Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Luan
Setelah selesai berdandan Yoona pun akhirnya turun kebawah untuk menyelesaikan acara itu, sebenarnya Yoona malas dan lelah sekali untuk turun, tapi mau bagaimana lagi dia harus menyelesaikan acara itu.
Dan ketika gadis itu turun dia melihat banyak sekali tamu yang sedang menikmati makanan yang ada disana, dia juga sempat menjadi sorotan mata tapi pandangan gadis itu justru malah tertuju pada Leo yang sedang berbicara dengan beberapa kolega kantornya.
"Selamat atas pernikahan mu tuan Leonard, terimakasih atas undangan nya, saya tidak menyangka anda akan mengadakan pesta sebesar ini, dan iya perkenalkan saya Garvin pemilik dari perusahaan Georyn." Ucapnya sembari mengulurkan tangannya pada Leo.
"Salam perkenalan Tuan Garvin, dan terimakasih sudah mau meluangkan waktu kemari. Semoga tuan menikmati acaranya, anggap saja ini sebagai awal bentuk kerjasama kita." Jawab Leo.
"Tentu saja Tuan, sebenarnya saya sempat bosan karena datang sendirian kemari, tapi untung saja ada sekretaris tuan yang mau menemani dan bercengkrama dengan saya disini." Ucapnya yang membuat Leo sontak melirik ke arah Julia yang kini tengah berdiri disamping Tuan Garvin.
"Syukurlah kalau tuan Menikmati acaranya." Responnya.
"Tapi ngomong ngomong apa yang terjadi dengan telapak tangan mu tuan, aku tidak menyangka kau akan terluka sebelum pernikahan" tanyanya ketika melihat balutan perban di kedua tangannya.
"Ada pepatah yang bilang, terkadang kita perlu melakukan pengorbanan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang indah."jawabnya.
"Apa maksudmu?" Gavin sama sekali tidak mengerti apa yang Leo katakan padanya.
"Ahh itulah alasan kenapa saya sama sekali tidak melihat tuan minum ataupun makan." Sahut Julia sembari menuangkan segelas wine dan berjalan mendekati Tuannya itu.
Langkah Leo sedikit demi sedikit mundur dan menjauh dari Julia yang semakin dekat dengannya. "Apa yang ingin kau lakukan?"
"Saya tidak ingin melakukan apa apa tuan, sebagai sekretaris saya hanya ingin membantu tuan untuk minum dan membebaskan tuan dari dahaga, anggap saja ini tugas pertama saya sebagai sekretaris." Jawab Julia.
Leo cukup terdiam mendengar hal itu dan hampir ingin menolak tawarannya, namun sebelum pandangan nya entah kenapa tertuju pada Yoona yang sedari tadi menatap ke arah nya. Melihat hal itu membuat Leo seketika mendapatkan ide yang begitu cemerlang hingga membuat ujung bibirnya sedikit terangkat.
"Ohh tentu saja." Jawabnya singkat sehingga membuat Julia semakin senang dan menyodorkan gelas wine itu pada Leo.
Julia dengan perlahan mulai membantu Leo untuk meneguk minumannya itu, namun ketika gelas wine itu hampir menyentuh bibirnya tiba tiba saja Yoona sudah terlebih dulu mengambil alih minuman itu dari genggaman tangan Julia.
"Apa begitu cara sekretaris memberikan minum pada Tuannya, sangat tidak sopan." Ucapnya Yoona, sementara Julia masih sedikit terkejut dengan kedatangan Yoona disana.
"Dan kau, apa kau tidak bisa menahan rasa sakit mu itu sebentar untuk minum, atau mungkin kau bisa meminta bantuan kepada ku atau mamamu kan." Lanjutnya.
"Kau terlihat sangat sibuk tadi, jadi aku tidak mau mengganggumu, lagi pula honey dia hanya membantuku minum tidak lebih." Jawab Leo.
Yoona meletakan gelas wine itu lalu mengambil jus jeruk dan memberikan sedotan di dalamnya. "Ini minum lah." Ucapnya yang membuat Leo tersenyum dan meminum minuman pemberiannya itu.
'kau tidak perlu sampai melakukan hal semacam ini, apa kau cemburu?' Bisik Leo setelah berhasil meneguk minumannya.
