"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_27
Hari telah berganti. Bulan yang semalam setia menggantung kini undur diri, digantikan mentari yang menyibak langit Bandung dengan cahaya berbinar. sedangkan di sebuah lorong rumah sakit yang masih berbau antiseptik, Narendra dan Bayu sudah tampak sibuk mengurus dua hal yang sama-sama penting, kepulangan Raka dan nasib mobil yang ringsek akibat kecelakaan itu.
Bayu menggeser ponselnya ke arah Narendra. Di layar, terpampang foto-foto terbaru mobil Raka, kap depan mengerut tak berbentuk, kaca retak pecah di semua bagian, dan bodi samping yang penuh goresan
“Ini mau dibawa balik apa adanya, atau kita beresin dulu di sini?” tanya Bayu, nada suaranya datar
Narendra melirik sekilas, lalu menghela napas pendek. “Kalau dibawa balik begini, bisa histeris ciwi-ciwi di rumah. ” seliroh Narendra
Bayu terkekeh kecil. “Iya juga, ya. Berarti servis di Bandung aja?”
“He’em. Lo ada kenalan bengkel yang bagus gak?”
Bayu menepuk-nepuk dadanya dengan gaya congak khasnya. “Ada dong. Di mana bumi gue pijak, di situ kenalan gue membludak.”
“Serah lo lah,” ujar Narendra sambil berbalik. “Pokoknya gue tinggal terima beres.”
Narendra melangkah keluar ruangan, menyisakan Bayu dengan urusan logistik yang panjang. Sementara itu, Raka masih menjalani rontgen terakhir. Dokter tak mau mengambil risiko—perjalanan yang akan ditempuh jauh, dan kondisi Raka harus betul-betul stabil sebelum ia diizinkan pulang.
Di sudut lain, Bayu sedang melakukan panggilan video dengan Sherin, istrinya. Wajah Sherin memenuhi layar, senyumnya hangat meski dipisahkan jarak.
“Tadi kamu belum jawab,” ujar Sherin lembut. “Soal rencana akhir pekan.”
Bayu hendak menjawab ketika ponselnya bergetar lagi. Satu panggilan lain masuk—nama Ajeng berkedip-kedip tanpa henti.
“Bah, nenek lampir ngapain nelpon gue,” gumam Bayu.
“Kok diem?” tanya Sherin.
“Eh, iya sayang,” Bayu berusaha kembali fokus. “tadi soal—”
Panggilan Ajeng tak berhenti. Bayu mendecih. Setelah mencari-cari alasan yang cukup masuk akal untuk mengakhiri panggilan video sang istri, ia akhirnya menutupnya.
Begitu layar padam, Bayu menggeser tombol hijau. “Halo.”
“Halo? Narendra mana?” suara Ajeng langsung meledak, tanpa aba-aba
Bayu menyeringai. “Lo pikir gue malaikat Raqib Atid yang nempel terus sama Narendra?”
“Hahaha gak lucu. Di mana dia? Gue mau ngomong.”
“Kalau mau ngomong sama Narendra, kenapa nelponnya ke gue?” sahut Bayu malas.
“Karena dia gak bisa dihubungin! Dari kemarin! Sekalinya nyambung malah di panggilan lain terus,” Ajeng mendesis.
Bayu terdiam sejenak. Otaknya bekerja cepat. Ia teringat bagaimana setelah Raka dipindahkan ke ruang rawat, Narendra sibuk dengan ponselnya. Ia juga teringat samar-samar suara telepon larut malam—dan ternyata itu bukan Ajeng.
Senyum licik terbit di wajah Bayu.
“Narendra lagi sibuk ngurus iparnya yang kecelakaan,” katanya ringan. “Belum lagi nenangin Rayna yang nangis terus. Jadi kalau lo nelpon gak keangkat, mungkin lagi nelpon Rayna.”
Di seberang, terdengar helaan napas tajam. “Dia lebih milih nelpon perempuan gila itu daripada gue? Suruh dia nelpon gue sekarang!”
Bayu tertawa kecil. “Kalau perempuan gilanya secantik Rayna, gue juga bakal nempel terus.” Ia menambahkan, setengah mengejek, “Lagipula, lo jadi cewek kok gak tau diri banget. Cemburu sama istri sah.”
Tut—sambungan terputus.
Bayu menatap layar ponselnya, lalu mengangkat bahu. Ia memilih menyimpan cerita itu sendiri.
---
Semua administrasi selesai menjelang siang. Raka diizinkan pulang, namun bukan dengan mobil. Atas saran dokter—dan keputusan keluarga—mereka akan menggunakan pesawat pribadi. Lebih aman, lebih cepat, dan memberi Raka ruang untuk beristirahat.
