Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Jatuh ke Pelukan
Narendra membuka mulut dan memakan sayur dari sumpit Sekar.
"Enak," katanya.
Sekar cepat menarik tangan. "Aku refleks."
"Nggak apa-apa. Lain kali boleh refleks lagi."
Wajah Sekar memanas. Narendra melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dadanya dipenuhi kepuasan aneh.
Mereka membahas cara menyelesaikan tepian kebaya. Sekar menunjukkan gerak tangan seolah memegang jarum. Narendra tidak mengikuti penjelasannya. Tatapannya terpaku pada jari-jari yang pernah menyentuh tangannya.
Tangan ini, kalau bisa digenggam.
"Mas dengar?"
"Lagi mikir resep iga."
Sekar tertawa curiga. Jakun Narendra bergerak.
Setelah makan, mereka kembali ke balkon untuk memasang penyangga terakhir meja kerja. Sekar memegang papan, Narendra mengencangkan baut. Kepala mereka berdekatan sampai Sekar bisa mencium aroma sabun dari kulitnya.
Matahari sudah tenggelam. Lampu balkon membuat bayangan tangan mereka jatuh panjang di dinding. Narendra berlutut di lantai, satu lutut menahan papan, sementara Sekar membaca petunjuk yang sudah kusut.
"Lubang A ketemu baut nomor enam," kata Sekar.
"Ini nomor delapan."
"Kenapa bautnya mirip semua?"
"Supaya pembeli menyerah dan membayar teknisi."
Sekar tertawa. Ia menahan salah satu kaki meja, tetapi papan bergeser. Narendra meraih pergelangan tangannya sebelum jari Sekar terjepit.
"Hati-hati."
Genggamannya hanya dua detik. Cukup untuk membuat kulit di bawah jari Narendra terasa terbakar.
Ia segera melepaskan. Sekar mengusap pergelangan tangan, bukan karena sakit, melainkan karena masih merasakan bekas genggamannya.
Mereka mencoba kembali. Kali ini Narendra berdiri di belakang Sekar untuk menjangkau baut paling jauh. Lengannya melewati sisi tubuh Sekar. Dada pria itu hampir menyentuh punggungnya. Sekar menahan napas sampai baut selesai dipasang.
"Sudah," kata Narendra.
Suara rendah itu jatuh dekat telinganya.
Sekar cepat bergeser. "Aku ambil minum."
Narendra membiarkannya pergi, lalu mencengkeram obeng lebih erat. Bahkan tanpa menyentuh, kedekatan itu cukup membuat darahnya bergerak ke tempat yang tidak seharusnya. Ia menghitung napas dan memusatkan mata pada baut.
"Iga tadi resep siapa?" tanya Narendra.
"Belajar sendiri. Dulu belum setinggi kompor sudah naik bangku buat masak. Pernah gosong satu panci, dimarahi Mamah seminggu."
"Kenapa anak kecil harus masak?"
"Karena semua orang lapar."
Jawaban ringan itu membuat dada Narendra sakit. Ia membayangkan Sekar kecil berdiri di bangku, sementara orang dewasa menunggu dilayani.
Kenapa aku tidak bertemu dia lebih awal?
Sebuah baut jatuh. Keduanya membungkuk bersamaan. Punggung tangan mereka bersentuhan.
Napas Narendra terhenti. Sentuhan singkat itu menjalar seperti listrik. Ia berdiri terlalu cepat.
"Aku cari angin sebentar."
Sekar masuk dapur dan membasuh tangan dengan air dingin. Telapak yang tersentuh tadi tetap terasa panas.
Ia menempelkan kedua tangan pada tepi wastafel. Bayangan dirinya di kaca kabinet tampak seperti perempuan yang baru berlari. Pipi merah, napas cepat, mata terlalu terang.
"Cuma sentuhan tangan," bisiknya.
Namun ia masih ingat suara Narendra dekat telinga dan cara pria itu otomatis melindungi jarinya dari papan. Nindy benar bahwa Narendra sedang melakukan modus. Yang tidak ingin Sekar akui adalah dirinya mulai berharap modus itu sungguhan.
