“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM12
"Memburuk?" Aldrick menarik napas dalam-dalam. Dadanya kian sakit dan sesak.
"Benar. Seperti yang kita ketahui, hasil test akhir menunjukkan bahwa Bu Melodi menderita kanker otak stadium 3. Di mana artinya kanker sudah menyebar ke jaringan sehat di sekitarnya. Pengobatan dengan cara pengangkatan tumor saja umumnya sudah tidak cukup, yang mana artinya setelah menjalani operasi, Bu Melodi harus segera melaksanakan pengobatan jenis kemoterapi. Namun, untuk kasus Bu Melodi ... hal itu mustahil untuk dilaksanakan, mengingat janinnya belum menginjak usia 14 minggu." Jelas Dokter Andra, membuat pasangan suami istri di hadapan nya terhenyak.
"Apa tidak ada satupun jenis pengobatan yang dapat kita lakukan, Dok?" tanya Aldrick. Wajahnya terlihat frustasi.
"Operasi. Jika kondisi Bu Melodi memungkinkan, pilihan pengobatan kanker bagi wanita hamil adalah melakukan operasi segera. Tim medis akan mengangkat, setidaknya setengah tumor pada saat operasi pertama. —Tapi ... harus saya tekankan lagi, risikonya sangat tinggi. Baik untuk Melodi, maupun untuk janinnya."
Aldrick semakin merasa sulit bernapas. "Apa maksud Anda dengan 'risiko tinggi'?" tanyanya pelan.
"Operasi ini bisa memperpanjang hidup Bu Melodi. Tetapi, ada kemungkinan besar Bu Melodi tidak akan pernah sadar kembali. Dan ... jikapun Bu Melodi sadar, ada risiko komplikasi yang juga bisa membahayakan janinnya."
Aldrick mengusap wajahnya, frustrasi. "Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya tidak bisa memilih antara istri saya dan anak saya. Saya tidak tahu harus bagaimana."
Melodi yang ikut menyimak pembicaraan itu, meraih jemari Aldrick dengan tangan ringkihnya. Seolah memberi kekuatan, padahal siapapun tau bahwa dirinyalah yang perlu dikuatkan.
Dr. Andra menepuk bahu Aldrick pelan, memberikan sedikit dorongan ketenangan. "Saya tahu ini keputusan yang sangat sulit. Tapi, saya percaya, Anda adalah orang yang paling mengerti apa yang terbaik untuk istri Anda dan juga calon anak Anda."
---
Malam semakin larut, dan suara detak jarum jam yang menggantung di dinding kamar rumah sakit menjadi satu-satunya suara yang terdengar selain napas Melodi yang teratur. Aldrick masih duduk di sisi ranjang, menatap wajah istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya. Wajah Melodi yang dulu selalu ceria kini nampak pucat, tetapi, senyum kecil masih tampak menghiasi bibirnya, bahkan dalam tidur.
Dia mengusap lembut rambut Melodi, berhati-hati agar tidak membangunkannya. Dalam hati, Aldrick bertanya-tanya bagaimana selama ini dia bisa begitu bodoh dan tidak menyadari betapa rapuh istrinya, betapa jauh hubungan mereka telah berubah. Seakan-akan cinta yang dulu begitu kuat kini terselimuti oleh jarak, waktu, dan kebisuan.
Wajah Melodi yang damai, membuat air mata Aldrick luruh. Batinnya kini amat berisik. ‘Kemungkinan besar ... Melodi nggak bakalan sadar lagi? —Bagaimana bisa ada penjelasan sekejam itu di muka bumi? Maksudku ... bagaimana bisa aku akan melanjutkan hidup jika Melodi tak lagi ada di dunia ini? Sudah jelas, aku nggak bakalan sanggup ....’
Bibir Aldrick bergetar hebat, mati-matian ia berusaha meredam isak tangis. Ia tak mau Melodi melihat kesedihannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Aldrick menemui Dr. Andra lagi untuk memberikan keputusannya. Tentu saja semua keputusan yang akan ia sampaikan, sudah didiskusikan terlebih dahulu bersama sang istri.
"Dok, saya setuju untuk operasi itu. Saya ingin Melodi punya kesempatan, sekecil apa pun itu." Dia tahu risikonya besar, tetapi dia tidak bisa menyerah begitu saja.
Dr. Andra mengangguk, menghargai keputusan yang berat itu. "Baik, Pak Aldrick. Kami akan mulai mempersiapkan semuanya."
Aldrick kembali ke kamar dengan langkah berat. Kepalanya terasa penuh, seolah-olah pikirannya tidak mampu menampung semua apa yang telah terjadi.
Saat membuka pintu kamar, ia melihat Melodi sudah terbangun. Dia sedang duduk bersandar di ranjang dengan buku kecil di tangannya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Aldrick ingin menangis.
"Kamu ke mana tadi, Mas?" tanya Melodi dengan suara lemah, namun senyumnya tetap tersungging.
Aldrick menutup pintu perlahan, lalu mendekatinya. "Cuma ngobrol sama dokter sebentar. Gimana? Kamu udah makan?"
Melodi mengangguk kecil. "Udah. Tadi ada perawat yang bawain bubur. Gak enak sih, tapi aku paksa aja makan." Melodi terkekeh pelan, meskipun tawanya terdengar kosong.
