Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.
Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.
Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.
^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru Yang Nekat
Hari senin saat mata pelajaran terakhir sudah berakhir, aku merenggangkan kedua tanganku, Elsa di sampingku sibuk memasukan buku ke dalam tasnya.
" Wah sudah gila, PR kita banyak sekali ya. Aku sampai pusing", Elsa ngoceh-ngoceh.
" Namanya juga sekolah", aku ikut memasukan buku ke dalam tasku.
Sony ketua kelas maju ke depan kelas sepertinya akan memberi pengumuman.
" Teman-teman mohon perhatiannya sebentar ", Suara Sony membuat kelas yang awalnya berisik perlahan mulai tenang.
" Terima kasih. Teman-teman ada sedikit pengumuman, sekolah akan mengadakan acara pentas seni untuk memeriahkan hari ulang tahun sekolah…",,
Seisi kelas bertepuk tangan heboh karena senang.
"... Dan Osis meminta kita untuk mendaftarkan 6 orang sebagai perwakilan panitia di luar anggota Osis. Ada yang berminat?", Sony melempar pertanyaan.
Kelas hening, tidak ada sukarelawan yang mau mengangkat tangan. Tentu saja, siapa yang mau menjadi panitia. Tugasnya banyak, setiap hari rapat, hari H bukannya menikmati acara malahan banyak beban tanggung jawab dipikul. Lebih baik menjadi penikmat acara, tamu undangan.
Sony menarik nafas " sudah kuduga. Karena itu saya dan wali kelas pak Simin sudah menentukan orangnya. Siapkan hati kalian baik-baik".
Sony menyebutkan nama teman-teman yang terpilih, melihat reaksi mereka terutama anak laki-laki membuat kami tertawa. Saking merasa keberatan, ada yang berencana sakit di hari H.
" Kalian harus rajin rapat, yang mengisi acara harus sering latihan dan… jangan lupa untuk yang piket hari ini, bersihkan ruangan yang benar ya. Oke yuk bubar", Sony mengakhiri pidatonya.
" Yaaa, aku piket lagi ", aku menjatuhkan kepalaku ke atas tas diatas meja.
Elsa terkekeh " Semangat ya, aku pulang duluan. Ada urusan bebh".
" Ya udah. Tapi kamu akhir-akhir ini sibuk banget.Kamu… ada pacar ya?", aku menembak pertanyaan yang langsung membuat Elsa kelabakan.
" Ha? Gak Lah… aku hanya sibuk aja. Udah ya bye. Selamat berjuang", Elsa lalu melesat pergi dengan kecepatan kilat.
Aku melihat punggung Elsa menghilang dari balik pintu.
" Cih, Elisabeth sangat kelihatan kalau dia punya pacar. Dasar penghianat ", aku ngomel-ngomel sendiri.
***
Hari ini Juan ada kelas tambahan. Sekarang aku bahkan berani mencari Juan ke kelasnya. Aku mengintip dari jendela paling ujung kelas mereka, melihat Juan sedang bercanda dengan temannya. Menarik-narik ujung rambut Junet yang sedang heboh bergosip.
Salah seorang teman Juan melihat ke arahku yang sedang mengintip ke dalam kelas mereka seperti maling profesional. Dia langsung menegur.
" Nyari si sapi ya?", katanya padaku.
Aku tersenyum malu-malu " Iya kak".
Tanpa aba-aba teman Juan ini langsung berteriak seperti memberikan pengumuman.
" Juaaaannnn… pacar kau cari nih !!!! ".
Juan kaget, Aku lebih kaget lagi. Seisi kelas langsung melihat ke arahku, tapi setelah itu mereka berpaling seperti tidak peduli. Begitu melihatku Juan langsung tersenyum dan menghampiriku di dekat jendela.
Juan membuka jendela itu lebih lebar sampai aku mengira dia kan melompat keluar, tetapi dia hanya mencondongkan separo badannya ke arahku.
" Hai cantik, kok baru pulang jam segini?", Juan cengengesan kayak kuda.
" Iya aku piket soalnya. Aku mau minta tolong?", kataku.
" Tumben? Mau aku antar pulang? Yuk", Juan mengambil ancang-ancang melompati jendela.
" Eit… bukan bukan…", aku cepat-cepat menahannya.
" Jadi apa?", Juan kembali lagi ke posisi sebelumnya.
" Kan nanti mau ada Pensi. Band kamu bisa isi acara gak? Perwakilan dari kelas 3?", aku bertanya serius.
Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal " Nanti aku kumpulin anak-anak dulu ya".
Mataku berbinar " Makasih kak Juan. Baik deh", aku senang.
Juan tersenyum. " Kamu mau pulang sekarang? Yakin gak mau aku antar?", Juan berharap.
" Yakin, kamu kan mau les tambahan. Belajar yang benar sana. Aku naik angkot aja. Udah ya", kataku pada Juan.
" Embun ", Juan memanggil, ada sedikit rasa cemas di dalam suaranya.
" Ya? ".
Juan menarik nafas " Kalau nanti kamu ketemu Nandes di jalan, kamu langsung kabur ya. Jangan mau diajak bicara, dia itu agak sinting. Kalau gak ada les tambahan aku pasti anterin kamu pulang ", Juan meyakinkanku.
