Luke Marit dan Tien Marit adalah Kakak Adik pengidap hypersex. Bila Tien memiliki seorang wanita simpanan untuk melampiaskan hasratnya, Luke justru mau mengobati penyakit anehnya tersebut. Namun, parahnya Luke tak bisa setia hanya dengan satu wanita.
Lolin Baldev adalah wanita berusia 29 tahun yang rela hamil di luar nikah agar pernikahan yang direncanakan oleh kedua orangtuanya dibatalkan. Namun, siapa sangka lelaki yang akan dinikahinya adalah ....
***
"Aku menginginkan seorang Suami yang tidak merengut kebebasanku." Lolin Baldev.
"Aku menginginkan seorang Istri yang tidak melarang ketika wanita lain melayaniku." Luke Marit.
Keduanya sama-sama tak menyukai ikatan pernikahan. Apa jadinya bila dua insan beda karekter sama prinsip disatukan dalam pernikahan paksa? Akankah pandangan keduanya berubah? Atau justru semakin parah.
Follow IG Author : @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 ~ Mual!
"Ti-tien." terka Nora kemudian bangkit dan langsung menyambar handuk lalu melilitkan handuk itu ke tubuh seksinya yang polos.
"Nora!" teriak Tien menggema di luar sana, membuat Nora melangkah cepat dan bergegas membuka pintu kamar mandi.
"Ada apa, Tien?" tanya Nora mendekat dengan lenggak-lenggok tubuh idealnya yang menggoda bak lekukan gitar spanyol.
"Kau sengaja menggodaku?" Tien menyeringai penuh hasrat kala menatap lekuk tubuh Nora yang kembali membuat nafsunya memuncak.
"Aku baru saja selesai mandi, ada masalah apa mencariku?" Nora mengabaikan, lalu berjalan menuju lemari, membuka dan mengambil gaun dengan tinggi selututnya.
"Apa kau sudah mendingan?"
"Masih lemah juga masih nyeri di perutku, tapi sudah agak mendingan dari sebelumnya. Apa ada yang bisa aku bantu?" dengan santainya Nora memasangkan gaun itu ke tubuhnya yang polos.
"Makanan sudah datang, ikut denganku dan temani aku makan," ajak Tien yang sudah membaik moodnya.
"Baiklah," Nora patuh dan mengekor di belakang Tien hingga tiba di ruang makan.
Tiba di ruang makan, Tien langsung duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Nora sigap menyiapkan makanan untuk pria yang selama ini menafkahinya tanpa ikatan pernikahan.
"Bukankah tanggal menstruasimu sudah lewat? Tina bilang apa tadi? Apa ada hubungannya dengan sakit perutmu?" tanya Tien mengintrogasi, membuat Nora menghentikan kegiatannya dan terdiam beberapa detik, seakan mencerna situasi dengan cermat.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Tien menatap Nora curiga.
"Bu-bukan apa-apa? Em ... Belakangan ini ada begitu banyak tugas di kampus, Tina hanya menyarankan agar aku tidak terlalu memikirkannya karena itu memengaruhi siklus menstruasiku. Hanya itu saja, mungkin nyeri yang aku alami tadi juga termasuk efeknya. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, dengan beristirahat sebentar aku yakin akan segera pulih dan kembali melayanimu dengan baik," terang Nora membuat Tien mengangguk sambil melahap makanannya.
Melihat itu, akhirnya Nora dapat menghela napas lega kala berhasil menemukan sebab akibat yang tepat. Tien bukanlah pria yang dapat dengan mudah dibohongi. Nora merasa benar-benar harus berhati-hati.
Apa pun yang terjadi, kedua orang tua Tien harus lebih dulu tahu tentang kehamilannya. Karena kalau pun seandainya Tien memintanya untuk menggugurkan kandungan, setidaknya Nora punya tempat untuk berlindung, yaitu kedua orang tua Tien yang begitu mendambakan kehadiran seorang Cucu.
"Duduk dan makanlah," titah Tien dan Nora pun segera duduk di kursinya.
"Apa lagi yang kamu tunggu, makanlah. Setelah ini jangan pernah lagi lupa untuk mengurus dan menjaga tubuhmu dengan baik, karena itu adalah asetmu sendiri. Kau tahu aku membayarmu karena tubuh itu, kau akan jadi gelandangan di jalan kalau bukan karena uang dariku," memang benar bukan omong kosong tentang apa yang kini Tien katakan, tapi tetap saja bagai sembilu yang menyayat ketika tiba di hati Nora.
"Emm!" Nora refleks menjatuhkan sendok berisi makanan yang belum sempat mendarat ke mulutnya. Sementara Tien mengerut alis curiga menatap Nora yang langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan, ketika tiba-tiba merasa mual.
Nora gemetar ketakutan melihat ekspresi wajah Tien yang menatapnya dengan penuh kecurigaan. Dengan sekuat tenaga, Nora berusaha menahan rasa mual yang kini terus mengganggunya.
"Kau kenapa lagi?" Tien bertanya dengan raut wajah yang tampak tengah berpikir keras.
"Aku baik-baik saja, Tien. Sungguh aku baik-baik saja, jadi tidak perlu pedulikan aku apalagi khawatir padaku. Lanjutnya saja makanmu," jawab Nora dengan senyuman paksa.
"Kenapa kamu selalu mengalihkan topik pembicaraan?" Nora meneguk saliva kasar, wajahnya tiba-tiba terasa kering sekaligus panas.
"Mungkinkah ....
.
.
.
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya Guys 🙏🏻😘
ceritanya campur2, lucu, ada romantisnya, tapi ada jg nyebelinnya.
tapi yg paling mendominasi ya sisi hot nya.. 😁😁😁
sehat2 trus ya kak,
semangat terus untuk berkarya.. 😘😍🤩🥰
Tapi kejujuranmu menyakitkan hati Nora.
Astaghfirullah.. tingkahnya bikin darting aja. 😂