Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Mamah Ajeng sangat bahagia, dengan kedatangan anak dan menantunya. Apalagi kedatangan mereka kali ini, Afifah akan tinggal kembali di rumahnya, meskipun hanya sementara waktu.
Bukan berarti mamah Ajeng tak senang dengan pernikahan Afifah. Mamah Ajeng sangat bahagia dengan pernikaha putrinya, di usia pernikahan yang menginjak dua tahun, sudah mandiri dengan tinggal di rumah sendiri.
Mama Ajeng langsung mengajak masuk mereka berdua. Yuda membawa barang-barang langsung ke kamar Afifah, dibantu Afifah yang membawakan tas kecil. Kamar yang penuh sejarah, karena di kamar itu, Yuda dan Afifah menyatukan raga mereka untuk pertama kalinya.
Meskipun kamar Afifah tak di tempati, tapi mamah Ajeng selalu membersihkan kamar itu rutin, sehingga kamarnya selalu tampak rapi.
Saat Yuda dan Afifah kembali ke ruang tamu, mamah Ajeng sudah menyuguhkan minuman serta makanan ringan.
"Mamah ko repot-repot sih, kalau mau minum biar nanti Fifah ambil sendiri, mah."
"Nggak repot sama sekali, neng. Jam berapa tadi dari kota?"
"Sekitar Jam setengah sebelas siang, mah. Tadi mas Yuda mampir shalat jum'at dulu di mesjid alun-alun Kabupaten."
"Maaf, mah. Kami datang tak membawa oleh-oleh. Baru kemarin, saya diterima kerja, hari ini langsung ke sini, biar bisa agak lama di sini."
Yuda menyela obrolan antara ibu dan anak itu, merasa tak enak, karena datang hanya membawa baju-baju saja.
"Ya nggak apa-apa, nak! Sembako yang kemarin kalian bawa, itu masih banyak."
"Mah, saya mau menitipkan Afifah disini untuk sementara."
"Afifah ko dititip-titip. Ini kan rumah Afifah juga, nak." Mamah Ajeng tertawa mendengar Yuda berkata demikian.
"Iya mah."
"Kapan mulai kerjanya?"
"Insya Alloh hari senin, dua hari lagi mah."
"Malam ini menginap di sini?"
"Insya Alloh, mah malam ini menginap di sini. Besok di rumah ibu."
"Baik-baik kamu di kerjaan yang baru ya, nak! Jaga kesehatan! Semoga pekerjaannya dilancarkan, niatkan untuk menolong orang!"
"Terima kasih atas do'anya mah."
"Kalian pasti lapar! Ayo kita langsung makan saja! kebetulan ibu juga belum makan. Tadi mamah malas mau makan, mungkin perut mamah tahu kalian mau datang, jadi menunggu kalian."
Afifah dan Yuda tertawa mendengar penuturan mamah Ajeng. Beriringan mereka menuju meja makan. Afifah membantu mamahnya membawakan makanan ke atas meja.
Yuda yang baru kembali dari mencuci tangan, datang dengan membawa piring beserta sendok.
"Yuda memaksa membawakan piring dan sendok. Padahal sudah dilarang." Mamah Ajeng merasa tak enak.
"Nggak apa-apa, mah. Mas Yuda memang begitu, sudah biasa berbagi pekerjaan rumah dengan Fifah. Mas Yuda tak pernah merasa malu dan canggung."
"Alhamdulillah. Terima kasih, nak Yuda sudah membahagiakan Afifah. Senang ibu mendengarnya. Tak salah ibu menjodohkan Afifah dengan nak Yuda. Semoga kebahagiaan selalu memyertai kalian."
Mamah Ajeng dengan ibu Sri adalah teman sepengajian. Mereka sering bertemu, karena mengaji pada beberapa majelis yang sama. Usia sepuh dan tak ada kegiatan, membuat mamah Ajeng dan bu Sri memilih memanfaatkan waktu dengan hal-hal keagamaan.