'Cihh, untuk apa aku cemburu, dengar Leo, kau tadi menyuruhku untuk menjaga nama baik keluarga mu, tapi apa ini, seharusnya kau juga bisa harus menjaga nama baik keluarga William, apa yang akan dikatakan orang orang nanti tentang ku setelah melihat sikap mu dan sekretaris mu ini."
"jika kau ingin bermesraan dengannya jangan disini, tunggu sampai acaranya selesai." Lanjutnya kesal.
"Sekarang akan lebih baik kau segera mulai acaramu itu agar aku bisa segera beristirahat." Lanjutnya yang langsung menarik tangan Leo meninggalkan Julia dan juga Garvin disana.
"Ya tuhan, istrinya memang begitu sangat cantik tapi juga sangat menakutkan, apa kau lihat tadi tatapan matanya seakan akan ingin membunuh semua orang disini." Ujar Garvin yang masih menatap kepergian pengantin itu, sementara Julia masih diam dan tidak percaya dia akan diperlakukan seperti itu, mengingat dia adalah satu satunya wanita yang mendapat restu dari Luna.
Kini acara mereka lanjut ke pesta dan acara pelantikan Leo sebagai CEO atau Presdir di perusahaan Alexander, itulah alasan kenapa pesta pernikahan itu di rayakan dengan begitu megah dan meriah. Kedua belah pihak keluarga mengundang banyak sekali tamu undangan. Entah itu sahabat, dari pihak kantor dan keluarga terdekat.
Leo mulai menyampaikan beberapa pidato dan kata sambutan hangat kepada para tamunya, kini disana hanya ada Yoona, Leo dan juga Luna yang merupakan mama Leo, sementara Vigor dan Evie pamit pergi keluar sebentar entah kemana setelah acara pelantikan Leo selesai.
Setelah semuanya telah tersampaikan mereka pun akhirnya memulai acara pesta yang sesungguhnya, Dimana suara musik mulai terdengar lebih besar dari sebelumnya dan juga suasana yang berubah dengan begitu drastis seakan akan tempat itu telah menjadi Club bar.
Suara dentingan gelas kaca terdengar di setiap sudut ruangan itu, seakan akan mereka semua sedang bersulang gembira dan menikmati pestanya, satu persatu makanan dan camilan mulai berdatangan hingga membuat suasana menjadi begitu meriah, namun tidak dengan Yoona yang sedari tadi terus menekuk wajahnya sebab ia kini sudah terlalu lelah dan sama sekali tidak ingin minum ataupun beraktivitas lagi.
"Kenapa kau terus cemberut seperti itu, coba tersenyumlah sedikit." Pinta Leo ketika melihat Istrinya yang terlihat begitu kesal.
"Apa kau tidak bisa langsung menyelesaikan acara ini, kenapa harus ada pesta seperti ini, dan mau sampai jam berapa kita disini, apa kau tahu aku sudah sangat lelah sekarang." Gerutu Yoona kesal.
"Ku pikir kau akan menyukai pesta seperti ini, dan pestanya baru saja dimulai, tidak mungkin langsung dibuyarkan begitu saja, sudah jangan terus menekuk wajahmu seperti itu, akan lebih baik kau makan makanan yang manis dan tersenyum lah, setidaknya kau harus terlihat bahagia." Jawab Leo sembari menyodorkan potongan kue pada Yoona.
"Kau pikir makanan manis bisa menghilangkan rasa lelahku, kau ini benar benar menyebalkan."marahnya yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Leo dan duduk disalah satu bangku kursi kosong disana.
Malam terus berlalu kini sudah hampir satu jam pesta itu berlangsung, satu persatu tamu disana mulai pulang dengan sendirinya karena merasa hari yang sudah larut malam, apa lagi mereka harus bekerja di keesokan harinya, hingga tinggal beberapa puluh tamu yang masih stay dan bercanda gurau disana.
Sementara Yoona sama sekali tidak menghiraukan semua itu, yang ada di pikirannya adalah kapan dia bisa merebahkan tubuhnya dengan nyenyak di atas kasur, dia bahkan tidak berkutik sama sekali dari empat duduknya, dengan perasaan bosan dan jenuh tanpa ia sadari dia menghabiskan beberapa camilan yang tersaji di atas meja.
