NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Barisan Kehormatan

Pesan Darman tidak dibalas.

Keesokan paginya, sebelum pukul tujuh, Bima sudah selesai mandi dan melipat selimut tipis di kamar kos. Toyota Corona terparkir di halaman dengan embun menempel pada kaca. BPKB dan STNK ia simpan di laci terkunci; hari itu mobil tua tersebut tidak akan dibawa ke lokasi duel.

Di atas kasur terhampar pakaian silat putih polos yang dibelinya sendiri dari pasar. Tidak ada lambang perguruan, bordir, atau kain mahal. Hanya baju longgar, celana, dan sabuk kain.

Ketukan terdengar dari pintu.

Anindya berdiri di luar membawa dua gelas kopi dan sebungkus roti. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tampak kurang tidur.

"Kak Anin datang terlalu pagi."

"Kalau aku datang siang, kamu mungkin sudah pergi diam-diam."

"Sasa?"

"Aman bersama pengasuh. Aku sudah bilang Mama harus menemani teman ke acara penting." Anindya masuk, lalu melihat pakaian di kasur. "Kamu benar-benar akan memakai itu?"

"Bersih, longgar, dan tidak akan rugi kalau sobek."

"Kamu mau bertarung atau mengecat rumah?"

Bima baru hendak menjawab ketika suara mesin berhenti di depan kos. Sebuah Porsche hitam membuat pemilik warung di seberang menengok dua kali.

Wisnu turun dari kursi pengemudi. Ia membawa kotak pakaian panjang berwarna gelap.

"Teh Laras meminta Bang Bima memakai ini," katanya. "Katanya penampilan menunjukkan keseriusan terhadap saksi dan lawan."

Di dalam kotak ada pakaian silat putih dengan potongan formal, kain tebal tetapi lentur, tanpa ornamen berlebihan. Lambang kecil Sekar Arum dijahit di bagian dalam kerah sehingga tidak terlihat dari luar.

"Kalau saya menolak?" tanya Bima.

"Saya diminta menunggu sampai Bang Bima berubah pikiran."

Anindya menyilangkan tangan. "Pakai. Aku tidak mau menunggu di sini bersama mobil mahal itu sampai tetangga membuat sepuluh cerita."

Lima belas menit kemudian, Bima keluar dengan pakaian pemberian Laras. Baju itu pas di bahu dan tidak membatasi gerak pinggang. Pakaian pasar miliknya dilipat kembali; bukan dibuang, hanya ditunda untuk hari lain.

Wisnu membuka pintu belakang Porsche. Anindya duduk di samping Bima, sementara Toyota tetap terkunci di kos.

Mereka bertemu rombongan Laras di sebuah halaman gudang Sekar Arum. Enam kendaraan premium dari armada bisnisnya berbaris rapi. Para pengawal memakai kemeja hitam tanpa senjata terbuka. Bayu berdiri di dekat mobil depan, memeriksa daftar pengemudi dan jalur perjalanan.

Laras menghampiri Bima. Ia mengenakan setelan gelap sederhana.

"Sekarang kamu terlihat seperti orang yang datang untuk menghormati duel, bukan memperbaiki genteng," katanya.

Anindya menahan senyum. "Aku mengatakan hal yang hampir sama."

"Kalian cocok membuka usaha pakaian," jawab Bima. "Saya akan menjadi korban pertama."

Vanya dan Gita tiba dengan kendaraan Larissa yang dikemudikan pengemudi perusahaan lain. Bima tidak mengambil kembali kartu BMW. Jarak di antara mereka masih terasa, tetapi Vanya berjalan langsung ke hadapannya.

"Tim hukum sudah menerima rancangan awal," katanya. "Tidak ada persetujuan pemindahan saham. Bagian itu ditolak."

"Bagus."

"Saya masih marah karena kamu menerima duel tanpa bicara dengan kami," lanjut Vanya. "Tapi marah bukan berarti saya membiarkan kamu menghadapi mereka sendirian."

Gita berdiri di sisi Vanya. Tatapannya sempat bergerak ke Anindya, lalu kembali kepada Bima.

"Aku juga masih marah," katanya. "Bedanya, aku akan memarahimu setelah kamu menang."

Bima mengangguk. Tidak ada permintaan maaf dramatis. Dukungan mereka tidak menghapus batas yang ia langgar, dan kemarahan mereka tidak menghapus semua hal yang telah ia lakukan untuk Larissa.

