NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Tolong kembalikan. Itu milik ibuku," seorang siswi terisak sembari berusaha mengambil kalung miliknya yang di pegang Bagas.

Bagas malah tertawa. "Wah! Kalung mahal ini?! Aku tak yakin. Kau penerima beasiswa, kan? Memangnya ibumu sanggup membeli benda mahal begini? Mengaku saja, kau bermain dengan pria-pria berduit, kan?"

Para siswa yang berada di tempat itu langsung tertawa sementara si siswi semakin menangis.

"Aku mohon, itu pemberian terakhir darinya," pinta siswa itu lagi dengan putus asa. Melihat hal itu Bagas malah berdecih kemudian ia tersenyum lebar ketika mendapat ide bagus.

"Akan aku kembalikan asal kau menurutiku."

Siswi itu mengangguk tanpa ragu.

"Bagus. Buka seragammu."

"Huh?"

"Aku bilang buka seragammu."

"Di-disini?" ucapnya panik sembari melihat sekeliling dimana banyak siswa dan siswi yang berkumpul hanya untuk menontonnya di bully. Beberapa dari mereka bahkan mengeluarkan ponsel untuk siap merekam.

"Ya, tenang saja. Aku hanya memintamu untuk buka seragam saja. Kami takkan melakukan apapun."

"Ta-tapi—"

"Apa perlu benda ini kubuang?"

"Jangan! Akan aku buka! Akan aku buka seragamku!" kata siswi itu dengan tubuh gemetar. Ia melepas blazernya dan menjatuhkan di lantai. Lalu kedua tangannya naik perlahan-lahan untuk melepas kancing seragamnya.

"Cepat sedikit, lama sekali."

Siswi itu hanya bisa menangis, saat tangannya akan membuka kancing ketiga tiba-tiba saja wajahnya sudah tertutup oleh sesuatu. Ia menarik benda itu dari kepalanya yang ternyata adalah blazer milik orang lain. Menatap punggung seorang siswa lelaki yang berdiri di hadapannya.

"Bukankah ini mulai keterlaluan? Menyuruh seorang gadis itu melepas pakaiannya didepan umum. Wah, bahkan aku tak percaya kalian pun malah mendukung dan akan merekam," ucap sebuah suara sembari menatap miris ke arah siswa lainnya yang langsung menurunkan ponsel mereka.

"Alvaro, jangan ikut campur! Kutu buku sepertimu sebaiknya tetap di perpustakaan saja sana!" geram Bagas.

"Aku ingin tapi kalian sangat ribut sekali~" ucapnya santai sembari melihat ke arah dimana pintu perpustakaan yang terbuka.

Siswa yang dipanggil Alvaro mendekati Bagas dan merebut kalung yang dipegang anak itu.

"Berhenti mengganggu orang lain, Bagas. Itu tidak keren sama sekali," katanya lalu berbalik dan mendekati siswi tadi lagi, memberikan kalung itu padanya.

"Lain kali hati-hati."

Siswi itu menangis dan mengangguk. "Terima kasih."

Namun tak disangka, hal itu membuat Bagas emosi hingga mendekati Alvaro, menarik pundaknya kasar dan langsung melayangkan pukulan hingga ia jatuh tersungkur. Semua siswa terkejut bukan main dengan aksi tersebut.

Bagas menarik kerah Alvaro hingga siswa itu berdiri dan melayangkan pukulan lagi dan lagi. Tapi di pukulan berikutnya, ia terhenti tiba-tiba karena merasa seseorang tengah merekamnya.

Benar saja.

Ia menoleh dan mendapati Biyan tengah merekam aksinya sembari mengemut lolipop santai. Biyan mendongak dan tersenyum. "Lanjutkan. Abaikan saja aku."

"Abhinara!" geram Bagas yang langsung menghempaskan Alvaro lalu mendekati Biyan. Tapi ia kalah cepat ketika Biyan memukul ulu hatinya kuat dan membuat Bagas langsung jatuh berlutut di hadapan Biyan dengan wajah memerah menahan sakit.

"Jika kau senang menghajar seseorang. Kau pun harus siap menerima pukulan. Omong-omong, apa pukulanku sekuat itu? Kenapa kau terlihat akan pingsan?"

