Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Hadiah Ulang Tahun
Pagi itu, Hendry Pratama bangun lebih awal dari biasanya.
Langit Kota Biru masih abu-abu.
Jessica dan Daun belum keluar kamar.
Di ruang makan, Bagus Prasetyo sudah berdiri dengan wajah serius sambil memegang daftar panjang.
"Pak Hendry," katanya, "saya sudah cek restoran, pintu belakang, dapur, parkir, dan toilet."
Hendry menuang kopi.
"Toilet juga?"
Bagus mengangguk mantap.
"Kadang musuh tidak punya harga diri."
Hendry hampir tersenyum.
Setelah pembicaraan di Puri Nusantara kemarin, pikirannya penuh peta tua, dua cincin, dan kalimat Eyang Karyo.
Pengkhianat itu mungkin sudah sangat dekat denganmu.
Namun hari ini ia tidak ingin wajahnya membawa bayangan itu ke hadapan Jessica.
Hari ini milik Jessica.
Beberapa hari lalu, ia sudah mengembalikan rumah lama keluarga Jessica ke tangannya.
Malam itu sederhana.
Kue kecil, lilin kecil, suara Daun yang fals.
Jessica tersenyum sambil menangis.
Tapi Hendry tahu luka lama tidak cukup hanya ditutup dengan sertifikat.
Rumah harus dibuat hidup kembali.
Dan perempuan yang pernah terlalu lama berdiri sendirian harus merasakan bahwa ia dirayakan.
Ponselnya bergetar.
Adrian Chandra mengirim pesan:
`Restoran Tamu Agung siap. Semua tamu sudah dikonfirmasi. Nama Anda tidak muncul di pembayaran depan.`
Pesan kedua datang dari Cynthia Wulandari.
`Bunga, musik, dan protokol sudah beres. Nilai total sesuai batas yang Anda setujui.`
Hendry mengetik pendek.
`Terima kasih. Pastikan Jessica nyaman, bukan tertekan.`
Cynthia membalas setelah jeda beberapa detik.
`Mengerti.`
Jeda kecil itu tidak terlihat seperti apa-apa.
Tapi Hendry melihatnya.
Ia menaruh ponsel.
Daun berlari masuk dengan rambut berantakan.
"Papa!"
Ia memegang syal merah muda.
"Hari ini Mama boleh ditutup matanya lagi?"
Hendry berjongkok.
"Kalau Mama setuju."
"Mama pasti setuju kalau Daun yang minta."
"Percaya diri sekali."
Daun mengangkat dagu kecil.
"Daun anak Mama."
Hendry tertawa pelan.
Siang menjelang sore, Jessica keluar dari kamar dengan kemeja putih sederhana dan celana bahan krem. Rambutnya diikat rendah. Tidak ada perhiasan mahal. Hanya jam tangan lama yang selalu ia pakai saat bekerja.
Ia melihat Hendry dan Daun berdiri terlalu rapi di ruang tengah.
Matanya menyipit.
"Kalian berdua mau apa?"
Daun langsung menyembunyikan syal di belakang badan.
Sangat gagal.
Jessica melipat tangan.
"Daun."
"Mama jangan marah dulu."
"Berarti memang ada rencana."
Hendry berjalan mendekat.
"Malam ini ikut aku."
Jessica menatapnya.
"Ke mana?"
"Makan."
"Makan biasa tidak perlu kalian berdua seperti mau menculik orang."
Daun mengangkat syal.
"Mama, ini penculikan ulang tahun yang sopan."
Jessica menahan tawa.
Hendry berkata, "Kalau kamu tidak mau, kita batalkan."
Jessica melihat wajahnya.
Ia tahu Hendry tidak sedang memaksa.
Justru karena itu, hatinya melembut.
"Baik. Tapi kalau tempatnya aneh, aku pulang."
Daun bersorak.
Syal merah muda menutup mata Jessica.
Hendry membimbingnya keluar.
