NovelToon NovelToon
BadBoy

BadBoy

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kiandra 025

Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .

Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Arsen berjalan masuk ke dalam sekolah dengan langkah tenang, tatapanya tajam lurus ke depan. Tidak ada satupun yang Arsen balas sapaan dari teman satu sekolah, karena itu memang ciri khas seorang Arsen.

"Arsenio Artanta Liandaraaa." Sakra datang dan langsung merangkul bahu Arsen, namun dengan cepat, Arsen segera menepisnya dan tetap melanjutkan jalan nya.

"Kenapa Sen? Muka lo kusut amat." tanya Sakra terus memperhatikan wajah Arsen yang terlihat berkali kali lebih menyeramkan dari biasanya.

"Diam bisa?" Arsen berhenti berjalan dan menatap Sakra tajam.

"Lo kenapa lagi? Gara gara Arkan?" Arsen semakin menatap Sakra tajam, lewat tatapan nya, Arsen seolah meminta Sakra untuk diam.

"Ehh, iya iya sorry." Sakra langsung terdiam begitu menyadari tatapan mata Arsen.

Arsen kembali melanjutkan jalanya, bukan menuju kelas nya, namun menuju lapangan basket yang kini telah berkumpul para sahabat sahabat nya.

"Ini dia, Arsen nya baru datang!" Arsen hanya diam tidak menjawab sapaan dari teman teman nya, Arsen lebih memilih duduk di antara Devan dan Refal yang terlihat sibuk dengan buku di tangan nya.

"Tumben, kalian baca buku," ucap Arsen heran melihat kedua sahabatnya yang nampak serius membaca buku.

"Belajar Sen, nanti ada ulangan di jam nya Pak Tanto." jawab Devan tanpa mengalihkan perhatian nya dari buku di tangan nya.

"Dan kita, gak sepintar lo yang selalu dapat nilai bagus, walaupun gak pernah balajar." sahut Refal menimpali.

"Dan kita gak seberuntung lo Sen, uang banyak, tampang cekep, banyak idola dan juga IQ tinggi." ucap Devan lagi.

"Dan asal lo tau, keburuntungan yang kalian maksud itu, sama sekali gak membahagiakan bagi gue. Gue gak seberuntung kalian semua kalau lo pengen tau." Arsen berdiri dan langsung berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya yang tampak binggung menatap kepergianya.

"Kenapa lagi sih Arsen, kok kayak beda gitu?" heran Devan.

"Mana gue tau," jawab Refal mengangkat bahu nya.

"Palingan ada masalah sama keluarganya," tebak Sakra yang masih menatap kepergian Arsen dengan pandangan menerawang.

"Yaudahlah, kita ukutin saja dia." putus Refal, langsung beranjak dari tempat nya dengan di ikuti oleh Sakra dan juga Devan dibelakang.

"Cepet banget Sen jalan lo." protes Refal begitu sudah berada di samping Arsen, namun Arsen hanya diam tak berniat menyaut nya.

Arsen terus berjalan, hingga sudah berada di lantai 2, Arsen berhenti berjalan. Arsen menatap tiga wanita yang saat ini terlihat duduk di depan kelas XI IPA 6. Arsen memincingkan matanya, saat tak melihat keberadaan Aresha bersama ketiga sahabatnya.

"Kenapa berhenti?" tanya Devan menatap Arsen heran.

"Ehh, Arsen lo mau ke mana?" teriak Devan saat Arsen bukanya menjawab pertanyaan, justru malah berjalan meninggalkan nya.

"Sakra, lo juga mau ke mana?" teriak Devan lagi saat Sakra juga ikutan berjalan meninggalkan nya.

"Gak usah teriak teriak, mending kita ikut saja." sahut Refal langsung menarik tangan Devan untuk menyusul Arsen dan Sakra yang berjalan menuju kelas XI IPA 6.