Melihat hal itu membuat Leo terkekeh kecil dan terus menyuruh pelayan untuk mengisi camilan itu agar Yoona bisa terus memakannya, namun tidak lama kemudian seorang pria bertubuh besar tiba tiba datang dan membisikkan sesuatu pada Leo.
Yoona yang Tahu akan hal itu hanya bisa memantau mereka dari kejauhan, Yoona mulai terheran dan penasaran ketika melihat raut wajah Leo yang berubah secara drastis setelah mendengar ucapan pria tadi
Hingga beberapa saat kemudian Leo pun akhirnya membubarkan acara itu secara tiba tiba dengan berbagai alasan yang benar benar masuk akal di terima, mendengar hal itu satu persatu tamu disana mulai berhamburan keluar untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa tiba tiba bubar, apa dia sudah sangat lelah sekarang." Ledek Yoona yang masih stay duduk disana sembari mengupas kulit apel dengan pisau buah miliknya.
Namun beberapa saat kemudian ketika setengah dari mereka keluar, tiba tiba saja terdengar suara teriakan yang begitu histeris dari arah luar dan mengejutkan semua orang yang masih berada di dalam ruangan itu termasuk Yoona. Suara itu saling bersautan, dan bergantian seakan akan satu persatu dari mereka kini telah di bantai habis habisan di luar sana.
"TUTUP PINTU NYA!!!!" Teriak Leo yang sontak membuat Yoona berdiri dari tempat duduknya sementara dua penjaga pintu langsung mematuhi dan menutup rapat kedua pintu ruangan itu tanpa menghiraukan beberapa tamu yang masih ada di dalam.
"Ada apa ini?" Yoona yang kebingungan dengan apa yang telah terjadi sekarang.
"Leo ada apa? Apa ada masalah diluar?" Tanya Luna yang ikut panik dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kita sedang diserang, kalian cepatlah bersembunyi, cepat." Pintanya tanpa mengatakan detail masalahnya itu.
Mendengar hal itu Luna pun langsung pergi ke lantai atas untuk bersembunyi namun beda hal nya dengan Yoona yang masih stay disana.
"Apa yang kau tunggu, ikutlah dengan mama, dan cari tempat sembunyi yang aman." Ucap Leo yang kedua kalinya.
"Untuk apa aku sembunyi, lagi pula siapa yang menyerang tempat ini?"
"Itu bukan hal yang penting untuk ditanyakan Yoona, saat ini kita tidak membawa senjata apapun melawan jadi kau bersembunyi lah." Jawab Leo sementara mulai terdengar suara gebrakan pintu dari luar seakan akan mereka sedang ingin memaksa masuk kedalam.
"Kenapa aku harus menuruti mu, dan kenapa kau hanya menyuruh ku yang bersembunyi, kau tidak sedang membodohi ku kan." Tanya Yoona curiga dengan sikap Leo yang tiba tiba ngatur dan menyuruhnya untuk menuruti permintaan darinya,
"Karena mereka sedang mengincar mu sekarang?" Jawabnya singkat.
"Apa?"
Brakk!!!
Pintu ruangan itu berhasil dibuka paksa oleh segerombolan pria bertopeng hitam dan membawa pedang panjang di tangannya yang Kini sudah berlumuran darah.
"Ayo pergi." Leo meraih tangan kiri Yoona dan menariknya pergi dari tempat itu.
Leo berlari dengan maksud membawa istrinya itu pergi ketempat aman, namun Para gerombolan itu malah terkepung dari segala arah. "Andai kau mau pergi dan bersembunyi kita tidak akan terkepung seperti ini Yoona." Ucap Leo ketika melihat lebih dari sepuluh ujung pedang tertuju pada mereka.
Para pria itu langsung menyerang mereka secara bersamaan, besi besi tajam itu terus berusaha melukai mereka namun mereka berhasil menghindar, Leo mengerahkan seluruh tenaga nya melawan mereka, meskipun ia tahu pada normalnya dia tidak akan bisa menang melawan mereka, tapi ia tetap berusaha dan hanya mengandalkan kemampuan bela dirinya untuk bertahan hidup.
Sementara Yoona yang hanya ada pisau buah yang masih ia bawa itu dia menggunakan pengetahuan teknik berpedangnya untuk menghindar dan menyerang dengan menggunakan senjata yang ia punya.
