jarum jam selalu berputar memutari dua belas angka yang sama yang terdapat di sekeliling nya, namun saat jarum jam membali menujuk angka yang sama, peristiwa yang perna terjadi sebelum nya telah menjadi masalalu.
Masalalu, sekuat apapum kita ingin kembali, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa terulang kembali layaknya jarum jam yang selalu berputar tuk kembali menujuk angka yang sama, kita hanya bisa memutar masa lalu hanya dalam sebuah ilasan kenangan.
"Gelang ini akan selalu tersenyum, mengingatkan mu padaku." Niana kembali mumutar ilasan kenangan nya, mengingat soso pria kecil penolong nya, setiap ia melihat gelang di tangan nya. "Aku ingin kembali ke hari itu."
Berharap pertemuan itu bisa terulang kembali, namun Waktu seakan merahasiakan Sebuah pertemuan yang tidak di sadari keduanya.
Hingga perjuangan, menjadi bukti kebersamaan mereka.
( Novel ini berkisahkan tentang perjuangan Niana dan Aksa untuk sampai akhirnya bisa bersama. Novel ini juga tidak hanya menceritakan percintaan saja, tapi juga mengangkat sebuah perjuangan seorang Aksa untuk meraih kesuseksanya, demi Gadis Impian nya, Keluarganya, juga Orang lain)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
"Sayang Ibu lupa hari ini hari pembagian raport Alea dan Alia, Ibu minta tolong kamu dan Ana mewakili Ibu mengambil rapot mereka, kalian tidak perlu pergi ke toko."
"Ibu tidak tau akan pulang malam ini atou tidak, urusan ibu masih belum sekesai. Ibu akan mengabari kalo sudah mau pulang. Maaf ibu merepotkan mu dan Ana."
"I**bu boleh minta tolong satu lagi, tolong belanja kebutuhan dapur karena ibu belum sempat belanja."
Pagi-pagi sekali Raksa sudah mendapat beberapa pesan singkat dari ibunya.
Raksa Ana Alea dan Alea tengah menikmati sarapapn sabdwich yang di buat Ana tadi.
"Sandichnya enak sekali, kak Ana pintar sekali masak." Ucap Alea dan Alia yang sedang menikmati senwich buatan Niana.
"Oya, kakak pikir tidak enak. Maaf cuma sandwich karna sepwetinya bahan-bahan di dapur sudah habis dan kaka cuman bisa buat ini." Ucap Niana
"Cepat habiskan sarapan nya." Raksa memotong percakapan 3 gadis didekatnya. "Ana habis ini kamu siap-siap, kita akan mengambil Rapor Alea dan Alia ke sekolah. Lalu nanti kamu harus belanja bahan-bahan dapur."
"Horee, yang ambil raport kita kakak dan kak Ana" Teriak girang Alea dan Alia
"Iya, karna ibu belum bisa pulang masih banyak urusan. habiskan sarapan kalian dengan benar." Imbuh Raksa
"Aku belanja?" ucap Niana dengan nada menperotes.
"Kenapa gak mau, udah numpang juga." jawab Raksa datar, dan terlihat dengusan kesal dari Niana.
"Bukan tidak mau tapi aku tidak mengerti" Niana dengan mencebikan bibirnya.
****
Raksa dan Niana mengantar Alea dan Alia ke sekolah, terlihat bak sebuah pasangan yang mengantar adik mereka.
"Ibu kalian kemana?" Tanya wali kelas Alea dan Alia yang berpapasan dengan mereka di teras kelas.
"Ibu sedang ada urusan di luar kota, jadi saya yang mengantar." Ujar Raksa menanggapi pertanyaan gurunya Alea dan Alia. setelah mendapan anggukan mengerti dan mendapan ajakan masuk dari wali kelas kedua adiknya, mereka pun segera memasuki kelas Alea dan Alia lalu duduk di kursi yang sudah tersedia di sana, "Kenapa tidak kamu saja yang menemani Alea dan Alia." bisik Niana
"Kenapa, kamu keberatan mengambil raport adiku?" Tanya Raksa melihat Niana dengan mengernyitkak keningnya, menanti jawaban gadis itu.
"Bukan itu, aku hanya sedikit risih orang-orang memperhatikan ke arah kita dari tadi. Sepertinya mereka tau kalo aku bukan siapa-siapa Alea dan Alia."
"Jangan perdulikan orang lain." Ucap Raksa.
****
Mereka berempat hendak pulang dengan membawa nilai yang memuaskan dalam raport yang mereka bawa.
"Adik-adik kakak ini pintar-pintar sekali ternyata." Ucap Niana seraya mencubit pelan kedua pipi cabi anak kembar itu.
"Iya kak, malu dong kalo punya kakak pinter tapi nilai kita jelek he." Alea dengan bangganya.
"Mereka begitu menjadikan kamu sebagai teladan mereka ya." Ucap Niana pada Raksa seakan ada kebanggaan menatap pemuda itu.
"Udah ayo pulang." ajak Raksa.
"Jangan pulang dong, gimana kalo kita rayain makam eskrim di taman." Usul Niana.
"Here, ayo kakk." Alea dan Alea girang lalu menarik tangan Raksa dan Niana, Raksa hanya pasrah mengikuti tarikan adiknya itu.