"Ngapain kalian ke sini?" ketus Meera, menatap keempat cowok bermasalah yang kini berdiri di depan nya.

"Gue mau bawa pacar gue, Sayang, keluar bentar yuk," ajak Sakra menatap kekasihnya, Stephany.

Stephany mengangguk dan tersenyum manis kepada Sakra.

"Vel, Meer, gue pergi bentar ya." pamit Stephany, menyambut uluran tangan Sakra dan berlalu pergi begitu saja.

Meera dan Veli mendegus menatap kepergian Stephany, mereka berdua amat sangat tidak suka jika Stephany jalan bersama Sakra. Karena bagaimanapun juga, mereka telah mengetahui kebejatan seorang Sakra ini, dan mereka takut, Stephany akan menjadi korban Sakra selanjutnya.

"Terus ngapain kalian masih di sini?" Veli memincingkan matanya menatap Arsen, Devan, dan Refal, yang masih juga berada di depan mereka.

"Aresha mana?"

"Huh... ?" Meera dan Veli, saling menatap dengan bodoh nya mendengar Arsen menanyakan keberadaan Aresha, begitupun dengan Devan dan Refal yang terlihat tak percaya dengan apa yang di lakukan Arsen.

"Serius, lo nanyain Aresha?" tanya Veli untuk memastikan.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Arsen dengan nada dingin, menatap mereka semua dengan tatapan datar.

Veli menggelengkan kepalanya, masih menatap Arsen dengan tatapan tak percaya.

"Aresha gak masuk lagi hari ini, kata Areno, dia sakit." ucap Meera menjelaskan.

"Areno adeknya Aresha, dari SMA Nusa Bangsa, kelas X itu." sahut Veli yang menyadari raut binggung dari Arsen.

"Oh!" jawab Arsen singkat, atau bahkan terlampau singkat. Arsen berbalik dan berjalan meninggalkan mereka semua, ikuti oleh Refal dan Devan yang selalu mengikuti kemanapun Arsen akan pergi.

"Eeh, itu Arsen beneran nanyain Aresha?"

"Lo gak budek kan, Almeera" kesal Veli.

"Iya, tapi lo gak ngarasa aneh gitu?"

"Iya sih, aneh banget tiba tiba cowok kayak Arsen nanyain Aresha, mereka kan musuh di sekolah ini."

"Apa jangan jangan, Arsen suka sama Aresha!" ucap Meera dengan tampang terkejut nya.

"Awssh, apaan sih lo Vel," keluh Meera mengusap kepalanya yang barusan di jitak oleh Veli.

"Lagian, kalau bicara suka aneh aneh, mana mungkin Arsen suka sama Aresha" tegas Veli menyilangkan kedua kakinya.

"Bisa saja kan, Aresha kan cantik, populer dan kaya, mana ada cowok bisa nolak pesonanya."

"Iya tau, tapi ini Arsen loh, cowok yang gak pernah gue lihat kedekatanya sama cewek. Cowok yang terkenal datar dan dingin, gak pernah ngomong, sekalinya ngomong udah kayak di kutub sangking dingin ya. Dan jangan lupakan kenakalanya," ucap Veli menjelaskan semua prihal tentang Arsen.

"Tapi siapa tau, waktu bisa merubah segalanya, termasuk perasaan seseorang." sahut Meera, membuat Veli seketika berpikir. Dan mungkin apa yang di katakan Meera ada benar nya, waktu bisa merubah segalanya, termasuk prasaan seseorang.

📝

Aresha berbaring di ranjang kamar nya, menatap langit langit kamar dengan pandangan berpikir.

Hari ini Aresha tidak berangkat sekolah karena badan nya masih sedikit lemas, dan juga papa nya yang tidak mengizinkan Aresha berangkat sekolah sebelum Aresha benar benar kuat untuk sekolah.

Drtrtt.

Getar handphone, mengalihkan perhatian Aresha.