"Cih kalian kira aku tidak bisa bertahan diri, andai kalian tahu aku dulu murid paling unggul di sekolah pelatihan." Ucap Yoona ketika berhasil membunuh tiga orang sekaligus. Namun kesenangannya itu tidak sebanding dengan musuhnya yang kini bertambah banyak.
Meskipun satu persatu dari mereka tumbang namun puluhan pria bertopeng itu terus menerus berdatangan masuk kedalam ruangan itu. Tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari menghampiri Yoona yang masih sibuk dengan dengan mereka yang berusaha ingin melukainya.
"Kenapa mereka terus bertambah banyak" gumamnya yang mulai lengah dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
"MENUNDUK!!!" Teriak Leo yang sontak membuat Yoona berjongkok dan
CRAKKK!!!!
Pria itu menebas lima leher sekaligus dalam satu tebasan menggunakan pedang yang berhasil ia rebut tadi. "Aku benar benar tidak tahu siapa mereka sebenarnya." Ucapnya.
"PERGI!!!"
"Pergilah keluar Yoona, keluarlah lewat Lorong 3 pintu belakang, aku akan menghalau mereka agar tidak mengejar mu." Lanjutnya tanpa menatap Yoona sama sekali dan sibuk mengayunkan pedangnya ke arah orang orang yang masih berusaha untuk melukai gadis yang sedang ia lindungi saat ini.
Mendengar hal itu tanpa berpikir panjang Yoona pun langsung pergi begitu saja mengikuti arah yang di berikan Leo padanya, gadis itu pergi keluar melewati lorong 3 yang dimaksud oleh Leo tadi. Setelah berhasil keluar dan menutup pintu ruangan itu, dia bergegas pergi dari tempat itu tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Leo di dalam sana.
Dia berjalan dengan begitu cepat menggunakan sepatu hak tinggi nya dan juga gaun panjang yang masih menempel di tubuhnya, "inilah alasan aku sangat benci gaun panjang, benar benar sangat merepotkan." Gerutunya yang sedari tadi terus berusaha untuk berjalan menggunakan gaun yang benar benar panjang itu.
Namun langkahnya terhenti ketika tiga orang pria dengan memakai slayer hitam dan membawa pedang panjang di setiap tangan mereka hingga membuat Yoona terdiam sejenak, padahal tinggal beberapa langkah lagi ia bisa keluar dari tempat itu.
'Sebenarnya siapa mereka.' Batinnya yang mata yang terus menatap kearah mereka yang terus menghampirinya.
Yoona menghela nafas berat, "aku benar benar tidak tahu apa kalian inginkan, siapa kalian sebenarnya, kenapa kalian terus mengejar ku, apa yang kalian inginkan sebenarnya." Ucap Yoona yang berhasil membuat tiga pria itu menghentikan langkah mereka.
"kalian tidak mau menjawab ku?" Lanjutnya kesal dan terdengar suara tawa kecil dari salah satu pria disana sembari melangkahkan kakinya mendekati Yoona.
Detak jantung Yoona berderu begitu cepat melihat langkahnya semakin dekat dengannya, namun semua itu tertutupi oleh tatapan tajamnya yang seakan akan ia sama sekali tidak takut dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Gaun yang sangat cantik Honey." Serunya yang hanya menampilkan mata senyumnya terhadap Yoona.
Suara yang begitu khas dan manis ditambah lagi tatapan mata sipit yang seakan akan kini dia sedang tersenyum begitu manis kearahnya hingga membuat Yoona teringat akan seseorang yang sudah lama hilang di dalam kehidupannya.
"Tunggu,,,,tidak mungkin, siapa kau?" Yoona penasaran dan berharap bahwa dugaannya itu salah. Mendengar hal itu membuat pria itu pun mulai membuka slayer hitam miliknya dan terlihat wajah tampannya dengan proporsi yang begitu sempurna, hidungnya yang mancung dan senyum manisnya benar benar membuat Yoona terdiam bukan main, seakan akan dia sedang melihat mayat hidup dari pria yang sudah ia bunuh lima tahun yang lalu.
"L,Lu Luan,,,," satu sama akhirnya keluar dari dalam mulutnya.
"Tidak ku sangka kau masih mengingatku, ku kira kau tidak akan ingat namaku."