Di halaman, Bagus membuka pintu mobil.
Matanya masih menyapu jalan, pagar, rumah seberang, dan jendela Maya Devi.
Maya berdiri di balik tirai tipis.
Ia melihat mobil Hendry pergi.
Di meja kerjanya, tiga titik hijau masih menyala.
Malam turun ketika mobil berhenti di depan Restoran Tamu Agung.
Biasanya tempat itu penuh suara piring, percakapan bisnis, dan langkah pelayan.
Malam ini seluruh restoran sunyi dari tamu lain.
Pintu utama terbuka.
Cahaya hangat keluar seperti aliran emas.
Hendry menggandeng Jessica masuk.
"Boleh buka?" bisik Daun.
Hendry mengangguk.
Daun menarik syal.
Jessica membuka mata.
Ia langsung terdiam.
Seluruh aula Restoran Tamu Agung dipenuhi mawar putih dan balon merah muda lembut.
Tidak berlebihan seperti pamer kekayaan murahan.
Tapi cukup membuat setiap sudut terasa seperti dunia sedang berhenti untuk satu orang.
Di tengah ruangan ada meja panjang.
Michelle Mahendra berdiri di sana sambil melambai terlalu semangat.
"Mbak Jessica!"
Kevin Saputra tersenyum sopan di samping meja.
Adrian berdiri dengan setelan rapi.
Cynthia sedikit di belakang, membawa map acara kecil.
Bayu Wibowo dan beberapa orang dekat Hendry menjaga sisi luar dengan pakaian santai, tetapi mata mereka bekerja.
Jessica menutup mulut.
"Hendry..."
"Hari itu di rumah lama terlalu kecil," kata Hendry. "Aku ingin hari ini sedikit lebih lengkap."
Michelle berlari memeluk kakaknya.
"Mbak, jangan nangis dulu. Maskara kamu bagus."
"Aku tidak pakai maskara."
"Ya sudah, lebih aman."
Daun menunjuk meja.
"Mama! Ada kue besar!"
Jessica melihat sekeliling.
"Papa?"
Michelle menjawab lebih dulu, suaranya sedikit turun.
"Papa masih di hotel. Dia kirim doa. Dia bilang dia tidak mau membuat suasana berat."
Jessica mengangguk pelan.
"Mama?"
Michelle menahan napas.
Hendry tidak ikut menjawab.
Jessica sudah tahu.
Sejak Hotel Marquis, pintu itu belum bisa dibuka.
Michelle mengeluarkan ponsel, lalu berkata hati-hati, "Mama kirim pesan. Aku belum balas. Kamu mau lihat?"
Jessica diam beberapa detik.
"Nanti saja."
"Baik."
Tidak ada yang memaksa.
Itu membuat Jessica lebih kuat daripada ribuan nasihat.
Pelayan membawa hidangan pertama.
Namun hidangan yang membuat Jessica terpaku justru datang paling sederhana.
Piring kecil nasi goreng telur.
Tidak memakai udang besar.
Tidak memakai truffle.
Tidak memakai hiasan aneh.
Hanya nasi, telur, bawang, sedikit kecap manis, dan irisan cabai di pinggir.
Hendry meletakkannya sendiri di depan Jessica.
"Aku masak ini."
Jessica menatap piring itu.
Matanya langsung merah.
Michelle memiringkan kepala.
"Serius? Dari semua makanan mahal, Mbak Jessica menangis karena nasi goreng telur?"
Jessica tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.
"Dulu waktu kami baru menikah, dia tidak bisa masak apa-apa."
Hendry berkata, "Dan kamu bilang kalau pria miskin tidak bisa masak, itu lebih miskin lagi."
Kevin menahan senyum.
Adrian batuk pelan.
Daun melihat piring itu dengan kagum.
"Papa dulu miskin sekali ya?"
Hendry mengangguk.
"Iya."
"Sekarang?"
Michelle langsung menyambung, "Sekarang Papa kamu miskin rahasia. Uangnya pemalu."
