NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Warisan

Misteri Rumah Warisan

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Vhinaa

"tolong....."

"tolong kami..."

"lepaskan rantai inii..."

"toloongg!!!!"


Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.

Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?

yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34. Ki Satya meninggal

Nadira merasa heran karena semua orang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Rehan!" Ki Satya langsung memapah Rehan dan memeriksa lukanya

"Rehan terkena kuku beracun Aksara Ki" ucap Nadira memandang Rehan

"Astaga! Ini sangat berbahaya" lirih Ki Satya

"Apa dampak dari racun itu Ki?" tanya Elsa

"Kesempatan Rehan untuk bertahan sangatlah mustahil" Ucap Ki Satya hampir berbisik

"Apa-apa?!" mereka semua terkejut mendengar perkataan Ki Satya

Terlebih Nadira, ia merasa sangat bersalah dan sedih karena banyak yang menjadi korban.

"pasti ada penawarnya kan Ki?" tanya Nadira penuh harap

"Jika adapun, sudah terlambat" Ki Satya mendekap tubuh Rehan yang mulai membiru

"Rehan anakku!!" Bu Tuti berlari menghampiri Rehan yang masih di dekap oleh Ki Satya

"apa yang terjadi dengan Rehan?" Bu Tuti sudah menangis melihat kondisi sang anak

"Rehan terkena racun Aksara Bu" jawab Nadira lirih menahan air matanya

"Bisa di obati kan? Ki Satya! Rehan bisa diselamatkan kan?" tanya Bu Tuti mendesak mereka

Namun, harapan Bu Tuti runtuh ketika Ki Satya menggelengkan kepalanya pelan.

"Rehaann!!!"

Bu Tuti, pak Hamdan dan Ki Satya menangisi Rehan yang tubuhnya semakin membiru.

"Nadira, ikut Abi sebentar" Kiyai Syafiq mengajak Nadira menuju reruntuhan rumah Warisan Simbahnya.

"Ada apa Abi?" tanya Nadira

"Lihatlah!" kiyai Syafiq menunjuk ke arah sebuah ruangan yang berada di lantai atas

"kamar?" gumam Nadira

"Buka dan lihatlah apa yang ada disana"

Nadira naik perlahan menuju lantai atas yang tinggal separuh. Ia merasa heran karena semua bangunan Runtuh kecuali kamar pojok itu.

Ceklek

"Astaghfirullah!"

"Nadiraa...."

"cucuku...."

Nadira melihat Kedua simbahnya, juragan Sapto dan Simbah Saryati terbelenggu dengan rantai yang merah membara.

Bukan hanya itu, disana juga banyak para arwah dengan keadaan yang tak jauh berbeda. Semuanya perempuan dan masih sangat muda.

"apa mereka tumbal Kolonyowo dulu?" Gumam Nadira

"Simbah, kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Nadira yang tak kuasa menahan kesedihannya, melihat kedua orang tua itu yang tersiksa selama ini.

"Ini semua salah Kakung nduk, jika saja Kakung tidak terbuai dengan rayuan Iblis itu. Pastilah ini semua tidak terjadi" Ucap Juragan Sapto terisak

"Simbah juga bersalah dalam hal ini, Simbah tidak bisa menghentikan semua yang di lakukan Kakung mu. justru Simbah juga ikut menikmati hasilnya"

Entah apa yang dirasakan Nadira saat ini. Ia merasa sedih, marah, kecewa. Namun, semua telah terjadi. Ingin disesali bagaimana pun juga, tetap hal ini akan terjadi

"Terima kasih Nadira, karenamu kamu terbebas. Dan kami bisa pergi ke tempat seharusnya" ucap para arwah gadis-gadis itu.

"Maafkan Kakung nduk, sekali lagi maafkan Kakung" dan setelah itu, muncul cahaya yang menyilaukan menyelimuti ruangan itu.

Nadira menutup matanya karena tidak tahan melihat cahaya terang itu.

Ketika ia membuka mata, semuanya nampak gelap dan sunyi. Tidak ada lagi arwah Simbah dan kakungnya. Tidak ada lagi arwah para gadis

"Kami juga pamit Nadira, kami sudah terbebas dari belenggu Suraji" Ucap Liona yang muncul di depan Nadira bersama Hera.

