Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Di Depan Musuh
Seminggu setelah Siklus Kedua dimulai, Rian membawa Bagas dan Darmawan menyusuri jalan komersial paling ramai di Kota Tanjung Emas.
Di kiri kanan jalan, ruko berjajar rapat. Ada toko elektronik, apotek, kedai kopi, bengkel motor, dan minimarket kecil yang hidup dari lalu lintas pekerja kantor. Di ujung jalan, sebuah bangunan besar berdiri dengan papan hijau terang.
Makmur Mart.
Nama itu sudah beberapa kali Rian dengar dari pelanggan. Harga lebih mahal, pelayanan jutek, tapi cabangnya banyak dan pemasoknya kuat. Bagi warga kota, Makmur Mart adalah raja lama ritel kebutuhan harian.
Bagi Rian, itu terdengar seperti tembok beton.
Dan tembok beton adalah tempat terbaik untuk menabrakkan uang.
Bagas menunjuk gang kecil di belakang pasar. "Bro, kalau mau rugi, sewa yang agak sepi aja. Murah, akses susah, parkir sempit. Dijamin orang malas datang."
Rian menggeleng.
"Terlalu murah."
"Lu menolak tempat jelek karena terlalu murah?"
"Kita butuh lawan."
Darmawan yang berjalan di sisi lain langsung menegang. "Pak Bos maksudnya?"
Rian berhenti tepat di depan sebuah ruko kosong.
Ruko itu besar, dua lantai, kaca depannya lebar, parkirnya cukup luas, dan posisinya persis berhadapan dengan Makmur Mart. Hanya dipisahkan jalan utama. Dari pintu depan, pelanggan bisa melihat dua toko sekaligus.
Darmawan menatapnya.
Bagas menatapnya.
Rian menatap papan "DISEWAKAN" dengan mata bersinar.
"Di sini."
Bagas pelan-pelan menoleh ke Makmur Mart, lalu kembali ke Rian. "Bro, lu sadar itu markas musuh?"
"Justru."
"Kalau perang, lu ini bukan bikin benteng. Lu buka warung di depan meriam."
"Bagus. Meriam itu mahal. Kalau kita kena, kita rugi."
Darmawan menghela napas sangat pelan. "Pak Bos, Makmur Mart punya jaringan pemasok lama, pelanggan tetap, dan modal besar. Membuka toko di depan mereka bisa memicu perang harga."
Rian hampir tersenyum.
Perang harga.
Terdengar sangat mahal.
"Kita ambil."
Pemilik ruko datang setengah jam kemudian. Ia pria tua berkacamata yang awalnya memasang harga 200 juta Rupiah per tahun. Sebelum ia selesai menjelaskan, Rian langsung berkata, "Saya bayar 500 juta per tahun. Kontrak hari ini."
Pria itu menurunkan kacamatanya.
"Mas yakin?"
"Yakin."
"Harga saya tadi 200 juta."
"Lokasinya strategis. Saya tidak mau Bapak menyewakan ke orang lain."
Bagas berbisik ke Darmawan, "Bos kita menawar ke atas. Ini ilmu baru."
Darmawan menjawab lirih, "Saya berhenti mencoba memahami."
Kontrak ditandatangani sore itu juga. Rian memeriksa legalitas, rekening, dan masa sewa. Sistem menyetujui sebagai transaksi bisnis legal.
Ketika transfer 500 juta terkirim, pemilik ruko tersenyum seperti orang baru menang undian.
Rian juga tersenyum.
Keduanya sama-sama merasa mendapat rezeki.
Bedanya, hanya satu yang benar.
Dalam tiga hari, ruko kosong itu berubah menjadi lokasi perang.
Truk material datang. Teknisi pendingin ruangan masuk. Rak baru, freezer baru, sistem kasir baru, CCTV baru, signage baru, semuanya dipesan tanpa menawar. Rian mengalokasikan hampir seluruh paket pembukaan Siklus Kedua untuk sewa, renovasi, peralatan, stok awal, dan gaji awal karyawan.
Angka di spreadsheet pembukaan naik begitu cepat sampai Bagas berhenti mengunyah keripik.
"Bro, ini totalnya mendekati 500 miliar."
"Bagus."
"Biasanya orang kalau lihat angka segini bilang astaga."
"Aku bilang bagus."
Darmawan menatap tabel biaya dengan wajah kaku. "Pak Bos, kalau semua dana dialokasikan secepat ini, ruang manuver kita kecil."
