Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Gravitasi Delapan Ton dan Siasat di Balik Awan
Hari pertama di bawah tekanan Gelang Penekan Inti Bumi adalah sebuah penghinaan total bagi raga Awan yang baru saja berevolusi.
Delapan ton. Dua ton menarik lengan kanannya, dua ton di lengan kiri, dan empat ton mengunci kedua kakinya ke tanah.
Bagi Awan, langit tidak lagi berada di atas kepalanya, melainkan menunggangi punggungnya. Ia menghabiskan tiga hari pertama murni hanya terbaring telungkup di atas tanah pelataran kayu. Setiap kali ia mencoba mengangkat dadanya dengan menekan lantai menggunakan kedua lengannya, serat otot trisep dan dadanya robek. Darah merembes dari pori-pori kulitnya, menetes membasahi pelataran.
"Hah... hah..." napas Awan terdengar seperti hembusan angin dari puputan pandai besi yang rusak.
Di sebelahnya, pedang berkarat Bumi Pijar tergeletak membisu, seolah mengejek ketidakberdayaan tuan barunya. Tiga ratus kilogram berat pedang itu kini terasa mustahil untuk digenggam, apalagi diayunkan.
Setiap siang, Penatua Kuang datang membawakan puluhan kilogram daging siluman panggang dan seember air. Sang Penatua tidak pernah membantu Awan untuk duduk. Ia hanya meletakkan makanan itu sejauh dua meter dari wajah Awan, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Awan harus merayap menyeret tubuhnya di bawah tekanan delapan ton hanya untuk menggapai makanannya. Ia mengunyah daging itu sambil mencium tanah. Rasa sakitnya menembus hingga ke sumsum, namun vitalitas dari Esensi Darah Fana Purba bekerja tanpa henti. Sel-sel otot yang robek di pagi hari, sembuh dan menjadi lebih padat di malam hari.
Tubuhku seperti besi mentah, batin Awan sambil mengunyah urat daging siluman. Gravitasi ini adalah palu raksasa. Jika aku melawannya dengan kaku, tulangku akan patah. Aku harus mengalirkan beban ini... membiarkan bumi menariknya menembus kerangkaku.
Minggu pertama berlalu. Awan berhasil duduk bersila.
Bulan pertama berlalu. Awan berhasil berdiri, meski kedua kakinya gemetar hebat layaknya dahan kering diterpa badai, dan ia harus bernapas sepuluh kali lebih cepat untuk menyuplai oksigen ke ototnya.
Pada bulan ketiga, Puncak Daun Gugur kembali digemakan oleh suara yang sangat familiar.
Swush...
TANGGG!
Suara itu sangat lambat, jarak antar ayunannya memakan waktu nyaris setengah menit. Namun suara itu nyata.
Awan berdiri di tengah halaman dengan tubuh bersimbah peluh. Ia menggenggam Bumi Pijar dengan kedua tangannya. Di bawah tekanan gelang gravitasi, ia memaksakan diri mempraktikkan sepuluh ribu tebasan.
Gerakannya tidak lagi mengandalkan ledakan tenaga kasar seperti dulu. Di bawah tekanan mutlak, ia dipaksa untuk membuang semua pergerakan otot yang sia-sia. Awan belajar menyelaraskan setiap helai serat ototnya, dari ujung jari kaki hingga ke pergelangan tangan, menciptakan satu rantai kinetik yang sempurna tanpa cacat.
Satu ayunan. Tarik napas.
Dua ayunan. Hembuskan.
Ia tidak mengeluh. Di dunia yang sunyi ini, rasa sakit adalah satu-satunya guru yang tidak pernah berbohong.
Sementara Awan tenggelam dalam siksaan meditatifnya, badai politik sedang bergolak hebat di aula utama Sekte Daun Angin.
Di dalam ruang rapat Tetua Inti yang megah, Tetua Wu membanting sebuah cawan giok ke atas meja hingga hancur berkeping-keping. Matanya merah menyala menatap Pemimpin Sekte, seorang pria paruh baya berwajah bijak yang duduk di singgasana utama.
"Pemimpin Sekte! Sudah enam bulan! Manusia fana yang membunuh cucuku itu terus bersembunyi di Puncak Daun Gugur di bawah ketiak Penatua Kuang!" raung Tetua Wu. "Apakah hukum sekte kita bisa dibengkokkan seenaknya hanya karena Kuang adalah Penegak Hukum?!"
