"Cinta bisa membuat sesorang menjadi lebih baik dalam hidupnya. Namun juga sebaliknya cinta dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan berdampak negatif bagi dirinya juga bagi orang yang dicintainya." (Plato)
Cinta adalah anugrah dari yang kuasa, tak ada yang bisa menghindar dari kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai." (BJ. Habibie)
Sangat banyak kata-kata bijak tentang cinta, tapi tak satupun membuat gadis ini percaya tentang cinta. Keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya tak percaya dengan cinta. Perceraian orang tuanya membuatnya takut untuk jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bintun arief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Bias jingga matahari yang ingin pulang keperaduannya terpancar jelas, namun tak menyilaukan mata untuk sosok yang sedang meringkuh duduk di pinggir jendela kamarnya yang sedikit menjorok keluar. Tatapannya datar, seperti menatap burung-burung kecil yang mulai bertengger di kabel listrik yang menjuntai panjang, mengalirkan arusnya kesetiap rumah.
Ketukan pintu dan suara knopnya yang terbuka, tak membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Dia tetap menatap nanar ke sembarang arah.
"Kakak! sudah mau adzan maghrib kok masih belum mandi?" Cindy mendaratkan tangan lembutnya kebahu kanan gadis itu.
"Eh, sudah mau maghrib ya!" Juna tersadar kembali kedunia nyata, menatap perempuan disampingnya dengan penuh hormat, sebelumnya ia menyeka airmatanya yang berjatuhan tanpa diminta.
"Juna mandi dulu deh, Bunda!" ungkapnya, hendak mengambil handuk yang ada dalam lemarinya.
Sebelum gadis itu benar-benar beranjak, Cindy menghentikannya.
"Ada masalah di tempat kerjamu, Nak?" tanya Cindy dengan sangat lembut.
"Apa kakak tak menganggap bunda ada?" lanjutnya lagi. Juna menghentikan langkahnya, membatalkan semua keinginannya dan duduk ditepi ranjang dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Bunda ini bicara apa sih!" Juna menatap Cindy, tatapan yang tak biasa. Raut wajah itu dulu pernah di lihat Cindy, tepat satu minggu pernikahannya dengan Papa dari gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Jatuh cinta itu hal yang lumrah. Sudah fitrah manusia bisa merasakannya, Kak! Bunda dulu melihatmu seperti ini, waktu kamu pertama kali datang bulan, masih ingat gak? Dulu Juna bilang, 'Bunda ... Juna gak mau jadi dewasa, Juna mau tetap jadi anak-anak aja!' ingat gak? waktu itu Juna juga mencoba melawan takdir Tuhan kan. Sekarang takdir apa lagi yang ingin kau lawan, Nak? kau sudah dewasa Juna. Bahkan usiamu sudah layak menjadi seorang ibu. Jangan lari dari masalah!" Tangan Cindy kini, telah memegang kedua jemari anak sambungnya itu.
"Bunda ... Juna takut! Juna bingung dengan perasaan Juna sendiri. Disatu sisi ada perasaan nyaman saat bersama dengan nya, rasanya ingin selalu bersamanya. Perhatiannya, kasih sayangnya, bahkan panggilan anehnya itu membuat Juna menyayanginya, tadinya aku merasa ini hanya perasaan nyaman seperti kakak dengan adiknya. Tapi semakin hari dekat, Juna merasakan ketergantungan, Bunda! Aku harus menghindarinya, Bun. Harus! perasaan ini salah tempat!" ucap Juna menunduk, membiarkan cairan beningnya jatuh semakin deras.
"Hei ... dengerin bunda! kenapa harus dihindari? kenapa tidak tepat? Kakak sedang dekat dengan laki-lakikan?" Cindy memegang kedua pipi Juna, menatap dengan penuh harap, jangan sampai anak kesayangannya itu salah jalan.
"Bunda apaan sih! aku masih normal, Bun!"
"Alhamdulillah, Bunda takut kau salah jalan, Nak! jadi, apa maksudnya tadi salah tempat?" cecar Cindy penasaran.
"Dia yang Juna maksud itu usianya jauh dibawah Juna, Bun!"
