"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25. memasuki hutan larangan
Malam telah tiba, kini menunjukkan pukul 9 malam. kiyai Syafiq sudah tiba ba'da Maghrib tadi. Dan sekarang mereka telah bersiap menuju hutan larangan
"Nadira, kamu sudah siap?" tanya Kiyai Syafiq
"insya Allah saya siap Abi" ucap Nadira tegas
"ingat Nadira! apapun yang terjadi tetap fokus ke tujuan awal untuk mengalahkan kolonyowo. jangan terpedaya dengan muslihatnya, apa yang kamu lihat belum tentu itu yang terjadi" jelas Kiyai Syafiq
"baik Abi, Nadira akan mengingat pesan Abi" jawab Nadira
"untuk kapan bertiga juga terutama Rehan jangan sampai lengah dan terus isi hatimu dengan zikir agar iblis itu tidak ada celah untuk memasuki tubuhmu"
"baik Abi Rehan akan berusaha untuk tidak lengah" ucap Rehan mantap
"Elsa dan Aksara jaga pikiran kalian agar tidak kosong. posisi kalian sangat dibutuhkan untuk melindungi darah pilihan"
"baik Abi!" ucap Elsa dan Aksara
Kiyai Syafiq menatap dalam ke arah Aksara sebelum ia menghembuskan nafasnya
"semoga apa yang aku dan Satya takutkan tidak terjadi, yaa Allah bantulah empat pemuda ini untuk mengalahkan iblis itu dan lindungilah mereka" kiyai Syafiq berdo'a dalam hati sambil memejamkan matanya
"ku kira hanya aku yang cemas ternyata dia juga" batin Ki Satya menatap sahabat lamanya itu
"Rehan kamu harus baik-baik saja ya nak" ucap Bu Tuti memeluk putranya
"iya Bu, mohon do'a dan restu ibu agar aku bisa mengalahkan iblis itu" ucap Rehan sambil mencium tangan ibunya
Meskipun Rehan tahu jika dihadapannya itu bukan ibu kandungnya, namun ia tetap menyayangi Bu Tuti karena wanita itulah yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Ayo, ini saatnya kita kesana dan yang pertama temukan dulu orang tua Nadira" ucap Ki Satya
Mereka pun langsung bergerak menuju hutan larangan dengan langkah tegas tanpa ada rasa takut.
"Ya Allah bantulah kami Smoga misi kami berhasil dan memutuskan kutukan itu" batin Nadira
.
setelah kepergian Nadira dan teman-temannya yang di dampingi oleh kiyai Syafiq dan juga Ki Satya. Terlihat pak lurah tergopoh-gopoh mendatangi rumah pak Rusdi.
"Assalamu'alaikum!"
"wa'alaikumsalam ada apa pak lurah?" tanya Bu Mutia
"dimana Nadira dan yang lainnya Bu?" tanya pak lurah yang masih tersengal
"mereka baru saja berangkat menuju hutan larangan pak" ucap Bu Mutia
"ya Allah, bagaimana ini" pak lurah nampak cemas
"ada apa pak lurah?" pak Rusdi keluar bersama pak Hamdan dan isterinya
"itu loh, rumahnya Simbah Saryati di bakar oleh warga!" ucap Pak lurah yang membuat kaget mereka berempat
"Astaghfirullah kok bisa pak?!" tanya pak Hamdan
"entahlah saya tidak tahu kenapa tiba-tiba warga bersikap seperti itu. Kurasa ada yang menjadi provokator disini" pak lurah menduga
"ayo kita kesana! semoga mereka belum sempat membakar rumah Simbah saryati" ajak pak Rusdi dan mereka semua langsung bergegas menuju rumah warisan itu.
Sesampainya disana, mereka malah dibuat terbelalak dan sangat tak percaya lagi. Rumah yang katanya akan dibakar justru masih nampak utuh dan tidak ada kurangnya satupun.