Di seberang meja, Tetua Zhao ikut mengangguk dengan wajah muram. "Cucuku, Zhao Meng, kini cacat permanen. Meridian utamanya hancur. Kita membiarkan seorang iblis tanpa Qi menikmati status Murid Langsung. Ini adalah aib! Banyak murid luar dan dalam yang mulai meragukan keadilan sekte!"
Pemimpin Sekte memijat pangkal hidungnya dengan lelah. Ia menatap Penatua Kuang yang duduk tenang di kursinya, seolah sama sekali tidak terganggu oleh amarah kedua rekannya.
"Penatua Kuang," panggil Pemimpin Sekte. "Kau menggunakan hak prerogatifmu untuk mengangkatnya menjadi Murid Langsung. Itu memang tidak melanggar aturan. Namun, setiap Murid Langsung yang baru diangkat memiliki kewajiban mutlak pada tahun pertamanya."
Pemimpin Sekte mengetuk meja perlahan. "Bulan depan adalah jadwal Ujian Puncak Bintang. Sebuah tradisi di mana seluruh Murid Langsung harus membuktikan kelayakan mereka di hadapan para Tetua dan murid sekte dengan mengalahkan Binatang Buas Formasi. Jika murid fanamu itu tidak turun gunung untuk berpartisipasi, maka sesuai aturan mutlak sekte, status Murid Langsung-nya akan dicabut, dan ia akan dikembalikan ke Asrama Murid Luar."
Mendengar itu, senyum bengis seketika mekar di wajah Tetua Wu dan Tetua Zhao.
Jika status Murid Langsung Awan dicabut, lencana giok ungu yang melindunginya tidak akan berlaku lagi. Begitu ia menginjakkan kaki di luar Puncak Daun Gugur, Tetua Wu bisa membunuhnya hanya dengan satu jentikan jari tanpa melanggar hukum sekte. Dan Ujian Puncak Bintang itu sendiri sangatlah mematikan; banyak Murid Langsung jenius yang terluka parah di sana.
"Tentu," jawab Penatua Kuang pelan, akhirnya membuka suara. "Aturan adalah aturan. Muridku akan berpartisipasi dalam Ujian Puncak Bintang."
"Bagus!" Tetua Wu mencibir. "Aku menantikan bagaimana tumpukan daging fananya bertahan dari cakar Binatang Buas Formasi tingkat Inti Emas Semu!"
Penatua Kuang tidak membalas. Ia hanya bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruang rapat. Saat ia memunggungi mereka, sudut bibir pria tua itu melengkung ke atas.
Binatang Buas Formasi? Kalian terlalu meremehkan monster yang sedang kubesarkan di atas gunungku.
Waktu berlalu tanpa belas kasihan. Hujan badai, terik matahari, hingga salju pertama musim dingin mulai turun menyelimuti Puncak Daun Gugur.
Tepat di penghujung bulan keenam sejak Awan mengenakan Gelang Penekan Inti Bumi.
Hutan bambu ungu di pinggir tebing bergoyang hebat ditiup angin pegunungan yang dingin. Di tengah hutan itu, berdiri sebatang bambu ungu raksasa, setinggi nyaris dua puluh meter, dengan daun-daunnya yang menari di udara.
Di bawah pohon bambu itu, Awan berdiri tak bergerak. Tubuhnya kini sedikit lebih kurus dari enam bulan lalu, namun kepadatan ototnya terlihat sangat tidak masuk akal, bagaikan ditenun dari kabel baja hitam. Rambutnya memanjang, diikat asal di belakang kepala.
Keempat gelang abu-abu kusam itu masih terpasang erat di kaki dan tangannya, menyedot Batu Roh tingkat menengah seperti lintah kelaparan, memberikan beban konstan delapan ton.
"Target: Pucuk bambu," gumam Awan. Uap putih mengepul dari mulutnya.
Ia menurunkan titik berat tubuhnya. Langkah Besi Jatuh.
Namun kali ini, pergerakannya berbeda. Ia tidak lagi menghentakkan kakinya dengan ledakan yang menghancurkan tanah. Enam bulan hidup di bawah beban ekstrem membuatnya menyadari bahwa menghancurkan lantai adalah bentuk "kebocoran tenaga".
Kini, ia memampatkan seluruh daya tolaknya ke dalam otot betis dan pahanya, menguncinya agar tidak merusak ubin batu di bawahnya. Kakinya ibarat pegas baja raksasa yang ditekan hingga batas maksimum.
Darah fana purbanya mendidih. Organ dalamnya bergetar sinkron dengan detak jantungnya.
