Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pementasan
Malam pementasan perdana itu tiba dengan kemegahan yang hanya bisa diciptakan oleh seorang Elang Dirgantara. Gedung teater eksklusif milik yayasan telah disulap menjadi kuil seni yang gelap namun elegan, di mana setiap sudutnya dijaga oleh pria-pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga. Udara di dalam gedung terasa berat oleh aroma bunga lili putih dan parfum mahal para tamu undangan terbatas—tokoh-tokoh paling berpengaruh yang datang hanya karena nama Elang berada di balik acara ini.
Di balik panggung, suasana jauh lebih tegang. Laras duduk di depan cermin rias besar dengan lampu-lampu bohlam yang terang benderang. Wajahnya sedang dipulas oleh tim perias terbaik yang didatangkan langsung dari Paris. Namun, di antara para penata rias dan penata busana, ada satu sosok yang dominasinya melampaui siapa pun di ruangan itu.
Elang berdiri tepat di belakang kursi Laras. Tangannya sesekali menyentuh bahu Laras, memberikan tekanan kecil yang posesif. Matanya tidak lepas dari pantulan wajah Laras di cermin. Ia memperhatikan setiap goresan kuas, setiap helai rambut yang ditata, dan setiap detail kecil pada kostum tari yang melekat di tubuh Laras.
"Lipstiknya terlalu merah," ucap Elang tiba-tiba, suaranya dingin dan mutlak.
Penata rias itu tersentak, tangannya sedikit gemetar. "Tapi Tuan, ini sesuai dengan tema tariannya yang—"
"Aku tidak peduli dengan temanya," potong Elang tanpa mengalihkan pandangan dari mata Laras. "Aku ingin dia terlihat murni. Kurangi warnanya. Aku tidak ingin orang-orang fokus pada bibirnya, aku ingin mereka fokus pada keanggunannya."
Laras hanya bisa menatap pantulan matanya sendiri. Ia merasa seperti sebuah mahakarya yang sedang disempurnakan oleh sang seniman penciptanya. Elang terus mendampinginya, bahkan ia sendiri yang memasangkan giwang berlian di telinga Laras, memastikan benda itu terpasang dengan presisi yang tanpa cela. Sentuhan tangan Elang di kulit telinganya mengirimkan getaran yang sudah akrab, sebuah campuran antara rasa aman dan perasaan terbelenggu.
"Kamu harus sempurna malam ini, Laras," bisik Elang di dekat telinganya. "Dunia akan melihatmu, tapi mereka hanya boleh mengagumimu dari kejauhan. Kamu adalah milikku, dan malam ini adalah pembuktiannya."
Di sudut ruangan, duduk di sebuah kursi kayu panjang dekat pintu keluar, Maya memperhatikan segalanya dengan rahang yang mengeras. Ia sengaja tidak ikut campur, tahu bahwa posisinya sebagai manajer telah dilucuti secara sepihak oleh Elang. Namun, sebagai sahabat, ia tidak bisa membiarkan Laras sendirian di sarang singa ini.
Dari posisinya, Maya bisa melihat betapa "gila" perlakuan Elang terhadap Laras. Elang tidak membiarkan siapa pun menyentuh Laras lebih lama dari yang diperlukan. Bahkan saat seorang asisten mencoba merapikan kain selendang di pinggang Laras, Elang segera menepis tangan asisten itu dan melakukannya sendiri. Gerak-gerik Elang bukan lagi sekadar perhatian seorang produser kepada bintangnya; itu adalah gerak-gerik seorang pemilik yang paranoid akan ada debu yang menempel pada koleksi berharganya.
Maya mencatat setiap detail posesif itu di kepalanya. Bagaimana Elang selalu memposisikan dirinya di antara Laras dan orang lain, bagaimana mata Elang terus mengamati ke sekeliling ruangan seolah mencari ancaman yang tidak ada. Baginya, pemandangan itu sangat mengerikan. Laras tampak begitu pasrah, seolah-olah ia telah kehilangan kehendak bebasnya di bawah mantra kasih sayang Elang yang beracun.
Saat tiba waktunya Laras untuk berganti pakaian terakhir di ruangan khusus yang lebih privat di bagian dalam, Laras berdiri dan memberikan senyum tipis pada Elang sebelum melangkah pergi bersama dua asisten wanita.
Ruang rias utama mendadak menjadi lebih sunyi. Elang tidak mengikuti Laras masuk ke ruang ganti privat, namun ia tetap berdiri di depan pintu tersebut, menjaga batas suci yang telah ia buat. Saat itulah, Elang memutar tubuhnya perlahan. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Maya yang masih duduk diam di kursi panjang.