Bibirku berkedut ingin tertawa.
" Iya iya.. kalau aku lihat dia di jalan. Aku akan langsung kabur", aku meyakinkan. Juan mengangguk senang karena aku menurutinya.
Guru Juan masuk. " Sudah ya. Hati-hati di jalan, telpon aku kalau ada apa-apa", kata Juan buru-buru.
Aku mengangguk sambil melambaikan tangan padanya.
***
Cukup lama aku berdiri menunggu angkot di depan sebuah Gereja Katedral, tau begini aku iyakan saja saat Juan mau mengantarku pulang. Sekarang pukul setengah 3 sore.
Dari kejauhan sebuah motor Rx King melaju dengan kecepatan cukup tinggi, lalu semakin melambat begitu mendekati tempatku berdiri. Motor itu berhenti tepat di depanku.
Seorang pria dengan helm full face menatapku tanpa malu-malu. Karena merasa tidak mengenalinya, aku bergeser sedikit menjauh dan berusaha tidak melihat ke arah pria itu sambil berharap angkot yang ku tunggu segera datang.
Pria itu malah turun dari motornya dan menghampiriku. Posturnya cukup tinggi hampir sama seperti Juan, menggunakan baju wearpack warna biru seperti abang-abang di bengkel motor dan sepatu kets. Bajunya penuh banyak noda hitam sepertinya oli motor. Aku semakin tidak nyaman, tetapi dia memanggil namaku.
" Enu Embun, ini aku Nandes", seraya membuka helmnya dia tersenyum.
" Oh hai… Halo… ", aku kaget tidak menyangka dia benar-benar datang menemui ku.
" Mau pulang ? Saya antar ya", Nandes menawarkan.
" Tidak makasih. Aku naik angkot saja", kataku cepat-cepat, aku melihat warna angkot yang biasa ku naiki dari kejauhan.
" Aku nungguin kamu dari jam 1, kata teman-teman kelasmu, kamu sedang piket", Nandes semangat bercerita.
" Memangnya kamu tidak sekolah?", aku bertanya heran.
" Oh aku bolos kelas karena kamu", Nandes tersenyum tanpa beban.
Ada sedikit rasa bersalah di hatiku.' Ah gak, lagian siapa suruh nungguin. Bukan salah aku', batinku. Aku menepis rasa bersalah itu cepat-cepat. Angkot yang ku tunggu berhenti di depanku.
" Nandes makasih ya udah nungguin, besok-besok gak usah nunggu lagi. Bye", aku cepat-cepat masuk ke dalam angkot tanpa melihat ke arah Nandes lagi.
Penumpang di dalam angkot itu cukup penuh. Tersisa space kursi yang cukup besar untuk 2 orang penumpang lagi.
Syukurlah, aku sudah terlalu lama menunggu. Saat aku duduk ternyata Nandes ikut masuk dan duduk di sampingku berdempet. Aku melotot ke arahnya.
" Kamu ngapain sih ikut aku? Motor kamu gimana? ", aku ngomel-ngomel tapi sambil berbisik.
" Gak apa-apa. Gak ada yang berani nyuri motor di halaman Gereja. Kan dosa", Nandes balas berbisik dengan santai sambil memegang helmnya.
Aku menarik nafas panjang, kejadian menghadapi Juan saat awal-awal masuk sekolah seperti terulang tetapi ini lebih parah.
" Kamu nyium bau gak?", bisik Nandes padaku beberapa menit kemudian.
Aku kaget, aku mempertajam indra penciumanku " Gak ada, emang bau apa?".Aku bisa mencium wangi parfum Nandes seperti Woody bercampur Mint menguar saat dia bergerak. Jadi tidak mungkin dia yang bau saat ini. Aku mengendus bajuku sendiri, tidak ada yang aneh.
" Bau-bau aku mulai suka sama kamu", Nandes berbisik lagi.
Saat itu ingin rasanya aku menendang Nandes keluar dari angkot. " Gak usah kayak gitu. Geli tau", aku berbisik marah.
Nandes tertawa pelan " Galak banget, suka deh".
Aku cemberut, sangat dongkol mendengar kata-kata Nandes.
Saat sampai di depan kompleks rumahku, aku turun diikuti oleh Nandes. Dia membayar angkot kami dan berjalan mengikuti ku sampai ke depan pagar rumah.
" Sudah sana masuk gih. Udah sore. Anak gadis gak boleh di luar rumah sore-sore", kata Nandes padaku.
" Emang kenapa?", aku penasaran apakah ada kisah mistis tentang itu.
" Nanti digigit nyamuk ", jawab Nandes.
" Ck.. kirain apaan ", cicitku. " Makasih udah bayarin angkot ", kataku lalu berbalik membuka pagar.
" Enu, besok-besok boleh kan aku main ke sini?", Nandes bertanya.
" Gak ", aku menjawab singkat.
" Oke nanti aku datang ", Nandes tersenyum padaku yang melotot ke arahnya.
" Udah yaaa… bye ", kataku cepat lalu menutup pintu pagar.
Saat aku sudah tiba di kamarku di lantai 2, aku melihat ke arah luar jendela. Melihat Nandes berjalan santai tanpa beban membawa helmnya di lengan.
' Kayaknya yang ini lebih sableng dari Juan', pikirku.
***