Sebuah pengorbanan yang begitu besar dari seorang istri kepada suami, sebagai bentuk pengabdian nya untuk mendapat ridha dari Allah. akan kah cinta itu hadir ?.
Author mengemas cerita ini dalam satu wadah, Dengan cerita yang berbeda beda di setiap Halaman yang author tulis.
Jangan bigung ketika membaca karna author mengemas semua kisah dalam satu karya agar tidak berantakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atlantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Halaman - 12 ]
...“ Mirawang naon, A? ”...
...[ “ Nyuruh apa, A ” ]...
“ Punten. Iue sepeda Teh Nay. Jajapkeun, ka bumi na nya ”
^^^[ “ Maaf, ini sepeda Teh Nay, anterin ke rumah nya ya ” ].^^^
...“ Oh, Muhun A ”...
...[ “ Oh, Iya, A “ ]...
...“ Nuhun ya sep”. ...
...[ “ Makasih ya Sep “ ]....
Ujar A Hisyam dengan lembut mengusap rambut Asep, lalu A Hisyam meroggo ke dalam saku celananya mengambil uang dua puluh ribu sambil memberikan pada Asep sebagai Upah jalan.
“ Kanggo Asep jajan ”
^^^[ “ Buat Asep jajan ” ]. Kata A Hisyam sambil tersenyum pada Asep.^^^
...“ Nuhun ya, A “...
...[ “ Makasih ya, A ” ]. ...
Ucap Asep yang begitu senang.
A Hisyam pun ikut mengangguk. Kemudian dengan segera Asep menaiki sepeda mengayuh nya dengan cepat menuju ke rumah.
“ Hayu Nay ”. Ajak A Hisyam.
Aku yang mengikuti A Hisyam dari belakang ikut masuk kedalam mobil kemudian berlalu pergi untuk menuju rumah untuk menjemput Abah yang sudah menunggu kedatangan ku.
tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dirumah. Selama perjalanan menuju puskesmas.
Abah dan A Hisyam banyak sekali mengobrol mengenai desa, pondok pesantren milik ayahnya dan tidak lupa juga menanyakan kabar keluarga A Hisyam. Aku yang tersenyum mendengarkan percakapan diantara Abah dan A Hisyam yang sesekali ikut tertawa bersama mereka.
Abah memang sudah lama mengenal A Hisyam sejak aku berumur lima tahun. Jadi sudah tidak aneh lagi kalau A Hisyam menganggap Abah bak Abinya sendiri begitupun dengan ku yang menganggap A Hisyam seperti abang kandung ku sendiri.
Satu jam kemudian. Kamu sudah sampai di puskesmas. Aku dan A Hisyam segera turun dari mobil membantu Abah untuk menaiki kursi roda yang telah di siapkan di dekat pintu mobil. Setelah memastikan Abah yang sudah nyaman di kursi roda, A Hisyam menutup pintu mobil dan aku mulai mendorong kursi roda Abah masuk ke dalam puskesmas. Sementara A Hisyam berjalan disamping ku dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Aku melihat Syava yang sedang berjalan dengan teman sejawatnya. Aku pun dengan spontan memanggil Syava. Syava yang mendengar suara ku kini menoleh dan menghampiri Aku, Abah dan A Hisyam.
“ Loh Nay? Abah dan A Hisyam mau kemana?".
Tanya Syava yang kini telah menghampiri kami.
“Va, Dokter umum yang dari Jakarta itu ada tidak?. Aku mau anter Abbah periksa ke dokter“ ucap ku.
“Oh.. DOMUGA ?” tanya Syava dengan rasa antusias membuat kami semua menyatukan kedua alis sementara Abah bigung dengan dahi yang naik. Semua orang heran oleh pernyataan Syava.
“MOUGA teh saha Syava?” tanya Abah.
“Bukan MOUGA Abah tapi teh DOMUGA Bah”
“Emmm... itu loh Bah. DOMUGA teh singkatan dari Dokter Muda Ganteng” Ucap Syava. Aku menatap Syava dengan kesal. Bisa bisanya dia memberitahu Abah DOMUGA teh noan.
“Nay kamu tahu enteu, DOMUGA itu namanya Dokter Arfan” Ujarnya dengan tingkah yang heboh.
“Dokter Arfan ?” tanya ku yang kaget mendengar namanya.
“Iya Nay “ Jawab Syava.
“ Kamu kenal sama Dokter baru itu Nay ?”
A Hisyam yang bertanya kepada ku.
...“Iya, A” ...
balas ku sambil menunduk ke arah A Hisyam.
“Kenal dimana?” lagi lagi A Hisyam bertanya.
“Aaaaa....Kenal di..” aku yang belum selesai berbicara. Ketika Syava yang berteriak heboh memanggil nama Dokter Arfan.
...“Dok... Dokter Arfan !!” ...
^^^teriakan Syava membuat dokter itu menoleh ke arah kami.^^^
“Syav...jangan teriak teriak kayak gitu. Gak enak di dengar malu atuh”
^^^aku yang mencibutnya sambil berbisik padanya.^^^
“Udah gak papa Nay” balasnya dengan santai.
...“Iya ada apa ya Mba ?” ...
Tanya dokter Arfan yang menghampiri Syava.
“Anu dok. Ayahnya sahabat saya mau periksa sama dokter” Ucap Syava yang melirik ke arah Abah dengan Abah yang tersenyum ke arah dokter Arfan.
hanya tingal... meluluh kan hati mana ayu...
Semogga kau bisa mengatasi mama ayu nay..
Tancap donk vino. PDkt... LG..