"Bagaimana kabarmu honey, akhirnya aku bisa melihat mu memakai gaun putih seperti ini." Lanjutnya.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa,,,,"
"Bagaimana bisa aku disini, padahal kau sudah membunuh ku waktu itu? Yahh anggap saja ini sebuah imbalan nyawa untukku." Potong Luan.
"Jadi kau yang melakukan semua ini, apa tujuan mu eoh."
"Aku kemari ingin menjemput mu, dan mengambil barang berharga ku yang sempat kau rebut, kuharap kau belum menggunakannya." Jawab Luan santai.
"Aku sebenarnya sudah sampai disini Berjam jam yang lalu, tapi para penjaga sialan itu terus menghalangi ku dan menghabisi setengah dari anak buahku, hingga menyita banyak sekali waktu ku, ahh iya aku tadi juga bertemu dengan mantan mertua ku di depan, aku tidak menyangka dia akan ikut andil menjaga keamanan disini."
"Papa maksudmu."
Luan mengangguk, "aku tidak menyangka dia rela berkorban demi melindungi putri tercinta nya, sungguh pengorbanan yang begitu besar."
Yoona terdiam sesaat ketika mendengar semua itu, semua pikiran negatifnya mulai mengelabuhi nya dan membuatnya semakin gelisah. "Apa yang kau lakukan padanya Luan! Jawab!"
"Apa itu penting bagimu? Sepertinya aku tidak perlu memberitahumu, yang terpenting sekarang aku sudah mendapatkan apa yang ku mau, aku berhasil mendapatkan mu."
"Kenapa sulit sekali mendekati mu eoh, kenapa suamimu itu begitu ketat menjagamu hingga dia tidak membiarkanku menyentuh mu sedikit pun, lihatlah kau tidak terluka sedikitpun padahal sudah lima kali aku berusaha untuk menyerang mu." Lanjutnya.
"Lima kali?" Yoona keheranan sebab ia sama sekali tidak merasa dirinya terancam, dia bahkan tidak pernah tahu bahwa ada yang berusaha melukainya selama ini.
"Apa dia tidak tahu siapa dirimu, bisa bisanya dia mencintai seseorang seperti mu." Sahutnya.
Luan melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Yoona. "It's okey, yang terpenting sekarang adalah dia sudah tidak bisa menghalangi ku lagi, hingga aku bisa membawamu pergi." Lanjutnya.
Yoona tersenyum smirik menatapnya. "Coba saja kalau bisa, aku ingin tahu kau ingin melukaiku di sebelah mana hmm."
"Kau menantang ku?" Luan langsung mengeluarkan pedang milik nya dan mengarahkan pada Yoona, dia berkali kali mengayunkan pedangnya dan berusaha untuk menggores kulitnya, namun Yoona terus menghindarinya.
"Apa kau lupa aku paling pintar dalam menghindar Luan." Ucapnya yang membuat Luan menghentikan serangannya sejenak.
"Benarkah?" Setelah beberapa detik lamanya ia berhenti, dengan begitu cepat pria itu langsung menyerang lurus ke arah Yoona, Yoona yang tidak tahu apa apa itu sontak menghindar serangannya itu, namun naasnya meskipun ia terhindar, ia tidak sengaja menginjak gaunnya sendiri hingga membuatnya terjatuh.
"ARGHHH gaun sialan." Kesalnya sementara Luan tertawa keras melihatnya.
"Ternyata kelemahan mu masih sama, kau masih tidak bisa menyeimbangkan diri saat mendapat serangan seperti ini." Ejeknya.
Luan menggenggam pedangnya dengan begitu kuat. "Sekarang waktumu untuk ikut dengan ku Honey" lanjutnya yang kemudian mengayunkan pedangnya kembali ke arah Yoona. Melihat hal itu membuat Yoona langsung membuang pandangan dan melindungi wajahnya, namun disaat yang bersamaan tiba tiba terdengar sebuah mata pedang yang saling bertemu, sehingga senjata Luan itu sama sekali tidak melukai Yoona.
"Jika kau ingin membawanya kau harus minta izin pada pemiliknya dulu.' Ucapnya yang berhasil menempis serangan Luan dengan pedang yang berlumuran darah.
"Kau." Panggil Yoona ketika melihat pria yang benar benar tidak asing baginya sedang berdiri tepat di depannya.
