NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Rekrut yang Ditolak Dunia (1)

Siang merambat turun perlahan di lereng tempat Sekte Langit Abadi berdiri.

Langit cerah, tetapi angin yang bertiup membawa hawa tipis dan dingin. Tidak ada lonceng sekte yang dibunyikan. Tidak ada spanduk penerimaan murid. Pintu gerbang kayu berdiri terbuka begitu saja, catnya kusam, dengan retakan halus yang belum sempat diperbaiki.

Di depan gerbang itu, hanya ada tujuh orang.

Mereka berdiri terpisah satu sama lain, menjaga jarak seolah kehadiran orang lain adalah beban tambahan. Tidak ada yang berbincang keras. Beberapa bahkan menunduk, menatap tanah berbatu di bawah kaki masing-masing.

Xu Tian berdiri di ambang gerbang.

Jubahnya sederhana, tanpa lambang sekte besar. Tidak ada tekanan aura yang sengaja dilepaskan. Qi di sekeliling tubuhnya tenang, datar, nyaris menyatu dengan udara tipis di lereng itu.

Di belakangnya, selangkah lebih jauh, Chen Yu berdiri dengan punggung tegak.

Tatapan Chen Yu bergerak pelan dari satu calon ke calon lain. Setiap wajah yang ia lihat memunculkan bayangan samar dari dirinya sendiri beberapa tahun lalu—mata yang tidak sepenuhnya berharap, tetapi belum sepenuhnya mati.

Seorang pria kurus dengan wajah kekuningan berdiri paling dekat dengan gerbang. Pakaian luarnya jelas bekas murid sekte kecil, jahitannya rapi namun telah banyak ditambal. Tangannya sesekali mengepal, lalu mengendur kembali.

Di sisi kanan, seorang gadis berambut pendek berdiri dengan bahu sedikit terangkat, seolah ingin menyusutkan tubuhnya. Sarung pedang di punggungnya kosong. Hanya gagangnya yang tersisa.

Dua pria lain berdiri agak jauh. Salah satunya pincang ringan. Langkahnya tidak seimbang, dan setiap kali berat badannya berpindah, alisnya mengerut menahan rasa tidak nyaman.

Yang terakhir adalah seorang pemuda dengan pakaian paling biasa. Tidak ada tanda sekte. Tidak ada senjata. Tubuhnya kurus, bahunya sempit. Aura di sekelilingnya begitu lemah hingga nyaris tidak terasa.

Namanya Han Li.

Han Li berdiri dengan tangan disatukan di depan perut. Pandangannya sesekali naik ke arah gerbang, lalu turun kembali sebelum benar-benar bertemu mata siapa pun.

Waktu berjalan tanpa ada yang berbicara.

Angin menyapu tanah, membawa debu tipis yang menempel di sepatu mereka. Tidak ada pelayan yang datang. Tidak ada tetua yang mengawasi dari kejauhan. Hanya Xu Tian, Chen Yu, dan tujuh orang yang datang tanpa sambutan.

Akhirnya, pria kurus itu berdehem pelan.

“Ini… Sekte Langit Abadi?” tanyanya, suaranya ragu.

Xu Tian mengangguk singkat. “Benar.”

Tidak ada tambahan penjelasan.

Pria itu melirik sekeliling, lalu menelan ludah. “Aku dengar… sekte ini menerima murid.”

Xu Tian tetap berdiri di tempatnya. “Kami membuka pintu.”

Jawaban itu membuat udara kembali sunyi. Beberapa calon saling bertukar pandang, lalu segera mengalihkan mata, seolah tidak ingin terlihat terlalu berharap.

Gadis berambut pendek melangkah setengah langkah maju. “Tidak ada… syarat?”

Xu Tian menatapnya. Tatapan itu tidak dingin, tapi juga tidak menghangatkan. “Jika ada syarat tinggi, kalian tidak akan berdiri di sini.”

Gadis itu membeku sesaat. Tangannya mengerat pada tali sarung pedang kosong di punggungnya.

Di belakang Xu Tian, rahang Chen Yu mengeras. Ia mengingat hari ketika ia sendiri mendengar kalimat serupa, meski dari nada yang berbeda. Dulu, kalimat itu diucapkan dengan nada merendahkan. Hari ini, Xu Tian mengucapkannya tanpa penekanan apa pun.

Seorang pria bertubuh besar yang berdiri di sisi kiri mengangkat tangan. Pakaiannya terlihat lebih rapi dibanding yang lain, tetapi wajahnya kusam. “Aku datang karena sekte lamaku membubarkan diri,” katanya. “Aku tidak punya tempat lain.”

Xu Tian mengangguk. “Kau bisa masuk.”

Tidak ada sorak. Tidak ada ucapan selamat.

Pria itu tampak terkejut. “Begitu saja?”

“Begitu saja,” jawab Xu Tian.

Beberapa calon lain saling berpandangan. Ekspresi mereka bukan lega, melainkan bingung.

Pria pincang itu melangkah maju. “Aku… dikeluarkan,” katanya lirih. “Kakiku rusak saat latihan. Mereka bilang aku akan jadi beban.”

Xu Tian memandang kakinya sekilas. “Kau tahu ini bukan tempat yang kaya.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu tidak akan ada obat mahal.”

“Aku tahu.”

“Kau tahu mungkin tidak ada kemajuan cepat.”

Pria itu mengangguk. “Aku tetap mau masuk.”

Xu Tian menggeser tubuhnya sedikit, memberi jalan. “Masuklah.”

Pria itu melewati gerbang dengan langkah pincang. Saat kakinya menginjak halaman sekte, bahunya sedikit turun, seolah beban yang ia pikul tidak sepenuhnya hilang, tetapi setidaknya kini memiliki tempat untuk diletakkan.

Satu per satu, calon mulai bergerak.

Namun tidak semua maju.

Salah satu pria yang sejak awal berdiri agak jauh melangkah mundur. “Aku pikir… ini sekte yang akan bangkit,” katanya pelan. “Tapi tidak ada apa-apa di sini.”

Xu Tian tidak menahannya. “Pintu tetap terbuka.”

Pria itu ragu sejenak, lalu berbalik dan pergi menuruni lereng. Tidak ada yang memanggilnya kembali.

Dua calon lain mengikuti, alasan mereka berbeda, tetapi langkah mereka sama—perlahan, tanpa kemarahan, hanya kecewa yang tidak diucapkan.

Di depan gerbang, tersisa tiga orang.

Gadis berambut pendek menarik napas dalam-dalam. “Namaku Mei Yan,” katanya. “Aku gagal dalam ujian inti sekte pedang.”

Xu Tian menatap sarung pedangnya yang kosong. “Pedangmu?”

“Patah.”

Xu Tian diam sejenak. “Kau masih mau masuk?”

Mei Yan mengangguk. “Aku tidak tahu harus ke mana lagi.”

Xu Tian menggeser tubuhnya. “Masuk.”

Mei Yan melangkah melewati gerbang. Saat ia lewat di samping Chen Yu, pandangan mereka bertemu sejenak. Tidak ada senyum, tetapi Chen Yu melihat sesuatu di mata gadis itu—ketegangan yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

Kini, hanya Han Li yang tersisa di luar.

Han Li berdiri sedikit lebih kaku dari sebelumnya. Jarinya saling bertaut lebih erat. Ia menatap Xu Tian, lalu dengan cepat menunduk.

Xu Tian tidak segera berbicara.

Angin kembali bertiup, menggerakkan ujung jubah Xu Tian dan rambut Han Li.

Chen Yu memperhatikan punggung Han Li. Postur itu mengingatkannya pada dirinya sendiri saat pertama kali berdiri di depan Xu Tian—bukan karena keberanian, tetapi karena kehabisan pilihan.

“Namamu,” kata Xu Tian akhirnya.

“Han Li,” jawab Han Li cepat, seolah takut kesempatan itu menguap jika ia terlambat.

Xu Tian mengangguk. “Asal?”

“Desa Qinghe.”

“Sekte sebelumnya?”

Han Li menggeleng. “Tidak pernah diterima.”

Tatapan Xu Tian sedikit mengeras, bukan karena penilaian, melainkan karena pengenalan.

“Kenapa datang ke sini?” tanya Xu Tian.

Han Li terdiam.

Beberapa detik berlalu. Keringat tipis muncul di pelipisnya, meski udara dingin.

“Aku dengar sekte ini… tidak memilih,” katanya akhirnya. “Aku tahu aku tidak punya bakat.”

Xu Tian tidak membantah. Tidak juga mengiyakan.

“Kalau kau masuk,” kata Xu Tian, “kau tidak akan diperlakukan istimewa.”

Han Li mengangguk. “Aku tidak berharap itu.”

“Kalau kau gagal di sini, tidak akan ada yang menyelamatkanmu.”

Han Li menarik napas. “Aku mengerti.”

Xu Tian menatapnya lebih lama kali ini. Aura Han Li tetap lemah. Tidak ada lonjakan. Tidak ada tanda tersembunyi yang muncul ke permukaan.

Namun Han Li tidak mundur.

Chen Yu merasakan sesuatu bergerak pelan di dadanya. Bukan harapan, melainkan pengakuan terhadap sikap yang terlalu ia kenal.

Xu Tian melangkah ke samping, membuka jalan setengah.

“Masuk,” katanya.

Han Li tampak terkejut. Ia ragu sekejap, lalu melangkah cepat sebelum pikirannya berubah. Saat kakinya melewati ambang gerbang, bahunya bergetar pelan, seolah ia baru menyadari bahwa ia benar-benar diterima.

Gerbang kayu tetap terbuka.

Di luar, tidak ada lagi yang menunggu.

Xu Tian berdiri sejenak, menatap lereng kosong. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Tidak juga kepuasan.

Di dalam halaman sekte, murid-murid baru berdiri canggung, tidak tahu harus berbuat apa.

Xu Tian berbalik. “Masuk ke dalam,” katanya singkat.

Mereka mengikuti, langkah mereka tidak serempak, tetapi arah mereka sama.

Chen Yu berjalan paling belakang. Saat ia melangkah melewati gerbang, ia menoleh sekali lagi ke arah luar. Lereng itu sunyi, seolah tidak pernah ada siapa pun yang datang.

Gerbang itu tetap terbuka.

Dan dunia, tanpa suara dan tanpa reaksi, memilih untuk tidak melirik ke arah Sekte Langit Abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!