#penghianatan
Dia pergi meninggalkan keluarganya karena sakit hati, wanita yang dicintainya menikah dengan pria lain yang usianya jauh di atas dirinya. Setelah kembali, dia menyadari jika semua yang terjadi pada kekasih hatinya tidaklah seperti yang dinilainya selama ini. Padahal dia sendiri sudah menikahi wanita lain, bahkan memiliki banyak hutang.Apakah benar, hidup sebercanda ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Sama Saja
Semua Sama Saja
Usfi menarik napas dalam demi mendinginkan hatinya sendiri dan mengusir pikiran kotor yang, dihembuskan setan dalam pikirannya. Sungguh mahkluk gaib itu selalu tahu celah menggoda manusia, untuk marah sebab kemarahan merupakan pintu yang paling mudah dimasukinya.
Semua ucapan orang kadang ada benarnya, tapi, dia lebih mengutamakan prasangka baik pada suami dan semua orang yang berada di dekatnya. Baginya, hati membutuhkan akal untuk memikirkan dan akal membutuhkan hati untuk merasakan.
‘Bukankah semua orang punya kelemahan,' pikirnya, ‘dan bila kelemahan suamiku adalah wanita, maka tidak ada yang bisa menundukkannya kecuali, wanita juga.’
“Naura sudah besar ... sebagai Kakak yang baik, kamu harusnya bisa ngasih contoh buat adik-adikmu. Malam-malam begini keluar rumah, kalau kamu yang perempuan saja begini, apalagi adikmu yang laki-laki!”
“Tante nggak usah ngalihin perhatian, deh! Aku bisa jaga diri, kok! Tante juga masih di luar malem-malem begini, ngapain coba? Kayak gitu ngomongin Noura. Pikir dulu perbuatan sendiri, introspeksi, baru ngomong!”
Usfi semakin kesal dengan ucapan Noura, bukan karena dia tidak mau introspeksi diri seperti yang dikatakannya tapi, gadis remaja itu tidak akan berhenti untuk menyudutkannya, selama hatinya masih marah. Dia semakin tidak terkendali sebagai pelampiasan kesal pada papanya.
Dia anak yang posesif dan sangat mencintai orang tua laki-lakinya itu, melebihi sayangnya pada Maisha, bahkan kecemburuan Noura pada Usfi lebih besar dari kecemburuan mamanya.
Maisha sebenarnya mendidik anak-anak dengan baik, hingga mereka mau berdamai dengan papanya yang memiliki istri selain mama mereka. Namun, kalau soal waktu yang terlewat sedikit saja, maka, gadis remaja ini bisa marah pada semua orang yang terlibat dengan Anwar—papanya.
Di lain sisi, Noura gadis yang baik dan rajin menabung. Dia tidak mengandalkan kekayaan papanya demi menjaga gengsi dan penampilan.
Pernah suatu ketika dia ingin bersyukur atas hari kelahirannya. Dia ingin merayakan, bersama banyak orang untuk makan bersama. Alih-alih membuat pesta, dia justru membagikan nasi box pada anak yatim, di beberapa panti asuhan, hasil menabung dari uang jajannya selama setahun.
Usfi pun, sempat terkagum-kagum dengan aksi nyata Noura itu, yang katanya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Maisha dan Anwar mengetahui kegiatan anaknya itu, setelah melihat kabar di media sosial.
Bukannya dia mengabaikan orang tuanya sendiri, tapi, karena selama ini Maisha selalu melarangnya merayakan ulang tahun, dengan cara pesta yang tidak ada manfaatnya, bahkan acara seperti itu bagi ibunya, adalah cara yang kurang tepat dalam mensyukuri nikmat sesuai pandangan agama.
“Kita sebaiknya mengisi sisa umur dengan banyak ibadah dan bersyukur, Ra ...!” kata Maisha setiap kali Noura ingin merayakan hari lahirnya seperti anak-anak lainnya.
“Lebih baik, uangnya disedekahkan ... bukannya tidak boleh pesta, tapi, kalau Cuma mau bersenang-senang, namanya mubazir, Ra. Kalau mau berbagi itu, kapan saja tidak harus pas hari ulang tahun. Kamu memang punya orang tua kaya, tapi, bukan berarti kamu boleh sesuka hati menggunakannya, lebih baik kamu belajar berhemat, itu lebih bermanfaat!”
“Tapi, Ma! Ulang tahun itu kan bukti juga kalau kita bersyukur?”
“Iya, bersyukur si bersyukur, tapi caranya, gak bagus dengan pesta seperti itu, Mama nggak suka!”
Begitulah akhirnya Noura pun, memikirkan caranya sendiri untuk bisa berbagi, membuat Anwar dan Maisha pun berbangga hati.
Usfi mendekat dan menepuk bahu Noura lembut, seraya berkata, “Kamu harus tahu, kalau Tante juga sudah berbuat banyak, termasuk kerelaan untuk nggak punya anak, semua atas kemauan Papamu dan semua sudah Tante turuti, kalau pada akhirnya Papa menikah lagi, Tante juga tidak tahu harus berbuat apa lagi.”
Usfi akhirnya mengalah dan mengatakan kalau dirinya akan pulang dan, berjanji untuk memberikan informasi apa pun, tentang papanya yang susah di hubungi melalui telepon, akhir-akhir ini.
