Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dalang Di Balik Semuanya
Setengah jam lebih pencarian telah dilakukan, beberapa kamera CCTV pun sudah dicek satu persatu. Anehnya, Azka seperti ditelan bumi. Anak itu hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Sudah ada beberapa polisi dan timnya yang sedang berusaha mencari keberadaan anak dari Fiona dan Arga tersebut. Sampai dikerahkan beberapa hewan pelacak untuk menyusuri jejak terahir.
Ditemukan di tempat sampah, baju pakaian yang sebelumnya dikenakan oleh Azka.
"Ini baju anak saya, Pak. Tolong temukan anak saya Pak ... tolong bantu saya menemukan anak saya," Fiona memohon-mohon pada beberapa polisi yang sedang bekerja.
Di sebelahnya, sudah datang Arga yang langsung meluncur ke TKP di mana anaknya dinyatakan hilang.
Arga juga tidak diam saya, dia mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Azka sampai dapat.
Sampai menjelang malam, ponsel Fiona dan Arga juga masih tenang-tenang saja. Jika ini adalah kasus penculikan anak, pasti akan ada yang menghubungi dan meminta tebusan. Namun, dari beberapa jam setelah hilangnya Azka, sampai malam ini, tidak ada satupun yang menghubungi orang tua dari Azka tersebut.
Kasus ini juga sudah ditangani oleh pihak yang berwajib, meskipun Arga juga tidak berpangku tangan, ada timnya sendiri yang juga sangat aktif melacak keberadaan buah hatinya.
"Kamu harus makan, seharian ini perut kamu kosong," Arga menyodori makanan. Ia tahu, istrinya belum makan karena tidak selera. Namun, seharusnya makan sedikit-sedikit, agar tubuhnya tidak drop dan tumbang.
"Aku gak lapar ... Aku cuma mau Azka, anak aku."
Arga menghela napas berat, ia mengepalkan tangannya. Bukan Fiona yang mau anak mereka, dia juga ingin. Semua usaha sedang dilakukan. Tapi memang belum mendapatkan hasilnya.
Hingga jam 1 lewat, pas dini hari. Ponsel Fiona berdering. Fiona yang memang tidak bisa tidur dan terjaga semalaman, langsung mengangkat telpon itu.
Kebetulan nomor tak dikenal, Fiona berharap nomor itu ada hubungannya dengan sang anak yang hilang hari ini.
"Hallo ..." terdengar suara Fiona.
"Kalau kamu ingin anakmu selamat, siapakan uang tunai 5 M besok sore."
"Hallo ... Hallo ..." Fiona gemetaran, ia melihat Arga yang duduk di sofa tapi matanya terpejam, mungkin ketiduran sambil duduk.
Fiona pun menjauh, dia berbicara di kamar mandi.
"Jangan apa-apakan anak saya. Tolong jangan lukai anak saya," pinta Fiona sambil menangis.
"Siapkan dulu 5 M. Besok sore akan kami hubungi lagi! Ingat! Kalau ingin anak mu selamat, jangan libatkan pihak-pihak manapun, jika tidak ... Kamu akan hanya mendapatkan mayatnya!"
TUT!
Telpon mati.
"Hallo ... Hallo ..."
Fiona memeluk HP nya, ia terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Mendengar suara sayup-sayup tangisan, Arga terbangun. Ia memeriksakan ruangan, kemudian membuka kamar mandi. Lebih terkejut lagi melihat sang istri terisak-isak di lantai.
Arga langsung membopong dan membawanya ke kamar.
"Azka ... Azka kita," gumam Fiona lemas, bibirnya tak bisa berbicara lancar. Terlalu banyak menangis, lidahnya keluh, ingin bicara pun ia kesulitan karena harus mengatur napas juga.
"Tenang ... Kamu tenang, pasti kita bisa menemukan nya. Ambil napas Fiona ... Tenang ..." Arga mencoba membuat Fiona lebih stabil dan bisa bernapas normal.
Setelah Fiona lebih tenang sedikit, barulah dia bisa menceritakan apa yang terjadi barusan. Arga cukup terkejut, tapi juga lega. Setidaknya ada titik terang dalam kasus penculikan anaknya itu.
"Baik, aku akan bicara pada orang ku," ucap Arga sambil meraih HP nya sendiri.
Fiona langsung merebut ponsel sang suami. Ia menggeleng keras.
"Jangan, jangan pernah memberitahu pihak luar. Aku gak mau Azka kenapa-kenapa," tangis Fiona kembali pecah.
Arga memegangi kedua pundaknya.
"Kamu tenang saja, jangan khawatir. Azka pasti akan baik-baik saja. Mereka butuh uang bukan? Mereka pasti tidak akan membuat Azka celaka kalau mereka butuh uang nya."
"Tapi ... Tetap jangan! Kamu jangan mengatakan apapun pada siapapun itu. Demi keselamatan anak kita. Aku mohon ..."
Arga menghela napas berat, kemudian mengangguk. Ia menyimpan ponselnya lagi yang sempat direbut Fiona.
Malam itu, mereka gelisah menunggu pagi, tidak ada yang bisa tidur, sampai pagi menjelang.
...****************...
Jam 12 siang
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Fiona
[Bawa uang 5 M, letakkan di tempat sampah yang sudah kami tandai. Datang sendiri, jika ingin anak mu selamat. Lokasi anakmu akan kami beri tahu setelah kami memastikan kamu datang seorang diri]
Fiona dan Arga membaca pesan itu baik-baik, tidak menghubungi polisi, meskipun polisi sudah bertanya apakah ada pihak lain yang menelpon.
Pukul 5 sore. Fiona turun dari mobil hitam. Dalam mobil cuma ada suaminya, ia berjalan 100 meter ke dekat sebuah bangunan terbengkalai, di sana ada sebuah drum besar yang di bawahnya banyak sampah.
Ada sebuah tanda silang di drum tersebut, artinya Fiona harus meletakkan koper itu, beberapa kali Fiona melihat sekeliling. Suasana begitu sepi, hanya terdengar suara angin dan burung-burung.
Fiona masih berdiri mematung, sambil menunggu instruksi berikutnya.
Drettt!!!
Ponselnya bergetar dan bersambung.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah