NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24.Kesulitan yang Dihadapi Bersama

Perjalanan menuju persahabatan dan rasa yang semakin erat itu ternyata tak selamanya berjalan mulus. Ujian datang tiba-tiba, tanpa diduga, tepat saat tugas kelompok mereka tinggal selangkah lagi selesai. Guru memberikan pengumuman bahwa hasil kerja mereka akan dipresentasikan secara langsung di depan seluruh kelas dan dinilai ketat. Jika gagal, nilai keduanya akan turun drastis dan berisiko tidak memenuhi syarat kenaikan kelas. Beban berat itu seketika jatuh menimpa pundak mereka berdua.

Belum lagi, malam sebelum hari penilaian, nasib seakan belum berpihak. Hujan deras mengguyur kota sepanjang malam, membanjiri jalanan hingga membuat Anisa terlambat datang keesokan harinya. Lebih menyedihkan lagi, berkas-berkas presentasi yang disimpannya di dalam tas ikut basah kuyup terkena air yang masuk melalui celah ritsleting. Saat tiba di sekolah, wajahnya pucat pasi, air mata tak tertahan jatuh membasahi pipi melihat lembaran-lembaran itu tak lagi terbaca. Usaha berhari-hari seakan hancur seketika. Anisa terduduk lemas di bangkunya, menyesali diri hingga tak mampu berkata apa-apa.

Kenzo yang tiba sesaat kemudian seketika menyadari keadaan itu. Rasa panik sejenak melintas di benaknya, namun melihat Anisa yang tampak begitu hancur menahan tangis, ia segera menepis kekhawatirannya sendiri. Alih-alih marah, ia justru menarik napas panjang, lalu duduk di sebelah Anisa dan meletakkan tangannya lembut di bahu gadis itu.

"Jangan menangis," ucap Kenzo rendah namun tegas, matanya menatap Anisa penuh keyakinan. "Masih ada waktu. Masih ada jalan. Selama kita berdua masih berdiri bersama, kesulitan ini bukan hal yang mustahil untuk dilewati."

"Tapi... semuanya hancur," suara Anisa bergetar di sela isak tangisnya. "Kita tak punya waktu untuk mengulang semuanya dari awal. Aku takut... kita berdua akan gagal karena kesalahanku."

Kenzo menatapnya lekat-lekat, lalu dengan lembut menghapus sisa air mata di pipi Anisa menggunakan punggung jarinya. "Tidak ada kesalahan yang tak dapat diperbaiki. Dan ingatlah ini: kita tidak sendirian dalam menghadapinya. Beban yang dipikul berdua akan terasa jauh lebih ringan daripada dipikul sendirian. Ayo, kita mulai sekarang juga."

Dengan sisa waktu yang terbatas, mereka pun bekerja secepat kilat. Kenzo membagi tugas dengan tenang dan teratur agar tak ada yang tertukar atau terlewat. Ia menenangkan Anisa agar tetap jernih pikirannya, membantunya menyusun poin-poin penting yang masih teringat, sementara Kenzo sendiri berusaha mengingat dan menuliskan kembali bagian-bagian yang sempat mereka bahas bersama. Tak ada lagi perdebatan, tak ada lagi saling tuduh. Yang ada hanyalah kerja sama yang erat, saling mengisi kekurangan satu sama lain, dan saling menguatkan saat salah satu mulai merasa lelah dan putus asa.

Ketika rasa lelah mulai menyergap dan Anisa kembali merasa tak sanggup, Kenzo akan tersenyum tipis padanya dan berkata pelan: "Tahan sebentar lagi. Aku di sini bersamamu. Kita pasti bisa." Kalimat sederhana itu entah mengapa selalu mampu mengembalikan semangat Anisa yang sempat luntur. Begitu pun sebaliknya, saat Kenzo mulai merasa bingung dan cemas, Anisa akan menatapnya lembut dan berkata: "Tenanglah, Kenzo. Kau sudah melakukannya dengan sangat baik. Aku percaya padamu." Dukungan itu menjadi kekuatan yang tak terduga bagi hati Kenzo.

Hari itu, di hadapan kelas, mereka tampil bukan dengan berkas yang sempurna seperti rencana semula, melainkan dengan kesungguhan hati dan kerja sama yang luar biasa. Satu sama lain saling melengkapi saat ada yang terlewat, saling menjelaskan saat ada yang terjeda, dan saling menguatkan dengan tatapan mata di tengah keheningan. Hasilnya sungguh di luar dugaan—penyampaian mereka justru terasa lebih tulus, lebih hidup, dan menyentuh hati dibandingkan jika sekadar membaca dari teks yang tertulis rapi di atas kertas. Guru pun memberikan nilai yang baik, bahkan memuji cara mereka bekerja sama dengan begitu harmonis dan saling mendukung.

Setelah semua selesai dan kelas kembali sepi, mereka berdiri berhadapan satu sama lain dengan napas yang masih sedikit memburu namun penuh rasa lega. Wajah keduanya tampak lelah, namun mata mereka bersinar penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.

"Kita berhasil..." ucap Anisa pelan, matanya berkaca-kaca menatap Kenzo. "Terima kasih, Kenzo. Jika tidak ada kau di sampingku, aku pasti sudah menyerah sejak awal."

Kenzo menatapnya lembut, lalu perlahan tersenyum tulus. Ia menyadari satu hal yang baru saja membuktikan kebenarannya: kesulitan yang dihadapi bersama ternyata bukan hal yang menakutkan. Justru di tengah cobaan berat itulah mereka melihat betapa berartinya kehadiran satu sama lain. Bahwa saat dunia di luar terasa berat dan penuh badai, selama mereka berdiri berdampingan dengan hati yang saling mendukung, tak ada rintangan yang tak mampu mereka hadapi.

"Terima kasih juga padamu," balas Kenzo pelan namun penuh makna. "Kita berhasil bukan karena aku atau karena kau saja. Melainkan karena kita menghadapinya bersama. Dan percayalah... mulai sekarang, apa pun kesulitan yang datang, kita akan tetap menghadapinya berdua. Tak akan kubiarkan kau menghadapinya sendirian."

Mata mereka saling bertemu dalam diam yang penuh kehangatan. Kesulitan yang sempat menimpa ternyata bukan berakhir sebagai bencana, melainkan menjadi jembatan yang semakin mempererat ikatan di antara mereka. Karena mereka akhirnya paham: kebahagiaan terasa lebih manis saat diraih bersama, namun cobaan pun terasa jauh lebih ringan saat dipikul berdua. Dan itulah kekuatan sejati yang lahir dari kebersamaan—ketika dua hati bersatu, tak ada kesulitan yang mampu memisahkan atau menjatuhkan mereka.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!