Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Hari sudah senjata ketika ini. Dan merekapun pamit pulang. Carla mengatakan jika besok ia akan membeli alat-alat untuk membuat listrik dari tenaga surya.
Carlos pun mengiyakan saja. Mereka bersalaman dengan mencium tangan kakek Bahram. Namun saat Virendra ingin bersalaman dengan Sofia, tangan Carlos sudah lebih dulu menyambut tangan Virendra.
"Cih, belum apa-apa sudah posesif," gumam Virendra.
"Bukan muhrim," bisik Carlos. Virendra hanya mencebikkan bibirnya saja. Akhirnya hanya Carla saja yang diizinkan bersalaman.
"Pulang dulu kek, besok kita akan datang lagi kemari untuk berburu," ucap Axelle berpamitan. Sedangkan yang lain hanya mengangguk.
"Saudaramu cukup ramai juga ya?" tanya Sofia setelah mereka tidak terlihat lagi.
"Hmmm, dan semuanya kembar. Ada yang tiga dan empat. Bahkan ada yang kembar tujuh," jawab Carlos.
Sofia terkejut mendengar kembar tujuh, ia membayangkan seperti apa jika anak kembar tujuh? Kemudian ia menggeleng cepat membuang pikiran kotor nya.
"Sof," panggil Carlos saat Sofia hendak beranjak dari situ.
"Apa Sop-sop? emang aku kambing yang bisa di sop? Gak enak banget panggilan nya," ujar Sofia.
Carlos tertawa pelan, ia menduga pasti Sofia cemberut. Walaupun posisi Sofia membelakangi nya, namun dari nada bicaranya terdengar seperti jengkel.
"Kamu suka dia?" bisik Diyan. "Sepertinya kalian cocok, satu calon raja dan satu seorang putri raja," imbuh Diyan.
Carlos tidak menjawab, ia segera pergi sedikit menjauh agar tidak digoda oleh Diyan.
"Pasti malu-malu mau tuh," ucap Diyan. Kakek Bahram pun ikut tertawa senang. Ia sangat setuju jika Carlos benar-benar menyukai cucunya.
"Kamu bagaimana? Apa sudah punya pasangan?" tanya kakek Bahram.
"Keluarga kami mahal kek, kebanyakan gengsi," jawab Diyan.
"Perdana menteri memiliki seorang putri, tapi gak tahu sekarang bagaimana kabarnya? Sudah lama tidak ada kabar sama sekali, kalau masih hidup, mungkin sudah sebesar Sofia," kata kakek Bahram.
Diyan hanya tersenyum, ia juga belum kepikiran untuk mencari pasangan. Karena menurutnya tidak mudah untuk mencari yang menurutnya cocok.
Kalau sekedar pacar sih banyak, mau dengan siapa saja juga bisa. Tapi Diyan bukan untuk main-main, maunya sekali dapat langsung di ikat.
"Jangan berkecil hati, kakek tahu perasaan tidak akan bisa dipaksakan. Kita juga tidak tahu kemana cinta kita berlabuh? Kalau kapal, sudah pasti ke dermaga," tambah kakek Bahram.
Carlos menghampiri Sofia yang duduk diluar rumah sendirian. Ada potongan kayu bakar yang disusun tempatnya duduk.
"Disini dingin," ucap Carlos memakaikan jaket ke bahu Sofia.
"Gak juga, kenapa kamu ikut keluar?" tanya Sofia.
"Gak ada, cuma ingin temani kamu. Gak baik duduk sendirian," jawab Carlos.
"Aku sudah terbiasa sendiri, temanku hanya jaguar dan kakek. Dari sejak kecil aku tidak mengenal dunia luar kecuali ke pasar tempat yang kunjungi itu," ucap Sofia.
"Kamu mau ke negaraku? Disana bebas mau kemana saja. Tidak ada yang melarang, tapi harus bisa jaga diri karena banyak orang jahat," ujar Carlos.
"Dimana-mana pasti ada orang jahat, disini juga banyak kok, apalagi dikediaman raja. Mereka haus akan kekuasaan," kata Sofia.
Carlos terdiam, apa yang dikatakan oleh Sofia memang benar. Buktinya dirinya, baru datang ke saja sudah ingin dibunuh. Beruntung Carlos cerdik dan menggunakan ilmu si kancil dengan berpura-pura mati agar bisa lolos.