"Itu namanya disiplin anggaran."
Bagas menepuk bahu Darmawan. "Terjemahan bebasnya: bos kita sedang membakar kapal sambil senyum."
Rian tidak membantah.
Membakar kapal adalah ide bagus, selama kapal itu dibeli dengan Dana Sistem.
Ia memberi satu instruksi sederhana:
"Kalau ada pilihan murah dan mahal, pilih yang mahal selama masuk akal."
Bagas berdiri di tengah lokasi renovasi, menatap kursi pijat yang baru diturunkan untuk ruang istirahat karyawan.
"Bro, ini supermarket atau hotel?"
"Karyawan capek harus istirahat."
"Karyawan supermarket biasanya istirahat di gudang dekat kardus."
"Maka kita berbeda."
Dalam hati Rian menambahkan:
Berbeda menuju kebangkrutan.
Darmawan mengurus rekrutmen. Targetnya 1000 karyawan. Standar gaji dan jam kerja mengikuti Garuda Mart lama: gaji tinggi, enam jam sehari, lima hari seminggu, BPJS, makan siang, seragam, dan larangan lembur rutin.
Yang tidak Rian perkirakan adalah antrean pelamar.
Bukan pelanggan.
Pelamar.
Beberapa di antara mereka memakai seragam Makmur Mart yang sudah dilepas logonya. Mereka datang setelah shift selesai, membawa CV, mata lelah, dan harapan yang tidak berani terlalu terang.
"Di sana gaji UMR, shift panjang, lembur sering telat dibayar," bisik seorang pelamar kepada temannya.
"Kalau Garuda Mart benar bayar 5 juta dan libur jelas, gue pindah."
Rian mendengar itu dari kejauhan.
Ia merasakan firasat buruk.
Ia ingin membakar uang.
Kenapa malah membakar loyalitas pesaing?
Seorang pria muda bahkan menunduk di depan meja seleksi.
"Saya dari Makmur Mart, Pak. Kalau diterima di sini, saya siap mulai kapan saja. Di sana saya sudah tiga tahun, tapi kontrak terus diperpanjang tanpa kepastian."
Darmawan menatap Rian, meminta keputusan.
Rian ingin menolak.
Karyawan dari pesaing berarti pengalaman. Pengalaman berarti efisiensi. Efisiensi berarti bencana.
Namun sistem tidak melarang merekrut orang berpengalaman. Dan gaji tinggi untuk karyawan legal adalah cara tercepat menghabiskan dana.
"Terima kalau memenuhi syarat," kata Rian akhirnya.
Pria muda itu hampir menangis lega.
Rian merasa dadanya makin berat.
Kenapa setiap usaha membuang uang selalu berubah menjadi sedekah produktif?
Dua minggu kemudian, papan baru dipasang.
GARUDA MART.
Huruf emasnya menyala di seberang papan hijau Makmur Mart.
Hari pembukaan datang.
Rian berdiri di depan toko baru dengan kemeja bersih, Bagas di sampingnya, Darmawan memegang daftar staf, dan seribu karyawan baru berdiri rapi di dalam. Ruang istirahat di lantai dua memiliki sofa, musholla kecil, dispenser dingin, loker bersih, dan beberapa kursi pijat yang membuat Bagas ingin melamar jadi staf istirahat.
Di seberang jalan, Makmur Mart tampak lebih tua dari biasanya.
Seorang pria keluar dari pintu utama Makmur Mart.
Usianya sekitar empat puluhan, tubuhnya rapi, rambutnya disisir licin, dan matanya tajam seperti orang yang terbiasa menghitung margin dari napas pelanggan. Dua staf mengikutinya dari belakang.
Darmawan langsung berbisik, "Itu Hasan Maulana. Salah satu pemilik Makmur Mart."
Hasan berhenti di depan tokonya, menatap Garuda Mart baru dari atas sampai bawah.
Wajahnya tidak marah.
Lebih buruk.
Ia tersenyum tipis, seperti sedang memilih cara paling bersih untuk membuang pesaing.
Di belakangnya, beberapa supervisor Makmur Mart ikut melihat. Mereka tidak bicara, tapi mata mereka sibuk menghitung: luas toko, jumlah kasir, jarak parkir, keramaian pelamar, rak-rak baru yang terlihat dari kaca.
Hasan mengenal angka sebelum angka itu ditulis.
Ia tahu toko di seberang bukan minimarket nekat.