Mobil lain tiba beberapa menit kemudian. Denny turun dengan syal tipis menutupi sebagian memar leher. Dokter telah membolehkannya beraktivitas ringan, tetapi suaranya masih serak.

"Keluarga besar Wisesa tidak meminta saya datang untuk mendukung sopir," katanya. "Saya hadir memastikan Giri Wesi tidak memakai nama kami sesuka hati."

"Kalau begitu jaga nama keluarga dengan diam," balas Gita.

Denny menatap Bima. "Orang sepertimu tidak akan pernah diterima dalam lingkaran keluarga kami. Jangan kira menyelamatkanku sekali membuatmu setara."

Anindya melangkah maju, tetapi Vanya lebih dulu bicara.

"Bima tidak pernah meminta diterima keluarga Anda. Dia datang atas namanya sendiri."

"Dan dia bukan cuma sopir," tambah Gita. "Kang Denny seharusnya paling tahu siapa yang melepaskan tangan Guntur dari lehermu."

Anindya berdiri di sisi Bima. "Kalau Anda datang hanya untuk merendahkan orang yang menyelamatkan Anda, lebih baik pulang."

Tiga suara berbeda, satu barisan.

Denny kehilangan jawaban. Ia memilih masuk ke mobil belakang dan membanting pintu.

Konvoi bergerak pukul delapan lewat empat puluh. Bayu berada di kendaraan depan untuk mengawasi rute, Wisnu mengemudikan Porsche Bima, dan satu kendaraan terakhir menjaga jarak agar rombongan tidak terpecah di persimpangan. Mereka tidak menyalakan sirene atau menutup jalan. Kekuatan ditunjukkan melalui kerapian, bukan dengan mengambil hak pengguna jalan lain.

Klub Anggar Rajawali berdiri di kawasan bisnis yang lebih sepi pada akhir pekan. Bangunannya tampak seperti klub olahraga swasta biasa, dengan pagar tinggi dan kaca gelap. Dua petugas di gerbang memeriksa daftar undangan sebelum palang dibuka.

Pak Yudi, pengelola klub, sudah menunggu di lobi. Begitu melihat Laras, ia membungkuk sedikit lebih dalam daripada sapaan bisnis normal.

"Teh Laras, semua sudah disiapkan. Aula utama ditutup untuk umum sampai sore."

"Keamanan?"

"Pintu samping dikunci dari dalam. Kamera area umum tetap aktif, ruang ganti diperiksa, dan petugas medis swasta menunggu di ruang belakang."

Pak Yudi kemudian memandang Bima. Rasa ingin tahu tampak jelas, tetapi ia tidak bertanya tentang perguruan atau identitas.

"Pihak Guntur sudah tiba," katanya. "Darman dan Selvi bersamanya. Tiga saksi juga sudah hadir: Ki Sardu, Ki Broto, dan Ki Lanang. Mereka menunggu di ruang VIP."

Nama-nama itu membuat bahkan Denny berhenti memasang wajah sinis. Tiga sesepuh tersebut tidak datang untuk menjadi penonton. Kehormatan mereka akan menjadi jaminan bahwa aturan dibaca, disepakati, dan tidak diubah setelah hasil keluar.

Pak Yudi menyerahkan daftar prosedur kepada Vanya. Semua tamu wajib menulis nama, menitipkan senjata, dan hanya boleh masuk ke area yang ditentukan. Tiga salinan rancangan Surat Tanding sudah dicetak dari berkas yang sama; catatan penolakan klausul saham dari tim hukum Larissa ikut dilampirkan, bukan dihapus diam-diam.

"Petugas medis boleh masuk jika para sesepuh menghentikan duel atau salah satu pihak tidak lagi mampu melanjutkan," jelas Pak Yudi. "Jalur ambulans di belakang tidak boleh terhalang kendaraan."

Bima memeriksa denah pintu darurat dan posisi aula sebelum menandatangani daftar hadir. Ia tidak mencari jalan untuk lari. Ia memastikan tidak ada orang yang ia lindungi terjebak jika Darman mencoba mengubah aturan menjadi keributan.

Pak Yudi berjalan ke pintu kayu di ujung lobi. Ia mengetuk dua kali, menunggu jawaban dari dalam, lalu memutar gagang.

Pintu ruang VIP terbuka.

Di antara tiga sesepuh berambut putih, Guntur duduk tenang sambil menatap lurus ke arah Bima.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!