"Brondong dong!" Cindy berakting seolah terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tu kan! Bunda aja ngejek! pokoknya aku harus jauhin Adzka!"
"Oh jadi namanya Adzka! memangnya seberapa muda sih abang brondong itu!" tanya Cindy penasaran.
"6 tahun dibawah Juna, Bunda! iya kali nikah sama orang yang lebih cocok jadi adik Juna sendiri, gimana mau ngajarin aku jadi istri yang baik kalau dia aja masih harus dibimbing gitu!" Juna membaringkan tubuhnya menutup kepalanya dengan bantal.
"Eh, anak bunda sudah mau nikah ternyata! duduk dulu, cerita dulu ke bunda!" Cindy menarik paksa tangan Juna.
"Bunda ih, Keponya parah deh! Siapa lagi yang mau nikah." dengan malasnya Juna kembali mendudukkan tubuhnya yang masih terbalut seragam kerja.
"Tadikan bilangnya "jadi istri" hayo! gini deh, bunda cuman bisa bilang, umur itu gak menjamin dewasa tidaknya seseorang. Ada yang usianya sudah dewasa tapi kelakuannya masih seperti anak-anak, ada juga yang usianya masih belum dewasa tapi pemikirannya sudah seperti orang dewasa, intinya bunda setuju sama brondong yang sudah buat anak bunda galau!" Cindy membenamkan hidung Juna yang tak terlalu mancung.
"Udah Adzan tuh, mandi gih sana! Bau ikan asin!" Cindy meninggalkan Juna, berjalan kearah pintu.
"Ih, apaan sih bunda. Laporin ke Papa ni, biar bunda ditindak seperti yang di Tv-tv itu!" celetuk Juna mencebikan bibir pinknya.
"Ya silahkan lapor Polisi! Pak polisinya kan suami aku!" ucap Cindy di depan pintu.
"Polisi nya kan Papaku!" imbuh Juna. Pintu kamar itu kini tertutup rapat, meninggalkan gadis yang belum mandi itu kembali sendiri.
Kedua perempuan kesayangan polisi yang dijadikan becandaan tadi, kadang bertingkah seperti dua sahabat, bukan ibu dan anak.
\=\=\=\=\=
"Kenapa nomornya tidak aktif sih?" gerutu laki-laki yang masih berkeringat, duduk menyelonjorkan kedua kakinya di lantai balkon memegang benda pipih miliknya.
"Aku ada salah apa sih?" tulisnya dalam pesan singkat yang diketiknya, kemudian menekan logo bergambar pesawat kertas. Hanya ada satu tanda centang disana, pertanda pesan yang dikirmkannya belum sampai ketempat tujuan.
"Kenapa dia mematikan hapenya! gak biasanya dia seperti ini! tadi juga dia tidak masuk kerja, apa dia sakit?" ucap laki-laki tersebut berbicara sendiri.
"Cinta memang membuat orang jadi gila ya! ternyata dokter bisa gila juga, kau harus segera ke psikiater, dek!" Zuan duduk di kursi satu-satunya yang ada dalam kamar.
"Masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu! jangan asal masuk saja!" Adzka mengambil handuk kecil yang digantungkannya di kursi balkon. Melap seluruh keringatnya sampai kering, kemudian mengalungkannya dileher seperti abang becak.
"Maaf deh! gampang banget marah. Apa seperti itu kau menghadapi pasienmu? bukannya sembuh, malah semakin sakit jantung kalau kau ketus begitu!" ejek Zuan.
"Jangan bawa-bawa profesi diluar jam kerja, kau juga. Apa kau tau pasal apa yang kau langgar masuk kedalam kamar orang tanpa izin, hah!" Adzka melemparkan handuk kecil tadi, meninggalkan kakaknya tersebut untuk membersihkan diri dikamar mandi.
"Ih, jorok amat sih ni bocah!" Zuan melemparkan handuk yang tepat mendarat di wajah gantengnya.
"Ka, kita jalan yok! ngopi gitu, kan malam minggu!" Zuan sedikit mengeraskan ucapannya, karena sang adik sudah berada dalam kamar mandi.
