NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: "Kok Tiba-tiba Nikah?"

Cuaca memang tidak memberi Arkan jalan pulang cepat.

Penerbangan menuju Balikpapan berangkat sesuai jadwal, tetapi satu jam sebelum tiba, operasi mengabarkan bandara tujuan menghentikan sementara kedatangan karena badai petir menutup area pendekatan. Pesawat di depan mulai masuk holding, sementara perkiraan pembukaan terus bergeser.

Arkan dan kopilotnya memeriksa bahan bakar. Mereka masih punya ruang untuk menunggu singkat, tetapi tidak cukup alasan untuk membakar cadangan sambil berharap landasan dibuka tepat waktu.

"Kita divert Makassar," putus Arkan.

Keputusan dikoordinasikan dengan ATC, operasi, dan awak kabin. Pesawat berbelok sebelum terjebak dalam rangkaian holding. Beberapa penumpang langsung memanggil pramugari, menanyakan koneksi dan jadwal pertemuan yang akan terlewat.

"Kapten, kabin mulai ramai," lapor purser melalui interphone. "Bisa bantu announcement?"

Kopilot muda di sebelah Arkan tersenyum. "Suara Kapten lebih meyakinkan. Wajah juga, tapi sayang penumpang nggak lihat."

"Fokus pada frekuensi," kata Arkan.

Namun, ia mengambil mikrofon kabin setelah koordinasi penting selesai.

"Bapak dan Ibu, saya Arkan, kapten penerbangan ini. Saat ini Bandara Balikpapan menghentikan sementara kedatangan karena badai petir di area pendekatan. Kami mengalihkan penerbangan ke Makassar agar mendarat dengan cadangan bahan bakar yang aman, bukan menunggu sampai pilihan kita berkurang. Setelah mendarat, tim operasi akan memberi informasi lanjutan mengenai perjalanan dan koneksi Anda. Kami memahami perubahan ini mengganggu rencana Bapak dan Ibu, tetapi keselamatan tetap menjadi keputusan pertama kami. Terima kasih atas pengertiannya."

Suara panggilan dari kabin perlahan berkurang. Bukan karena seluruh penumpang senang, melainkan karena mereka akhirnya mendapat alasan yang jelas dan rencana berikutnya.

Pesawat mendarat di Makassar dengan aman.

Karena perkiraan penundaan lebih dari dua jam, penumpang diarahkan turun ke ruang tunggu setelah koordinasi dengan station manager dan petugas keamanan. Mereka yang punya penerbangan lanjutan dicatat untuk penanganan ulang. Awak kabin tetap memberi pembaruan berkala, sementara kru kokpit menerima data cuaca Balikpapan setiap tiga puluh menit.

Arkan menandatangani laporan diversion yang mencatat waktu keputusan, kondisi cuaca, bahan bakar saat berbelok, dan bandara alternatif. Tidak ada satu pun bagian yang ditulis untuk membela diri dari keluhan. Laporan itu hanya memastikan keputusan bisa ditinjau berdasarkan data yang sama.

Seorang penumpang sempat mendekati purser dan meminta bertemu kapten. Arkan tidak keluar dari area kerja sebelum tugas kokpit selesai, tetapi ia menitipkan penjelasan bahwa tim layanan pelanggan akan menangani koneksi dan kompensasi sesuai ketentuan. Keselamatan penerbangan telah ditangani; hak penumpang tetap harus diproses melalui jalur yang benar.

Setelah parkir dan prosedur selesai, Arkan melihat pesan Laras yang dikirim sebelum keberangkatan.

Laras:

Semoga cuacanya baik dan kamu bisa pulang malam ini.

Arkan memotret langit Makassar yang gelap oleh awan, lalu membalas.

Arkan:

Restumu kurang tulus. Kami divert Makassar.

Laras:

Jangan salahkan aku. Aku libur, bukan pengendali cuaca.

Arkan:

Mbak pengatur lalu lintas nggak bisa atur awan?

Laras:

Kalau bisa, semua pilot pasti antre minta tolong.

Senyum Arkan muncul begitu saja. Kopilot yang sedang menunggu dokumen operasi melirik, lalu memilih tidak berkomentar.

Cuaca Balikpapan membaik beberapa jam kemudian. Mereka melanjutkan perjalanan setelah pengisian bahan bakar, pemeriksaan ulang, dan slot keberangkatan tersedia. Sektor lanjutan berlangsung lancar, tetapi penundaan panjang telah menghabiskan sebagian besar waktu tugas.