Suatu hari, Afifah menemani mamahnya mengaji. Ibu Sri langsung jatuh hati pada Afifah. Tak menunggu waktu lagi, bu Sri langsung melamarkan Afifah untuk Yuda, meskipun saat itu Yuda belum mengetahui rencana perjodohan ini, tapi bu Sri akan memaksa Yuda menerima perjodohan ini. Siapa sangka saat pertama bertemu, Yuda pun langsung jatuh hati kepada Afifah.
"Selalu do'akan kami, mah. Saya juga masih belajar menjadi suami yang baik untuk Afifah."
"Mamah masak banyak sekali." Afifah heran melihat beragam masakan yang ada. Padahal mamahnya hanya seorang diri.
"Tadi pagi, dikirim makanan sama bu Siti. Syukuran anaknya yang mau menikah, ahad besok. Tadinya mau ibu berikan lagi ke tetangga sebelah yang anaknya banyak. Siapa sangka kalian datang hari ini. Rezeki kalian! Ayo langsung makan saja! Tiba-tiba, mamah jadi sangat lapar ini.
Afifah membantu menyiapkan makanan ke piring untuk Yuda. Mamah Ajeng tersenyum melihatnya. Mamah Ajeng bahagia melihat keharmonisan rumah tangga anaknya.
Saat Afifah bermaksud menyiapkan makanan untuk mamahnya, mamah Ajeng menolak, dan menyuruh Afifah segera mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
¤¤FH¤¤
Setelah shalat isya berjamaah dengan Afifah, mamah Ajeng pamit tidur lebih awal. Kehidupan di kampung memang seperti itu, setelah waktu isya, suasana sangat sunyi, hampir seluruh warga kampung, memilih berdiam diri di dalam rumah, langsung beristirahat atau hanya menonton televisi.
Afifah dan Yuda pun sama, memilih langsung masuk kamar, ingin segera merebahkan badan yang pegal setelah perjalanan siang tadi.
Afifah mengambil minyak urut, menawari memijat suaminya, semula Yuda menolak, karena pasti Afifah juga merasa cape, tapi Afifah memaksa dengan alasan, kapan lagi bisa dipijat olehnya.
Yuda menyetujui dengan syarat nanti Afifah mau dipijat juga oleh Yuda. Kegiatan saling memijat, menambah kehangatan antara keduanya, yang akan selalu dikenang sampai kapanpun. Sambil dipijat, mereka mengenang kembali saat awal-awal mereka bersama, apalagi moment tak terlupakan di dalam kamar tersebut.
"Dek, masih cape nggak?"
"Nggak, mas. Kenapa gitu?"
"Sebentar lagi kita LDM-an. Boleh mas ...."
"Boleh, mas." Afifah memotong perkataan Yuda, sebelum Yuda menyelesaikannya. Afifah mengerti apa maksud Yuda.
Setelah bersama memanjatkan do'a, terjadilah penyatuan jiwa mereka, di tempat pertama kali mereka melakukannya. Yuda selalu memperlakukan Afifah dengan lembut dan penuh kasih sayang. Yang paling Afifah suka, Yuda selalu meminta ijinnya terlebih dahulu jika akan menyentuhnya, menurut Yuda khawatir jika istrinya kecapean, tak ingin Afifah melakukannya dengan terpaksa.
Keduanya terlelap dengan bahagia, setelah membersihkan diri dan berwudhu. Tidur saling mendekap, seolah mereka akan terpisah dalam waktu lama. Baik Yuda maupun Afifah, tak terbiasa langsung tidur setelah berhubungan, meskipun tak langsung mandi besar, tapi selalu membersihkan diri dan berwudhu terlebih dahulu.
Setelah beberapa malam, Yuda mengalami gangguan tidur, malam ini dia bisa tertidur dengan sangat nyenyak. Kekhawatirannya sedikit berkurang, dengan mereka menjauhkan diri dari Nindi.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.