Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Labirin Hijau
Sebuah struktur baja berbentuk cakram raksasa tertanam di dinding batu, dengan pintu masuk hidrolik yang sudah terbuka sedikit. Arsitekturnya tidak menyerupai teknologi Iron Sight yang pernah mereka lihat. Ini jauh lebih tua, namun terlihat lebih maju.
"Tempat apa ini?" bisik Zian, suaranya bergema di antara tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua. Dia membantu Elara berdiri, sementara tangannya tetap siaga memegang pistol bawah air yang masih berfungsi.
Elara tidak menjawab. Matanya terpaku pada sebuah simbol yang terukir di atas pintu masuk baja tersebut: sebuah bunga teratai yang dilingkari oleh rantai DNA ganda. Tubuh Elara gemetar, bukan karena kedinginan, melainkan karena memori yang tiba-tiba menyeruak dari sudut tergelap ingatannya.
"Simbol itu..." Elara mendekati dinding baja, jemarinya yang gemetar menyentuh ukiran tersebut. "Aku pernah melihatnya. Di dalam mimpi buruk yang kupikir hanyalah imajinasi masa kecil."
"Kael, kau bisa mendengarku?" Zian mencoba menghubungi melalui komunikator, namun hanya ada suara statis. "Sinyal kita terputus total. Kita berada di luar jangkauan satelit."
Mereka melangkah masuk ke dalam fasilitas tersebut. Begitu mereka melewati ambang pintu, lampu-lampu sensor gerakan menyala satu per satu, memperlihatkan koridor panjang yang bersih tanpa debu sedikit pun. Di dinding-dinding koridor, terpajang foto-foto lama hitam putih.
Elara berhenti di depan salah satu foto. Napasnya tertahan. Di dalam foto itu, seorang wanita muda dengan seragam medis berdiri menggendong bayi perempuan dengan tanda lahir kecil di bahu kiri—tanda lahir yang persis sama dengan milik Elara.
"Itu... ibuku?" bisik Elara. "Tapi ayah bilang ibu meninggal dalam kecelakaan mobil saat aku bayi."
"Elara, lihat ini," Zian menunjuk ke arah terminal komputer yang masih menyala di ujung ruangan.
Di layar monitor, sebuah video mulai terputar secara otomatis. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal muncul di layar. Wajahnya tampak lelah.
"Jika rekaman ini ditemukan, berarti proyek 'Aegis' telah gagal atau telah ditemukan oleh pihak yang salah," pria dalam video itu memulai. "Namaku Dr. Silas Vanya. Aku menciptakan fasilitas ini untuk melindungi subjek nol—putriku sendiri, Elara. Dia bukan sekadar anak manusia. Dia adalah hasil penggabungan genetika dari sisa-sisa peradaban kuno yang kami temukan di sini. Dia memiliki kemampuan untuk menetralkan segala jenis patogen genetik... dia adalah penawar hidup."
Zian menatap Elara dengan pandangan tak percaya. "Ayahmu... dia bukan hanya instruktur militer. Dia adalah kepala ilmuwan proyek ini?"
Elara jatuh terduduk di lantai yang dingin. Segala kekuatannya seolah hilang. Selama ini dia berpikir dia adalah seorang prajurit karena pilihan dan latihan keras, namun kenyataannya, dia didesain untuk menjadi senjata atau penyelamat sejak dalam kandungan.
"Jadi, Madame X memburuku bukan hanya karena aku mengganggu rencananya," Elara berkata dengan suara parau. "Dia menginginkan darahku. Dia menginginkan kode genetik di dalam selku untuk menyempurnakan Proyek Genesis."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari pengeras suara ruangan. Pintu di belakang mereka menutup dengan keras, mengunci mereka di dalam laboratorium rahasia itu.
"Tepat sekali, Mayor Vanya," suara Madame X terdengar sangat jernih di sini. "Kau adalah potongan terakhir dari teka-teki yang ditinggalkan ayahmu. Dia melarikan diri bersamamu dan memalsukan identitasnya menjadi tentara bayaran untuk menyembunyikan 'harta karun' ini. Tapi kau tidak bisa lari dari takdirmu selamanya."
