Alifa Rizky Aulia..gadis cantik yang sejak kecil selalu terdidik dengan hebat karena sejak usia 4 tahun Alifa sudah merasakan hidup di lingkungan pesantren. Alifa di tuntut belajar belajar dan terus belajar di kala teman seusianya merasakan di manja orang tua.tapi beda dengan Alifa.tak ada istilah manja di kamus hidup Alifa.
karena kehidupan pesantren yang menuntut Alifa hidup dalam kedisiplinan yang ketat akhirnya Alifa tumbuh menjadi gadis manis yang penuh prestasi dia menjadi qori terkenal berkat didikan sang kyai.
suatu ketika Alifa mengenal laki laki lewat media sosial. sejak itu Alifa melabuhkan hati pada sang doi yang baru di kenal nya.
bagaimana hidup sang qori setelah mengenal seorang laki-laki ? ujian dan cobaan apa yang harus di tempuh Alifa sehingga menjadi gadis manis penuh prestasi???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arizkha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 . Baper.
Bu Arum nampak menangis haru mendengar cerita teman nya dari darul Huda itu yang menceritakan tentang seorang anak didik nya yang hari ini mengikuti ajang Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan kebetulan salah satu santriwati nya juga mengikuti. cerita tentang Alifa memang mengharukan, Tak kuasa Bu Arum menahan airmata setelah tau kalau ternyata Alifa jadi santriwati darul Huda sejak usia 4 tahun. Dan dia anak piatu yang di tinggal ibu nya menghadap sang khalik di usia yang masih sangat balita
Sebagai seorang ibu yang juga mempunyai anak yang masih balita, Bu Arum tau gimana kehidupan anak yang seusia itu yang masih sangat bergantung kepada ibu nya. Masih sangat membutuhkan kasih sayang dari ibu nya, masih sangat manja ke ibu nya. Gak terbayang bagaimana Alifa kecil memulai hidup jauh dari ayah nya dan meninggalkan rumah serta harus hidup mandiri di sebuah tempat asing.
Ya..., anak usia 4 tahun tentu belum pernah kenal apa itu pondok pesantren. jangankan untuk membayangkan mungkin mendengar nama pondok pesantren saja bagi anak usia balita itu merupakan hal langka. Tapi Alifa kecil sudah mulai berjuang menapaki hidup di pesantren darul Huda.
Bu Arum menggelengkan kepalanya sambil masih terisak membayangkan begitu berat perjuangan bocah piatu itu yang harus kehilangan masa kecil dengan bermain-main sesama anak balita. Ia tak bisa membayangkan di saat anak lain nya tidur masih di peluk ibu nya, makan di suapi ibu nya, mandi di mandiin ibu nya, dan bermain bersama keluarga dan teman nya, tapi justru Alifa kecil di tuntut hidup mandiri jauh dari keluarga.
"Sungguh berat hidup Alifa bu..,saya gak terbayang bagaimana awal dia di pesantren saat anak lainnya masih asyik dengan dunianya bermain." Bu Arum semakin terisak.
"Memang perjalanan hidup Alifa kecil sangat berat bu..! kita sama-sama seorang ibu yang memiliki anak balita. tentu kita tau bagaimana seorang anak balita bergantung segala hal dengan ibu nya."
"Itulah Bu Nia, kenapa saya menangis. saya gak bisa membayangkan bagaimana Alifa melewati itu semua. sungguh kuat anak itu ya bu..?" ucap Bu Arum yang masih mengusap airmata dengan tissue.
"Semua karena keadaan Bu Arum..., kalau boleh memilih, mungkin Alifa pun akan memilih tinggal di rumah dengan ibunya dan di limpahi kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Tapi siapa yang kuasa menolak takdir dan kematian.Tak semua anak sekuat Alifa. Saya akui Alifa memang anak yang sempurna meskipun kita tau tak ada manusia sempurna di dunia ini. Tapi seribu satu anak yang bisa bertahan seperti Alifa."
"Anak yang luar biasa..!" gumam Bu Arum dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh orang di sebelah nya.
Ketika mereka larut dalam kesedihan membayangkan kisah hidup Alifa kecil, justru mereka di kejutkan dengan kehadiran Alifa dan putri yang datang dengan tertawa bahagia. mereka berjalan menghampiri ustadzah nya sambil bercerita dan sesekali tertawa bersama.
"Assalamu'alaikum...! ustadzah arum..., Kata putri, setelah dia lu..emmmp..lus ..!" putri membekap mulut Alifa yang ingin mengatakan sesuatu.
"lu...lus dia ingin..me ...ni..!
Kamu apa sich Alifa..!" Alifa terus berontak sambil ingin mengatakan sesuatu tapi putri semakin kuat membekap mulutnya. sambil berjalan ke arah ustadzah nya itu
"Kalian ini kenapa sich..malu di lihat orang." ucap Bu Nia yang heran melihat tingkah keduanya. Yang satu ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya di bekap dengan kuat sambil berontak.
Hahaha..." iya ini ustadzah putri katanya kalau sudah lulus ingin menikah dengan ustadz idolanya, katanya ustadz Yusuf sangat ganteng..!" hahaha..Alifa tertawa sambil terus berucap setelah tangan putri berhasil di jauhkan dari mulut nya.
"Apaan sich Alifa..resek dech..!"
"Gak ustadzah, Alifa yang ingin menikah dia bilang putra kyai asrama Ar rahim di darul Huda sangat keren.., hahaha ! dia tadi menceritakan putra kyai yang kadang jadi bahan ghibah santriwati di darul Huda."
Alifa mencebikan bibir nya mendengar ucapan putri ke Bu Nia dan teman nya.
"Kalian ini bicara apa, siapa yang mau menikah..? Masih kecil ngomongin nikah nikah..!"
"Alifa ustadzah..!"
"Putri ustadzah....!"
Keduanya gak mau kalah. Saling menuding dan mencebik kan bibirnya. kemudian keduanya tertawa bersamaan.
"Kalian berdua ini lucu sekali sudah seperti teman yang sudah lama kenal, Alifa sini nak boleh ibu memeluk kamu sebentar..!" ucap Bu Arum yang tak tahan ingin memeluk Alifa karena terharu melihat gadis remaja itu.
Alifa pun berjalan mendekat ke arah Bu Arum." Ada apa ustadzah, kenapa tiba-tiba ingin memeluk saya ?"
Bu Arum merentangkan tangan kemudian memeluk Alifa sesaat. "semoga kamu menjadi anak yang sukses nak...!!" Bu Arum semakin mengeratkan pelukannya ke Alifa dan menitikkan air mata.
_____________________
Selamat malam semua..!!
Jangan lupa coment like dan vote nya ya.. Thanks semua..!!