Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia di Balik Senyuman
Di kamar hotel berbintang itu, Helena akhirnya bisa bernapas lega. Setelah pertemuan tadi siang yang membuat jantungnya hampir copot, dia akhirnya kembali ke kamar, melepas blazer formalnya, dan merebahkan diri di atas ranjang berbalut seprai putih bersih. Lampu kamar hanya dihidupkan setengah terang, menciptakan suasana yang tenang dan hangat.
Helena meraih ponselnya, jari-jarinya menari di layar sentuh, mencari sebuah nama kontak yang dia simpan dengan inisial rahasia: J.S.
Klik.
Terdengar nada sambung, dan di ujung telepon, suara berat seorang pemuda bersahut. "Halo, Ma. Kok baru nelpon sekarang? Aku udah nunggu dari sore."
Mendengar suara itu, Helena tersenyum lebar. Beban di dadanya, setidaknya untuk beberapa detik ini, terasa mencair. "Maaf, Sayang. Mama baru selesai meeting panjang. Ada tamu dari perusahaan besar, jadi Mama agak sibuk. Kamu di mana sekarang? Sudah makan?"
"Udah dong, Ma. Tadi tante Rina masakin ayam goreng kesukaanku. Tapi aku kangen Mama, nih. Kapan pulang?" suara di ujung telepon terdengar sedikit manja, khas anak laki-laki yang sedang merindukan ibunya.
Helena memejamkan mata, menikmati setiap kata yang keluar dari ponselnya. "Mama harus menyelesaikan urusan bisnis ini dulu, Sayang. Mungkin tiga atau empat hari lagi. Kamu jaga diri ya, jangan bikin tante Rina kerepotan. Belajar yang rajin."
"Iya, Ma. Mama tenang aja. James udah gede, kok. Aku bisa jaga diri sendiri. Oh iya, tante Rina titip salam. Dia bilang, nanti kalau Mama pulang, dia mau bikin rawon."
James.
Sebutan yang selalu membuat dada Helena menghangat. James Fernando. Anak laki-laki satu-satunya, buah cinta dari pernikahannya dengan Arthur Fernando yang kini telah berusia lima belas tahun.
Tepat. Lima belas tahun lalu, ketika Helena memutuskan untuk pergi dari Jakarta, saat itu dia tengah mengandung James. Dia tahu Arthur tidak akan pernah membiarkannya pergi jika tahu Helena hamil. Tapi di saat yang sama, dia juga tahu bahwa kala itu, ada pihak-pihak jahat di keluarga Fernando yang ingin menyingkirkannya, baik dia maupun calon bayinya.
Konspirasi itu membuat Helena tidak punya pilihan. Demi menyelamatkan nyawanya dan nyawa bayi yang ada di dalam kandungannya, Helena memilih untuk menghilang. Dia pergi, bersembunyi, dan merahasiakan kehamilannya dari seluruh dunia—termasuk dari Arthur.
Dan kini, James telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Rambutnya hitam berombak, rahang tegas yang sangat mirip dengan Arthur, dan mata cokelat tajam yang sama persis seperti milik ayahnya. James tidak tahu siapa ayah kandungnya. Helena hanya mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia saat James masih dalam kandungan. Itu adalah satu-satunya kebohongan yang Helena pertahankan selama lima belas tahun, demi melindungi James dari kekejaman keluarga Fernando dan juga agar James tidak menjadi alat perang antara dirinya dan Arthur.
Helena menghela napas, menyeka sedikit air mata yang mengering di sudut matanya. "James, Mama sayang banget sama kamu, tahu? Kamu anak Mama yang paling berharga."
"Aku juga sayang Mama, Ma. Eh, tapi Mama, tante Rina bilang ada berita besar di Jakarta. Katanya Bapak..." James berhenti sebentar, mencari kata yang tepat. "...maksudnya Bapak Arthur Fernando itu lagi sering muncul di berita. Ada proyek besar katanya. Mama pernah dengar nama itu nggak?"
Helena kaget. Jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan santai. "Ah, Mama jarang nonton berita bisnis, Sayang. Itu urusan orang kaya. Kita hidup sederhana saja di Surabaya."
"Tapi di berita, Bapak itu kayaknya orang baik, Ma. Ada yang bilang dia dermawan. Masa sih Mama nggak tahu?"
"James..." Helena memotong dengan lembut tapi tegas. "Mama nggak mau ngomongin orang asing. Yang penting Mama dan kamu sehat, ya? Mama berusaha cari uang supaya kamu bisa kuliah nanti."
"Iya, Ma. Maaf kalau Mama nggak suka." James terdengar sedikit kecewa, tapi dia tetap sopan. "Ya udah, Mama istirahat yang cukup. Jangan lupa makan yang teratur. James sayang Mama. Good night, Ma."
"Good night, Sayang. Mimpi indah." Helena menutup telepon dengan napas panjang.
Begitu panggilan berakhir, Helena menatap langit-langit kamar. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap kali dia berbicara dengan James, dia selalu merasa bersalah. James berhak tahu siapa ayah kandungnya. James berhak mengenal Arthur, seorang pria yang—meski menyimpan banyak salah paham—sebenarnya adalah ayah yang baik.
Namun, Helena juga diliputi rasa takut. Konspirasi yang memisahkan mereka lima belas tahun lalu belum sepenuhnya terungkap. Arthur mungkin tidak tahu, tapi Helena tahu persis siapa dalang di balik perpisahan itu. Ada sebuah nama besar di keluarga Fernando yang tidak ingin Helena berada di dekat Arthur. Jika Arthur dan James bertemu, rahasia itu akan terkuak, dan Helena khawatir James akan menjadi target berikutnya.
"Maaf, Arthur. Maaf, James," bisik Helena di ruangan yang sunyi. "Mama cuma ingin menjaga kalian berdua tetap aman."
Helena menekan tombol ponselnya, membuka galeri foto. Dia memandangi foto James saat ultahnya yang ke-15, foto pemuda itu sedang tersenyum memamerkan kue ulang tahun. Wajah James—terutama bentuk alis dan matanya—sangat mirip dengan Arthur. Memandang foto itu, Helena merasa air matanya hampir tumpah.
Apa yang akan terjadi jika Arthur suatu hari nanti tahu bahwa dia punya anak? Apakah Arthur akan membenci Helena karena menyembunyikan fakta ini? Atau apakah Arthur akan merebut James darinya?
Helena memeluk bantal erat-erat, mencoba menenangkan hati yang berkecamuk. Dia berdoa agar waktu di Jakarta cepat berlalu. Dia tidak mau berlama-lama di sini. Semakin lama dia di Jakarta, semakin besar kemungkinan dia bertemu dengan Arthur lagi. Dan semakin besar kemungkinan rahasia besar itu terbongkar.
Di kamar yang tenang, dengan lampu temaram, Helena menutup matanya. Dia berusaha tidur, tapi di kepalanya, bayangan Arthur dan James seolah bergantian mengusik tidurnya. Dia terjebak di antara dua dunia: dunia masa lalu yang penuh luka, dan dunia masa kini yang dia bangun dengan susah payah.
Di balik senyumannya yang ceria saat menelepon James, Helena menyimpan badai yang siap pecah kapan saja. Dan badai itu, sayangnya, sudah mulai mendekat.