Aldrick duduk di tepi ranjang, memperhatikan buku kecil yang dipegang Melodi. "Itu apa?" tanyanya, meski sebenarnya dia sudah tahu. Itu adalah buku harian sang istri.
Melodi tersenyum samar, lalu menatap bukunya. "Aku lagi nulis tentang kamu, Mas. Tentang semua hal yang aku suka dari kamu. Sama … semua hal yang bikin aku kesel." Dia tertawa kecil, tapi matanya mulai berkaca-kaca.
Aldrick terdiam. Ia tahu Melodi selalu suka menulis, tapi mendengar itu membuat dadanya terasa sesak. "Kenapa mesti nulis tentang aku? Kenapa gak tentang hal-hal yang bikin kamu seneng aja?"
Melodi menggeleng pelan. "Aku pengen kamu tau, Mas. Kalau nanti aku gak ada, kamu bisa baca ini. Mungkin kamu bakal inget betapa nyebelinnya aku, tapi, juga betapa aku selalu sayang sama kamu." Suaranya mulai bergetar, dan air matanya jatuh tanpa ia sadari.
"Melodi, jangan ngomong kayak gitu. Aku nggak suka ...," potong Aldrick, suaranya tegas tapi lembut. "Aku gak mau denger kamu ngomong soal gak ada atau apa pun itu. Kamu bakal baik-baik aja, oke? Aku gak akan biarin kamu pergi."
Melodi menatapnya dengan mata merah. "Mas, aku tau ... kamu mau aku kuat. Tapi, aku ngerasa ... aku gak punya banyak waktu lagi." Dia mulai terisak, dan Aldrick segera memeluknya, membiarkannya menangis di dadanya.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi, Dek," bisiknya. "Aku gak peduli seberapa kecil harapan yang kita punya. Aku akan ada di sini, dan kita bakal lewatin ini bareng-bareng. Kamu denger aku?"
Melodi tidak menjawab, hanya terus menangis. Aldrick mengusap punggungnya pelan, mencoba menenangkan istrinya. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Melodi yang basah dengan air mata.
"Tau gak, waktu aku kecil, aku pernah jatuh dari pohon mangga di depan rumah," kata Aldrick tiba-tiba, mencoba mengalihkan suasana. "Aku pikir aku bakal mati, soalnya kepala aku kejedot batu. Kamu tau? Yang aku pikirin waktu itu bukan sakitnya, tapi, gimana caranya aku nyelamatin mangga yang aku bawa."
Melodi terdiam sejenak, lalu tertawa kecil di sela isakannya. "Kamu serius?"
Aldrick mengangguk dengan ekspresi serius yang dibuat-buat. "Serius. Aku sampe ngerangkak buat ngambil itu mangga biar nggak diambil ayam. Nyokap aku ngamuk abis-abisan, tapi, aku malah bangga karena mangganya selamat."
Melodi tertawa lebih keras, meskipun air matanya masih mengalir. "Mas, itu konyol banget. Kamu lebih peduli sama mangga daripada kepala kamu?"
"Hei, itu mangga hasil perjuangan, tau!" Aldrick pura-pura tersinggung, membuat Melodi tertawa lagi.
Namun, tawa itu segera mereda, digantikan oleh keheningan yang berat. Melodi menatap Aldrick, matanya penuh dengan rasa cinta dan kesedihan. "Mas, aku bener-bener takut," bisiknya.
Aldrick menggenggam tangannya erat. "Aku juga, Dek. Aku juga ... rasanya, aku hampir gila. Tapi, aku gak akan biarin rasa takut ini ngalahin kita. Aku janji, aku akan ada di sini buat kamu, buat anak kita, apa pun yang terjadi."
Melodi mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Ia tahu Aldrick selalu berusaha terlihat kuat, tapi ia juga tahu bahwa suaminya tidak sekuat yang ia tunjukkan.
Suasana berat dan sesak di pagi itu, tiba-tiba mencair kala pintu ruangan inap diketuk. Wajah Nadia menyembul di balik pintu, ia masuk dengan langkah yang sengaja di buat slow motion. Kaca mata hitam membingkai di wajah bulatnya, menyembunyikan kelopak mata yang bengkak akibat menangis semalaman.
"Hay hay hay epribadeeeeh! Kenape muka lo pada? Udah kayak orang butuh terapi rematik ajeh." Nadia melangkah sambil menggoyang-goyangkan ujung kaki, berharap dua pasangan berwajah sendu di depannya itu melirik ke bawah sana.
Benar saja, mata Melodi dan Aldrick pun turun, menatap lurus ke arah kaki Nadia yang mengenakan ....
Pfft!
Melodi dan Aldrick serentak menyemburkan tawa. "Apa-apaan sepatu lo, Nad? Hahaha!"
"Gimana sepatu gue? Menantang langit dan bumi kan?"
*
*
*
rata2 perempuan banyak kena gerd,kalau kata org awam asam lambung.itu karena dampak utamamya stres.tekanan batin.
jadilah suami yg bijak. dosa kalau sampai istrimu mengemis kasih sayang
bagus banget.
Aku setiap baca 😭🤣😭🤣😭🤣😭
Sukses terus kak othor/Determined/