Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer
Fiona berendam dalam bathtub yang sudah ia isi air hangat. Bayangan Ignazio yang menatapnya dengan penuh selidik membuat Fiona semakin merasa malu saja. Ia pikir benda keras tadi bukan milik Ignazio.
Sampai mandinya selesai pun Fiona masih kebingungan bagaimana cara bersikap pada Ignazio, ia takut Ignazio malah meledeknya.
Ignazio sudah rapi dengan pakaian santainya, karena Fiona mandi terlalu lama akhirnya ia mengalah dan mandi di kamar tamu.
Sudah setengah jam berlalu Fiona belum juga keluar, Ignazio yang mulai tidak sabar mengetuk pintu kamar mandi. “Fiona, apa kamu sedang tidur di dalam?”
Fiona segera memakai baju dan membuka pintu. Ia berjalan melewati tubuh Ignazio.
Ignazio memandang penampilan Fiona yang memakai Hoodie dan celana panjang, istrinya itu terlihat sangat sederhana. “Kamu pergi ke kampus hari ini?”
Fiona duduk di meja rias, dan mulai mengeringkan rambutnya. “Sepertinya tidak, aku mau mengerjakan skripsi di rumah saja.”
“Teman bisnisku mengadakan pesta untuk perayaan perusahaannya.” Niat Ignazio membawa Fiona untuk menunjukkan pada seluruh temannya, agar tidak ada lagi yang menyebut dirinya perjaka tua.
Fiona sudah tahu ke mana arah pembicaraan Ignazio. Selama ini ia tidak pernah mau ikut bersama ayahnya untuk pesta apa pun mengenai perusahaan, cukup satu kali ia terjebak dalam pesta yang sangat membosankan.
“Semua orang membawa pasangannya, aku ingin kamu ikut.”
Fiona menghentikan mesin pengering rambut, tubuhnya bergerak menghadap Ignazio yang ada di sampingnya. “Aku tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau berdiri di sampingmu, menemani kamu yang berbincang bersama temanmu mengenai perusahaan yang akan sangat membosankan. Tidak pokoknya aku tidak mau.” Fiona tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan datang bersama wanita lain saja. Jika ayahmu bertanya aku tinggal jawab kamu tidak mau ikut.”
Fiona menarik tangan Ignazio yang hendak pergi. Fiona memilih pasrah, ia tidak ingin orang tuanya bertengkar lagi karena dirinya. “Ya sudah aku ikut, jangan terlalu lama.”
“Ayo kita bersiap,” ajak Ignazio penuh semangat.
“Sekarang?” tanya Fiona. Ignazio mengangguk.
“Tapi ini masih pagi, memang acaranya jam berapa?”
“Nanti malam.”
“Untuk apa bersiap lama sekali.”
Ignazio menarik tangan Fiona agar mengikutinya. Sementara Fiona dengan terpaksa mengikuti keinginan Ignazio.
Mereka masuk ke mobil. Mobil yang di Kendarai Ignazio melaju menuju sebuah butik langganannya.
Ignazio menggandeng tangan Fiona untuk masuk ke dalam butik. Fiona melirik ke kiri dan kanan, butik ternama yang mereka datangi tampak sepi.
"Aku sengaja mengosongkan tempat ini untuk kita berdua," ucap Ignazio seakan tahu isi kepala Fiona.
Sepuluh pegawai wanita berseragam menyambut kedatangan Ignazio dan Fiona. Mereka membungkuk memberi hormat. “Selamat datang Tuan Ignazio dan Nona Fiona.”
“Aku ingin datang ke pesta perayaan, tolong pilihkan baju yang cocok untuk istri saya.”
“Baik Tuan,” jawab Kepala pelayan.
Mereka berjalan menuju tempat pakaian. Ignazio dan Fiona duduk di sofa yang tersedia pada ruangan private. Sepuluh pelayan tadi kembali dengan beberapa gaun yang mereka bawa. “Nona ingin mencobanya satu persatu?”
“Tidak perlu,” tolak Fiona. Ia tidak menyukai hal-hal yang merepotkan.
“Pilihkan saja beberapa baju yang cocok untuk istri saya.”
Kepala pelayan memilih tiga baju yang akan terlihat indah di tubuh Fiona.
Fiona mencoba baju yang pertama. Gaun berwarna merah tanpa lengan, dengan panjang selutut membuat warna kulit Fiona terlihat tampak sangat putih. Ia keluar dan meminta pendapat Ignazio, karena Fiona tidak pandai memilih baju.
Ignazio menggeleng. Ia tidak suka melihat istrinya tampil mencolok, yang akan mengundang mata lelaki. Apalagi baju pertama dengan belahan di bagian depan, menampilkan paha mulus Fiona.
Fiona melepas bajunya pertama dan mencoba baju kedua. Baju berwarna cream dengan bagian dada yang di penuhi manik-manik cantik.
Ignazio menatap ke arah Fiona yang keluar dengan baju kedua. “Apakah tidak ada baju yang tertutup di sini. Lihatlah mata lelaki akan senang melihat dada istriku!” bentak Ignazio.
