NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Jam istirahat pertama.

Alice baru saja selesai menyantap makan siangnya di kelas, suara langkah kaki terdengar mendekat. Alice menoleh. Rey bersama gengnya—Mike, Stella, dan Megan—berjalan masuk.

"Ada apa?" tanya Alice hati-hati, mencoba memberanikan diri menyapa lebih dulu.

Wajah mereka terlihat dingin. Namun, detik berikutnya, senyum ramah dan sapaan manis terlukis di wajah mereka.

Alice mengerutkan dahi. Ini... tidak seperti biasanya. Ada apa dengan mereka?

"hai Alice, apakah kau mau membantu kita?" ucap Megan  tersenyum ramah 

"Ya Alice kita sangat membutuhkan bantuanmu."timpal Stella 

"A... apa yang bisa kubantu?" jawab Alice ragu.

Keempatnya saling bertukar pandang. Ada kilatan licik yang tak disadari Alice, karena ia menundukkan kepala, enggan menatap lama-lama wajah mereka.

Tak lama kemudian...

"Kalian bilang mau ke perpustakaan belajar bersama. Kenapa malah ke sini?" tanya Alice bingung.

Ia berdiri di rooftop sekolah, angin sore menyapu pelan.

Stella dan Megan hanya tersenyum miring. Rey dan Mike duduk santai di pagar, mengeluarkan rokok dari saku celana, lalu menyalakannya.

Alice mulai sadar ada yang tidak beres. Tangannya mengerat memeluk buku-buku yang ia bawa. Perlahan ia mundur, berniat pergi.

Namun, langkahnya terhenti.

"Mau ke mana, Alice?" cegah Stella sambil mencengkeram pergelangan tangan Alice kasar.

"Aku mau kembali ke kelas." Alice berusaha menarik tangannya, tapi Stella menariknya kuat hingga tubuh Alice terhuyung jatuh di depan Rey dan Mike.

"Kenapa buru-buru, Cupu?" sindir Mike sambil menghisap rokoknya, asapnya dihembuskan perlahan ke udara.

"Ya, kenapa terburu-buru? Kita kan belum belajar," tambah Megan.

"K-kalian tidak sungguh-sungguh mau belajar," ucap Alice pelan.

Rey tertawa dingin. "Bagus. Ternyata kau sadar kalau kita tidak mau belajar..."

"...tapi memberi pelajaran untukmu," sambung Stella dengan nada tajam.

Detik berikutnya—Alice memekik tertahan. Salah satu dari mereka menginjak tanganya. Setelah itu, tubuhnya dipaksa berdiri. Rey mendekat, rokok menyala di tangannya, lalu diarahkan ke telapak tangan Alice.

Alice berteriak kesakitan. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi Mike menahan pergelangan tangannya dengan kuat.

Beberapa detik kemudian, Mike melepaskan cekalannya. Rey menarik rokoknya, meninggalkan bekas merah di tangan Alice.

Keempatnya tampak puas. Alice berdiri sambil meniup-niup telapak tangannya yang terasa perih.

"Kenapa kalian melakukan ini? Apa salahku?" tanyanya dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.

Mereka hanya tersenyum sinis.

"Kau mau tahu alasannya?" kata Stella.

"Kita melakukan ini karena kau sudah merebut Danzel!"

"Ya," sambung Megan. "Sejak Danzel berteman denganmu, dia menjauh dari kita."

"Seperti tadi pagi. Ibu guru membandingkan kita dengan Danzel. Semua karena kau." Rey mendesis.

"Padahal dulu dia sama brengseknya seperti kita. Dan kita  mau dia kembali seperti dulu lagi," lanjutnya.

Alice menatap mereka dengan bingung. "Tapi... aku tidak memaksanya. Danzel berteman denganku karena keinginannya sendiri."

Ucapan itu membuat mereka makin kesal.

"Berani sekali menjawab, ya!"

Plak!

Tamparan keras dari Megan mendarat di pipi Alice.

Stella langsung menjambak rambutnya kasar. Rey dan Mike hanya menonton, tidak menghentikan.

Pintu rooftop tiba-tiba terbuka.

Danzel berdiri di sana.

Suasana seketika menegang. Stella buru-buru melepaskan rambut Alice dan pura-pura merapikannya. Mike cepat-cepat memunguti buku Alice yang berserakan.

Mereka sudah mendengar langkah seseorang mendekat, tapi tak menyangka yang muncul adalah Danzel.

Alice menatap Danzel sedikit lega.

Danzel berjalan mendekat, tatapannya penuh curiga. "Apa yang kalian lakukan di sini bersama Alice?"

Sebelumnya, ia mencari Alice ke kelas, tapi tidak menemukannya. Ia bertanya ke beberapa siswa dan mendapat kabar samar bahwa Alice terakhir terlihat bersama geng Rey.

Wajah Stella dan Megan menegang. Rey dan Mike mencoba bersikap santai.

"Ehh... D-Danzel, kau di sini?" sapa Megan kikuk.

"Tidak ada yang jawab pertanyaanku? Kenapa Alice bisa di sini bersama kalian?" tanya Danzel lagi, suaranya lebih tegas.

"Kita... belajar. Ya, belajar," jawab Mike cepat.

"Benar. apakah kau ingat ucapan Bu Guru yang menyuruh kita belajar bersama Alice," timpal Megan, memaksakan senyum. "Benar kan, Alice?"

Alice terdiam.

Rey mendekat dan berbisik di telinganya, “Jangan coba-coba mengadu pada Danzel... atau kau akan tahu akibatnya.”

Alice merinding. Menelan ludahnya, ia berkata, "Y-ya... benar. Kita sedang belajar." Ia berusaha menyembunyikan telapak tangannya yang memerah dari pandangan Danzel.

"Belajar di rooftop?" Danzel menatap mereka tajam. "Bukankah kalian bisa belajar di kelas?"

"Oh, ayolah, Danzel. Belajar bisa di mana saja. kita tidak melakukan apa-apa pada Alice," jawab Rey pura-pura santai.

Danzel diam. Ia tidak percaya sepenuhnya.

"Ayo, Alice. Kita kembali ke kelas."

Ia mengambil buku Alice dari tangan Mike, tatapannya masih menusuk ke arah gengnya. Mike hanya menelan ludah.

Alice berjalan di belakang Danzel meninggalkan rooftop. Sepanjang perjalanan, Danzel beberapa kali menanyakan apakah teman temannya itu menyakitinya. Alice hanya menggeleng dan berbohong. Ia tidak ingin membuat Danzel membenci teman-temannya lebih dari sekarang—apalagi karena dirinya.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!