Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Mencari Jawaban
Ummi Nayla mengatur pertemuan Ameer dengan Hana, agar kedua anak muda itu segera berbicara mengenai perjodohan mereka. Tentu saja itu membuat Ameer bingung harus bagaimana, sebab ia sudah sangat yakin dengan keputusannya untuk menolak perjodohan ini.
Namun, Ameer tak bisa menolak ketika sang Ibu yang memintanya.
"Apa yang perlu kita bicarakan, ya?" tanya Hana memulai pembicaraan karena sudah beberapa menit mereka bersama terapi keduanya sama-sama bungkam.
Saat ini Hana dan Ameer sedang ada di restauran milik kakak Hana.
"Jujur saja, sebenarnya aku juga tidak tahu harus berkata apa," kata Ameer. "Aku bingung."
"Kamu sangat mencintainya?" tanya Hana dengan tenang, bahkan sambil tersenyum lembut.
"Aku tidak tahu." Ameer menjawab sambil meringis.
"Yakinkan hatimu," seru Hana. "Jika kamu mencintainya, kejar dia. Dan jika kamu tidak mencintainya, Abi menunggumu di rumah."
Kata-kata Hana membuat Ameer tersenyum, bahkan yang tadi dia merasa resah kini merasa tenang.
"Hana, aku tidak janji jadi tolong jangan berharap," ujar Ameer.
"Aku tahu," sahut Hana kemudian dia menyeruput jusnya. "Aku pun tidak terburu-buru untuk menikah, aku Masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama orang tuaku."
"Jika ada pria saleh yang melamar mu, mungkin kau bisa memikirkannya kembali."
Hana tertawa dan mengangguk.
Tak jauh dari sana, Riana mengawasi mereka dan Riana sangat penasaran dengan keputusan Ameer dan Hana.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," kata Ameer kemudian. "Aku harus kembali ke kantor."
"Iya," sahut Hana masih dengan senyum lembutnya. "Jangan lupa mencari jawaban dari keinginan hatimu sendiri, Ameer. Itu sangat penting," seru Hana memperingatkan dan Ameer pun hanya mengangguk.
Saat Ameer sudah pergi, Riana langsung menghampiri Hana dan bertanya apa saja yang sudah mereka bicarakan.
"Apa Ameer sudah membuat keputusan, Dek?" tanyanya.
"Belum, dia masih mencari jawabannya." Jawaban Hana membuat Riana melongo, sementara sang Adik kini justru melengos pergi begitu saja.
"Hana?" panggil Riana.
"Jangan lupa siapkan makan siang kakak ipar, Mbak," sahut Hana sambil terkekeh.
...🦋...
"Jadi kamu masuk rumah sakit cuma karena lapar?" tanya Mami Lala yang baru saja pulang ke rumah.
"Mama kenapa pulang lagi?" Meizia justru bertanya tanpa memperdulikan pertanyaan sang Ibu.
"Terserah Mama dong, ini 'kan rumah Mama," jawab Mami Lala sedikit ketus. "Lain kali jaga kesehatan, Mei, kamu mau mati sia-sia?"
Meizia hanya mendelik, sementara ibunya kini melepas sepatu dan jaketnya dan melempar kedua barang itu sembarangan.
"Ma, aku mohon Mama jangan bawa laki-laki lagi ke sini," cicit Meizia. "Malu sama tetangga," imbuhnya.
"Aduh, Mei, untuk apa kita memikirkan tetangga? Kita tidak makan dari mereka." Lagi-lagi wanita paruh baya itu menjawab dengan ketus.
"Aku tahu, tapi malu, Ma," balas Meizia merengek.
"Dari pada memikirkan tetangga, lebih baik kamu beli makanan sana! Mama lapar!"
Mami Lala menyodorkan beberapa lembar uang pada Meizia. "Jangan lambat, okay? Mama sudah sangat lapar!"
"Iya!" Kali ini Meizia berbicara dengan ketus pula.
Saat Meizia berjalan melewati beberapa rumah, orang-orang yang ada di dalam rumah menatap Meizia dengan sinis. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menghina Meizia sebagai wanita yang tak punya harga diri. Namun, Meizia harus menerima semua itu, kan? Sebab memang itu faktanya.
🦋
Ameer tak pergi ke kantor setelah bertemu dengan Hana. Melainkan ia menemui salah Kakeknya yang telah banyak memberikan berbagai ilmu pengetahuan pada Ameer sejak dia masih kecil.
Kakeknya itu tinggal bersama Sidiq, seorang ART bekerja sudah puluhan tahun dengannya.
Alasan Kakek Ameer tak tinggal bersama salah satu anaknya karena ia ingin menetap di rumah yang selama ini ia tinggali bersama mendiang istrinya, alasan yang membuat Ameer sangat mengagumi cinta sejati sang kakek.
"Kakeh sudah makan?" tanya Ameer saat melihat meja makan sedikit berantakan.
"Sudah," jawab sang Kakek sembari mengambil air minum. "Tumben kamu ke sini siang-siang, Meer, ada keperluan penting?"
"Iya, Kek," jawab Ameer dengan raut wajah yang tampak lesu.
"Baiklah, kita bicara di halaman belakang," kata sang Kakek. Sebelum pergi, ia meminta Sidiq membuatkan Ameer kopi.
"Jadi, kamu mau bicara apa?" tanya Kakek sembari mendaratkan bokongnya di kursi goyang itu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bercerita padamu, Kek," tukas Ameer. "Aku sedang mencari jawaban dari pertanyaan yang sulit."
"Apa ini tentang perempuan?" tebak Kakek. "Aku dengar ayahmu mau menjodohkan kamu dengan Hana," ujarnya.
"Apa hanya abi cuma bercerita itu?" cicit Ameer dan sang Kakek mengangguk pasti.
"Apa kamu ingin menolak perjodohan itu?" Kakek kembali mengajukan pertanyaan.
"Hatiku tidak menginginkannya, Kek," jawab Ameer.
"Alasannya?"
"Ada wanita lain di hatiku."
"Oh ya? Kalau begitu bawa saja wanita itu ke orang tuamu, mereka bukan tipe orang tua yang akan memaksa anaknya dalam suatu hal. Mereka pasti mengerti."
"Mereka tahu tapi mereka memintaku melupakannya."
"Kenapa??"
"Karena dia ... dia ...."
"Apa ada yang salah dengan wanita itu?"
"Dia seorang wanita malam, Kakek."