"Benarkah, tapi sayang sekali, aku tidak memerlukan izin dari siapa karena sebentar lagi dia akan menjadi milikku." Jawabnya sembari mengayunkan pedangnya lagi ke arah Leo."apa yang membuat mu bisa seyakin itu?" Tangkasnya yang langsung menepis serangannya itu kembali, hingga akhirnya pertarungan antara mereka pun terjadi.
Kalian bawa wanita itu pergi!!!" Perintah Luan pada dua anak buahnya.
"Kau kira aku akan membiarkan mu membawanya begitu saja.,,,"sahut Leo yang langsung menghadang dua pria itu.
Pertarungan itu terus berlanjut, tidak cuma satu, tapi tiga, Leo melawan tiga orang sekaligus dan berhasil mengalahkan dua orang diantaranya, hingga pada akhirnya Leo pun mengakhiri pertarungan itu dengan cara menyerang dan langsung membuang pedang milik Luan itu.
Luan melihat ke arah pedang nya yang tergeletak jauh darinya di lantai. "Aku tidak menyangkal kemampuan berpedangmu lumayan juga"
"Itulah gunanya kenali dulu musuhmu sebelum berperang."
"Sepertinya aku sudah salah menilai mu, tapi sebagai gantinya, apa kata kita adu kekuatan sekarang." Sahutnya sembari melayangkan pukulan kuat ke arahnya, melihat serangannya itu membuat Leo langsung membuang pedang miliknya dan membalas semua serangan yang ia berikan padanya.
Bughh bughh Bughhh
Satu persatu pukulan terus mendarat di setiap tubuh mereka, sementara Yoona hanya melihat pertarungan mereka.
'Sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan' batin Yoona berpikir sebab dia tahu betul bagaimana sifat Luan, dia yakin ada satu maksud terselubung dibalik semua itu.
Mereka terus saling melempar pukulan dan Jurus mereka masih masih, hingga ketika perkelahian itu sedang di puncak puncaknya tiba tiba saja Luan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
JLEBB!!!
Luan menusukkan pisau pada bidang dada kiri Leo yang ingin mengakhiri perkelahian itu, "Kena Juga kau." Ucap Luan yang puas dengan hasil yang ia dapatkan, sementara Leo sama sekali tidak melawan balas ataupun merintih kesakitan, dia membiarkan semua darah yang terus mengalir keluar dari sana.
"Leo,,,,"gumam Yoona saat melihat semua itu tepat di depan mata kepalanya sendiri, di tambah lagi posisinya kini tidak jauh dari Leo saat ini.
"Kenapa apa kau takut Honey, jangan takut, sebab setelah ini adalah giliranmu untuk menemui ajalmu." Ucap Luan yang kini sedang mengambil pedangnya yang sempat ia acuhkan.
Pria itu perlahan mendekat ke arah Yoona yang kini sedang berdiri membeku disana, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya, seakan akan dia sama sekali tidak bisa berpikir jernih dan membuat nya hanya bisa diam di tempatnya.
Dengan begitu kuatnya dia langsung mengayunkan pedangnya ke arah Yoona dengan harapan serangannya kali ini dapat melukainya, namun ketika mata tajam besi itu ingin menyentuhnya, tiba tiba Leo langsung menarik tubuhnya kedalam dekapannya.
CRAKKK!!!
Pedang itu berhasil menebas lengan kanan hingga punggung belakang Leo hingga sontak membuat kaki pria itu melemas ditempat, ditambah lagi mata pisau itu menancap semakin dalam disana, dan lagi lagi ia gagal melukai mangsanya.
"Sialan, kalau begitu matilah bersamanya!!" Geramnya kembali melayangkan serangannya itu tapi.
DORRR
Sebuah peluru tiba-tiba melesat begitu saja dan berhasil menggores lengannya. "ARGHHH!!! YYAKK DASAR B4JINGAN!!!, SIAPA YANG BERANI MENYERANG KU DARI BELAKANG!!!" Teriaknya sambil menoleh kearah pintu belakang begitu juga dengan Yoona yang sama terkejutnya dengan pistol tadi.
"Laurent." Satu nama terucap dari mulut yoona saat melihat Laurent yang kini sedang berjalan mendekati mereka.
"K KA kau?"
"Kau disini Laur,,,"Ucap nya yang terpotong ketika Lauren tiba tiba menyuntikan cairan ke lehernya sehingga membuatnya langsung jatuh tidak sadarkan diri begitu saja.