"Arjuna," lirih Aresha saat melihat ada notif dari kekasihnya. Setelah lama menunggu, akhirnya Arjuna mengirim Aresha pesan. Aresha tersenyum dan membuka isi pesanya, namun seketika, senyumnya memudar melihat vidio yang Arjuna kirimkan untuk nya.

Arjuna: Apa maksud dari vidio itu? Kamu membully Renata atas dasar apa? Bukankah sudah pernah aku katakan, jangan pernah membully apapun alasanya.

Aresha memejamkan matanya sejenak, rasa sakit bercampu marah kini kembali merasukinya. Dengan cepat, Aresha mengetik balasan untuk Arjuna.

Aresha: Dapat dari mana vidio itu?

Arjuna: Gak penting aku dapat dari mana video nya, yang jelas kamu benar benar keterlaluan kali ini.

Aresha: Aku tidak membully, aku hanya melakukan apa yang pantas didapatkan wanita penggoda seperti Renata.

Arjuna: Renata bukan wanita seperti itu, aku hanya mengantarnya pulang, tidak lebih, tapi liat apa yang sudah kamu lakukan. MEMALUKAN!

Aresha tidak sanggup lagi, air matanya, mengalir dengan deras nya. Dada nya terasa sesak, luka kemarin yang belum mengering kini kembali tergores dengan luka baru.

Aresha: Aku tidak suka kamu berdekatan denganya Arjuna, tidak bisakah kamu mengerti itu? Tidak bisakah kamu memahami perasaanku? Aku terluka, aku terluka karena kamu yang tidak pernah memikirkan perasaanku. Dan sekarang, kamu bilang aku memalukan karena menampar Renata! Iya, kamu benar Arjuna, aku memang memalukan, hingga rasanya aku malu pada diriku sendiri yang mencinta pria egois seperti mu.

Arjuna: Kamu sudah ngelantur kemana mana Aresha, aku tidak bermaksud seperti itu. Besok aku mau kamu minta maaf sama Renata.

Aresha tersenyum getir, bahkan disaat seperti ini, Arjuna masih membela Renata.

Aresha: Lebih baik, aku dikeluarkan dari sekolah daripada harus meminta maaf pada wanita seperti Renata. Dan aku tidak peduli kalau kamu mau marah, atau bahkan putusin aku sekalipun aku tidak peduli, karena aku benar benar capek sama kamu. Aku capek selalu salah dimata mu.

Arjuna: Kamu apa apaan sih, kenapa bicara soal putus, aku cuma mau kamu minta maaf.

Arjuna: Aresha dengerin aku.

Arjuna: Angkat telepon nya Aresha.

Arjuna: Aresha!!

Aresha tidak lagi membalas nya, Aresha membuang bantal guling kesembarang arah, untuk meluapkan amarahnya. Wajah Aresha benar benar basah karena air mata. Aresha kira, Arjuna akan membujuknya dan meminta maaf padanya, atau paling tidak, menanyakan kabar nya, namun Aresha salah. Arjuna, tetaplah Arjuna, yang tidak akan pernah melakukan itu semua, walau sudah berjanji, Arjuna, tetap tidak akan pernah merubah.

"Arghhh," Aresha berteriak melemparkan handphone nya ke dinding hingga hancur tak berbentuk. Tanganya bergerak menutupi wajah nya yang berair. Dada nya terasa sakit melihat Arjuna yang terus menerus membela Renata. Aresha tahu, caranya pada Renata memang salah, tapi, apakah Arjuna tidak mengerti, jika Aresha hanya cemburu padanya.

"Tidak! Sudah cukup! Aku tidak boleh menangis lagi, aku harus kuat, aku wanita kuat." Aresha menguatkan dirinya sendiri, Aresha akan merasa bodoh jika terus terusan menangis seperti ini.

Tok tok tok.

"Aresha, boleh Bunda masuk Sayang."

Mendengar suara Nara, buru buru Aresha menghapus air matanya.

"Iya, Bun."

