"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
"Kamu kenapa sih, Run?" Tanya Yandra sembari mendekat.
Runi tak menyahut. Ia masih berusaha mengeluarkan muntahnya. Kepalanya mendadak kliyengan dan pandangan juga burem. Tiba-tiba semua terasa gelap.
"Runi!" Yandra seketika menahan tubuh Runi saat hendak jatuh ke tanah. "Runi! Kamu kenapa? Bangun Run!" Yandra menepuk pipi wanita itu pelan. Namun tak ada jawaban. Runi sudah tak sadarkan diri.
Yandra segera mengangkat tubuh Runi dan membawanya ke klinik terdekat. Ia ingin Runi mendapatkan pertolongan terlebih dahulu, nanti baru akan ia bawa ke RS.
"Istrinya kenapa, Pak?" Tanya dokter klinik saat Yandra membaringkan di ruang pemeriksaan.
"Ah, t-tadi tiba-tiba muntah dan pingsan," jawab Yandra gugup.
"Kita periksa dulu ya. Apakah istrinya sudah sarapan pagi?" Tanya dokter tersebut.
"S-saya tidak tahu, Dok," jawab Yandra masih gugup saat Dokter menyebut Runi sebagai istrinya.
Dokter perempuan itu menggelengkan kepala. "Masa sih anda tidak tahu? Kan anda suaminya?" Ujar dokter itu menatap tidak suka. Suami macam apa dia?
Yandra hanya diam dengan wajah datar. Ia masih menunggu hasil pemeriksaan dokter.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Yandra saat Dokter baru saja selesai memeriksa.
"Dugaan sementara, istri Bapak hamil. Tetapi untuk lebih jelasnya, nanti setelah dia bangun kita lakukan tespek."
"Apa? Hamil?" Yandra terkejut.
"Ya, ini masih dugaan sementara. Kita tunggu dulu Bu Runi bangun." Yandra membeku mendengar penjelasan dokter.
Benarkah Runi hamil? Tapi anak siapa yang di kandungnya? Bukankah ia sekali melakukan hal itu dengan Runi? Dan selama ini ia tahu bahwa Runi sedang menjalin hubungan dengan seorang pilot. Apa jangan-jangan Runi dan pilot itu sudah pernah melakukannya? Karena mereka sering bertemu secara diam-diam.
Tiga puluh menit Runi terbaring di ruang pemeriksaan. Perlahan wanita itu membuka matanya. Kepalanya masih terasa sangat pusing.
"A-aku dimana?" Tanyanya terbata-bata.
"Di klinik. Tadi kamu pingsan," jawab Yandra datar.
Runi mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya. Ia melihat jam dinding di ruangan itu. Dan suara ponselnya terus berdering.
Runi seketika bangkit dari tempat tidurnya. Ia teringat janji untuk bertemu dengan Kiram.
"Aku harus pergi sekarang!" Runi hendak bangkit, tetapi kepalanya masih terasa pusing.
"Ibu mau kemana? Kita belum melakukan tespek," seru Dokter membuat Runi mengangkat wajahnya.
"M-maksud Dokter?" Tanyanya tidak paham.
"Dari pemeriksaan saya, sepertinya ibu sedang hamil muda. Jadi untuk lebih jelasnya kita lakukan dulu tes kehamilan," terang dokter.
Runi terhenyak mendengar penjelasan dokter. Ia menggeleng tidak percaya. "Itu tidak mungkin Dok, saya tidak mungkin hamil," ucapnya menatap dokter dan juga Yandra.
"Kenapa Ibu tidak yakin? Semua wanita yang sudah menikah itu pasti akan hamil. Kecuali wanita itu memiliki riwayat penyakit serius," sambung dokter itu lagi.
Runi terdiam sepi dengan perasaan tak menentu. Apa yang harus ia lakukan jika benar dirinya hamil? Dan apa kata ibu dan ayah?
"Apakah ibu bisa ke kamar mandi sendiri?" Tanya dokter sembari menyerahkan wadah untuk menampung urine.