"Maafkan aku terlambat Yoona." Ujarnya lalu membawa pergi tubuh Luan itu dari pandangan Yoona yang masih belum mengatakan satu katapun selain nama dari pria itu sendiri.
"T ta tarik,,,,Pi pisaunya." Rintihnya lemas hingga membuyarkan lamunan Yoona dan menatap pria yang sedari tadi masih memeluk nya disana.
Mendengar hal itu membuat Yoona langsung menarik mata pisau yang menancap dalam di bidang dadanya "ARGHHH" Leo mengerang kesakitan dan langsung melemas tidak sadarkan diri tepat di dalam dekapan istrinya.
"Leo, yyakk ada apa denganmu, kenapa tiba tiba pingsan seperti ini Leo bangunlah, Leo." Panggilnya berusaha untuk membangunkan pria itu, namun usahanya itu sia sia. Leo benar benar tidak membuka matanya sama sekali.
"Leo,,,,kalau kau mau mati jangan disini astaga, YYAKK. " Yoona terus menepuk pipi pria yang saat ini tangah tidak sadarkan diri di dalam pelukannya, sementara luka bekas tusukan tadi masih terus mengeluarkan darah yang mengalir hingga mengotori gaun putih Yoona.
"Yoona!!!"panggil seorang pria tua dari yang kini tengah berlari menghampiri putrinya bersama tiga orang di sekitarnya.
Mendengar hal itu membuat Yoona langsung menatap ke arah sumber suara yang baru saja memanggil namanya. "Papa."
"Tuan..." Seru Luca ketika melihat keadaan tuannya sementara Vigor dan Evie masih syok dengan keadaannya saat ini.
"Leo!!! Ya tuhan Leo putraku kenapa dia bisa seperti itu...." Luna menangis di tempat saat melihat keadaan putranya yang benar benar mengenaskan disana.
"Luna tenanglah, dia pasti baik baik saja." Elam Evie berusaha menenangkannya.
"Sebenarnya kalian kemana saja Eoh!!! Dan kau Luca kenapa disaat seperti kau malah menghilang!!!" Marahnya.
"Maafkan saya Noona, saya yang menyuruh tuan untuk menyusul Nona kemari, dan saya menggantikan nya menghalangi jalan mereka, tapi saya tidak tahu kalau mereka masih waspada disini, padahal, kami sudah mengamankan daerah lorong ini." Jelas Luca.
"Yoona sudah, jangan marah seperti itu, kita juga tidak pernah tahu bencana seperti ini akan terjadi, sekarang lebih baik, Luca bawa Leo ke rumah aku akan memanggilkan beberapa dokter ke rumah, dan Yoona kau pulanglah dengan Mama, papa akan mengurus para mayat ini." Lerai Vigor.
"Kenapa papa membawanya ke rumah, kenapa tidak membawanya ke rumah sakit, dia terluka sangat parah pa." Tanya Yoona.
"Kalau kita membawanya ke rumah sakit, akan menimbulkan banyak perhatian Yoona, dan pasti mereka akan mengintrogasi kita di tambah lagi banyak para tamu undangan yang juga tewas disini, sudah kau bawa saja dia kerumah papa yang akan mengurus semuanya disini." Jawabnya sementara Luca dan beberapa anak buahnya yang lain mulai membawa Leo untuk pergi dari tempat itu.
Vigor berjalan mendekati putrinya yang sedari tadi tidak bisa berhenti menatap kepergian Leo, Vigor menepuk pundak kiri Yoona hingga membuyarkan semua lamunannya, "percayalah pada papa, semuanya akan baik baik saja Yoona." Ucapnya sementara Yoona langsung memeluk erat tubuh papanya itu.
"Papa, Yoona kira papa kenapa napa, papa baik baik saja bukan?" Tanyanya karena mengingat ia sempat khawatir karena ucapan Luan.
Vigor mengangguk. "Papa baik baik saja sayang, sudah sekarang kau pulanglah, nanti papa akan menyusul mu."
Yoona menggeleng. "Yoona akan disini membantu papa, ma kalian pulang saja, aku akan pulang dengan papa." Pintanya.
"Baiklah kalau begitu, mama akan pulang dulu." Jawab Evie yang kemudian membawa Luna ikut pulang bersamanya.