Jessica akhirnya tertawa.
Tawa itu membuat dada Hendry ringan.
Di salah satu sisi ruangan, Cynthia melihat mereka.
Ia juga tersenyum.
Senyum yang rapi.
Terlalu rapi.
Adrian yang berdiri tidak jauh melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa.
Makan malam berlangsung hangat.
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada orang yang memaksa Jessica menjadi pusat tontonan.
Kevin memberi ucapan singkat dengan sopan.
Adrian hanya berkata, "Semoga Bu Jessica selalu sehat dan bahagia."
Bagus datang membawa piring sendiri yang ukurannya hampir seperti nampan.
Daun berbisik, "Om Bagus makan untuk tiga orang."
Bagus menjawab serius, "Untuk keamanan, tenaga harus cukup."
Michelle tertawa sampai hampir tersedak.
Setelah lilin ditiup, lampu aula diredupkan sedikit.
Hendry berdiri.
Ia membuka kotak beludru kecil.
Di dalamnya ada kalung mutiara emas selatan.
Cahayanya hangat.
Tidak putih dingin.
Tidak menyilaukan.
Seperti sinar matahari yang tersimpan di laut.
Jessica membeku.
"Hendry, ini terlalu mahal."
"Rp 5 Miliar," bisik Michelle dengan mata membesar setelah melihat kartu sertifikat.
Jessica menoleh tajam.
"Michelle."
"Maaf. Refleks miskin."
Hendry mengambil kalung itu.
"Dari hari kamu menikah denganku, terlalu banyak hal yang seharusnya kamu dapat, tapi tidak pernah kamu minta."
Jessica menatapnya.
Hendry berjalan ke belakangnya.
"Aku tidak sedang membeli maaf. Aku ingin kamu ingat, mulai sekarang kamu tidak perlu merasa bersalah menerima hal baik."
Ia memasangkan kalung itu di leher Jessica.
Mutiara emas menyentuh kulitnya.
Ruangan sunyi.
Jessica memegang liontin kecil di tengah kalung.
"Aku tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu."
Hendry berdiri di depannya.
"Cukup hidup baik-baik."
Jessica menahan air mata.
Kali ini ia tidak menunduk.
Ia maju satu langkah.
Di depan semua orang, ia mencium Hendry.
Sasaran Jessica bukan pipinya.
Bibir.
Singkat.
Ringan.
Tapi cukup membuat seluruh ruangan pecah.
Michelle menjerit.
Kevin bertepuk tangan dengan tertib tapi jelas senang.
Bagus langsung menunduk seperti sedang menghormati bendera.
Daun menutup mata dengan kedua tangan.
Jari-jarinya terbuka lebar.
"Mama Papa ciuman!"
Jessica langsung memerah sampai leher.
Hendry menatap Daun.
"Katanya tutup mata."
"Daun cek keamanan."
Tawa memenuhi restoran.
Tidak jauh dari pintu samping, Cynthia ikut bertepuk tangan.
Telapak tangannya bergerak pelan.
Senyumnya masih ada.
Tetapi matanya sedikit basah.
Adrian melihat, lalu diam-diam mengambil segelas air dan meletakkannya di dekat Cynthia.
Ia tidak berkata apa-apa.
Cynthia juga tidak.
Setelah makan malam, Hendry membawa mereka kembali ke Taman Indah Residence.
Mobil berhenti di depan rumah lama Jessica yang kini terang seluruhnya.
Pagar sudah dicat ulang.
Taman kecil sudah ditata.
Lampu teras menyala hangat.
Di ruang depan, foto keluarga baru sudah tergantung.
Jessica turun dari mobil dan berdiri lama.
"Kapan semua ini selesai?"
Adrian menjawab dari belakang, "Tim bekerja bergilir. Tidak mengganggu struktur lama. Semua barang yang bisa dipertahankan tetap dipertahankan."
