AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15: playing with heart [3]
KETIKA mendengar jawabannya yang penuh keyakinan, aku sejenak terdiam melihat metrea yang membulat sempurna dan tatapan yang hanya dimiliki oleh anak kecil itu. Maka, membuang napas dan memalingkan wajah, aku kembali menatapnya. “Bagaimana bisa kau adalah seekor burung? Kau kan tadi tidak bisa terbang. Jadi, kau itu bukan burung tetapi ulat.”
“Tetapi, El kan juga tidak bisa melata?”
Hamon yang sejak tadi memperhatikan akhirnya terbatuk-batuk dengan sengaja. Dia memalingkan wajha, berupaya mengontrol eskpresinya yang jelas bercampur bingung dan jelas ingin tertawa. Sementara itu, Elora terus memandangiku dengan bola mata biru cerahnya yang besar seperti sedang melancarkan serangan. Aku yang tidak ingin terperdaya akhirnya hanya membiarkan kejadian ini dan melangkah ke tes selanjutnya.
“Sekrang bersiaplah menjadi ikan.”
“El bukan ikan.”
Aku berdecak. “Dari mana kau bisa tahu kalau kau bukan ikan tanpa mencobanya?”
Mulutnya terbuka lalu terkatup, mengerjapkan mata beberapa kali, menundukkan pandangan, sebelum akhirnya menatapku kembali. “Tetapi, Papa bilang kalau El adalah bulung.”
“Aku bohong.”
Kedua pundaknya turun bersamaan dengan mulut yang membulat. Tak lama air matanya menumpuk di bagian bawah. Melihat Elora seperti itu, aku telah mempersiapkan telinga karena mengira dia pasti akan menangis dan menjejali indra pendengaranku dengan tangisannya yang keras. Namun, setelah semenit terlewat, dugaanku meleset. Lengan kanan bawahnya bergerak menyeka air mata kemudian berjalan angkuh mendekati danau. Ketika dia telah sampai di pinggir, Elora berdiri sebentar menatap genangan air yang luas itu sebelum mengangkat kaki-kaki kecilnya ke sana.
“Putri!”
Hamon terus memanggil, mencegat tangan mungil Elora, tetapi dia menghempasnya dan tetap berjalan masuk ke dalam air. Sedari awal, anak itu telah menetapkan pilihan dan tidak ada seorang pun yang bisa menahannya bahkan jika itu adalah Hamon, orang favoritnya.
Pria itu akhirnya menoleh dengan iba. Sorot mamta tajam Hamon mengatakan semuanya sebelum dia sempat bicara. Iba, marah, sedih, dan bingung, adalah jenis emosi yang dapat mempengaruhi manusia dengan mudah dan inilah apa yang Hamon rasakan saat ini.
“Yang Mulia, biar saya saja yang menggantikan Putri.”
“Tidak bisa.”
Dia mendekat, berdiri tepat di hadapanku dan berlutut. “Yang Mulia,” katanya pelan. “Saya mohon. Putri benar-benar bisa mati.”
Meski saat ini suhu udara berada di tengah-tengah, air danau Nuphar Lutea pasti sangat dingin terlebih lagi pada saat musim gugur seperti ini dan Elora tidak memiliki ketahanan atau kekuatan sihir. Selain itu, gurita raksasa yang menjaga danau ini kemungkinan besar akan menarik kaki-kaki kecilnya ke bagian paling dalam danau yang terhubung dengan laut Adenium.
“Yang Mulia, saya mohon!”
Elora menggelepar di danau, berusaha memunculkan kepala agar bisa menghirup oksigen. Dengan keadaan yang seperti itu, tak lama lagi tentakel gurita tersebut pasti akan muncul dan menarik kaki kecilnya agar masuk lebih dalam lagi. Jika kekuatannya belum muncul dan dia tenggelam, itu tandanya aku berhasil menyingkirkan dia secara tidak langsung.
Aku memandangnya, memperhatikan anak itu yang berada di ujung kematian sebelum beralih menatap Hamon yang saat ini terlihat sangat menyedihkan karena tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tadi kau kan menyelamatkan dia tanpa izin. Kenapa sekarang meminta izin padaku?”
Kedua tangannya mengepal kuat, memperlihatkan urat-urat tangan yang mengeras. Pandangan yang semula menatapku kini melihat ke bawah. Dari posisinya yang berlutut seperti ini, Hamon pasti sudah mengerti kesalahan besar yang dia lakukan dan itu tidak bisa diampuni begitu saja. Mengucap janji ala prajurit kepada Elora sama saja menusukku, yang seorang Kaisar Adenium, dari belakang karena dia telah melakukan pemberontakan terhadap tuannya.
“Lalu, ….” Aku mengalihkan pandangan ke arah danau yang sudah tidak memperlihatkan keberadaan Elora. “Kau akan menerima hukumanmu setelah ini.”
“... Baik, Yang Mulia.”
Sebuah kekuatan besar terdorong ke atas dan mengakibatkan sekeliling danau terkena cipratan. Tentakel gurita yang menjaga danau kemudian muncul dan menari-nari di atas permukaan air. Salah satu tentakel tersebut lalu dengan pelan mengarah tepat ke arahku bersama dengan tubuh Elora di dalam genggamannya. Setelah meletakan anak itu ke daratan, gurita tersebut akhirnya mundur teratur dan kembali ke dasar danau.
“Putri!”
Hamon sertamerta bangun dan berlari ke tempat Elora terbaring. Dia melepas jubah, menyelimuti tubuhnya yang basah kuyup kemudian membawanya ke dalam pelukan pria itu. Hamon kemudian mengangkat wajah menatapku.
“Yang Mulia, Anda–”
“Bawa dia kembali. Hukumanmu akan dilaksanakan begitu dia siuman.”