"Masuk yuk, sudah malam. Besok temani aku menjelajah hutan," ucap Carlos.
Sofia pun bangkit dari duduknya, mereka masuk ke dalam rumah. Sofia langsung kedalam kamar untuk segera beristirahat.
Sementara di hotel ...
Carla dan yang lainnya sudah tiba di hotel. Saat ini mereka sudah berada didalam kamar masing-masing.
Carla mengirim foto Sofia yang ia ambil secara diam-diam kepada sang mama. Carlina yang menerima kiriman foto tersebut pun langsung menelepon Carla.
"Halo Ma, assalamualaikum," ucap Carla melalui telepon.
"Waalaikumsalam, foto siapa sayang?" tanya Carlina.
"Calon menantu Mama," jawab Carla.
"Apa?! Kamu masih waras 'kan sayang? Kamu gak belok, kan?" tanya Carlina.
Tentu saja ia kaget saat Carla mengatakan gadis itu calon menantunya. Carlina pikir foto yang gadis itu adalah kekasih nya Carla.
"Ma, makanya dengar dulu, jangan asal tebak saja. Cewek itu, calon nya adik Ma," jawab Carla menjelaskan.
"Kamu ini, coba dibilang dari tadi. Kan Mama jadi tidak ngegas ngomongnya. Tunggu, maksudmu Carlos?"
"Hmmm, dia putri kerajaan yang terbuang."
Carlina pun menanyakan keadaan Carlos, Carla pun menceritakan kronologi nya yang ia ketahui dari Carlos sendiri.
Carlina pun merasa lega dan senang karena putranya baik-baik saja. Carla juga menceritakan tentang nasib Sofia. Carlina malah menangis mendengarnya karena tidak tega.
"Bawa pulang saja sayang, biar mama mengadopsi nya," kata Carlina.
Carla tertawa mendengar sang mama ingin mengadopsi Sofia. Carlina pun mengatakan jika dirinya tidak main-main.
"Restui saja hubungan mereka Ma, tidak perlu mengadopsinya. Lagipula Mama sudah memiliki dua anak perempuan," ujar Carla.
Carlina pun mengangguk dan mengatakan pasti akan merestui hubungan mereka nantinya.
Setelah cukup lama mengobrol, Carla pun menyudahinya. Karena ia ingin mandi terlebih dahulu. Sudah seharian ini ia tidak mandi.
Tadi di tempat kakek Bahram, mereka mandinya di sungai. Karena Carla tidak membawa pakaian cadangan, jadi ia tidak mandi.
Carla masuk kedalam kamar sambil tersenyum sendiri membayangkan sang mama yang terlihat senang.
"Pasti berita tentang Sofia akan cepat menyebar ke seluruh keluarga Henderson," gumam Carla.
Dapat Carla bayangkan betapa heboh nya keluarganya. Seorang Carlos yang mereka kenal tidak suka perempuan, ternyata baru beberapa hari pergi sudah memiliki pacar.
Carla mengguyur tubuhnya sambil senyum-senyum sendiri. Hingga pintu kamarnya diketuk pun ia tidak menyadari.
Setelah selesai mandi, Carla menoleh ke pintu kamar karena mendengar ketukan pintu. Carla membuka pintu yang ternyata ketiga saudaranya.
"Kami mau belanja malam ini juga, apa kamu mau ikut?" tanya Keenan.
"Boleh, aku siap-siap dulu. Besok pagi-pagi kita bisa kesana. Aku juga ingin berburu," jawab Carla.
Carla segera berganti pakaian, karena tadi ia hanya menggunakan bathrobe. Bahkan kepalanya pun masih terbungkus handuk.
Beberapa menit kemudian, Carla sudah siap dan hanya menggunakan pakaian santai saja.
"Yuk, agar besok kita tidak perlu repot-repot," kata Carla.
Carla berencana untuk membelikan Sofia pakaian. Ia melihat pakaian Sofia sudah memudar warnanya. Carla juga akan membeli ponsel untuk Sofia.
Carlos sudah menceritakan keadaan Sofia yang tidak sekolah, tapi bukan berarti dia buta huruf. Karena sang kakek mengajarinya sejak kecil.
Setidaknya membaca dan menulis Sofia bisa. Jadi tidak kolot-kolot amat meskipun tinggal ditempat terpencil dipinggir hutan.
mending perang apa bunuh²an aja .. wkkwkw