Jika mereka mengambil sektor ketiga sesuai rencana awal, perkiraan selesai akan melewati batas flight duty period yang berlaku pada roster hari itu, maksimal empat belas jam. Operasi mengalihkan sektor tersebut kepada kru cadangan dan menempatkan Arkan beserta timnya untuk bermalam. Mereka berhenti sebelum batas terlampaui, bukan setelahnya.

Di Jakarta pada hari kedua, Laras menerima telepon dari Reyhan.

"Mas Rey?" sapanya.

"Akhirnya nomormu masih aktif," kata Reyhan sambil tertawa. Suaranya tetap hangat seperti yang Laras ingat. "Mama Wulan bilang kamu libur. Makan siang bareng? Aku mau mampir sekalian."

"Mama juga ikut?"

"Sudah pasti. Kalau aku mengajakmu sendiri, nanti beliau protes nggak diajak."

Mereka bertemu di sebuah restoran tidak jauh dari Kopi Wulan. Reyhan datang lebih dulu dengan kemeja biru gelap. Usianya beberapa tahun di atas Laras, pembawaannya tenang, dan ada bekas lelah seorang pilot yang baru menyesuaikan diri dengan pola long haul.

"Selamat untuk B777-nya," kata Laras setelah mereka duduk.

"Terima kasih. Konversinya bikin aku merasa jadi siswa lagi." Reyhan menatapnya sambil tersenyum. "Kamu sendiri kelihatan beda."

"Lebih tua?"

"Lebih tenang."

Wulan tiba membawa satu tas oleh-oleh, lalu langsung mengambil alih percakapan. Ia menanyakan basis baru Reyhan, jadwal penerbangan, dan kabar keluarga Handoko. Reyhan menjawab dengan sabar, sesekali membantu menuangkan teh untuk Wulan dan Laras.

Handoko pernah hadir dalam hidup mereka setelah Wulan berpisah dari Darmawan. Hubungan itu tidak sempat menjadi pernikahan, tetapi cukup dekat hingga Reyhan sering mengantar obat ketika Laras sakit dan membantu memperbaiki barang di rumah. Setelah Handoko meninggal, kebiasaan saling menjaga tetap bertahan.

Karena itulah Laras memanggilnya Mas Rey. Bukan karena ada hubungan darah atau status hukum, melainkan karena Reyhan selama bertahun-tahun menempati ruang seorang kakak yang bisa dihubungi ketika Wulan membutuhkan bantuan.

"Mama masih simpan mesin kopi kecil pemberian Papa," kata Wulan.

Reyhan tersenyum. "Yang suaranya lebih keras daripada grinder?"

"Masih berfungsi. Laras yang selalu protes kalau Mama nyalakan pagi-pagi."

"Karena satu rumah bisa bangun," kata Laras.

Mereka tertawa. Bagi Laras, percakapan itu hanya membawa kehangatan keluarga lama. Bagi Reyhan, pemandangan Laras duduk di seberangnya menghidupkan kembali semua tahun ketika ia mengira masih punya banyak waktu untuk mengatakan sesuatu.

Tidak ada satu pun tindakannya yang melampaui kedekatan keluarga lama. Namun, setiap kali Laras tertawa, tatapan Reyhan berhenti sedikit lebih lama daripada yang seharusnya.

"Mama belum cerita kabar terbesar," kata Wulan tiba-tiba.

Laras langsung tahu arah pembicaraan itu.

"Kabar apa?" tanya Reyhan.

"Laras sudah menikah. Akadnya beberapa minggu lalu."

Tangan Reyhan yang sedang mengangkat cangkir berhenti di udara.

"Menikah?"

"Iya." Wulan tersenyum bangga. "Suaminya Arkananta Wibisana, kapten Angkasa Nusantara. Mereka teman satu sekolah dulu."

Reyhan meletakkan cangkir perlahan. Senyum masih ada di wajahnya, tetapi kehangatannya menipis.

"Selamat, Ras," katanya. "Kenapa nggak kasih kabar?"

"Semuanya cepat. Aku belum sempat menghubungi banyak orang."

"Kalian sudah lama dekat?"

"Nggak. Kami bertemu lagi karena dikenalkan Mama dan Bu Ratna."

Jawaban itu seharusnya membuat pernikahan tersebut terdengar sederhana. Justru karena itulah Reyhan semakin sulit memahami. Perempuan yang selama ini selalu berhati-hati tiba-tiba membuat keputusan terbesar tanpa sepatah kabar kepadanya.

Ia menatap cangkir yang sudah kosong, lalu kembali menatap Laras. Senyumnya akhirnya menghilang.

"Kok bisa tiba-tiba kepikiran nikah, Ras?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!