Berbalik dan melangkah lebar, aku segera meninggalkan mereka. Mempercepat langkah kaki menuju penjara bawah tanah yang letaknya lumayan jauh dari danau. Lebih tepatnya, aku berusaha kabur dari mereka berdua. Penggunaan sihir teleportasi sebenarnya akan lebih menghemat waktu, tetapi di tengah kondisiku yang sekrang, aku hanya dapat menggunakan setengah [mana] dari kemampuanku dan memasang titik koordinat yang tidak terlalu jauh dari tempat tujuanku. Mungkin karena sudah melewati batas berinteraksi dengan Elora, sakit kepala sialan itu datang lagi setelah terakhir kali kambuh di Petunia.
“Yang Mulia! Anda tidak apa-ap–”
“Minggir.”
Tubuhnya terdorong ke samping dan membentur tembok. Aku melangkah masuk sembari mengeluarkan pedang naga dari telapak tangan. Begitu sampai di dalam, sel penjara yang sebelumnya diisi enam sampai tujuh orang hanya diisi oleh dua hingga tiga orang saja per satu sel. Jumlah tahanan memang berkurang drastis sejak aku membantai semuanya begitu Elora datang di kehidupanku. Jika diperkirakan, tahanan yang hanya berjumlah kurang lebih dua puluhan ini sangat tidak cukup untuk meredakan sakit kepala sialan ini.
Bila penjara bawah tanah telah kehabisan tawanan perang seperi ini, maka dengan terpaksa aku harus menyusun siasat adu domba antar dua negara yang sedang atau punya riwayat pernah berkonflik. Sebab, sebelum obat untuk meminimalisir sakit kepala sialan ini ditemukan, penjara yang diperuntukkan bagi tindak kejahatan pelanggaran sedang di wilayah Forsythia terpaksa akan menjadi targetku dalam waktu dekat.
“Saya memiliki informasi!”
Ujung mata pedang yang sebentar lagi merobek kulitnya melayang di udara. Kumis putih dan potongan rambut yang tidak jelas, pria tua yang berpenampilan berantakan itu menatapku berani dengan mulut yang tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang menguning. Dia nampak percaya diri duduk di lantai dengan memberikan penawaran kepadaku.
Tubuhku menunduk, menggapai kerah bajunya, memaksa dia berdiri. Aku menarik kerah baju itu dengan keras, mendekatkan jarak dengan pria itu.
“Baiklah, aku akan membiarkanmu hidup.” Aku berkata tepat di depan wajahnya. “Jika tidak penting, badanmu akan terpotong menjadi dua bagian.”
“Pembunuh …” katanya dengan gemetar. “Mereka akan membunuh anakmu hari ini.”
Sudut bibirku terangkat ke atas. Mendekatkan wajah di telinganya, aku berbisik, “Kebetulan sekali, aku sedang kekurangan orang untuk dibunuh.”
Perlahan, darah menetes dari kakinya setelah mendaratkan ujung pedang di bagian samping perut. Melemparnya begitu saja seperti barang, tubuhnya bertabrakan dengan dinding sel kemudian jatuh ke lantai.
“Uhuk!”
Pedang yang selama beberapa menit tertahan tidak menyentuh kulit pria tua itu akhirnya bersarang sempurna dan membelah tubuhnya menjadi dua. Saripati darahnya kemudian terhisap oleh kegelapan sebagai penutup makan siang hari ini. Bersama dengan seragam, wajah, rambut, dan hampir seluruh tubuh yang basah karena darah, aku melangkah keluar dari penjara bawah tanah.
Sepanjang jalan, darah yang menempel di sisi pedang terus menetes membentuk titik-titik dan garis pendek-pendek. Para ksatria dan pelayan yang melihat segera memberi jalan dan berpura-pura tidak melihat. Memasuki paviliun tempat Elora tinggal, aku bertemu ibu asuh dan pelayan pribadinya di lorong. Mereka memberi salam, tetapi aku mengabaikan dan hanya melangkah lurus ke depan.
Begitu sampai di depan kamar, aku menarik pegangan pintu ke bawah. Hamon yang kupikir menjaga di dalam kamar ternyata tidak ada. Maka, kulangkahkan kaki pelan mendekati tempat tidur Elora, aku menatapnya tanpa ekspresi. Dia terlihat damai dan tenang dengan selimut tebal yang menyelimuti seluruh tubuh mungilnya.
Dari luar, aku merasakan aura kedatangan seseorang. Ketika pintu kamar Elora akhirnya terbuka, pedang yang sejak tadi kupegang terbang ke arahnya dan mendarat tepat di dada kiri. Dia sertamerta tumbang, tetapi empat orang yang ada di belakang segera menyerang. Semuanya menyamar dengan memakai pakaian ksatria Adenium. Begitu kelima orang tersebut telah berubah menjadi mayat, kegelapan sertamerta mengisap saripati mereka. Sakit kepala yang kurasakan akhirnya sedikit mereda setelah darah mereka yang mengandung [mana] terhisap oleh kegelapan.
Kamar tidur yang sebelumnya berwarna krem menjadi kemerahan dan lengket dalam sekejap. Selimut Elora juga terkena sedikit cipratan darah. Aku kembali memandang ke arah pintu. Harusnya Hamon telah berlari ke sini karena aku memakai [mana] untuk membunuh mereka.
“Maafkan kelalaian saya, Yang Mulia.”
Dia tiba setelah berlari. Di bagian depan seragamnya terdapat cipratan darah yang telihat masih baru. Aku kemudian melangkah keluar, melewati Hamon yang masih berdiri kaku di ambang pintu. Sebelum beranjak, aku berkata tegas,
“Pindahkan dia ke istana utama.”[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak