Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tutup peti baja insulasi itu terlempar bebas melayang di udara malam.
WUSH.
Ledakan kabut es berwarna biru pekat langsung menyembur keluar seperti letusan gunung es dari dalam peti tersebut.
Udara perbukitan yang tadinya hanya sekadar sejuk mendadak turun drastis di bawah titik beku dalam sekejap mata.
Sepuluh preman di barisan paling depan yang sedang berlari mengayunkan celurit tiba-tiba membeku di tempat.
Gerakan mereka terhenti total di udara seolah ada tangan raksasa yang menahan tubuh mereka secara paksa.
KRETEK KRETEK.
Suara lapisan es yang menebal terdengar sangat mengerikan merayapi ujung sepatu bot hingga ke leher para preman itu.
Bunga Teratai Es Kematian kini mekar seutuhnya di atas tanah memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata.
Hanya dalam hitungan tiga detik, sepuluh orang berbadan kekar itu berubah sepenuhnya menjadi patung es transparan.
BRUK BRUK.
Tubuh kaku mereka jatuh berdebum menghantam tanah keras tanpa bisa mengeluarkan suara jeritan sedikit pun.
Senjata tajam berupa parang dan celurit yang mereka pegang jatuh ke tanah lalu pecah berkeping-keping seperti kaca rapuh.
Sembilan puluh preman lainnya yang berada di barisan belakang langsung menghentikan langkah mereka dengan rem mendadak.
Napas mereka tertahan di tenggorokan melihat sepuluh rekan mereka mati membeku menjadi balok es dalam hitungan detik.
"Apa-apaan ini? Sihir macam apa yang dipakai pemuda gila itu?" teriak salah satu preman dengan suara bergetar hebat.
"Mundur semua, ini bukan manusia biasa, dia itu iblis gunung!" jerit preman lainnya membuang parangnya ke tanah.
Rasa haus darah dan keberanian palsu mereka seketika menguap tak berbekas digantikan oleh teror kematian murni.
Bos Naga yang berdiri di barisan tengah ikut membelalakkan matanya tidak percaya melihat pemandangan mustahil di depannya.
"Jangan ada yang berani lari mundur pengecut, kita ini Sindikat Naga Hitam," bentak Bos Naga mencoba mempertahankan otoritasnya.
"Lemparkan obor api kalian ke arah kabut biru itu, es pasti akan mencair kalau kena api panas."
Beberapa anak buahnya yang masih memiliki sedikit keberanian segera melemparkan obor menyala mereka ke depan.
SYUUT.
Belasan obor api melayang di udara melengkung menuju titik tengah kabut es tempat Rizky berdiri.
Rizky hanya menatap datar ke arah obor-obor yang melayang itu tanpa berniat menghindar sama sekali.
Di dadanya, tato daun hijau zamrud terus memancarkan aura kehangatan yang melindunginya dari efek mematikan bunganya sendiri.
PSSST.
Begitu obor-obor itu menyentuh lapisan terluar kabut biru, apinya langsung mati total meninggalkan kepulan asap hitam.
Bahkan kayu gagang obor itu ikut membeku dan hancur menjadi serbuk es sebelum sempat jatuh menyentuh tanah.
"Maaf saja Tuan-tuan, tapi api murahan kalian tidak akan bisa melelehkan kutukan dari sistem ini," ucap Rizky dengan suara dingin yang menggema.
TING.
Kotak teks holografis berwarna merah muncul berkedip di atas bunga teratai tersebut.
[Peringatan Sistem: Radius kabut es meluas ke tahap maksimal.]
[Area mematikan mencakup lima puluh meter persegi di sekitar pengguna.]
WUSH.
Kabut biru itu mendadak bergulung-gulung semakin tebal dan melesat menyebar luas bagaikan ombak tsunami di daratan.
Gelombang hawa dingin itu menyapu bersih area di sekitar gerbang kebun tanpa menyentuh satu pun bibit herbal milik Rizky di belakangnya.
"Lari, cepat lari selamatkan nyawa kalian sendiri!" teriak para preman itu berhamburan putar balik menuju truk mereka.
Namun kecepatan lari manusia biasa tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan penyebaran energi magis tingkat legendaris.
Kabut es itu langsung menelan separuh dari kerumunan preman yang sedang berdesak-desakan panik tersebut.
"Tolong aku, kakiku sudah tidak bisa digerakkan sama sekali," jerit seorang preman kurus yang kakinya tertanam es ke tanah.
"Panas, hawa dingin ini terasa seperti membakar kulitku hidup-hidup," raung preman lain memegangi wajahnya yang membiru.
KRETEK KRETEK.
Suara pembekuan massal itu terdengar bagaikan simfoni kematian yang diputar di bawah cahaya bulan purnama.
Satu per satu preman bayaran itu mematung dengan berbagai macam pose ketakutan yang sangat tragis.
Ada yang membeku dengan tangan menggapai ke udara, ada yang membeku saat sedang menangis, dan ada yang membeku saat merangkak di tanah.
Rizky berjalan perlahan melangkah keluar dari pusat kabut dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Ia berjalan santai melewati puluhan patung es manusia itu seperti sedang menikmati pameran seni di museum.
"Aku sudah bilang dari awal kalau kalian datang terlambat ke acara makan malam ini," sindir Rizky dengan nada datar.
Sisa preman yang belum terkena kabut es berjumlah sekitar dua puluh orang, termasuk Bos Naga di antara mereka.
Mereka berhasil mencapai pintu belakang truk boks, namun tangan mereka terlalu gemetar untuk bisa membuka kunci pintunya.
"Sopir, cepat nyalakan mesinnya dan tabrak pemuda iblis itu," perintah Bos Naga memukul-mukul dinding luar truk dengan panik.
Namun tidak ada jawaban sama sekali dari arah ruang kemudi di bagian depan truk tersebut.
Kabut es ternyata sudah menyebar lebih dulu melalui celah bawah truk dan membekukan ketiga sopir itu di kursi kemudi mereka.
"Tidak ada yang bisa kabur dari tanah ini malam ini Bos Naga," panggil Rizky dari jarak sekitar sepuluh meter di belakang mereka.
Bos Naga berbalik perlahan dan menatap Rizky yang sedang berdiri di antara puluhan anak buahnya yang telah menjadi patung.
Wajah preman bertato leher itu kini sepucat mayat, seluruh keberanian dan reputasi kejamnya hancur tidak tersisa.
"Ampun, tolong ampuni nyawa kami Tuan, kami hanya orang suruhan yang dibayar miskin," mohon Bos Naga menjatuhkan dirinya berlutut ke tanah.
Sisa anak buahnya yang masih hidup langsung ikut berlutut dan bersujud menempelkan dahi mereka ke tanah yang sangat dingin.
"Kami berjanji tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi seumur hidup kami," tangis salah satu preman.
Rizky sama sekali tidak tersentuh oleh pemandangan ratapan minta ampun dari para penjahat bayaran tersebut.
"Kalian dibayar untuk memenggal kepalaku dan membakar habis hasil kerja kerasku di kebun ini."
"Jika aku hanya pemuda lemah biasa, kalian pasti sudah tertawa merayakan kematianku sambil minum bir sekarang kan?"
Kata-kata Rizky yang tajam dan akurat itu sukses membuat Bos Naga dan anak buahnya tidak bisa membantah sepatah kata pun.
Dunia bawah tanah tempat mereka hidup memang punya aturan mutlak di mana yang lemah akan dimangsa oleh yang kuat.
Dan malam ini, mereka baru saja menyadari bahwa mereka adalah mangsa bodoh yang salah masuk ke dalam kandang monster.
Rizky mengulurkan tangan kanannya ke depan, memberi isyarat tak kasat mata pada bunga teratai kristal di belakangnya.
"Kabut es, telan sisa sampah ini perlahan-lahan agar mereka bisa merasakan dosa mereka."
WUSH.