Setelah kepergian Noura yang mengendarai motor, Usfi melihat Gani yang berdiri di dekat mobilnya. Dia mengabaikan pria itu dan masuk ke mobil, walaupun penasaran sekali, apakah laki-laki itu mendengar semua pembicaraannya dengan Noura tadi.
“Tunggu!” kata Gani sambil berdiri di samping mobil Usfi dan menahannya.
“Apa, Bang? Sudah malam, aku harus pulang!”
“Kenapa? Takut ada fitnah, takut kalau yang ketiga di antara kita ada setan’?”
“Ya, lah, Bang.”
“Kalau mau bilang soal godaan setan, waktu kita sholat juga setan nggak pernah berhenti menggoda, apalagi sekarang?”
“Ya! Terus Abang mau apa? Membiarkan setan menggoda kita?”
“Nah, jadi masalahnya itu, bukannya soal setan ada atau tidak, tapi, sekuat apa kita bisa menahan godaannya, karena setan itu pasti ada!”
“Ya udah, kalo gitu biar saya pulang, awas tangannya, Bang!” kata Usfi sambil memegang pintu mobil, yang terdapat tangan Gani di sana.
“Siapa perempuan tadi? Kalau dia nggak buru-buru pergi, udah aku sumpal tuh mulutnya pake sambel terasi!”
“Emang Abang bawa sambelnya? Udah deh, Bang! Nggak usah ikut campur urusan orang!”
“Siapa dia? Jawab aku dulu, On!” Gani berkata sedikit keras karena rasa penasarannya. Hilang sudah rasa hormat saat berada di pos sayur, di mana Usfi menjadi bosnya.
Hanya beberapa orang saja yang tahu masa lalu Gani dan Usfi, bahwa keduanya adalah pasangan yang dari dulu tidak pernah akur. Mereka adalah teman yang seumuran, yang tetap bertahan di kampung dan tahu, betapa seringnya mereka bertengkar, seperti saat ini pun demikian.
“Abang denger omonganku tadi sama dia?”
“Ya!”
Usfi menatap Gani sekilas, tiba-tiba dia merasa kesal beberapa kali lipat lebih banyak. Sebenarnya dia berharap bila pria itu tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
Namun, kesabarannya masih terus diuji dengan beberapa orang yang berbeda hari ini.
Pagi harinya dia disibukkan dengan asisten rumah tangganya yang tiba-tiba sakit perut, hingga dia harus membawanya ke Puskesmas. Lalu, dia pun menggantikan pekerjaannya membersihkan rumah.
Oleh karena itu dia terlambat datang ke pos. Sementara suaminya terus saja tidak bisa dihubungi, bahkan sudah hampir dua pekan mereka seperti kehilangan kontak.
Sementara dia bukan ingin mengganggunya, melainkan membutuhkan kesepakatan tentang, permintaan tambahan untuk sayuran di Carrefour. Tentu saja hal ini membutuhkan persetujuan, apakah mereka bisa memenuhinya atau tidak. Sementara mereka harus memberi jawaban secepatnya tapi, suaminya itu tidak juga merespon, baik melalui panggilan maupun pesan pribadi.
Sesampainya di pos siang harinya, dia harus dikesalkan dengan kedatangan Juna yang bertengkar dengan Gani, tapi dia mengabaikan karena Joko berhasil melerai.
Sepulang bekerja, dia harus mengalami pecah ban, dan roda mobilnya baru selesai di perbaiki setelah waktu Maghrib datang, bahkan dia belum sempat pulang.
Setelah sholat, dia lapar dan, memutuskan untuk makan di restoran sederhana pinggir jalan. Saat itulah tiba-tiba saja Noura menghampiri dan membuatnya gerah. Lalu, sekarang Gani ada di depannya menambah masalah dan dia semakin kesal dibuatnya.
Astagfirullah! Batinnya.
“Dia Noura, Bang. Anak perempuan Mbak Mai!”
“Dia nggak sopan sekali, sama kamu. Nggak pantas!”
“Sebenarnya anak itu baik, kok! Jangan melihat sesuatu hanya sepintas saja, Bang.”
“Kamu belain dia? Anak itu udah kurang ajar sama kamu, On!”
Usfi pasrah mendengar Gani yang terus memanggil namanya begitu, dia kesal walaupun tahu, panggilan Gani adalah bagian dari namanya juga.
“Iya, iya biarin ajalah, kan, cuma sama aku dia kurang ajar, ngapain Abang yang pusing, sih?”
“Aku nggak pusing aku cu—“
“Ah, udah ..., pulang gih Bang! Dari pada gangguin istri orang. Oh ya, jangan sampai keceplosan ya, panggil aku Oon di depan semua orang di Pos, kamu bisa digebukin mereka nanti!”
“Biarin aja aku digebukin, aku nyaman manggil kamu seperti itu, On!”
“Bang, aku minta seperti itu bukan karena gila hormat, tapi, biar kamu juga dihargai! Gimana orang mau menghargai kalau kita sendiri nggak bisa menghargai orang lain. Pada dasarnya apa yang kita lakukan akan kembali pada kita sendiri di kemudian hari. Apalagi mengatas namakan kenyamanan, buat apa nyaman kalau pada akhirnya hanya sakit yang kita dapatkan?”
“Ck! Mana adalah begitu, kamu aja kayak nggak nyaman hidup jadi madu pahit!”
Bersambung
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
lanjut baca dulu ya...