Di balkon, Narendra membuka kancing manset dan menghirup udara malam. Ponselnya bergetar, pesan dari Reno menanyakan kemajuan. Narendra mengabaikannya. Tidak ada cara menjelaskan bahwa punggung tangan Sekar saja sudah membuat seluruh tubuhnya waspada.
Ia menatap telapak sendiri.
Selama bertahun-tahun, sentuhan perempuan tidak pernah meninggalkan bekas dalam ingatan. Sekarang satu sentuhan singkat terasa lebih jelas daripada semua pemeriksaan medis yang pernah dijalaninya.
Setengah jam kemudian, meja selesai. Sekar membawa dua gelas air. Saat melewati kotak alat, ujung sandalnya tersangkut.
Semuanya terjadi dalam satu detik.
Gelas terlepas. Air melayang. Tubuh Sekar jatuh ke depan.
Narendra sempat melihat mata Sekar membesar. Ia melepaskan obeng, mengulurkan kedua tangan, dan memutar tubuh agar Sekar tidak membentur ujung meja. Kotak alat tergeser, baut-baut berhamburan, dan salah satu gelas pecah di lantai balkon.
Narendra menangkapnya.
Kedua telapak Sekar mendarat tepat di dada Narendra. Otot keras dan panas menegang di bawah tangannya. Lengan Narendra melingkari pinggangnya secara refleks, menariknya begitu dekat sampai tidak ada jarak di antara tubuh mereka.
Dunia menjadi sunyi.
Satu tangan Narendra menahan punggung bawah Sekar. Tangan lainnya mencengkeram sisi pinggang, tepat di atas kain blus. Tubuh perempuan itu ringan, tetapi sentuhannya memenuhi seluruh kesadaran Narendra.
Sekar merasakan napas Narendra menerpa pipinya. Ada garis air di rahang pria itu, entah dari gelas yang tumpah atau keringat. Mata gelap tersebut begitu dekat hingga Sekar bisa melihat pupilnya melebar.
Ia seharusnya segera berdiri.
Tubuhnya tidak menurut.
Telapak tangannya justru semakin menyadari setiap tarikan napas di dada Narendra. Di balik lapisan kemeja, otot itu bergerak keras. Jantung di bawahnya berlari tanpa irama.
Jadi bukan hanya aku.
Kesadaran itu membuat ujung jari Sekar menegang.
Jantung Narendra menghantam telapak Sekar. Berat, cepat, berantakan.
Hidung mereka hanya berjarak satu inci. Napas bercampur. Sekar tidak bisa bergerak. Ia hanya mengenali dada lebar, tangan kuat di pinggang, dan tatapan gelap yang turun sepersekian detik ke bibirnya.
"Kamu nggak apa-apa?" Suara Narendra serak.
Sekar mengangguk, tetapi telapak tangannya belum berpindah.
Tubuh Narendra bereaksi tanpa peringatan.
Panas menghantam bagian bawah perut. Ereksi datang cepat dan keras, dipicu oleh tubuh Sekar yang menempel, aroma rambutnya, dan telapak dingin di dada.
Narendra menahan napas. Ia memiringkan tubuh, membantu Sekar berdiri, lalu mundur satu langkah untuk menyembunyikan perubahan itu.
Gerakan mendadak tersebut membuat Sekar goyah lagi. Narendra memegang sikunya, tetapi kali ini hanya dengan ujung jari. Ia menjaga pinggulnya jauh, menahan ereksi yang sudah menekan celana dengan nyeri memalukan.
Keinginan untuk menarik Sekar kembali muncul begitu kuat. Membayangkan tubuh itu menempel sekali lagi membuat panas menjalar sampai tengkuk.
Belum.
Tidak boleh.
Sekar mempercayainya masuk ke rumah. Ia tidak akan membalas kepercayaan itu dengan menakutinya.
Air dari gelas membasahi setengah kemejanya. Kain putih melekat pada dada dan perut, memperjelas garis otot.
Sekar menatap tanpa sengaja. Wajahnya langsung merah.
"Cuma kepeleset," kata Narendra, berusaha menstabilkan suara. "Yang penting kamu nggak jatuh."
"Baju Mas basah."
"Nggak masalah."