WUSH!
Tidak ada ledakan tanah. Tidak ada kawah yang terbentuk. Udara di tempat Awan berdiri mendadak terbelah dengan suara lengkingan tajam, seolah ruang hampa baru saja tercipta.
Dalam seperseribu detik, sosok Awan lenyap dari tanah.
Ia melesat vertikal ke udara. Kecepatannya membelah gravitasi delapan ton yang mengikatnya. Gaya dorong dari kedua kakinya begitu absolut hingga Awan meluncur naik menembus ranting-ranting bambu, lebih cepat dari panah yang lepas dari busurnya.
Sepuluh meter. Lima belas meter. Dua puluh meter!
Awan melayang melampaui pucuk bambu ungu tertinggi. Ia berhenti sejenak di udara, membiarkan angin gunung yang beku menerpa wajah dan dada telanjangnya. Ia menatap ke bawah, melihat lautan awan dari ketinggian yang hanya bisa dicapai oleh kultivator beraliran pedang terbang.
Lalu, gravitasi akhirnya mengambil alih. Awan meluncur jatuh seperti meteor.
Mendekati tanah, ia memutar tubuhnya di udara, menekuk lututnya.
BUM.
Ia mendarat dengan ringan. Sepatu botnya sedikit menekan tanah lembek di hutan bambu, namun tidak menciptakan kawah yang merusak. Kontrol absolut atas energi kinetiknya telah tercapai.
"Progres yang menakutkan," sebuah suara memecah keheningan.
Penatua Kuang berjalan keluar dari balik bayang-bayang pohon bambu, menatap Awan dengan raut wajah rumit. "Kau melompat setinggi dua puluh meter... sambil membawa beban tambahan seberat dua ekor gajah dewasa."
"Saya hanya membengkokkan lutut, lalu meluruskannya, Guru," jawab Awan datar, mengatur napasnya. "Kapan saya boleh melepas gelang ini? Saya ingin tahu apa yang terjadi jika saya meluruskan kaki tanpa beban ini."
Penatua Kuang melempar sebuah gulungan perkamen merah kepada Awan. Awan menangkapnya dengan mudah.
"Kau akan melepasnya tiga hari lagi," kata Penatua Kuang, nada suaranya berubah serius. "Di depan seluruh tetua dan ribuan murid sekte."
Awan membuka perkamen tersebut.
[Pemberitahuan Ujian Puncak Bintang - Wajib bagi Murid Langsung]
"Klan Wu dan Klan Zhao telah menekan Pemimpin Sekte. Mereka menggunakan aturan untuk memaksamu keluar dari perlindunganku," Penatua Kuang menjelaskan. "Ujian ini menuntutmu untuk masuk ke dalam arena Formasi Pembunuh yang berisi ilusi siluman tingkat tinggi. Tujuannya adalah menguji teknik bela diri, kapasitas Qi, dan ketahanan jiwa."
Penatua Kuang mendekat, matanya memancarkan peringatan. "Tetua Wu pasti telah menyuap Tetua Formasi untuk memanipulasi tingkat kesulitan arenamu. Mereka tidak akan mengirim ilusi siluman biasa, melainkan mereka akan meningkatkan tekanannya hingga ke level Inti Emas Semu untuk membunuhmu dengan alasan 'kecelakaan ujian'."
Awan menggulung perkamen itu dengan tenang dan menyelipkannya ke balik sabuk.
"Formasi sihir, ilusi siluman, atau Inti Emas Semu," Awan mengambil pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram dari tanah hanya dengan satu sentakan pergelangan tangannya. "Pada akhirnya, mereka semua memiliki bentuk fisik yang menyokongnya. Jika ilusi itu bisa melukaiku, berarti ilusi itu memiliki kepadatan."
Awan menatap lurus ke arah alun-alun sekte utama di kejauhan, tempat di mana kematiannya sedang direncanakan dengan meriah.
"Dan selama sesuatu memiliki kepadatan," bilah Bumi Pijar di tangan Awan bergetar pelan, memancarkan resonansi Cikal Bakal Niat Pedang yang sangat buas, "pedangku bisa membelahnya."
Penatua Kuang tersenyum tipis. Sang manusia fana tidak lagi menatap langit dengan rasa iri. Ia kini menatapnya sebagai langit-langit yang harus dihancurkan.
"Beristirahatlah, Awan. Tiga hari lagi, tunjukkan pada mereka apa yang terjadi bila gravitasi fana ini dilepaskan."