"Jalan sama loe? ogah! memangnya aku cowok apaan! keliatan banget jomblonya!" Adzka juga berteriak.
"Enak aja, aku gak jomblo ya! makanya ayo kita keluar, aku mau ngenalin pacarku ke adik ku yang paling ganteng!" Zuan tak menyerah, misinya kali ini harus berhasil, backstreet yang dijalaninya selama bertahun-tahun ini harus segera diakhiri. Kini dia sudah berada di depan pintu berwarna biru, pintu kamar mandi yang ada dalam kamar adiknya itu.
"Kau sudah punya pacar!" Adzka membuka pintu secepat kilat, terkejut mendengar penuturan saudara laki-lakinya tersebut, membuat Zuan hampir terjatuh karena dia bersandar disana.
"Siapa perempuan naas itu? apa dia sudah putus asa, tak menemukan orang lain yang bisa mencintainya!" celoteh Adzka.
"Ya, dia memang sudah putus asa mengejar cintamu! makanya dia mau menerimaku! cepatlah, aku tunggu dibawah." raut muka Zuan berubah seketika, teringat akan perkataan Adzka barusan. "Memang benar, mungkin dia merasa lelah mengejarmu, sehingga akhirnya dia menerima cintaku!" gumamnya dalam hati, dengan langkah lunglai berjalan menuruni anak tangga.
"Kenapa tiba-tiba jadi baper gitu?" Adzka menautkan kedua alisnya heran.
Dering Handphone Zuan menghentikan langkahnya seketika. Diambilnya benda pintar yang ada dalam saku celananya itu, tertulis "Masa depan" dilayarnya.
"Halo, hai. Kangen ya? sebentar lagi abang kesana, apa kau sudah mengajaknya? oke. Tunggu abang ya, setengah jam lagi abang sampai! bye" Panggilan itu berakhir. Zuan berjalan kearah dapur, meneguk satu gelas air putih dan mendudukkan tubuhnya di kursi makan yang kosong melompong. Tak ada makanan apapun disana, begitulah kesehariannya dirumah. Mamanya yang berprofesi sebagai dokter membuat orang tuanya itu jarang sekali berada dirumah saat jam makan malam. Untuk makan malam biasanya Zuan selalu membelinya lewat aplikasi makanan online jika sedang malas atau dia memasak sendiri makanannya kalau moodnya sedang baik.
"Adzka, cepat! aku lapar!" jeritnya, sosok yang ditunggu pun bergegas menuruni anak tangga.
"Sabar! minum saja air putih itu banyak-banyak! kan kenyang!" ocehnya sambil menggulung lengan bajunya.
.
.
.
.
Hai readers, selamat membaca lagi. Semoga suka dengan ceritanya, kalau suka like ya, jejak juga. Dan vote jika menghargai karya ini. Terimakasih 🙂
KNP SIH JUNA MSH GK PERCAYA CINTANYA ADZKA MA DY...
SECARA DY SNDIRI SDH TAU HNY KPD DY CINTA PERTAMA ADZKA , DN ADZKA TDK PRNH MNGISI HATINYA BUAT WANITA LAIN, KCUALI DY, JDI KNP MSH RAGU, HINGGA GK MAU DISENTUH SUAMI HINGGA NGAKU SDG HAID..
SAAT U TINGGALKN ADZKA, LO MSH BSA DKT MA MARCHELL MNTAN LO, SDGKN ADZKA TTP SETIA MNCINTAI LO, BETAPA SAKITNYA PERJUANGN ADZKA MNCINTAI LO, MAKANYA DY WAJAR POSSESIF.. KRN DY TAKUT KHILANGAN LO..
GK MIKIR KBHAGIAAN ANAK..
APALAGI MARCEL DISEBUTKN TURUNAN MANADO DN TIONG HOA, GK DIJELASKN OTHOR KYAKINANNYA APA....
DN LO SBAGAI MUSLIMAH. JGN LH BRHUBUMGN BEDA KYAKINAN DGN LO..
terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜💜🌹🌹🌹🌹🌹🌹