Justru para warga yang bergelimpangan di halaman rumah itu. sebagian mengalami luka bakar yang cukup parah sedangkan yang sebagian lagi pingsan entah karena apa
"ada apa ini Gus?" tanya pak Rusdi kepada Agus
"kami ingin membakar rumah itu tapi tiba-tiba saja malah apinya berbalik mengenai kami" ucap Agus yang kesakitan karena luka bakar yang ada di kaki dan tangannya
"kenapa juga kalian malah mau membakar rumah itu, kalian bisa di pidanakan!" ucap pak lurah
"rumah itu adalah rumah penyembah iblis pak lurah! Maka sudah seharusnya kita membakarnya agar tidak menimbulkan Malapetaka didesa kita" ucap Bambang
"tidak dengan begini caranya, rumah itu sudah di wariskan kepada Nadira! Bukan rumah juragan ataupun isterinya lagi" ucap Bu Mutia
"tetap saja rumah itu hasil pesugihan keluarganya!" Agus masih ngeyel
"lihatlah buktinya, kami membakarnya namun tidak terjadi apa-apa justru malah kami yang terluka" ucap Bambang berapi-api
"itu juga salah kalian! Apa kalian tahu jika saat ini Nadira dan keluarganya dalam bahaya?! Apa kalian tahu Nadira sedang berjuang untuk melawan iblis itu! apa kalian tahu ha!!" bentak pak rusdi yang membuat mereka bungkam
Sebagian para warga mulai sadar jika ini memang salah mereka. mereka menyalahkan orang yang berusaha menyelamatkan mereka namun mereka malah tanpa perasaan ingin membuat keluarga Wijaya menderita.
"tapi pak, anakku jadi korban disini! Hingga sekarang belum ketemu entah masih hidup atau hanya jasadnya saja!" ucap ibu-ibu yang juga terkena luka bakar ringan di tangannya
"itu karena iblis itu sendiri yang membuat onar! Bukan keluarga Wijaya. Bahkan sekarang mereka tengah bertaruh nyawa agar desa ini aman kembali. Apa kalian tidak percaya? Jika tidak ayo kita ke hutan larangan sekarang!!" ucap pak lurah yang sudah habis kesabarannya
"baik, kami akan ikut kesana! Tapi jika ternyata mereka tidak bisa mengalahkan iblis itu maka mereka harus di bakar hidup-hidup" ucap Agus yang masih saja bersikeras menyalahkan keluarga Wijaya
"baik!! Jika terbukti mereka menang maka kau yang akan ku bakar hidup-hidup!" ancam pak rusdi menatap tajam Agus
.
Rombongan Nadira Sudah memasuki hutan larangan. tujuan mereka adalah mencari keberadaan Wijaya dan Liana serta Zayyan terlebih dahulu untuk memastikan keadaan mereka.
Sepanjang memasuki hutan, mereka sudah merasakan jika hutan ini sangat kental dengan energi negatif. bahkan di ujung mata Nadira pun, ia bisa melihat banyak sosok-sosok yang menyerupai siluman digunung Kawi waktu itu.
"terus berjalan jangan pedulikan mereka yang mengintai" ucap Ki Satya
"Apa mereka memang penghuni hutan ini atau anak buah iblis itu Ki?" tanya Nadira
"sebagian penghuni hutan ini dan sebagian keroco-keroconya iblis itu" jawab Ki Satya
"tetap berdzikir agar pikiran kalian tidak kosong" ucap kiyai Syafiq
Mereka semakin masuk kedalam hutan, udara disini mulai pengap padahal ini malam hari.
"emh bau apa ini?" Ucap Elsa menutup hidungnya karena mencium bau busuk yang menyengat
"iya ya kayak b*ngkai gitu" mereka menutup hidung karena tidak kuat mencium bau busuk yang entah dari mana asalnya
"Ak , itu apaan ya yang dibawah pohon besar itu?" tunjuk Rehan
"ayo kita lihat Re!" ucap Aksara yang maju duluan diikuti rehan
"hah?! Apa ini?!" Rehan terkejut
"Astaghfirullahalazim!! Siapa yang melakukan tindakan keji seperti ini!" Nadira dan Elsa serentak memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat pemandangan mengerikan di bawah pohon beringin tua itu
"Ini Tika anaknya Bu Leha!" ucap Rehan
"Ya Allah kasihan sekali"
mereka menemukan seorang m*yat seorang gadis yang tergeletak di bawah pohon dengan kepala yang bolong dan perut yang menganga seperti di koyak secara paksa
"ya Allah pasti dia sangat kesakitan menjelang ajalnya" ucap Nadira lirih
Grosakkk
mereka serentak menoleh ke arah samping yang ditumbuhi semak-semak tinggi
"apa itu?" tanya Aksara yang mendekati semak diikuti Nadira
Aksara melibas semak-semak untuk mempermudahnya agar bisa melihat apa yang ada di balik rumput ilalang itu
"Tidakk!! Ayaahh!!!!"