Itu proyek mahal.
Dan proyek mahal di depan markasnya berarti satu dari dua hal: pemiliknya bodoh, atau pemiliknya datang untuk perang.
Hasan lebih suka menganggap orang lain bodoh.
Tapi nalurinya berkata anak muda ini berbahaya.
Rian melihatnya.
Inilah tembok beton itu.
Ia langsung berjalan menyeberang.
Bagas panik. "Bro, mau ngapain?"
"Menyapa tetangga."
"Tetangga lu kelihatan kayak auditor neraka."
Rian tetap maju.
Di depan Makmur Mart, ia mengulurkan tangan dengan senyum paling ramah.
"Pak Hasan, ya? Saya Rian Prasetyo. Senang akhirnya bertemu. Mulai hari ini kita bertetangga."
Hasan menatap tangan itu beberapa detik sebelum menjabatnya.
Genggamannya kuat.
"Rian Prasetyo," ulang Hasan. "Anak muda yang berani sekali membuka toko di depan Makmur Mart."
"Saya masih belajar, Pak. Justru karena Makmur Mart paling kuat, saya ingin belajar langsung dari dekat."
Kalimat itu tulus.
Rian memang ingin dihajar dari dekat.
Namun mata Hasan berubah dingin.
Bagi Hasan, kalimat itu terdengar seperti penghinaan halus.
Staf di belakang Hasan saling pandang. Satu orang menahan napas. Di dunia ritel Kota Tanjung Emas, tidak ada pendatang baru yang bicara kepada Hasan Maulana seolah membuka toko di depan Makmur Mart adalah kunjungan studi.
"Belajar?" katanya. "Biasanya orang belajar dari jauh dulu sebelum berdiri di depan guru."
Rian tertawa kecil. "Kalau terlalu jauh, biayanya kurang terasa."
Hasan tidak tertawa.
Bagas di belakang Rian menutup wajah.
Darmawan berdiri kaku.
Rian menambahkan dengan hangat, "Ke depan, di mana Pak Hasan buka toko, saya juga ingin buka di dekatnya. Mohon bimbingannya."
Wajah Hasan akhirnya mengeras.
Di telinganya, itu bukan permintaan bimbingan.
Itu deklarasi perang.
Beberapa pelanggan yang baru keluar dari Makmur Mart ikut berhenti. Mereka melihat Rian, lalu melihat Hasan. Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
"Itu pemilik Garuda Mart?"
"Yang tokonya baru buka itu?"
"Berani juga dia ngomong sama Pak Hasan."
Rian tidak sadar ia sudah menciptakan penonton.
Hasan sadar.
Dan itu membuatnya semakin tidak suka.
"Hati-hati, Mas Rian," kata Hasan pelan. "Di ritel, yang kuat bukan yang paling berisik. Yang kuat adalah yang paling lama bertahan."
"Saya setuju, Pak."
Karena saya berharap tidak bertahan.
Hasan melepaskan jabat tangan itu, berbalik, lalu masuk ke Makmur Mart tanpa menoleh lagi.
Rian kembali ke sisi jalan dengan hati ringan.
Bagas langsung menarik lengannya.
"Lu sadar dia pengen ngubur lu hidup-hidup?"
"Bagus. Itu berarti pilihanku tepat."
Darmawan tampak pucat. "Pak Bos, saya rasa Pak Hasan menganggap ucapan Bapak sebagai tantangan."
"Memang kita di depan tokonya."
"Itu bukan penjelasan yang menenangkan, Pak."
Rian menatap Garuda Mart baru, lalu Makmur Mart di seberang.
Satu toko lama yang sudah sehat.
Satu toko baru yang terlalu mahal.
Satu musuh kuat yang tersinggung.
Akhirnya, ini terlihat seperti rencana rugi yang layak.
Di seberang jalan, dari balik kaca lantai dua Makmur Mart, Hasan Maulana mengangkat ponsel.
"Husein," katanya dingin, "ada anak muda tidak tahu diri membuka toko tepat di depan kita. Renovasinya gila, karyawannya lebih banyak dari kita, dan mulutnya lebih berani dari modalnya."
Suara di seberang telepon terdiam sebentar.
Lalu Husein Maulana bertanya, "Perlu kita beri pelajaran?"
Hasan menatap papan Garuda Mart yang baru menyala.
"Cari dulu siapa dia. Setelah itu, kita ajari dia cara ritel bekerja."