Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terus mencari
Sinar mentari pagi mulai memasuki celah-celah jendela kamar Farah.
Farah sudah bangun sejak pukul lima subuh tadi. Sebelum matahari terbit Farah sudah sibuk mengumpuli pakaian bayi-bayi dan mencucinya sebelum baby twins bangun.
Tadi mereka sudah bangun. Farah memberinya asi dan baby twins Kembali tertidur barulah Farah bisa bekerja.
Ia berusaha sebaik mungkin agar selalu ada untuk baby twins. Itu sebabnya ia mengerjakan semua pekerjaan rumah disaat baby twins tidur. Jadi, saat mereka bangun ia sudah selesai Deng pekerjaan nya dan memiliki waktu yang banyak untuk bayi-bayi nya.
Beruntungnya, bude Ningsih memiliki baju-baju bayi yang sudah tidak di pakai lagi. Walaupun tidak baru, tapi semuanya masih layak dipakai.
Saat menjemur pakaian, Bude Ningsih menghampirinya.
"Ndok, bude ada beli nasi ayam buat kamu. ngak usah masak lagi ya." ucap Bude Ningsih.
"Ya ampun bude, kenapa repot-repot sih? Farah bisa masak sendiri nanti." sahut Farah tak enak hati.
Bude menepuk pundaknya lembut, "Ngak apa-apa, ngak repot juga. Kamu pasti capek ngurus si kembar."
Farah Tersenyum haru, "Terimakasih bude,"
"Yaudah kalau gitu bude pergi dulu. Mau jemput Dimas di bandara."
Kebetulan hari ini putranya yang bekerja sebagai dokter di kota pulang kampung.
"Dimas...?"
Bude yang paham akan kebingungan Farah pun menjelaskan. "Astaga bude lupa ya ngasih tau kamu soal putra bude." ucapnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Itu dimas... Putra bude satu-satunya yang bekerja di kota. Hari ini dia pulang karna lagi libur katanya."
Farah Tertawa kecil, "Oh gitu... Yaudah bude. Hati-hati ya,"
"iya. Bude cuma pergi sebentar. Kalau kau butuh apa-apa segera kabari bude."
Farah mengangguk sebagai jawaban. bude Ningsih pun meninggalkan nya karna hari sudah mulai siang. Ia takut jika Dimas menunggu terlalu lama disana.
~
Setelah selesai jemur pakaian mereka pun masuk ke rumah.
Bayi-bayi nya masih tidur lelap. Ia bersyukur kedua bayi nya tidak rewel. Bahkan Farah hampir tidak mendengar suara tangis mereka. Bayi-bayi nya selalu ceria.
Setiap detik kebersamaan mereka adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan berikan padanya di kehidupan ini.
Kehidupan Farah yang awalnya berada dihujung kematian, kini hidupnya terasa sempurna sejak ia menjadi seorang ibu dan memiliki dua bayi yang lucu-lucu ini.
Farah tidak perduli jika bayinya lahir bukan atas dasar cinta kedua orang tuanya. Farah tetap merasa menjadi seorang ibu adalah hal terbaik dalam hidupnya. Dan ia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anaknya.
Farah mengusap lembut kepala putra-putri nya. "Mama janji, mama akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk kalian. Terutama kasih sayang."
"Walupun kalian di besarkan oleh seorang ibu tunggal. Tapi mama akan pastikan kalian tidak akan kekurangan kasih sayang." Gumam Farah terseyum.
Ia tidak ingin anak-anak nya merasakan apa yang ia rasakan. Ia akan melindungi anak-anaknya dan menjadi garda terdepan melindungi mereka dari kejamnya dunia.
Sebagian seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua Farah berjanji tidak akan membiarkan anak-anaknya merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.
~
Sudah satu minggu berlalu sejak kepergian Farah beserta bayi-bayinya. Jackson tak pernah lelah mencari keberadaan mereka, meski usahanya belum juga membuahkan hasil.
Perubahan drastis pada dirinya pun semakin terlihat jelas. Sejak hari itu, ia lebih banyak diam, mudah marah, dan penampilannya sangat berantakan. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di kumis dan jambangnya, rambutnya kusut tak teratur, jauh dari sosok Jackson yang dulu selalu menjaga penampilannya.
Ditambah lagi, tekanan dari ibunya membuatnya hampir gila.
Saat ini, ponselnya terus berdering, panggilan dari sang ibu yang tak henti-hentinya mendesak.
Sejak ibu mengetahui kebenaran tentang Farah, ia terus menekannya untuk segera menemukan dan membawa mereka kembali.
Sudah hampir tiga puluh panggilan tak terjawab. Jackson menghela napas kasar, mencoba menenangkan dirinya di tengah kekalutan yang mencekam..
"Hm..." akhirnya Jackson mengangkat telepon itu.
Jackson menjauhkan ponselnya dari telinga, suara wanita itu yang melengking hampir memecahkan gendang telinganya. Ia memijat pelipis yang berdenyut.
"DASAR ANAK NAKAL! KAMU DI MANA, HA? KENAPA TIDAK PULANG-PULANG? DI MANA MENANTU DAN CUCU-CUCUKU? KENAPA SAMPAI SEKARANG KAMU BELUM BAWA PULANG JUGA?!"
ia menghela nafas pelan. "Aku sedang mencarinya, Ma," jawabnya dengan suara lelah.
"Mencari katamu? Sudah seminggu berlalu, tapi kamu belum juga menemukannya? Ck! Dasar tidak bisa diandalkan!"
"Kalau sampai sesuatu terjadi pada menantu dan cucu-cucuku, awas saja kamu!"
"Segera temukan cucu dan menantu kami, boy." suara berat papanya semakin membuatnya pusing.
"Hm... Aku pasti akan membawa mereka kembali secepatnya. Papa, mama, jangan khawatir."
"Menunggu kamu menemukan mereka lama. biar mama sama papa yang cari."
"Ma..."
Belum sempat ia berbicara panggilan itu sudah di putus sebelah pihak. Jackson menatap nanar layar ponselnya.
"Farah... Kamu berhasil memporak-porandakan hidupku." gumamnya lirih.