Jessica melangkah masuk.
Setiap sudut mengembalikan ingatan.
Tangga tempat ia dulu duduk saat kecil.
Jendela tempat ia menunggu ayah pulang.
Ruang makan yang dulu penuh suara, lalu hilang karena satu keputusan keluarga.
Sekarang, meja baru sudah tertata.
Namun di tengahnya ada vas lama milik keluarga Jessica.
Hendry sengaja mempertahankannya.
Jessica menyentuh pinggir vas.
Ia tidak tahu di bawah benda itu, satu titik kecil masih tidur dalam bayangan.
Di rumah seberang, Maya Devi duduk dengan earphone.
Tiga indikator hijau menyala.
Suara tawa dari rumah Hendry masuk samar.
Maya menulis:
`Keluarga pindah penuh ke rumah lama. Hubungan suami-istri membaik cepat. Banyak tamu inti hadir. Pengamanan dekat meningkat.`
Ia berhenti saat mendengar suara Daun berteriak dari kamar atas.
"Kamar Daun ada bintang!"
Maya menatap layar.
Untuk sesaat, wajahnya tidak sedingin biasa.
Lalu ia menghapus ekspresi itu dan melanjutkan laporan.
Di dalam rumah, Michelle menarik Jessica ke kamar utama.
"Mbak, jangan marah."
Kalimat itu membuat Jessica langsung curiga.
"Michelle."
Pintu dibuka.
Jessica mematung.
Kamar utama dipenuhi kelopak mawar.
Lilin aroma lembut menyala di beberapa sudut aman.
Tempat tidur besar rapi dengan seprai baru.
Di atas bantal ada kartu kecil:
`Untuk Mbak Jessica dan Mas Hendry. Semangat.`
Jessica memegang kartu itu.
"Michelle!"
Michelle sudah berlari ke koridor.
"Aku masih muda, tapi aku dukung keluarga harmonis!"
Jessica mengejarnya sampai pintu, lalu berhenti karena semua orang di bawah bisa mendengar.
Wajahnya panas.
Hendry berdiri di ambang pintu kamar.
Ia melihat mawar, lilin, kartu, lalu Jessica yang ingin marah tapi terlalu malu.
"Aku bisa tidur di sofa."
Jessica menatapnya.
"Jangan mulai jadi korban."
"Baik."
"Kita hanya tidur."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Matamu bilang."
Hendry menahan senyum.
Jessica mengambil boneka-boneka Daun dari rak kecil yang tadi dibawa ke kamar, lalu menyusunnya satu per satu di tengah tempat tidur.
Beruang kecil.
kelinci kecil.
Boneka daun hijau.
Semua berbaris seperti pagar.
"Ini batas."
Hendry melihat barisan boneka itu.
"Batas resmi?"
"Sangat resmi."
"Ada notaris?"
Jessica melempar bantal kecil ke arahnya.
Hendry menangkapnya sambil tertawa pelan.
Malam semakin larut.
Lampu kamar diredupkan.
Di luar, rumah yang dulu sunyi kini berisi suara keluarga.
Jessica tidur di satu sisi.
Hendry di sisi lain.
Di antara mereka, pasukan boneka berdiri gagah.
Setidaknya sampai pintu kamar terbuka sedikit.
Sebuah tangan kecil masuk dari celah.
Tangan itu milik Jessica.
Michelle.
Dengan gerakan sangat hati-hati, ia mengambil satu boneka.
Lalu dua.
Lalu tiga.
Satu per satu pasukan batas menghilang.
Di dalam gelap, Jessica membuka mata.
Hendry juga membuka mata.
Keduanya pura-pura tidur.
Di luar pintu, Michelle berbisik sangat kecil, "Semangat, Mas Hendry."
Pintu tertutup.
Jessica menoleh pelan.
Wajahnya merah bahkan dalam gelap.
Hendry memejamkan mata lagi.
Tapi sudut bibirnya tidak bisa berhenti naik.