Di taman mereka tengah menikmati eskrim korn yang sudah ada di tangan mereka, sambil duduk di banngku taman itu.
Alea dan Alia nampak begitu sangat senang, Niana ikut tertawa melihat keceriaan kedua anak itu, sedangkan Raksa hanya mengulas sebuah senyuman tak kala melihat 3 wanita yang tertawa-tawa senang di samping nya, seakan ada kebahagiaan tersendiri melihatnya.
"Kita poto dong buat kenang kenangan" mengabadikannya dengan berpoto selfi ber empat, Alea dan Alia yang nampak gembira dalam poto itu begitupun Niana, sedangkan Raksa yang hanya mengulas senyuman tipis memperlihatkan kebahagiaanya.
"Makasih ya kak Ana semenjak ada kak Ana, Kakak terlihat sering tersenyum dan tidak terlalu menyebalkan." Ucap Alea dan Alea saat sudah memasuki rumah mereka.
"Maksud kalian apa? jadi sebelum nya kakak menyebalkan?" Sela Raksa dengan dahi yang berkerut, menatap kedua adiknya.
"Ih kakak, apaan sih nguping aja." protes Alea
"Ya iya lah, orang kalian bicaranya deket kuping kakak terus ngomongin kaka pula." Nianna dengan tawa kecil Niana melihat kelakuan kakak beradik itu. "Ana, jangan lupa kamu harus belanja" lanjut Raksa pada gadis yang sedang tertawa melihatnya seketika berhenti.
"Temenin dong kak." protes Alea dan Alia lagi.
"Urusan dapur kan urusan cewek." Raksa yang membalas protes adik-adiknya. "Iya-iya, lama-lama kalian kaya ibu." lanjut Raksa saat melihat Alea dan Alea kompak memelototinya.
****
"Kita belanja kemana?" tanya Niana di atas motor yang tengah di bonceng Raksa.
"Biasanya ibu belanja ke pasar tradisional karna lebih murah, tapi kita belanja d supermarket saja." Jawab Raksa.
"kenapa tidak ke pasar tradisional?"
"Sepertinya kamu gak pernah ke pasar, jadi ke supermarket saja, takutnya malah pingsan lagi." Ucap Raksa sambil melajukan kendaraanya.
"Enak aja, Di kira aku gak bisa apa masuk pasar. Udah kita belanja ke pasar aja." Tegas Niana dengan mencebikan bibirnya tidak terima dengan ucapan Raksa.
"Iya iya."
Sampai di pasar tradisional, Niana dan Raksa masuk beriringan. Tercium berbagai aroma tak enak tatkala memasuki area pasar.
"Emh bau banget." Niana mengibas-ngibaskan tangan nya di depan hidung yang menandakan penciuman nya sangat terganggu.
"Tuh kan, tuan putri ke bauan masuk pasar." Ledek Raksa.
"Udah ayo, belanja apa dulu kita?" Tanya Niana, mereka terlebih dahulu ke tempat sayuran memilih-milih beberapa jenis sayuran yang akan mereka beli. kemudian pergi ke tempat penjualan daging dan ikan, terlihat Niana yang indra penciuman nya nampak semakin terganggu.
"Sini, tunggu duduk di sini saja," Cegah Raksa mengambil keranjang belanja dari tangan Niana, pergi memasuki tempat penjualan dagin dan ikan sendiri, untuk membeli beberapa jenis sea pood dan daging, karna merasa kasihan pada Niana.
"Kenapa nyusul kemari, ntar muntah lagi?" Rsksa tatkala melihat Niana sudah ada di sampingnya.
"Udah gak papa ko, aku bisa hanya belum terbiasa." Ucap Niana tersenyum ikut memilih-milih daging yang akan merela beli.
***
Setelah mendapatkan semua yang ingin mereka beli dalam keranjang, Raksa dan Niana hendak berjalan menuju parkiran namun aroma bakmi ayam menghentikan langkah mereka
"Makan dulu yu, tempatnya rame kayanya enak?" Ajak Niana menarik tangan Rsksa.
"Yakin nih, gak bakalan jijik?" tanya Raksa sembari mengernyitkan keningnya yang di ikuti alisnya yang naik.
"Udah deh jangan ngeledek." Jawab Niana dengan tetap menarik tangan Raksa memasuki ruko bakmi tersebut.
Mereka terlihat menikmati makanan nya, diiringi tawa akrab beberapa candaan diantaranya, lalu setelahnya mereka melanjutkan niatnya untuk pulang.
"Makasih ya Rakew" Ucap Niana setelah turun dari motornya yang telah sampai di halaman rumah Raksa.
Raksa memicing mendengar Niana memanggilnya dengan panggilan Rakew, mengingat hanya Karin yang memanggilnya dengan sebutan itun. "Sudah ketularan si Karton." gerutunya dengan melangkahkan kakinya terlebih dulu masuk ke rumah.
"Aku senang sekali hari ini, terimakasih." ucapan Niana yang pasti tidaj di dengar oleh Raksa yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam rumah.
Salam Dari Navillera (Cinta yang beracun)
~Cinta Pertama~