Sekitar pukul sepuluh pagi, rombongan bergerak menuju bandara. Landasan tampak lengang, hanya sebuah jet kecil berwarna putih yang menunggu dengan pintu terbuka. Angin menyapa lembut ketika Raka, dengan langkah hati-hati, dibantu naik.
Di dalam kabin, kursi-kursi empuk telah disiapkan. Seorang tenaga medis ikut serta, memastikan kondisi Raka tetap terpantau. Bayu duduk di depan, sementara Narendra menemani Raka di baris belakang. Begitu mesin menderu dan pesawat meluncur, rasa lega perlahan mengalir.
Raka terlelap tak lama setelah lepas landas—obat penenang membantu menenangkan tubuhnya. Narendra memilih diam, menatap jendela, pikirannya melayang jauh.
Pesawat mendarat mulus di Solo menjelang sore. Dari bandara, mereka langsung menuju kediaman Rusdiantoro. Senja sudah menggantung ketika rombongan tiba. Halaman luas rumah itu penuh mobil—tanda semua orang sudah menunggu.
Pintu terbuka, dan sambutan pun mengalir. Ardi dan Bagas menyusul, disusul Farah dan Fani yang baru kembali dari Singapura. Dua orang lain—pasangan suami istri—berdiri di sisi, wajah mereka asing bagi Narendra.
Namun mata Narendra mencari satu sosok. Tak ditemukannya.
“Sayang!” Fani menubruk Raka, air mata dan syukur bercampur. Farah memeluk Narendra, erat, bangga. Ada kelegaan seorang ibu melihat putranya menjalankan peran dengan baik—sebagai suami, anak, dan saudara.
Raka dibawa ke kamar. Fatma menyusul, membanjiri Raka dengan pelukan dan kecupan. Pemandangan itu mengusik ingatan Narendra terbesit pikiran apakah kelak ia akan bisa seperti itu bersama Rayna?
“Cari siapa, Mas?” Farah menatapnya dengan senyum menggoda.
“Rayna di mana, Mah?”
“Ada di kamarnya. Kayaknya lagi gak enak badan.”
“Gak enak badan?” Narendra langsung berbalik.
“Far,” ujar Fani pelan, “tolong suruh Naren jagain Rayna dulu ya.”
“Emang adek kenapa?” tanya Raka.
“Sejak pagi muntah-muntah terus, ” jawab Farah. “Sekarang istirahat.”
“Rayna hamil?” Raka menebak.
“Itu yang kita semua harapkan,” Farah tersenyum.
sedangkan Ardi, Bayu, dan Bagas saling pandang. karena hanya mereka bertiga yang tahu kenyataan pahit di balik pernikahan itu.
---
Di kamar, Rayna berbaring, menghirup aroma minyak kayu putih. Kepalanya pening, perutnya bergejolak.
Klik. suara pintu terbuka menarik perhatian Rayna
“Assalamu’alaikum.” suara barito itu terdengar begitu teduh
“Wa’alaikum salam.” jawab Rayna lirih
Pandangan mereka bertaut. Detak jantung seolah beradu, masing-masing sibuk menata napas.
“Kata Mamah kamu sakit?” Narendra seketika melangkah mendekat.
“enggak kok, cuma kecapekan aja” Rayna tersenyum tipis.
Aroma parfum Narendra memenuhi ruang. membuat suasana terasa lebih emosional
“Udah dipanggilin dokter?”
“Mamah nawarin, tapi aku bilang gak usah.”
Narendra mengangguk. “Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu.”
Rayna menahan senyum ketika Narendra menghilang ke kamar mandi. Sepuluh menit berlalu. Mual tiba-tiba menyerang keras. Rayna berlari, membuka pintu tanpa pikir panjang.
“Woy—” Naren hampir mengumpat saat tiba-tiba Rayna menyeruak masuk ke kamar mandi
“Huek!”
Narendra terdiam sepersekian detik. Ia segera melilitkan handuk dan menghampiri. Tangannya dengan cepat memijat tengkuk Rayna dengan lembut.
“Masih mual?”
Rayna hanya mengangguk, tubuhnya melemah. Narendra sigap mengangkat dan menggendongnya, membaringkan di ranjang.
“Lebih baik?”
Rayna mengangguk kecil.
Narendra bergegas berganti pakaian. beberapa menit kemudian Naren sudah keluar dengan kemeja putih bermotif garis abstrak hitam di padu dengan sarung putih tulang
“Aku ke bawah sebentar ya,” pamitnya
Rayna menatapnya, lalu berujar lirih, manja, dan ragu“ bisa minta tolong balurin minyak kayu putih ke perutku dulu gak Mas? Aku lemes banget,”
Tatapan mereka bertemu. Sunyi menggantung, Narendra membeku di bawah tatapan sendu Rayna
plisss dong kk author tambah 1 lagi