NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Berita tentang keributan di ruang tamu kantor yayasan menyebar secepat kilat. Meski Ayah Dara akhirnya pergi dengan langkah gontai setelah diancam laporan pidana oleh pengacara Pak Surya, sisa-sisa ketegangan masih tertinggal di koridor SMA Pelita Bangsa.

Sayangnya, tidak semua siswa memiliki empati. Di kelas 12-IPS 2, yang bertetangga langsung dengan kelas Dara, sekelompok siswi yang dipimpin oleh sebut saja Cindy, mulai menyebarkan bisikan berbisa.

"Gila ya, sok suci banget ternyata," cibir Cindy cukup keras saat melewati depan kelas Dara.

"Pantas saja nilainya bagus terus, jangan-jangan hasil 'jualan' bapaknya buat bayar joki?"

Teman-temannya tertawa cekikikan. "Iya, katanya semalam hampir dibawa ke club kan? Siapa tahu sebenarnya dia emang udah biasa di sana."

Dara yang berada di dalam kelas menunduk dalam, air matanya nyaris tumpah. Namun, sebelum kata-kata pedas itu berlanjut, sebuah bola basket melesat cepat dan memantul keras di tembok tepat di samping kepala Cindy.

BUM!

Cindy menjerit kaget. Di ujung koridor, Rian berdiri sambil menyeringai nakal, memutar bola basket lain di jarinya.

"Ups, sori. Tangan gue licin, maklum habis denger suara laler berisik jadi kurang fokus," ucap Rian santai, tapi matanya menatap tajam ke arah Cindy.

"Rian! Lo hampir kena gue!" teriak Cindy emosi.

"Oh ya? Kirain tadi gue lagi latihan nembak sasaran yang mulutnya perlu di-smash," balas Rian cuek.

Di saat yang sama, Gavin keluar dari kelas Dara dengan melipat tangan di dada. Ia berdiri di ambang pintu, menghalangi pandangan siapa pun yang ingin melihat ke dalam.

"Cindy, kalau lo punya waktu luang buat nge-gosip, mending lo pakai buat ngerjain tugas esai Bu Raisa. Atau mau gue laporin ke Bu Raisa kalau lo lagi sibuk analisis 'bisnis keluarga' orang lain?" tanya Gavin dengan nada tenang yang mengancam.

Mendengar nama Bu Raisa disebut, nyali Cindy sedikit menciut. Namun, dia masih mencoba membela diri. "Gue cuma ngomong kenyataan, Vin! Bapaknya sendiri yang bilang—"

"Kenyataan itu kalau lo pinter, Cin. Tapi nyatanya?" sela Dafa yang tiba-tiba muncul dari arah kantin, membawa tiga botol minuman dingin. Ia memberikan satu ke Gavin, satu ke Rian, dan satu lagi ia simpan.

Dafa berjalan mendekat ke arah Cindy, lalu dengan gerakan "tidak sengaja", ia menjatuhkan tutup botol minumannya ke arah sepatu mahal Cindy.

"Aduh, sori. Eh, hati-hati loh melangkah, lantai di sini agak licin buat orang yang hatinya busuk. Takutnya kepleset terus nyungsep ke gudang kimia," ucap Dafa dengan wajah polos yang dibuat-buat.

"Kalian bertiga apa-apaan sih?! Kenapa jadi belain cewek pembawa sial itu?" jerit Cindy frustrasi.

Rian melangkah maju, kini ia sudah berada di dekat mereka. "Bukan belain 'siapa', tapi lagi nge-bersihin lingkungan sekolah dari polusi suara. Kalau lo masih buka mulut buat nge-hina Dara, gue pastikan setiap jam istirahat, bola basket gue bakal 'salah sasaran' terus ke arah lo."

Gavin menambahkan dengan senyum miring, "Dan gue pastikan setiap pelanggaran tata tertib kecil yang lo lakuin, bakal masuk ke catatan OSIS dengan tinta merah paling terang."

Cindy dan kawan-kawannya menghentakkan kaki kesal dan segera pergi menjauh sebelum ketiga cowok paling berpengaruh di sekolah itu melakukan hal yang lebih jauh.

Gavin berbalik, mengetuk pintu kelas Dara pelan. "Dara, aman. Jangan dengerin mereka. Fokus aja ke esai lo, atau Bu Raisa bakal ngasih nilai C kalau dia tahu lo nangis cuma gara-gara manusia modelan Cindy."

Dara mendongak, menghapus air matanya, dan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi dunianya yang runtuh. Di balik ketegasan Bu Raisa, ternyata ada "pasukan" yang diam-diam menjaganya.

......................

Setelah situasi di koridor mereda berkat "penjagaan" dari Gavin, Dafa, dan Rian, Raisa tidak membiarkan masalah itu menguap begitu saja. Sebagai seorang guru, ia tahu bahwa intimidasi tidak bisa hanya diselesaikan dengan gertakan siswa, melainkan harus dengan pemahaman yang menyentuh nurani.

Sebelum bel pulang berbunyi, Raisa memasuki kelas 12-IPS 2—kelas di mana Cindy dan kelompoknya berada. Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap saat Raisa meletakkan tasnya di meja dengan tenang namun penuh wibawa.

Ia tidak langsung memarahi. Ia hanya berdiri di depan, menatap satu per satu siswanya dengan pandangan yang dalam.

"Ibu mendengar sesuatu yang kurang enak di koridor tadi," Raisa memulai, suaranya lembut namun memenuhi setiap sudut ruangan.

"Ada yang merasa bahwa latar belakang keluarga seseorang menentukan harga diri orang tersebut. Ada yang merasa karena rumahnya lebih megah atau orang tuanya tidak bermasalah, maka dia memiliki derajat yang lebih tinggi untuk menghina sesamanya."

Raisa berjalan perlahan di antara deretan meja.

"Dengar anak-anakku. Di mata dunia, kalian mungkin berbeda. Ada yang lahir dengan sendok perak, ada yang harus berdarah-darah hanya untuk bisa duduk di kursi sekolah ini. Tapi di mata pendidikan, dan di mata Tuhan, kalian semua berdiri di garis start yang sama."

Ia berhenti tepat di samping meja Cindy, yang kini tertunduk pura-pura sibuk dengan bukunya.

"Menghina Dara karena kemalangan yang menimpa keluarganya bukan menunjukkan siapa Dara, tapi menunjukkan siapa kalian. Itu menunjukkan seberapa rendah empati kalian dan seberapa dangkal cara berpikir kalian."

Raisa kembali ke depan kelas. "Dara tidak memilih lahir dari ayah seperti itu. Tapi dia memilih untuk tetap berprestasi meski dunianya hancur. Itu disebut kekuatan. Sedangkan menghina orang yang sedang jatuh? Itu disebut pengecut."

"Ibu tidak ingin mendengar ada lagi kata-kata kasar, sindiran, atau pengucilan terhadap Dara—atau terhadap siapa pun di sekolah ini. Ingat, roda itu berputar. Hari ini kalian di atas, besok siapa yang tahu? Jika kalian tidak bisa membantu meringankan bebannya, setidaknya jangan menjadi beban tambahan bagi hidupnya."

Raisa menutup bukunya. "Hargai manusia karena karakternya, bukan karena apa yang menimpanya. Karena pada akhirnya, pakaian seragam yang kalian pakai sekarang warnanya sama: putih abu-abu. Tidak ada yang lebih putih atau lebih abu-abu dari yang lain."

"Paham semuanya?"

"Paham, Bu..." jawab seisi kelas serempak, beberapa siswa tampak merenung malu.

"Bagus. Sekarang silakan pulang. Dan bagi yang tadi merasa berbicara kurang pantas, Ibu sarankan segera perbaiki hati kalian sebelum pulang ke rumah."

......................

Sore itu, aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi ruangan The Library Cafe. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela besar, menyinari debu-debu yang menari di antara rak buku. Raisa berdiri di balik bar, memperhatikan Dara yang baru saja mengganti seragam sekolahnya dengan apron cokelat tua milik staf.

"Dara, membuat kopi itu bukan sekadar menekan tombol," ucap Raisa sambil membuka bagian atas mesin espresso besar bermerek La Marzocco yang mengkilap. "Ini soal tekanan, suhu, dan presisi. Mirip dengan hukum termodinamika yang kamu pelajari di kelas fisika."

Raisa mulai memperagakan. Gerakannya anggun namun efisien mengambil portafilter, meratakan bubuk kopi dengan tamper, memasangnya ke mesin, lalu membiarkan cairan hitam pekat mengalir dengan crema yang sempurna.

"Lihat tekanannya, harus stabil di 9 bar. Dan untuk susunya, suhunya tidak boleh lebih dari 70 derajat agar proteinnya tidak rusak. Kamu paham?"

Dara tidak berkedip. Matanya mengikuti setiap detail gerakan tangan Raisa, dari sudut kemiringan jug susu hingga bunyi desis uap yang dihasilkan. Gadis itu seolah sedang memindai sebuah diagram rumit di kepalanya.

"Boleh saya coba, Bu?" tanya Dara pelan.

Raisa ragu sejenak. Biasanya, barista butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan feeling yang pas. Namun, ia mengangguk dan memberikan ruang.

Dara melangkah maju. Tangannya yang mungil memegang portafilter dengan mantap. Ia melakukan tamping dengan distribusi beban yang sangat presisi—hanya sekali tekan. Saat ia menyalakan mesin, jarum indikator tekanan berhenti tepat di angka 9, seolah sudah diatur oleh komputer.

Raisa tertegun. Puncaknya adalah saat Dara melakukan frothing susu. Ia mendengarkan bunyi uap dengan teliti, menghentikannya tepat sebelum susu terlalu panas. Dengan gerakan pergelangan tangan yang halus, ia menuangkan susu itu ke dalam cangkir.

Sebuah pola rosetta yang simetris dan cantik muncul di permukaan kopi.

"Hanya sekali lihat?" gumam Raisa nyaris tak percaya.

"Ini sebenarnya hanya soal perhitungan volume dan kecepatan aliran, Bu," jawab Dara dengan wajah sedikit memerah karena malu. "Tadi saya menghitung detik saat Ibu melakukan aerasi susu. Ternyata polanya konsisten."

Raisa tersenyum bangga. "Kamu memang luar biasa, Dara. Jenius fisika di sekolah, dan ternyata seniman di balik mesin kopi."

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!