Elang menyadari tatapan Maya sejak tadi. Ia tahu wanita itu sedang menilainya, mengutuknya di dalam hati, dan mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk menjauhkan Laras darinya. Dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi, Elang berjalan menghampiri Maya.
Maya tidak beranjak. Ia tetap duduk tegak, menatap balik pria yang telah mengubah hidup sahabatnya menjadi sangkar emas tersebut.
Elang berhenti tepat di depan Maya, bayangannya yang tinggi besar menutupi cahaya lampu di atas kepala Maya.
"Kamu punya banyak hal untuk dikatakan di dalam kepalamu, Maya," ucap Elang, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu. "Aku bisa melihatnya dari cara kamu menatapku."
Maya mendengus kecil, keberaniannya muncul dari rasa sayangnya pada Laras. "Anda tidak sedang menyiapkan pementasan seni, Tuan Elang. Anda sedang menyiapkan upacara pengukuhan kepemilikan. Anda memperlakukannya seperti benda mati yang tidak boleh disentuh angin sekalipun. Apakah Anda tidak lelah menjadi sepsikopat ini?"
Sudut bibir Elang terangkat sedikit, membentuk senyuman dingin yang tidak mencapai matanya. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya pada Maya hingga Maya bisa mencium aroma maskulin yang kaku dari jas Elang.
"Psikopat adalah istilah yang digunakan orang-orang lemah untuk menggambarkan dedikasi yang tidak mereka pahami," bisik Elang. "Aku tidak lelah, Maya. Justru aku merasa sangat hidup setiap kali aku memastikan tidak ada satu pun celah bagi dunia luar untuk merusak Laras."
Elang menatap pintu ruang ganti tempat Laras berada, lalu kembali menatap Maya dengan tatapan yang memperingatkan. "Aku tahu kamu masih mencoba menghasutnya. Aku tahu kamu ingin dia lari. Tapi biarkan aku memperingatkanmu sekali dan untuk terakhir kalinya..."
Elang menekankan suaranya, memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. "Tidak ada seorang pun di dunia ini—termasuk kamu, masa lalunya, atau ketakutannya sendiri—yang bisa menghalangiku dalam memiliki dan melindungi Laras. Aku telah menginvestasikan segalanya untuknya. Jiwaku, hartaku, dan kegelapanku. Jika kamu mencoba menjadi penghalang, kamu tidak akan hanya kehilangan pekerjaanmu, kamu akan kehilangan segalanya."
Maya merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia melihat kilat kegilaan yang nyata di mata Elang. Pria ini tidak sedang menggertak. Ia benar-benar telah menetapkan Laras sebagai garis akhir hidupnya.
"Anda akan menghancurkannya dengan cara seperti ini, Tuan Elang," balas Maya dengan suara yang sedikit bergetar. "Cinta yang mencekik akan membunuh seninya perlahan-lahan."
"Salah," sahut Elang sambil berdiri tegak kembali. "Cinta dariku akan membuatnya abadi. Dia akan menjadi satu-satunya bintang yang tidak akan pernah redup karena aku akan selalu ada untuk menjaganya tetap bersinar, meski itu berarti aku harus mematikan semua lampu lain di dunia ini agar hanya dia yang terlihat."
Elang berbalik saat pintu ruang ganti terbuka dan Laras keluar dengan kostum tari yang luar biasa megah, lengkap dengan selendang merah tua peninggalan ibunya yang telah dibersihkan secara profesional. Laras tampak seperti dewi yang turun dari khayangan.
Elang segera menghampiri Laras, mengabaikan Maya seolah wanita itu tidak pernah ada. Ia mengambil tangan Laras, mencium punggung tangannya dengan khidmat, dan menuntunnya menuju sayap panggung.
Maya hanya bisa terpaku di kursinya, menyaksikan sahabatnya berjalan menuju panggung besar yang telah disiapkan Elang. Ia menyadari bahwa peringatan Elang tadi adalah sebuah proklamasi perang. Di bawah lampu panggung yang mulai menyala, Laras mulai menari, dan seluruh dunia terpesona. Namun bagi Maya, setiap gerakan indah Laras adalah jeritan minta tolong yang tertahan di balik senyum yang telah diatur oleh tangan Sang Elang.
Pertunjukan dimulai. Laras menari dengan luar biasa, seolah-olah ia sedang menari untuk nyawanya sendiri. Di sisi panggung, di kegelapan yang tak terlihat penonton, Elang berdiri tegak. Matanya tidak berkedip, jiwanya terpaku pada setiap gerak tubuh Laras, memastikan bahwa malam ini, dan malam-malam seterusnya, Laras hanya akan bernapas di dalam jangkauan sayapnya yang hitam dan posesif.