak rambut Adinda, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.
"Lumayan juga kau untuk ukuran perempuan," desis pria itu. "Pantas Tuan Muda betah."
Mata Adinda membelalak. Tuan Muda?
"Apa... maksudmu?" tanya Adinda terengah-engah.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Adinda.
"Dengar baik-baik, Cinderella. Pesta sudah usai. Jangan pernah mendekati William Bagaskara lagi."
Darah Adinda berdesir dingin. Jauh lebih dingin daripada rasa sakit di tubuhnya.
"Kau pikir kau siapa?" lanjut pria itu sinis. "Kau cuma mainan yang sudah waktunya dibuang. Orang tua William tidak suka ada sampah di sekitar anak mereka. Paham?"
Jadi ini bukan musuh bisnis. Ini keluarga William.
Hati Adinda seperti diremas. Ia merasa kecil. Ia merasa kotor. Selama ini ia berpikir hubungannya dengan William berjalan manis dan masih dalam tahap pendekatan. Ia tidak tahu bahwa kedekatan mereka sudah tercium, dan dianggap sebagai ancaman menjijikkan oleh keluarga Bagaskara.
"Jauhi dia," pria itu mempertegas cengkeramannya di rambut Adinda. "Atau lain kali, bukan cuma telur ini yang pecah. Tapi tanganmu yang berharga itu."
Pria itu menghempaskan kepala Adinda.
Adinda jatuh tertelungkup di aspal. Ia tidak bergerak, membiarkan rasa sakit fisik dan mental menghantamnya bersamaan.
"Cabut!" perintah si pemimpin.
Gerombolan preman itu berlari pergi, meninggalkan Adinda sendirian di gang gelap itu, ditemani pecahan telur dan mie instan yang berserakan.
Adinda berbaring di sana beberapa saat, menatap langit malam yang kosong.
Air mata menetes dari sudut matanya, bercampur dengan debu di pipi. Ia bukan menangis karena sakit dipukul. Ia sudah biasa dipukul.
Ia menangis karena sadar, tembok penghalang di antara dia dan William ternyata jauh lebih tinggi dan lebih kejam daripada yang ia bayangkan. William adalah pangeran di menara gading, dan Adinda baru saja diingatkan dengan cara paling brutal bahwa ia hanyalah rakyat jelata yang tidak pantas mendaki menara itu.
Dengan sisa tenaga, Adinda merangkak bangun. Ia memungut ponselnya yang layarnya retak.
Tidak ada sinyal keberanian lagi di matanya. Yang ada hanya rasa malu dan takut.
Malam itu, Adinda pulang ke apartemennya dengan terpincang-pincang, membawa serta luka yang tidak akan bisa sembuh hanya dengan obat merah.
lanjut thor
lanjuuut