Kabut biru itu merayap maju dengan sangat pelan menyentuh ujung sepatu Bos Naga dan anak buahnya.
"Tidaaak, tolong hentikan hawa dingin ini, kumohon," jerit Bos Naga saat lapisan es mulai merambat naik ke betisnya.
Rizky hanya diam menatap mereka dengan sorot mata sedingin es tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Ia sengaja mengatur penyebaran energi liontinnya agar pembekuan ini berjalan lambat untuk tujuan interogasi nanti.
"Aku akan memberikan kalian satu kesempatan terakhir untuk tetap bernapas malam ini," ucap Rizky memecah jeritan mereka.
Bos Naga yang setengah badannya sudah membeku sampai ke pinggang langsung menengadah menatap Rizky dengan penuh harapan.
"Apapun itu Tuan, kami akan melakukan apa saja asalkan Tuan mencairkan es sialan ini," rintih Bos Naga menahan gigil.
"Telepon bos besar kalian yang bernama Hendra Kusuma itu sekarang juga menggunakan mode video panggilan langsung."
Rizky melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Bos Naga yang kini tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi.
"Tunjukkan padanya pemandangan indah dari seratus pasukan bayarannya yang sudah berubah menjadi es serut ini."
Bos Naga dengan tangan gemetar segera mengeluarkan ponsel mahalnya dari saku jaket kulitnya.
Ia mencari kontak bernama Direktur Hendra dan menekan tombol panggilan video dengan tergesa-gesa.
TUT TUT.
Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum akhirnya tersambung dan menampilkan wajah gemuk Hendra di layar.
"Bagaimana Bos Naga? Apakah kebun gembel itu sudah rata dengan tanah sekarang?" tanya Hendra sambil tertawa memegang segelas anggur merah.
Namun tawa Hendra langsung terhenti saat melihat wajah pucat membiru Bos Naga di layar ponselnya.
"Bos Hendra, tolong selamatkan kami, tempat ini bukan kebun biasa, ini adalah neraka," tangis Bos Naga ke arah kamera ponsel.
Bos Naga kemudian memutar layar ponselnya untuk menyorot puluhan patung es manusia di belakangnya yang diselimuti kabut biru terang.
Rizky kemudian menundukkan wajahnya mendekati kamera ponsel itu hingga wajahnya terlihat jelas oleh Hendra.
"Selamat malam Direktur Hendra Kusuma, maaf mengganggu waktu santai Anda minum anggur."
Suara Rizky terdengar sangat tenang namun memancarkan aura dominasi yang membuat bulu kuduk berdiri.
Hendra di seberang sana menjatuhkan gelas anggurnya hingga pecah berantakan di lantai marmer rumahnya.
"Kau, bagaimana mungkin kau masih hidup? Apa yang kau lakukan pada seratus orang bayaranku itu iblis?" teriak Hendra panik mundur dari layar ponselnya.
"Aku hanya memberikan mereka sedikit terapi pendinginan gratis agar kepala mereka tidak terlalu panas saat datang bertamu."
Rizky tersenyum miring yang membuat wajahnya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa di mata Hendra.
"Aku hanya ingin menyampaikan pesan singkat padamu malam ini Direktur yang terhormat."
"Permainan kotor yang kau mulai dengan resep palsu itu ternyata sangat membosankan bagiku."
"Jadi aku memutuskan untuk menaikkan level permainan ini menjadi perang penghancuran total mulai besok pagi."
Rizky menatap tajam menembus layar ponsel itu langsung ke arah mata Hendra yang sedang ketakutan.
"Nikmati sisa udara segar malam ini Hendra, karena besok aku sendiri yang akan datang merobohkan gedung kebanggaanmu itu."
KLIK.
Rizky merebut ponsel itu dari tangan Bos Naga dan meremasnya hingga hancur berkeping-keping.
Ia kemudian berbalik badan meninggalkan Bos Naga yang perlahan mulai membeku total hingga ke batas leher.
Malam pembalasan itu ditutup dengan pemandangan seratus patung es yang menjaga kebun herbal ajaib dalam keheningan abadi.