Aresha mencoba tersenyum saat Nara masuk dan mulai mendekatinya, tangan halus Nara membelai rambut panjang Aresha, hingga membuat Aresha merasakan ketenangan.

"Kamu kenapa Sayang, apa masih ada yang kamu pikirin?" dibalik senyuman yang Nara tunjukan, Aresha tau jika itu hanya topeng untuk menutupi kekhawatiran yang dirasa bundanya.

"Aresha udah baikan kok Bun, cuma masih sedikit pusing aja."

"Bunda boleh tanya ke Aresha?"

"Tanya apa Bunda?"

"Tapi Bunda mau, Aresha menjawab nya dengan jujur." Aresha mengangguk tanpa ragu.

"Aresha udah punya pacar?" pertanyaan Nara, cukup membuat Aresha terdiam, Nara yang menyadari itu langsung mengusap lembut tangan Aresha.

"Jawab Sayang, Bunda janji gak akan marah."

"Iya Bunda, Aresha punya." jawaban Aresha membuat Nara tersenyum lembut.

"Siapa namanya? Bisa kamu ceritakan bagaimana dia?"

Aresha menghela napas panjang nya, Aresha bingung harus bercerita apa tentang Arjuna. Haruskah Aresha menceritakan ketidakpedulian Arjuna pada Bunda nya, atau berbohong dan mengatakan Arjuna sangat peduli dengan nya.

"Aresha!"

"Namanya Arjuna Bunda, dia ketua OSIS di sekolah, dia tampan dan juga baik. Disiplin dan banyak disukai gadis gadis disekolah."

"Tapi dia sukanya sama kamu?"

"Iyalah, tidak ada yang menarik di matanya selain Aresha," jawab Aresha tertawa kecil, sekedar untuk menghibur dirinya yang sedang dilanda kesedihan.

Nara ikut tertawa dan kembali mengelus rambut panjang Aresha.

"Kamu bahagia bersama nya?"

Degh.

Tawa Aresha terhenti, Aresha merasa jantung nya berdetak lebih kencang saat Nara menanyakan itu.

"Kamu kenapa diam sayang?"

"Bunda kenapa tanyanya gitu?"

"Karena Bunda tau kamu tidak bahagia."

"Aresha cinta sama Arjuna karena dia di anggap baik sama semua orang Bun, dan Aresha bahagia bisa memilikinya." ucap Aresha berusaha menyangkal perkataan bunda nya.

"Bunda yakin, itu bukan cinta Sayang, itu cuma obsesi kamu buat dapetin yang lebih baik dari mantan kamu yang dulu pernah nyatikin kamu!"

"Bagaimana Bunda bisa tau jika Aresha pernah terluka karena cinta?"

"Bunda tau semua itu dari mata kamu, walaupun kamu gak ngomong sama Bunda, tapi mata kamu yang bilang kalau anak kesayangan Bunda ada masalah." Aresha diam dan menunduk, Aresha tidak berani lagi menatap mata Bunda nya

"Kamu tau kenapa Papa bisa memilih Bunda, yang dulunya begitu buruk prilakunya, bahkan Bunda jauh lebih buruk dari kamu, apa kamu tau itu?"

Aresha menggelengkan kepalanya.

"Karena Papa bahagia bersama Bunda, dia tidak peduli seburuk apapun Bunda, Papa tetap bertahan. Dan kamu tau kenapa? Karena Papa yakin untuk menjadikan Bunda Istrinya. Dan dengan perlahan, Papa bisa merubah Bunda menjadi wanita yang lebih baik."

"Jadi maksud Bunda, yang baik belum tentu membahagiakan?"

Nara tersenyum dan menghapus air mata Aresha.

"Iya sayang, yang baik belum tentu akan menjadi baik selamanya, begitupun dengan yang kamu anggap buruk, dia belum tentu selamanya akan menjadi buruk."