Masalahnya bukan baju.
Tubuhnya semakin sakit karena tertahan. Narendra mengambil kotak alat dan meletakkannya di depan pinggang sebelum berjalan ke pintu.
"Aku pulang dulu."
"Mas, tunggu."
Ia tidak berani menunggu. Jika Sekar mendekat lagi, kendalinya bisa benar-benar putus.
"Terima kasih sudah bantu mejanya," kata Sekar cepat.
Narendra mengangguk tanpa berbalik. "Kunci pintu setelah saya keluar. Pecahan gelas jangan dipegang tangan kosong."
Bahkan dalam keadaan seperti itu, ia masih memperhatikan pecahan di lantai. Sekar ingin tertawa dan menangis sekaligus.
Narendra menyeberang tiga langkah, membuka pintu, dan masuk. Beberapa detik kemudian suara pancuran terdengar dari unit seberang.
Di balik pintu, Narendra menjatuhkan kotak alat dan langsung masuk kamar mandi. Ia membuka pancuran paling dingin tanpa melepas celana terlebih dahulu. Air menghantam kepala dan bahu, meresap ke pakaian, tetapi ereksi itu tidak segera turun.
Narendra bertumpu pada dinding dengan napas kasar. Bayangan Sekar di pelukannya terus berulang. Pinggang ramping dalam genggaman. Telapak tangan di dada. Bibir yang hanya berjarak sedikit.
Ia memutar suhu lebih dingin.
"Tenang," geramnya kepada tubuh sendiri.
Tubuhnya tidak mendengarkan.
Di unit sebelah, Sekar berjongkok mengumpulkan pecahan dengan sapu. Setiap kali membungkuk, ia teringat lengan Narendra di pinggangnya. Ia bahkan masih bisa merasakan tekanan jari pria itu melalui kain.
Ia menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya tetap berlari.
"Jangan kepedean," katanya. "Dia cuma nolong."
Namun orang yang sekadar menolong tidak biasanya gemetar seperti Narendra tadi. Dan Sekar tidak mungkin salah merasakan sesuatu yang keras menegang sesaat di dekat tubuhnya, meski Narendra sudah mundur sebelum ia benar-benar memahami.
Wajahnya kembali terbakar.
Ia tidak mau menjadi perempuan genit yang menafsirkan setiap sentuhan. Ia juga tidak bisa berpura-pura tubuhnya tidak mengenali ketertarikan yang sama.
Sekar berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan di dada.
Jantungnya sendiri tidak lebih tenang daripada jantung yang tadi berada di bawah telapak tangannya.
Ia menatap lantai dan menemukan kantong kecil tertinggal dekat sofa. Keripik, biskuit, dan dendeng yang dibeli Narendra masih di sana.
Sekar bisa mengirim pesan dan menyerahkannya besok. Itu pilihan paling aman. Namun ia tahu kantong tersebut memang dibeli untuknya. Membiarkannya di lantai terasa seperti mengabaikan alasan kecil yang mungkin sengaja ditinggalkan Narendra.
Ia mengetik pesan.
Mas, belanjaannya ketinggalan.
Pesan hanya centang satu. Mungkin ponsel Narendra berada di luar kamar mandi. Suara air terus terdengar, jauh lebih lama daripada mandi biasa.
Sekar menunggu di sofa, menghitung menit tanpa sengaja. Sepuluh. Lima belas. Dua puluh lima.
Ketika air berhenti, ia berdiri sebelum sempat mengubah pikiran.
Sekar menunggu hampir setengah jam. Air di unit seberang akhirnya berhenti.
Ia membawa kantong itu ke lorong, menarik napas, lalu menekan bel.
Pintu terbuka.
Uap dingin dari pendingin ruangan menyentuh wajah Sekar lebih dulu. Narendra berdiri di baliknya dengan rambut basah dan tetes air mengalir dari rahang. Tidak ada kemeja yang menutupi tubuhnya. Hanya handuk putih yang terikat rendah di pinggang.
Sekar mengangkat wajah.
Kata-kata lenyap dari kepalanya.
Bahkan alasan tentang kantong belanja ikut hilang tanpa sisa.
Benar-benar hilang.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