"Apapun yang terjadi, sabarlah Nadira. Meski sakit, namun kau harus menerimanya dengan lapang dada" Setelah mengatakan itu perlahan tubuh Hera dan Liona menghilang dengan cahaya putih yang menyelimuti keduanya

"Semua sudah berakhir, tapi aku masih belum merasakan kelegaan" Gumam Nadira yang menunduk lirih

"Dimana Aksara? Bukankah Kata Abi dia baik-baik saja?" Nadira teringat dengan Aksara dan segera menghampiri kiyai Syafiq

"Abi-"

"Aksara berada dirumahnya, Nak" ucap kiyai Syafiq yang tahu apa yang akan ditanyakan oleh Nadira

"Apa dia Baik-baik saja abi?" tanya Nadira

"Insya Allah, Aksara baik-baik saja. Hanya menunggu ia siuman" jelas kiyai Syafiq yang membuat Nadira sedikit lega. Meski ia masih merasa bersalah dengan keadaan Rehan

"Bagaimana dengan Rehan Abi? apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?" tanya Nadira

"Kita hanya bisa berdo'a, hidup dan mati hanya Allah yang menentukan"

.

Di sebuah rumah, tepatnya didalam kamar. terbaring seorang pria dengan kondisi yang lemah. Wajahnya pucat dan tubuhnya penuh luka.

"Bagaimana keadaan Aksara, Bu?" tanya pak Rusli

"masih belum sadar juga yah. Ibu cemas" ucap Bu Mutia yang membersihkan luka-luka ditubuh putranya

"Bagaimana keadaan Nadira dan yang lain?" tanya Bu Mutia

"hahh, Rehan luka parah akibat racun dari kuku Aksara tadi, tubuhnya membiru" ucap pak Rusli pelan

"Ya Allah, kasihan sekali. semoga Rehan bisa selamat. Jika tidak, Aksara pasti akan menyalahkan dirinya sendiri" ucap Bu Mutia

"Aamiin"

.

Semua orang telah bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Nadira dan Elsa ikut kerumah Pak Hamdan untuk melihat Rehan.

"Pak, Bu. Maafkan Nadira jika semua ini menyebabkan Rehan dalam kondisi seperti ini" ucap Nadira penuh Sesal

"ini semua bukan salah kamu, Nadira. semua memang sudah ditakdirkan hingga kalian bereinkarnasi untuk memusnahkan Kolonyowo" ucap Pak Hamdan

"Ada satu-satunya cara untuk menyelamatkan Rehan" Ucap Ki Satya yang sejak tadi hanya diam

"Apa Ki?" tanya Nadira dan Elsa

"Menyalurkan seluruh energi ku ke tubuhnya" ucap Ki Satya sambil menatap putra kandungnya yang baru saja ia jumpai.

"Itu berisiko untukmu, Satya!" ucap kiyai Syafiq

"Tidak mengapa, aku sudah cukup lama memendam rasa bersalah dan dosa kepada putraku. Mungkin, dengan inilah aku bisa menebus rasa bersalah itu" Ucap Ki Satya

"memangnya apa yang akan terjadi jika Aki menyalurkan semua energi Aki ke Rehan?" tanya Nadira

"Rehan akan selamat dan Aki sendiri...yang akan pergi" Ucap Ki Satya tersenyum

"Maksud Aki? Meninggal?" tanya Elsa memastikan

Ki Satya tidak menjawab, melainkan langsung memegang dahi Rehan dan menyalurkan semua energinya.

"maafkan ayah nak, pertemuan singkat ini sangat membuat ayah bahagia. Meski kau mungkin kecewa, namun percayalah, ayah sangat mencintaimu. Ayah akan menemui ibumu dan menceritakan betapa tampan dan gagah beraninya putra yang ia lahirkan"

Setelah beberapa menit, tubuh Rehan berangsur membaik dan tidak membiru lagi. Nafasnya juga normal.

Brughh

"Ki Satya!!!"

"innalilahi wa innailaihi roji'un" Kiyai Syafiq mengusap wajah sahabatnya dengan pandangan sendu.

"Semoga Allah menempatkan mu disisinya yang terbaik, dan menerima semua amal ibadahmu, Satya"

"Hiks hiks Ki Satya" Nadira dan Elsa saling berpelukan

mereka mengingat momen bersama Ki Satya waktu ingin mengambil senjata di gunung Kawi. apalagi mengingat jika ia baru saja menemukan putra kandungnya setelah sekian lama menahan rindu.

"Maafkan kami Ki" Isak Bu Tuti yang juga merasa bersalah, karena ia tidak memberi tahu Rehan sejak awal jika Ki Satya adalah Ayah kandungnya.

1
Rahmah Dani
lanjut
Rahmah Dani
Ceritanya bagus
Elvi Lusiana: Wah😄🙏
total 1 replies
Rachel.9
🤍🤍🤍🤍🤍
Elvi Lusiana: Makasih sudah mampir😍
total 1 replies
Elvi Lusiana
maksih kakk author hebat😍
Kang Hajun
Semangat thor
Elvi Lusiana: maksih kakak author hebat🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!