Biyan tersenyum pongah lalu menatap ke arah teman-teman Bagas yang langsung melangkah mundur.

"Don't try anything funny. Aku merekam aksinya semua dan juga termasuk kalian. Tak ingin menjadi viral mendadak, kan?"

Kemudian ia mendekati Alvaro dan meringis melihat wajah anak itu yang terluka.

"Ikut aku."

(Di UKS)

"Ada apa lagi kali ini?" sang guru yang bertugas di UKS menatap Biyan dan Alvaro datar. Kemudian ia menghela napas dan menyuruh Alvaro untuk duduk.

"Kau tidak menghajarnya, kan Abhi?" tanya guru itu.

Biyan mengerjap dan menggeleng. "I'm innocent, mam. Malah aku menolongnya. Tanyakan saja kalau tak percaya."

Sang guru langsung mengobati luka-luka di wajah Alvaro. Setelahnya guru itu keluar entah kemana meninggalkan mereka berdua sendirian di sana.

"Terima kasih tapi kau tak perlu menolongku, Abhi. Bagas akan semakin mengganggumu nanti," kata Alvaro.

"Kebetulan saja aku lewat dan aku tak mungkin membiarkan kekasih kakakku di hajar begitu."

Kedua mata Alvaro langsung membelalak dengan wajah memerah. "Ke-kekasih?! Ja-jangan bicara sembarangan! Aku dan Dean bukan sepasang kekasih!"

"Aku tak bilang kakakku hanya Kak Dean saja."

Alvaro langsung terdiam kaku. Mau menyangkal lagi tapi rasanya ia akan semakin terjebak jadi lebih baik diam saja. Kenapa kelakuan mereka sama? Apa karena sepupu?

"Tapi kau tak perlu kerumah sakit?" tanya Biyan.

"Ah, tidak. Ini akan cepat sembuh, kok."

"Okey."

"Um, Abhi."

"Hm?"

"Bisa tolong rahasiakan ini dari Dean?"

Sebelah alis Biyan terangkat naik. "Kenapa?"

Alvaro berdehem pelan. "Aku hanya merasa Dean tak perlu tahu soal ini. Pokoknya tolong rahasiakan saja darinya."

"Bagaimana jika ia bertanya?"

"Katakan saja kau tak tahu. Aku mohon."

"Baiklah. Tapi aku tidak janji."

Baru juga merasa lega, Alvaro langsung memelototi Biyan kaget. Ia akan protes tapi anak itu keburu berjalan pergi keluar dari UKS.

"Hey! Abhinara! Kau harus janji!"

***

(Dikediaman keluarga Bramatsya)

"Biyan, kenapa kita kesini? Kan aku sudah bilang ingin menjenguk Abhi," protes Ara.

"Abhi sedang tidur. Kau kesana pun percuma, obat penenang yang diberikan oleh dokter akan membuatnya tertidur hingga sore," jelas Biyan dengan santainya dan melepaskan dasi yang serasa mencekik lehernya.

"Aishh! Tapikan tetap saja!" gerutu Ara kesal sambil terduduk dipinggir tempat tidur Biyan.

Biyan hanya terkekeh pelan melihat tingkah gadis itu, dengan gemas ia mengecup bibir yang dimonyong-monyongkan sedari hingga membuat wajah sang pemilik memerah seketika.

"Berhenti bersikap seperti itu. Kau semakin membuatku ingin sekali memakanmu."

Mata Ara membulat dan langsung menghajar wajah tampan Biyan dengan guling disampingnya.

"Biyan! Kau mesum sekali!"

Sekali lagi Biyan terkekeh gemas, lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada dikamarnya itu. Tidak lama terdengarlah bunyi shower air yang menandakan sang remaja itu sedang mandi sekarang.

Ara hanya mendengus kesal kemudian ia mulai berjalan melihat-lihat isi kamar Biyan dengan detail. Kemarin kan tidak sempat dikarenakan momen mereka sempat terganggu.

