Dalam keheningan, Nara Wibowo berkembang dari seorang gadis kecil menjadi wanita yang mempesona, yang tak sengaja mencuri hati Gala Wijaya. Gala, yang tak lain adalah sahabat kakak Nara, secara diam-diam telah menaruh cinta yang mendalam terhadap Nara. Selama enam tahun lamanya, dia menyembunyikan rasa itu, sabar menunggu saat Nara mencapai kedewasaan. Namun, ironi memainkan perannya, Nara sama sekali tidak mengingat kedekatannya dengan Gala di masa lalu. Lebih menyakitkan lagi, Gala mengetahui bahwa Nara kini telah memiliki kekasih lain. Rasa cinta yang telah lama terpendam itu kini terasa bagai belenggu yang mengikat perasaannya. Di hadapan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, Gala berdiri di persimpangan jalan. Haruskah dia mengubur dalam-dalam perasaannya yang tak terbalas, atau mempertaruhkan segalanya untuk merebut kembali sang gadis impiannya? Ikuti kisahnya dalam cerita cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA BELAS
Mobil berwarna hitam menggesit melintasi jalan yang mulai sepi di malam hari, menembus kegelapan menuju kediaman Nara. Sesampainya di depan pintu gerbang, Gala, dosen muda tersebut, bukannya langsung berpamitan untuk pulang, melainkan turun bersama dan berjalan seiring dengan langkah Nara.
Nara yang merasa ada yang tidak biasa, menghentikan langkahnya dan menoleh dengan tatapan bingung.
"Terima kasih Prof, Anda tidak perlu mengantar saya sampai pintu," ucap Nara dengan nada yang bermaksud mengusir sang dosen yang tampak terlalu perhatian itu. Gala hanya tersenyum simpul, menanggapi dengan tenang.
"Saya ada perlu dengan Masmu," jawab Gala sambil terus berjalan mendahului Nara, meninggalkan Nara yang kini bertambah bingung di belakangnya.
"Hah, emang dia kenal Mas Bara?" gumam Nara sambil mengerutkan dahi. Dia berusaha mengingat-ingat apakah pernah memperkenalkan Bara kepada Gala di kampus atau di kesempatan lain, namun memori tentang itu tak kunjung muncul.
"Eeeh..sepertinya, aku gak pernah ngenalin Mas Bara ke beliau" batin Nara.
Saat pintu rumah terbuka. Bara langsung menyambut Gala dengan begitu akrab, membuat Nara makin terheran. Nara benar benar melupakan semua ingatannya.
"Mas Bara, kenal dengan Prof Gala?" tanya Nara tak kuasa menahan rasa penasarannya. Bara tersenyum, mengacak rambut adiknya.
"Gala ini sahabat Mas, dari SMA Dek," ujar Bara dengan nada santai, mencoba menjelaskan pada Nara. "Kamu lupa, Dek? Waktu kamu masih kelas satu SMP, kamu sering menginap di rumahnya. Bahkan, Gala yang selalu menemanimu tidur kalau Mas lagi di luar kota." Penjelasan Bara membuat wajah Nara seketika memerah.
"Apa? Tidur seranjang sama dia?" sepontan Nara menunjuk, memandang Gala dengan sorot tak percaya. Kenangan samar-samar pun tak terlintas di pikirannya, tetapi Nara tetap merasa sulit mempercayainya.
"Iya. Emang ada apa? Kamu lupa, Dek?" Bara berkata dengan nada tak acuh, sementara Gala yang berdiri di samping kami hanya tersenyum simpul, seolah menikmati reaksi Nara yang penuh keterkejutan.
"Enggak percaya? Coba aja tanya sama Profesormu itu," ujar Bara sambil berlalu ke ruang tengah, meninggalkan adiknya dan Gala dalam kebisuan yang ganjil. Nara menoleh ke Gala dengan ekspresi ragu dan sedikit gugup.
"Ini... ini nggak benar kan, Prof?" tanya Nara, berharap apa yang baru saja dikatakan Mas Bara hanyalah gurauan belaka. Gala menundukkan wajahnya mendekat, nyaris berbisik di telinga mahasiswinya itu.
"Menurutmu, apa Mas Baramu terlihat seperti orang yang sedang berbohong? Bahkan, kamu sendiri selalu menyurukkan wajahmu di dada ini saat hujan deras mengguyur, sampai akhirnya kamu tertidur pulas hingga pagi." Suaranya terdengar tenang, tapi entah kenapa justru membuat dada Nara semakin berdegup kencang.
Nara lalu mendongak, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Benarkah semua itu pernah terjadi? Mengapa aku justru merasa seperti orang asing di tengah ingatanku sendiri? Gala menatap Nara dengan senyum kecil yang samar, membiarkan dan meninggalkan gadis itu terjebak di antara kebingungan, malu, dan entah apa lagi yang berputar di kepalaku.
"Aku tidak percaya. Jika memang kita sedekat itu, mana buktinya?" tantangku, menatap punggung Gala dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan. Kalimat yang meluncur dari mulutnya barusan seperti omong kosong bagi Nara. Sementara itu, Gala hanya tersenyum santai, seolah-olah semua ini lucu baginya.