"Pak, tolong bantu istrinya ya?" Ujar dokter itu pada Yandra.
"Ah baik, Dok," Yandra membimbing Runi menuju toilet.
"Aku bisa sendiri, Mas," tolak Runi saat Yandra hendak ikut masuk kedalam.
"Kamu yakin?" Tanya Yandra.
"Ya." Runi segera menutup pintu toilet tersebut.
Wanita itu masih mematung dengan perasaan yang tidak karuan. Pernyataan Dokter itu pasti salah. Ia tidak mungkin hamil. Tetapi ia mengingat sudah beberapa bulan ini memang tidak datang haid.
Dengan jantung berdebar Runi menampung urinenya. Berharap dugaan Dokter salah. Sungguh ia belum siap untuk di titipkan seorang bayi. Di tambah hubungannya dan Yandra tidak ada kepastian. Bahkan saat ini Yandra akan menemui wanita lain.
Runi keluar dari toilet dengan membawa sampel urine dan menyerahkan pada dokter.
Dokter perempuan itu sudah menyediakan alat penguji kehamilan.
"Duduk saja dulu, Bu!" Titah dokter tersebut.
Runi mengangguk seraya duduk di samping Yandra. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Sekilas ia menatap Yandra yang berwajah datar. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh lelaki itu.
Dokter tampak fokus dengan pekerjaannya. Setelah mencelupkan alat penguji kehamilan itu, lalu mengangkatnya ke atas untuk menunggu strip yang keluar di benda tersebut.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya Runi tak sabar.
Dokter umum itu menatap Runi dan Yandra secara bergantian. Seketika senyum terukir di bibirnya.
"Selamat ya. Bu Runi positif hamil."
"Nggak! Itu nggak mungkin, Dok. Aku nggak mungkin hamil!" Seru Runi syok.
"Tapi memang kenyataannya anda hamil. Benda ini membuktikannya." Dokter memperlihatkan benda penguji kehamilan dengan garis dua merah muda.
Dokter menatap heran dengan pasangan ini. Kenapa mereka tampak tidak suka dengan kabar bahagia ini? Apakah mereka sedang ada masalah?
"Kenapa Bapak dan Ibu tidak bahagia dengan kabar ini? Biasanya orang akan senang dan sangat bersyukur atas kehamilan istrinya. Tapi kenapa Bapak ibu tampak tidak suka?" Tanya Dokter menatap curiga.
"Ah maaf, Dok. Kami hanya masih tidak percaya saja. Tentu saja kami bahagia. Kalau begitu saya akan melakukan pembayaran." Yandra segera menuju kasir klinik untuk membayar biaya pengobatan Runi.
Pasangan itu kembali memasuki mobil setelah mendapatkan hasil pemeriksaan. Yandra tak lantas menjalankan kendaraannya. Dan Runi hanya diam dengan wajah menunduk. Sungguh ini masih terasa mimpi.
"Mas Yandra harus segera menikahi aku," ucap Runi masih menunduk.
"Kamu yakin janin itu milikku?" Tanya Yandra membuat Runi seketika mengangkat wajahnya.
"Apa maksud kamu, Mas?" Tanya Runi tidak mengerti.
"Bukankah belakangan ini kamu sering bertemu dengan pilot itu secara diam-diam?"
"Lalu, kamu menuduhku melakukan hal itu bersama Mas Kiram?"
"Bisa jadi 'kan?"
Runi tersenyum miris. "Kamu meragukan anak ini, Mas?"
"Ya tentu saja," jawab Yandra santai.
"Tega banget kamu ya, Mas? Dia anak kamu Mas. Aku tidak pernah berhubungan dengan b4dan lelaki manapun selain kamu, Mas!" Tekan Runi menatap tajam.
"Terserah kamu mau bicara apapun. Aku tetap meragukan janin itu!" Balas Yandra tak kalah sengit.
"Jika kamu meragukannya. Kita bisa lakukan tes DNA setelah janin ini cukup umur."