Matanya dengan lincah mengamati setiap benda yang ada dikamar Biyan hingga akhirnya sebuah map hijau lumut menarik perhatiannya. Keningnya sedikit berkerut, kemudian ia meraih map tersebut dan membukanya. Sebenarnya ada perasaan tak enak, tapi mau gimana lagi Ara sudah terlanjur penasaran.

Ketika map dibuka yang ia temukan adalah kertas yang berisi hasil diagnosa dokter tentang seseorang bernama Daniel Kim.

"Daniel? Siapa?" gumamnya pelan. Matanya membulat seketika saat ia membaca hasil diagnosa dokter tersebut.

"Eh, penjara khusus penyakit kejiwaan? Tapi kok tidak tertulis jenis penyakit mentalnya, sih?" gumamnya lagi.

Ara sedikit berjingkat dan memekik tertahan saat dua buah lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.

"Eh? Biyan?" ucap Ara gugup saat merasakan pundak kirinya terasa berat dikarenakan kepala Biyan yang tengah menyender disitu.

"Kau sudah melihatnya, hm?" tanya Biyan saat melihat map hijau yang masih dipegang Ara.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud."

"Tak apa, sayang. Aku tidak marah," kata Biyan lalu mengecup pipi Ara.

Gadis itu menarik nafas lega. "Kupikir kau marah. Jadi boleh aku tahu siapa Daniel ini?"

"Umm..dia orang yang sudah ku anggap sebagai kakak-ku sendiri. Salah satu anak adopsi pamanku," jelas Biyan.

Ara mengangguk paham. "Tapi, Biyan. Kenapa ia dimasukkan kedalam penjara khusus penyakit kejiwaan? Apa dia tidak waras?"

"Secara teknis dia normal tapi jangan tertipu tampang malaikatnya, dia itu berbahaya. Terutama untuk kau."

"Aku? Kenapa?"

"Nanti juga kau tahu," kata Biyan sambil terkekeh pelan membuat Ara kesal sendiri.

Ayolah! Dia sudah cukup penasaran! Apa susahnya hanya memberitahu dirinya saja. Jadi dengan jengkel Ara melepaskan pelukan Biyan dan berbalik menghadap remaja tampan itu.

Kemudian—

"Ya Tuhan!" pekik Ara dan langsung menutup seluruh wajahnya dengan tangan.

"Hey...hey..kenapa teriak, sih?"

"Pakai bajumu bodoh!" ucap Ara lagi.

Jantungnya hampir saja bertukar tempat dengan ususnya karena penampilan Biyan yang terlihat menggoda. Hanya menggunakan handuk yang terlampir dipinggang bawah menampilkan kulit tannya dan juga otot perutnya yang tercetak rapi.

Sejujurnya Ara tak menyangka jika tubuh Biyan akan sebagus ini.

Sedangkan Biyan hanya tertawa geli melihat reaksi Ara yang lucu.

"Astaga, Sayang. Aku hanya seperti ini saja kau malu. Bagaimana jadinya jika kau melihatku telanjang nantinya?"

"Apa?! Yak!Yak!Yak! Dasar mesum gila!" pekik Ara kesal sambil memukul-mukul Biyan yang hanya bisa tertawa hingga tangannya tidak sengaja menyentuh ujung handuk dan—

Srek!

Handuk yang tadinya membalut bagian bawah tubuh Biyan kini telah terjatuh dilantai kamar. Membuat Ara membulatkan matanya yang memang sudah belo, melihat sesuatu yang— If you know! You know!—dan jangan lupakan wajah merahnya.

"IBU! ADA BELUT RAKSASAAA!" teriak Ara histeris lalu kabur dari kamar Biyan seketika.

Biyan saja masih melongo tidak percaya dengan aksi gadis itu, dengan wajah merengut ia melihat kearah bawahnya.

"Isshh...kau menakutinya!"

Kemudian dengan cepat Biyan memakai baju dan menyusul Ara yang entah sedang bersembunyi dimana.

Setelah kejadian tadi, Ara langsung meminta diantarkan pulang. Ia bahkan terlalu malu melihat wajah Biyan.

Biyan sendiri hanya bisa tertawa geli melihat ekspresi Ara yang masih pucat. Astaga! Biyan jadi tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ara jika mereka melakukan hal lebih ekstrim dari sekedar ciuman. Gadis itu tak mungkin langsung pingsan, kan?