Sontak Fiona menunduk menatap gundukan kenyal miliknya. Gundukan kenyal Fiona sedikit terbuka, ia segera menutupnya dan kembali masuk ke ruang ganti.
Pelayan yang menemani Fiona memberikan baju terakhir yang di pilih kepala pelayan. Baju berwarna peach, dengan bagian dada yang sedikit tertutup serta hiasan bunga membuat gaun terakhir terlihat indah. Seharusnya Ignazio menyetujuinya, karena Fiona sudah malas bergonta-ganti baju terus menerus.
[foto dari pinterest. 1, 3, 2]
Fiona keluar dengan wajah masamnya, berharap Ignazio akan memilih gaun terakhir.
“Yang lain, gaun itu membuatmu terlihat sangat muda,” tolak Ignazio. Ia sangat sadar akan umurnya, meskipun wajahnya masih terlihat lebih muda dari usianya namun jika bersanding dengan Fiona yang mengenakan baju tersebut membuat rasa percaya diri Ignazio sedikit merosot.
“Pilih yang ini atau aku tidak akan ikut sama sekali,” ancam Fiona.
Ignazio mengambil gaun putih pendek dengan asal dan memberikannya pada kepala pelayan. “Yang ini saja.”
Fiona mengutuk Ignazio, pria itu benar-benar membuatnya kesal. Ia tiga kali berganti pakaian, namun yang di pilih baju yang sama sekali tidak Fiona coba. Sepertinya menikah dengan Ignazio membuat wajah Fiona semakin bertambah tua, karena Filio terus membuatnya kesal.
“Apa tuan yakin? baju ini sangat sederhana.”
“Iya itu saja.” Sura tenang Ignazio membuat Fiona ingin melemparkan sepatu yang ia pakai pada wajah suaminya.
Kepala pelayan menghampiri Fiona. “Mari nona ikut saya, kita kebagian riasan wajah.”
Entah apa yang di lakukan dua wanita perias wajah, Fiona hanya menurut memejamkan matanya sampai tidak sadar ia pergi ke alam mimpi saat menikmati sensasi pijatan pada wajahnya.
Fiona terbangun saat mendengar suara pengering rambut yang berisik. “Ah kalian mengganggu tidurku,” keluh Fiona. Ia membuka kelopak matanya.
Dia memandang dirinya di cermin, ternyata riasan wajah yang mereka pakai terlihat sangat natural.
Penata rambut selesai mengeringkan rambut Fiona yang telah ia keramasi. Ia mengeluarkan alat tempurnya untuk membuat rambut Fiona tampak indah di padu padankan dengan gaun putih sederhana.
Ignazio masuk ke ruang rias, dengan paper bag berisi sepatu untuk Fiona.
“Sudah selesai nona, silahkan lihat hasilnya.”
Fiona menatap dirinya di cermin besar yang ada di depannya, kepalanya menengok ke samping untuk melihat tatanan rambutnya. “Bagus, terima kasih.”
Fiona berdiri, ia masuk ke ruang ganti. Untuk memakai baju yang di pilih Ignazio.
Fiona keluar dengan langkah pelan menghampiri Ignazio yang duduk di sofa.
Ignazio mengeluarkan kotak sepatu dari dalam paper bag.
Wajah kesal Fiona terlihat sangat kentara saat Ignazio mengeluarkan sepatu dengan hak yang cukup tinggi. “Aku tidak pandai memakai sepatu itu, terlalu tinggi.”
Ignazio menaruh sepatunya di depan kaki Fiona. “Jangan manja, hak sepatu ini sama tingginya dengan sepatu yang kamu pakai saat kita menikah.”
Fiona melepaskan sepatu yang ia gunakan, dan memakai sepatu yang di berikan Ignazio.
Semua mata memandang penuh iri terhadap Fiona. Siapa wanita yang tidak luluh saat pria berlutut demi memakaikan sepatu sang pujaan hati.
Fiona terkejut saat keluar dari pusat perbelanjaan langit tampak gelap. Berapa jam ia terjebak di dalam?
Fiona dan Ignazio sudah sampai di tempat pesta. Ia masuk di sambut hangat oleh pemilik acara. “Sayang sekali aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, pasti istrimu lebih cantik saat memakai gaun pengantin.”
“Dia akan terlihat cantik jika bersamaku.”
Teman Ignazio berbisik tepat di antara Fiona dan Ignazio. “Kapan kalian punya anak? seharusnya Ignazio bisa berdiri jika bersama wanita secantik ini.”
Ignazio menampilkan wajah kesalnya. “Sialan.”
Sementara temannya terkikik geli. “Sana masuk, nikmati pesta malam ini.”
Ignazio dan Fiona melangkah masuk ke dalam. Beberapa pasang mata tampak takjub melihat Ignazio dan Fiona yang tampak serasi, gaun putih Fiona sangat cocok bersanding dengan tuksedo hitam milik Ignazio.
Fiona menatap sekeliling, ia mencari tempat untuk menyendiri. Namun matanya menangkap sosok Feriska yang bergandengan tangan dengan pria. “Astaga.”
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