"Dan satu lagi pesan Bunda, jangan pernah menilai seseorang hanya dari cover nya saja. Tapi juga lihat dari hati nya, gunakan otak kamu untuk berpikir dan pakai hati kamu untuk merasakan, apakah kamu yakin dengan dia, atau kamu ragu. Jika kamu yakin, pertahankan dia, sayangi dia dan jangan pernah menyakitinya."

"Bunda rasa.kamu udah dewasa Sayang, jadi kamu bisa berpikir untuk hal seperti ini."

"Yaudah, kalau gitu Bunda pergi dulu ya, kamu istirahat aja biar cepat sembuh." Nara mencium sekilas kening Aresha sebelum benar benar pergi keluar dari kamar.

Sepeninggalan Nara, Aresha mulai berpikir jauh, ia teringat dengan kata kata yang dulu pernah Arsen ucapkan padanya, kata kata Arsen percis seperti apa yang di maksud dalam ucapan Bunda nya.

1
K_Forza
beranda sekali aku baca pas bagian ini 🤣
K_Forza
ternyata novel ini udah ada di tahun 2020 dan aku baru tau di 2025 lewat dubber nya novel ini..
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu
K_Forza
gak suka Arjuna ih
K_Forza
jangan bilang kalo vino juga suka Aresha?
K_Forza
bener, paling gak kuat dan males punya cowok cuek apalagi gak peka🥲
K_Forza
astaga koplak juga gurunya 🤣😂
Qaisaa Nazarudin
Kenapa aku gak rela cerita ini END sih thor,, Aku pengen baca sampai mereka nikahan semua dan punya anak masing2 nya..ck thor huaaa..Aku gak rela END😩😩😩😩
Qaisaa Nazarudin
Kita kawal sampai pelaminan thor..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Yezzzz 💪🏻💪🏻💪🏻👏🏻👏🏻👏🏻 Mau2,Mau dong 🥰🥰🥰😍
Qaisaa Nazarudin
Pikuran yg kel gini yg gak benar,Harus di perjuangkan,Bukannya nyerah gitu aja,,Sebel aku..
Qaisaa Nazarudin
Berarti cinta kamu belum kuat utk Aresha,nyatanya kamu tdk mempercayai nya,,Kamu malah lebih memilih Ego mu,Aku kecewa dgn mu Arsen..
Qaisaa Nazarudin
Aresha terlalu gengsian dan gak pernah peka dgn keadaan Arsen,Heran aku,,,
Qaisaa Nazarudin
Waahh Arjuna licik,Bawak bawain mama nya utk dekatin Aresha lagi, Curang..
Qaisaa Nazarudin
Mendingan sama Aldrin dari pada kamu yg masih mencintai cewek lain,tapi pacaran dgn Stephany,,🙄🙄Rasain kamu kan..
Qaisaa Nazarudin
Aneh ya,Kok ada kembaran yg saling musuhan kek gitu,Hanya di dunia novel kan..😂😜
Qaisaa Nazarudin
Sengaja ya Arsen kasih nomornya ke Nabila, katanya Cinta sama Aresha,Tapi kenapa gak bisa jagain hatinya Aresha?? Lama2 sebel aku dgn sikapnya Arsen,,
Qaisaa Nazarudin
Itu pasti nomor Nabila,Blokir aja deh Aresha nomor nya..
Qaisaa Nazarudin
Arsen gengsian banget, giliran di dekatin Nabila malah diam aja,, Ini yg bikin mereka tambah salah paham, Kamu sendiri yg kasih peluang Arjuna dekatin Aresha lagi, Ntar jgn nyesel kamu..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya kamu yg nemuin Arsen dan minta maaf,Kok sekarang malah kebalik,kamu yg ingin Arsen nemuin kamu,ck🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Sikap Arsen yg suka berantem membuatkan Aresha meninggalkan Arsen,Udah tau Aresha gak suka kamu berantem,Malah Arsen kayak menantang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!