"Baik, aku akan menikahimu setelah kita melakukan tes DNA dan hasilnya menyatakan bahwa janin itu memang anakku."
"Tidak bisa seperti itu, Mas. Apa kata kedua orangtuaku. Aku tidak ingin ayah dan ibu malu."
"Terserah! Aku tidak peduli akan hal itu. Karena aku tidak mau tertipu."
Runi terdiam menahan rasa sakit yang luar biasa di hatinya. Namun, ia tidak boleh cengeng ataupun menangis di hadapan lelaki ini.
Suara dering ponselnya membuat lamunannya buyar. Masih orang yang sama menghubunginya. Runi tak ingin memberi harapan dengan kondisinya yang tengah berbadan dua.
"Itu pacar kamu nelpon. Kayaknya dia sudah tidak sabaran. Apakah kalian sudah janjian untuk check in?" Ujar Yandra tersenyum sinis.
"Jaga bicaramu ya, Mas. Mas Kiram tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia lelaki baik dan tidak pernah bertindak aneh-aneh selama ini," sanggah Runi menatap kesal.
Runi menerima panggilan yang sedari tadi di abaikan lantaran dirinya sedang syok atas kehamilannya.
"Assalamu'alaikum, Mas," jawab Runi.
"Wa'alaikumsalam. Kamu dimana, Runi? Kenapa belum sampai juga?" Tanya Kiram terdengar cemas. Karena tadi Runi mengirim pesan sudah otw bandara.
"Mas, maaf ya. Aku tidak bisa bertemu dengan mas Kiram. Mungkin untuk seterusnya kita tidak akan bertemu lagi," lirih wanita menahan sesak di dada.
"Runi, kamu bicara apa sih? Ada sebenarnya?" Tanya Kiram tidak mengerti.
"Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Aku tidak bisa mengatakan alasannya. Terimakasih sudah mau berteman denganku selama ini. Mas adalah lelaki baik yang pernah aku temui. Semoga suatu saat Mas mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Runi seketika memutuskan sambungan teleponnya.
Runi tak kuasa menahan air matanya yang jatuh di kedua pipinya. Ia tidak bisa lagi memberi harapan pada lelaki baik itu. Dan ia juga tidak ingin membuat Yandra semakin berpikir yang bukan-bukan tentang hubungannya dan Kiram.
Yandra hanya tersenyum tipis menatap Runi menangisi pilot itu. Mendrama sekali.
"Kita mau kemana, Mas?" Tanya Runi saat Yandra membawa mobilnya mengarah bandara.
"Tentu saja ke bandara. Karena aku sudah janji akan menjemput Gracia," jawabnya acuh.
"Nggak Mas! Kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Gracia, karena sebentar lagi kita akan menikah!" Sanggah Runi membuat Yandra mengerutkan keningnya.
Yandra menatap Runi dengan senyum sinis. "Emangnya kamu siapa bisa melarang aku? Lagipula tes DNA itu belum di lakukan. Jadi nggak usah sok mengaturku!" Tekan lelaki itu.
"Aku berhak, Mas. Karena aku yakin anak ini adalah anak kamu. Jadi aku berhak mengatur kamu. Mulai sekarang putuskan hubungan kamu dan Gracia."
Yandra menginjak pedal rem sehingga membuat kepala Runi hampir membentur dasboard mobil.
Yandra menyorot tajam. "Berani sekali kamu bicara seperti itu. Kamu kira kamu siapa hah!" Bentak Yandra penuh emosi.
"Aku berhak bicara seperti itu. Karena kamulah lelaki yang telah menodai aku. Bahkan kamu sudah menanamkan benih di rahimku. Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatan kamu!" Balas Runi tak kalah sengit menatap muak.
"Jika aku tidak mau bertanggung jawab, kamu mau apa?" Ujar Yandra tersenyum samar.
"Aku akan mengatakan hal ini pada Pak Saga!" Jawab Runi sama sekali tidak merasa takut.
Bersambung....