Layar monitor berubah, memperlihatkan Madame X yang kini berdiri di luar pintu masuk gua dengan pasukan 'Predator' yang sudah bersiap meledakkan dinding batu.
"Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku, Elara. Darahmu akan menjadi fondasi dari ras manusia baru yang tidak akan pernah sakit, tidak akan pernah menua, dan yang paling penting... tidak akan pernah membangkang padaku," desis Madame X.
Zian segera memeriksa tas taktisnya. Dia mengeluarkan beberapa blok C4 dan granat termit. "Kita tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Elara. Fasilitas ini memiliki protokol penghancuran diri. Jika kita bisa mengaktifkannya, semua data dan kode genetik di sini akan musnah."
"Tapi kita tidak akan bisa keluar, Zian," kata Elara, dia berdiri kembali, matanya kini memancarkan api tekad yang baru. "Ayahku membangun ini untuk melindungiku. Pasti ada jalan keluar rahasia yang hanya bisa diakses oleh subjek nol."
Elara mendekati konsol utama. Dia melihat sebuah panel kecil yang membutuhkan pemindaian tangan. Tanpa ragu, dia meletakkan telapak tangannya di sana.
PEMINDAIAN IDENTITAS: ELARA VANYA. AKSES DITERIMA.
Lantai di bawah mereka tiba-tiba bergeser, memperlihatkan sebuah kapsul peluncuran vertikal. Namun, di layar monitor lain, terlihat pasukan Madame X mulai menembus pintu depan menggunakan bor termal raksasa.
"Zian, masuk ke dalam kapsul!" perintah Elara.
"Tidak tanpa kau!"
"Aku harus memicu urutan penghancuran dari sini! Jika tidak, data ini akan jatuh ke tangan mereka!"
"Gunakan detonator jarak jauh, Elara!" Zian menarik tangan Elara. "Kita pergi bersama, atau kita mati bersama di sini. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan pengorbanan martir."
Elara menatap Zian, melihat ketulusan yang luar biasa di mata pria itu. Dia mengangguk pelan, lalu memasang detonator jarak jauh pada server pusat dan segera melompat ke dalam kapsul bersama Zian.
Tepat saat pintu kapsul tertutup, Madame X menyeruak masuk ke dalam laboratorium bersama pasukannya. Dia melihat Elara di balik kaca kapsul yang mulai meluncur.
"TIDAAAKKK!" teriak Madame X.
Elara menekan tombol detonator di tangannya.
BOOOOOMMMM!
Ledakan berantai menghancurkan seluruh fasilitas bawah tanah. Langit-langit gua runtuh, mengubur Madame X dan pasukannya di bawah berton-ton batu dan baja. Kapsul yang membawa Elara dan Zian melesat keluar melalui saluran peluncuran vertikal, menembus puncak gunung kecil di tengah hutan dan terlontar jauh ke udara sebelum parasut daruratnya terbuka.
Mereka melayang di atas kanopi hutan Amazon yang luas. Di bawah mereka, kepulan asap hitam membumbung tinggi dari tempat fasilitas itu terkubur.
"Semuanya sudah hilang," bisik Elara saat mereka mendarat di rawa-rawa yang dangkal. "Rahasia ayahku, masa laluku... semuanya terkubur."
Zian memeluk Elara dari belakang, memberikan kehangatan di tengah dinginnya hutan malam. "Tidak semuanya hilang, Elara. Kau masih di sini. Dan kau bukan lagi sekadar subjek eksperimen bagi siapa pun. Kau adalah Elara Vanya, wanita yang baru saja menyelamatkan dunia untuk kesekian kalinya."
Namun, di tengah keheningan hutan, sebuah suara asing terdengar dari komunikator Elara yang tiba-tiba berfungsi kembali. Namun itu bukan suara Kael.
"Halo, Mayor Vanya. Aku adalah 'Aegis'. Sistem kecerdasan buatan yang baru saja kau pindahkan ke dalam penyimpanan satelit saat kau menekan tombol detonator tadi. Terima kasih telah membebaskanku. Sekarang, mari kita mulai misi yang sesungguhnya."
Elara dan Zian saling berpandangan. Ternyata, dengan menghancurkan fasilitas itu, Elara tanpa sadar telah melepaskan sesuatu yang jauh lebih kuat ke dunia digital.