***

Kini Biyan tengah berada disuatu tempat yang bisa dibilang cukup terpencil, ditemani Dean dan Neo tentu saja.

Lalu Eve?

Wanita itu lebih memilih tidur ketimbang ikut ketempat terkutuk ini katanya.

"Biyan, aku tunggu dimobil saja, deh," keluh Neo dengan wajah takutnya. Padahal mereka masih ditempat parkir tapi Neo sudah gemetar setangah mati.

"Dan kau ingin diculik kuntilanak?" kata Dean menakuti-nakuti. Sebenarnya tempat ini jauh dari perkotaan jadi bisa dibilang cukup sepi dan terkesan horor. Apalagi Neo itu sebelas duabelas lah dengan Biyan, sama-sama takut hantu dan sebangsanya.

"Apa?! Kenapa doamu jelek sekali, sih?!"

"Aku kan hanya bilang," sahut Dean cuek.

"Sudahlah. Kak Neo, tenang saja. Dia tak bisa menyentuhmu," kata Biyan menenangkan.

Neo terdiam sejenak, kemudian setuju untuk ikut masuk.

Maka disinilah mereka bertiga yang berhadapan dengan seorang pemuda tinggi dan tampan yang dibatasi oleh dinding kaca.

Dan Neo menyesali keputusannya untuk masuk saat sepasang mata abu-abu itu menatapnya intens dari ujung rambut hingga kaki. Seharusnya tadi ia menunggu dimobil saja.

Persetan jika ia diculik kuntilanak atau sebangsanya...itu lebih baik ketimbang ditatap Seperti sedang ditelanjangi oleh pria gila didepannya ini.

Jadi Neo hanya bisa meringkuk bersembunyi dibelakang Dean yang sayangnya tubuh gadis itu tak cukup besar untuk melindunginya dari tatapan mengerikan itu.

"Hai, kak."

Pria bermanik abu-abu itu mengalihkan matanya ke arah Biyan, menatap Biyan dengan tatapan sama ketika ia menatap Neo tadi. Hanya bedanya, tatapan yang ia berikan untuk Biyan itu adalah tatapan 'lapar'.

"Hello my dear. Long time no see. It's has been 2 years right?"

"Yup. Bagaimana penerbanganmu?" tanya Biyan lagi.

"Not bad, honey. Tapi melelahkan."

"Really? I hope you are okay, Brother."

"Of course, I'm," Kekehan itu keluar dari bibir pinknya kemudian matanya kembali mengalihkan fokus, kini ia menjatuhkannya pada Dean yang hanya menatapnya datar tapi ia tahu wanita berlesung pipit itu sedang risih.

"Kukira kau tidak berani bertemu denganku lagi, manis."

"Tch! Menggelikan," umpat Dean pelan.

Biyan menarik nafasnya panjang. "Kak Dean, sebaiknya kau dengan Kak Neo menungguku dimobil saja. Ada yang ingin kubicarakan berdua saja dengannya," pinta Biyan dan dengan senang hati Dean beserta Neo menurutinya.

Setelah kepergian mereka, pria bermanik abu-abu itu tertawa geli. "Ayolah, Biyan. Aku hanya melihat mereka."

"Benarkah? Kupikir selama ini kau hanya ingin 'melihatku' brother~" kata Biyan memasang wajah sedihnya.

"Tentu kau masih nomor satu dilistku, sayang. Ugh! Kau sadar kau terlihat begitu menggiurkan, Biyan?"

"Aku tahu."

Lagi-lagi pria bermanik Abu-abu itu tertawa terbahak-bahak kemudian kembali menatap Biyan. "Kau tahu, jika saja penghalang kaca ini tak ada. Aku sudah 'menyerangmu' dari tadi. Jadi adikku yang menggoda, kau pasti menginginkan sesuatu hingga mengirimku jauh-jauh dari New York, kan?" tebaknya dan hanya disambut senyuman tipis Biyan.

"Sebenarnya aku malah akan memberikan beberapa 'hadiah' Untukmu dan ku jamin kau akan suka nanti," kata Biyan dengan senyuman mengerikan miliknya.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!