"Dan lagian" aku menyambung dengan nada tajam, "tidak mungkin Mas Bara membiarkan adik perempuannya tidur seranjang dengan seorang pria dewasa sepertimu." Nara melontarkan bantahan itu dengan tekad, berharap dia sadar betapa absurditasnya ucapan tadi.
Namun, yang kudengar berikutnya adalah suara tawanya yang tergelak, seolah aku baru saja menceritakan sebuah lelucon murahan. "Heeey kenapa anda malah tertawa, Prof?" tanya Nara, bingung bercampur marah. "Oo, pantas saja! Ternyata dari awal anda memang mesum!, Mana ada pria baik-baik yang mau tidur sekamar—bahkan seranjang—dengan gadis yang bukan mahramnya!" Nara tak bisa menahan kejengkelannya.
Tuduhan itu Nara lontarkan begitu saja, tanpa memikirkan dampaknya. Kekesalan Nara sudah diambang batas kesabarannya, tapi anehnya, Pak dosennya itu malah tampak tidak terusik sedikitpun.
Gala, tanpa kehilangan ekspresinya yang jenaka, mengerenyit sambil memandang tepat di wajah Nara lekat-lekat. Tatapannya itu— tidak tahu apakah harus menyebutnya mengejek atau justru meremehkan.
"Kamu pikir saya sedang tidur seranjang bersama anak gadis orang, hah?" katanya dengan nada bercanda, sambil menyelipkan kekeh kecil di ujung kalimatnya. "Hooo... Dulu, saya justru merasa seperti sedang menina boboin anak sendiri yang sedang terlelap, di pelukan ayahnya." Nada suaranya ringan, nyaris tanpa beban, seperti ia benar-benar tidak melihat kesalahan dalam situasi yang kubayangkan barusan.
Hati Nara bergejolak. Ucapannya itu menggema di kepala gadis itu—"menemani anak sendiri" katanya? Apa dia pikir dengan cara bicara seperti itu, semuanya akan terdengar normal? Atau dia hanya mencoba menyembunyikan sesuatu dengan candaan murahan? Entahlah, tapi satu yang pasti: Nara tidak yakin bisa mempercayai lelaki ini.
"Maksud Prof apa?" tanya Nara sambil menatapnya penuh kebingungan.Nara ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar tidak seperti yang ia pikirkan.
Gala menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh, pandangannya datar namun tajam, seolah tak memberi ruang untuk bantahan. "Dulu tubuhmu itu sangat mungil,tak terlihat seperti anak SMP, dan satu lagi, saat itu kamu belum balig. Itulah alasan kenapa saya bersedia menemanimu dan bahkan membiarkanmu tidur di kamar saya." Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata seolah memiliki beban yang berat.
Nara tertegun, bibirnya terkunci. Setiap kalimatnya menusuk ke dalam benakku, seperti hantaman yang sulit kutepis.
"Jadi sekarang jelas, kamu yang pikirannya mesum, bukan saya," tambahnya, sambil mengetuk kening Nara dengan jari telunjuknya, sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan Nara begitu saja.
Nara hanya bisa berdiri terpaku, tidak tahu harus merespons apa. Ucapannya terngiang-ngiang di telinga gadis ayu itu.
"Apakah dia benar? Apakah ini semua hanya kesalahan cara pandangku saja? Tetapi... tidak bisakah dia melihat betapa kata-katanya itu begitu dingin, bahkan sedikit menyebalkan"gerutu Nara kesal.
Gala pergi tanpa memberi Nara ruang untuk membela diri. Dan dia sendiri bahkan tidak yakin dengan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Gala dan Bara duduk dengan wajah serius di ruang tengah, terlihat tengah membahas sesuatu yang penting. Nara berjalan melewati mereka, mengabaikan atmosfer berat yang melingkupi percakapan mereka.
Saat Nara baru saja hendak masuk ke kamar, suara Bara menghentikan langkahnya.
"Dek, buatin dulu kopi hitam dua," katanya tanpa ragu, seolah itu tugas alami yang harus Nara lakukan.
"Yang satu gulanya setengah sendok saja," Gala menambahkan, nyaris tanpa menoleh, suaranya terdengar santai namun penuh tuntutan terselubung. Sontak Nara berbalik, memandang Gala dengan tatapan datar, mencoba menahan rasa kesal yang memuncak di dalam hatinya.
Tapi pada akhirnya, Nara menyerah pada kejengkelannya sendiri.
"Buat aja sendiri," ketusnya, tanpa basa-basi. Mas Baranya, menatap Nara sambil menghela napas pendek, jelas-jelas tak senang dengan reaksi adiknya.
"Raaa…" suaranya melunak, mencoba mengingatkan adiknya agar bersikap lebih sopan, terutama pada Gala, tamu spesial di rumah mereka. Nara hanya membuang muka, berusaha tak menggubris teguran Bara. Tapi sekilas Nara melihat Gala, yang tak lain hanya tersenyum kecil. Senyumnya tak menyinggung, malah seperti mencoba meredakan suasana. Tapi di mata gadis ayu itu, senyumnya itu justru membuat Nara makin jengkel.